Arsip untuk Maret, 2008

Gerilya Bawah Tanah: Eksistensi Diantara Himpitan

Jember memang kota kecil. Banyak yang bilang Jember adalah kota santri, kota para anak muda alim yang rajin sholat dan mengaji, meskipun pada kenyataannya, produk anak mudanya adalah Dewi Persik, damn!

Soal musik, Jember masih belum serevolusioner Bandung atau Jakarta. Masih belum punya Zine Indie yang bisa berbicara banyak di dunia musik. Band pun masih sangat jarang yang bisa masuk ke dalam jajaran band nasional. Tercatat hanya Tato, sebuah band slow rock yang berhasil terkenal. Ada juga Anang, yang pernah beken sebagai vokalis Kidnap, tapi sekarang lebih terkenal sebagai produser musik bareng Abdee, dan jauuuuh lebih terkenal sebagai suami Krisdayanti.

Semenjak aku SMA, sekitar tahun 2003, musik yang booming cuman Hip- Hop atau Reggae, itu aja. Memang ada nama Upnormal yang beraliran Hip Metal yang sempat masuk sebagai salah satu band kompilasi Nescafe Get Started bareng J-Rock. Namun band ini sudah gak terdengar gaungnya karena kesibukan masing-masing para personelnya. Terakhir Jember menjadi harum namanya berkat Blast, band pop (ya, pop!) yang menjadi juara 1 regional Jatim dalam A Mild Live Wanted. Tapi ya itu, gak ada yang berani melawan arus. Kebanyakan band, biar bisa terkenal di Jember ya harus memiliki vokalis wanita yang berani berpakaian seksi dan memainkan lagu Top 40.

 

***

 

Tapi diam-diam ada satu gelaran musik yang berani melawan arus. Tanpa sponsor, gelaran musik ini berhasil menjadi gelaran musik tahunan yang penting di Jember. Setidaknya menurut aku dan ratusan anak yang menyukai suatu yang berbeda, Kumpulan anak muda yang sudah muak dengan musik hip-hop dan top 40. Gelaran itu bertajuk “Gerilya Bawah Tanah”.

Acara tahunan yang diadakan oleh UKM Kesenian Pusat ini adalah gelaran khusus buat musik yang tidak diterima oleh pasar musik di Jember. Para band yang tidak akan pernah dibayar dan diundang dalam pensi yang selalu menjadikan band Hip-Hop sebagai headliners mereka. Ada aliran punk-rock, hardcore, metalcore hingga ska. Penontonnya? Jangan salah, meski gak sebanyak penonton band hip-hop, massa dari band-band ini cukup banyak.

Acara tahun ini diadakan di Gedung PKM setelah tahun lalu hanya mendapat “gudang” sebagai tempat manggung (baca artikel: aku, mereka dan punk). Venue lebih besar, penonton pun jadi lebih senang. Gedung PKM memang tak sebesar gedung Asia Africa. Penontonnya pun, meski sama-sama beringas, tetap tak rusuh. Meski penuh, tapi tak memakan korban jiwa.

Apa yang special dari gelaran bawah tanah ini? Banyak. Mulai dari Headliner yang berasal dari Jerman hingga dandanan dan tingkah polah para crowd, sangat menarik untuk diperhatikan dan dipelajari.

Photos By:

Nuran Wibisono

Lalu Rafli

Arman Dhani

 

*
*
*
*
*
Ni aku kasih judul: I’m so fucking drunk!!!

***

 

Punk memang sesuatu yang tak pernah habis dimakan waktu. Seiring habisnya generasi bunga di pertengahan tahun 1970-an, gerakan ini mulai mendominasi. Gerakan ini adalah tindak lanjut dari gerakan counter culture para generasi bunga. Cuman mungkin hanya inti ajaran mereka yang sama, anti kemapanan.

Musik punk pun bisa dibilang adalah anak cucu dari rock n roll, seperti halnya rock n roll adalah anak sah dari blues. Bedanya adalah rock n roll lebih ke hedonisme, sementara punk lebih politikal. Berbeda dengan musik rock n roll atau heavy metal pada jamannya, yang harus memiliki skill mumpuni dan musikalitas yang jempolan, punk tak perlu itu. Kord dasar musik punk pun terkenal dengan sebutan three chords, 3 kord. Karena memang musik dasar yang kebanyakan dipakai Cuma 3 kord saja. The Ramones, Clash atau Sex Pistols adalah pelopor musik punk rock dengan 3 chords. Anda tidak percaya atau tidak terima musik punk dibilang tidak begitu membutuhkan skill? Coba anda bandingkan musik The Ramones dengan Led Zeppelin misalnya. Ada lagi… siapa pahlawan musik bagi kebanyakan anak punk? Pasti mereka menjawab Sid Vicious. Dia terkenal tidak bisa main musik sama sekali! Tapi itu tak jadi masalah, malah hal itu dianggap keren, karena attitudenya yang berani memberontak pada kemapanan lingkungan sekitar. Itulah musik punk, tak perlu solo gitar semewah Led Zeppelin, tak perlu suara sebening Sebastian Bach. Asal anda mencintai dan menjiwai punk, jadilah!

Musik punk rock sendiri awalnya adalah imbas dari gerakan British Invasion yang dipelopori oleh The Beatles. Anak muda amerika pun keranjingan memainkan musik mereka sendiri. Dan mereka bermain musik ditempat yang ada, kebanyakan di Garasi. Lahirlah istilah: Garage Rock. Musik awal yang dimainkan pun tak senjelimet Led Zep atau Deep Purple. Musik mereka menitik beratkan pada musik yang simple tapi tetep ngerock, seperti Rolling Stones, Yardbirds atau The Who. Band yang dianggap beberapa pelopor musik ini seperti The Standells, The Seeds, The Music Machine, The Leaves, dll. Inilah awal dari musik punk rock.

Di tahun 1970an, apa yang disebut pure punk semakin kentara. Protes sosial mereka semakin menjadi-jadi, dan kelakuan mereka pun semakin ugal-ugalan. Dari generasi awal punk murni ini ada 2 nama yang sangat legendaris di kalangan punk, MC5 dan Iggy and the Stooges. Pada 1975, punk semakin berkembang dan ada beberapa nama yang pada akhirnya menjadi legenda dan juga dihormati sebagai band punk pertama. Sebut saja The Blondie yang agak pop, The Talking Heads hingga The Ramones.

The Ramones sendiri punya citra yang unik. Remaja dengan rambut gondrong dan berponi, bercelana belel dan memakai jaket kulit. Tanggal 4 Juni 1976, The Ramones mengadakan konser pertamanya di Inggris. Konser ini ternyata menjadi wahyu bagi para anak muda di Inggris. Diantara ratusan penonton, ada beberapa anak muda yang akhirnya juga menjadi pahlawan anak punk. Mereka membentuk band, ada The Clash, The Damned dan Sex Pistols.

The Clash dan Sex Pistols memasukkan unsur baru dalam musik punk, protes social dan politik.

Pada akhirnya punk merambah ke dunia lain. Dari awalnya sebagai counter culture, mereka menjelajah ke dunia social, politik.

Di sini adalah sedikit penjabaran soal musik punk dan “keluarganya” . artikel ini saya dapat di internet, tapi maaf, saya lupa sumbernya dan nama penulisnya. Yang menulis artikel dibawah ini adalah seorang yang sudah berkecimpung selama puluhan tahun di dunia punk. Monggo dinikmati, dipelajari dan dihayati, betapa punk bukan hanya sebagai lifestyle.

 

Punk Rock

Berkembang di Inggris sekitar tahun 70-an.

· Musik: warna rock n roll masih kuat, masih bermelodi.

· Contoh: Sex Pistol, The Clash, Ramones.

· Ciri khas: Jaket kulit, rambut jabrik/acak-acakan, dan sepatu boots.

Street Punk

· Musik mulai berdistorsi kasar dengan beat yang cepat.

· Lirik vulgar dan penuh caci maki dan anarkis.

· Contoh: Casualities, Circle Jerks, Eksploited.

· Ciri khas: Jaket kulit plus aksesoris paku,celana jeans ketat, rambut jabrik, mohawk, boots doc mart/converse.

· Bagian dari Street Punk : HardCore, HardSkin, Punk HardCore, Scoin Kore.

SkinHead:

SkinHeads Sejati (Sayap Kiri/Lefties)


Menganut antifasis dan antirasis. Menyatakan perang dengan paham ultranasionalis sayap kanan dan sangat melindungi kaum minoritas termasuk kaum gay. Musik-musik minoritas kulit hitam seperti reggae, ska dan american soul dianggap sebagai keluarga besar mereka. Musik mereka banyak ragamnya karena banyak mencakup berbagai macam kelompok minoritas.

· Contoh: The Bussiness, Sham 69, Angelic Upstrats.

· Ciri: Tidak ada ciri khusus, namun kadang lewat sepatu boots dan bretel yang menunjukkan gol kelas menengah dan buruh.

 

Nazi SkinHeads (Sayap Kanan/Ultranasionalis)

Menganut paham rasis (benci kulit berwarna) dan antikaum minoritas adalah prinsipnya. Terkenal dengan istilah Boneheads. Berkembang pesat di Jerman dan negara Eropa daratan lainnya.

· Contoh: Screwdriver, Brutal Attack, Blood and Honour.

· Ciri khas: Kepala plontos (boneheads), kadang membaur dalam suporter sepak bola di Eropa (Giggs/Hooligans) untuk membuat kerusuhan.

Bagian dari SkinHeads :

· TUTONS

· SKA

· SKACORE

Tutons

Masih keluarga besar Skinheads sayap kiri. Mereka adalah rakyat kelas bawah yang melakukan protes dengan cara berpakaian seperti orang kaya. Tumbuh di Inggris dan Jamaika. Musik mereka musik kulit hitam kayak rock steady dan reggae. Ngetop lewat aliran ska.

· Ciri khas: Stelan jas, bretel, topi baret, celana panjang cingkrang (Rude Boy Style)

· Contoh: The Selector, The Specials, Jimmy Cliff

 

***

 

13 Maret 2008. Malam itu gedung PKM sangat ramai dengan kumpulan para anak muda yang mendeklarasikan diri mereka sebagai anak punk. Entah mereka punk sejati yang benar-benar mengerti dan menghayati idealisme punk ataukah mereka hanya gerombolan anak baru gede yang berharap dianggap keren dengan berdandan ala punk dan berbaur bersama anak punk. Saya tidak tahu, dan saya tidak tertarik untuk mencari tahu. Yang penting adalah mereka disini sedang menikmati acara ini, sama seperti saya.

Riot Company adalah band punk dari Jerman. Entah bagaimana caranya, mereka bisa mampir dan ikut meramaikan gigs ini. Mereka tampil total malam itu. Tapi sayangnya, saat saya mau mewawancara mereka, ternyata mereka tidak berkomunikasi dengan bahasa inggris. Mereka hanya bisa berbahasa Jerman, lain tidak. Jadilah saya gagal mewawancarai mereka. Tapi memang terkadang bahasa tubuh lebih ampuh dari bahasa mulut. Terbukti saat mereka selesai memainkan lagu dan mengacungkan jari tengah sambil tersenyum, semua crowd merespon dan berteriak… Uuuuoooohhhh!!!!!

 

*
*
*
*

 

 

Inilah yang unik dari gigs punk atau gigs bawah tanah lainnya. Tidak ada yang namanya headliner atau artis utama. Kalau di pensi, sesuatu yang paling disuka, paling unik, pasti akan ditaruh di akhir acara (untuk menahan penonton agar tidak pulang). Dan biasanya nama headliner pasti akan dicetak paling besar dalam pamflet. Tapi tidak demikian yang terjadi pada gigs Bawah Tanah ini. Nama Riot Company dicetak sama besar dengan para pengisi acara ini, seperti Server Sick, Skeleton dan nama lainnya. Hanya ditambahi info (Jerman) dibelakang nama Riot Company, sebagai penanda bahwa band ini adalah band dari luar negeri. Dan hal ini terbukti mempan, dengan berduyunnya ratusan anak muda datang dan bermoshing ria saat Riot Company tampil. Uniknya lagi Riot Company tidak tampil terakhir. Setelah RC tampil, masih ada penampilan dari UKM Kesenian Pusat dan 3 band yang tampil setelahnya. Dan kerennya, para penonton tidak pulang, melainkan masih asik bermoshing ria sambil sesekali tertawa. Ada juga beberapa punkers yang melepas lelah sambil mengobrol. Malah saya sempat memotret pasangan muda yang sedang bermesraan dengan cara mereka sendiri, tak vulgar seperti pasangan muda biasanya. Mereka hanya duduk dan bergandengan tangan sambil sesekali bernyanyi bersama. Sungguh sebuah cinta sederhana yang tidak menuntut apa-apa. Klik! Saya pun menekan shutter dengan mantap…

 

 

*
TETEP RAME!!!
*

Dan cinta memang tidak kenal tempat dan waktu… brutally sweet love…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dan sekali lagi saya mendapat bukti bahwa punk memang timbul tenggelam, sama seperti rock n roll. Tapi punk tak pernah mati… saya percaya itu…

Komentar (12) »

The Brandals Live Concert @ Jember

Jember adalah kota kecil. Mungkin itu sebabnya para band-band indie terhitung jarang menyambangi Jember. Terhitung hanya The Hydrant yang pernah mampir ke Jember, itu pun sebagai opening act dari Saint Loco dan Edane. Lain The Hydrant? Jangan harap menemukan nama seperti The S.I.G.I.T, Inspirational Joni atau Jack And The Four Men di Jember. Band-band yang main di Jember adalah band-band “perahan” major label macem Nidji, Kangen Band dan terakhir ada Juliette dan Lobow yang dibawa oleh salah satu operator telepon seluler terbesar di Indonesia. Jadi mungkin band-band indie yang masih berjuang dengan semboyan DIY akan berpikir dua kali untuk menyambangi kota kecil di ujung Jawa Timur yang bernama Jember.

Tapi hari Jumat tanggal 7 Maret 2008 menjadi hari yang special bagi para pecinta musik indie di Jember. Salah satu band indie terbaik di Indonesia hadir di Jember. Yap, The Brandals, para berandalan ibu kota ini bela-belain datang ke Jember untuk mempromosikan album terbaru mereka, Brandalisme. Kedatangan mereka ke Jember didukung oleh, lagi-lagi, salah satu provider seluler di Indonesia. Mau?

 

 

***

Tanggal 7, The Brandals maen di Metro Café. Liat yuk… jemput aku ya…

Sms dari Elok masuk ke Hpku. Ha? The Brandals? Ke Jember? Kapan? Sebenarnya wajar kalau aku heran, karena memang gak ada publikasi luas tentang konser ini. Gak ada spanduk, gak ada pamflet, gak ada baliho atau apa pun yang menandakan akan ada konser salah satu Band pengusung rock n roll ini. Si Elok pun tahu kabar ini dari radio yang Cuma menyiarkan sekilas. Selebihnya? Gak ada publikasi sama sekali.

Akhirnya dari hp ke hp, berita pun menyebar dari mulut ke mulut. Sampai lah berita itu ke komunitas Tegalboto, komunitas Sastra dan beberapa orang teman. Tapi sayang, karena kendala publikasi itu, aku jadi gak tahu jam berapa The Brandals maen, berapa harga tiketnya dan info-info lain. Jadinya setiap ada orang nanyain hal itu ke aku, aku Cuma bisa jawab, “gak tau…”

 

***

Ternyata The Brandals maen jam 10, karena Metro baru buka jam segitu. Wa gak dibolehin keluar jam segitu…

Lagi-lagi sms dari si Elok. Cewek pecinta the brandals ini memberi sedikit clue tentang jam main The Brandals. Merasa si Elok mungkin punya info lain, aku sms dia…

 

Ya udah, boong aja ke ortu. Bilang aja mau ngerjain tugas ke rumah temen, trus bilang nginep dirumah temen, hehehe… eh, tau harga tiketnya gak?

Bagus, aku ngajarin seorang cewek alim untuk boong… tuhan bakalan ngelaknat aku…

Wa gak mau boong! Takut kualat! Kata temen wa sih gratis… ya udah, enjoy the show ya…

Bagus Elok, kamu memang anak berbakti, hehehe… Tapi yang aneh, masa sih konser The Brandals gratis?

 

***

Tanggal 7 tiba. Aku udah ngehubungin beberapa temen yang mungkin mau diajak nonton. Tapi sayang sekali, yang bisa aku ajak adalah teman cowok. Karena sangat jarang temen cewekku suka The Brandals. Salah seorang teman cewek, si Pimred Tegalboto, malah sukanya lagu Abang Tukang Bakso… (lupa ama umur dia)

Setelah confirm, HTM konser itu seharga 15 ribu rupiah… wadaw! Lumayan mahal juga sih. Lagipula besok aku juga ada touring ke Alas Purwo. Sabtu depan juga ada Konser Skid Row di Malang. Uang di dompet juga udah menipis. Tapi demi band berandalan itu, aku bela-belain ngebayar duit segitu.

Akhirnya malam jam 21.30 aku jemput si Taufik di Kostnya. Kita pun berangkat dengan hati riang gembira. Teman konser kali ini ada si Widhi juga. Dia anak Tegalboto yang juga suka The Brandals di samping suka Trio Tigers atau Trio Macan ,hahaha…

 

***

Metro Café, 21.45

Ini pertama kalinya aku pergi ke kafe. Dan bener, HTM The Brandals itu 15 ribu. Aku kirain ada welcome drinknya, bir kek, atau paling jelek, ya Softdrink. Eh, malah dikasih starter pack-nya sponsor. Sebenarnya hal itu lumayan, kalau saja di Jember sinyalnya kuat. Masalahnya, provider ini masih baru di Indonesia. Di Jember sinyalnya juga jarang. Kadang ada, kadang gak ada. Intinya, kalau disuruh milih antara satu gelas bir atau starter pack itu, aku milih satu orang cewek bahenol (lho?!).

Ini pertama kalinya aku masuk Metro Café. Selain karena gak suka nongkrong di café, aku juga gak suka kehidupan malam di café. Mendingan nongkrong di warung kopi Toyib atau Cak David. Si Widhi udah dateng duluan bareng temannya.

 

Me and Widhi
Topik And Widhi

 

Metro café ini terletak di lantai 4. For your info, kafe ini terletak di sebuah mal yang udah bangkrut. Jadi satu-satunya kehidupan ya ada di café yang terletak di lantai paling atas ini. Ibaratnya, saking sepinya, kita bisa ML tanpa ketahuan orang lain. Tinggal cari tempat yang sedikit gelap, jadilah.

Ternyata konser The Brandals belum mulai. Bahkan Band opening act-nya pun belum muncul. Oh ya, Band opening act kali ini dateng dari Jogjakarta. Ada Armada Racun dan Pagi Hari. 2 band ini juga termasuk salah dua dari beberapa puluh band indie potensial di Indonesia…

Jam 22.10 baru Armada Racun keluar. Band ini terdiri dari 1 orang keyboardis cewek nan imut, 1 orang drummer gundul penuh tato, dan 2 orang bassist yang salah satunya adalah sang vokalis. Gitaris? Itulah uniknya mereka, mereka gak memiliki pemain gitar. Formasi ini sedikit mengingatkan aku pada The Doors. Bedanya, The Doors malah gak memiliki bassist. Musik mereka? Sedikit garage rock dicampur dengan formula psychedelic. Cukup segar dan unik. Mereka memainkan 3 lagu yang sama sekali asing bagi aku tapi gak mengurangi keasyikanku dalam ngeliat performance mereka.

 

 

 

Band kedua adalah Pagi Hari. formasi mereka terdiri dari 1 drummer, 1 bassist, 1 gitaris dan 1 vokalis cewek cadas yang juga merangkap gitaris. Mereka tampil keren malam itu.

“Selamat malam Jember! Baru tadi sore kita nyampe di Jember. Masih sedikit capek. Aku juga kurang fit hari ini. Tapi demi kalian yang udah bela-belain hadir disini, kami berusaha tampil maksimal” sang vokalis cewek ini sedikit berorasi.

Terang aja kalimat itu mengundang tepuk tangan para penonton yang sebagian besar masih gak tau siapa itu Pagi Hari, gimana lagu-lagu mereka. Aku dan Widhi tahu band ini dari situs youtube yang menampilkan saat mereka main di Soundrenaline.

Sang vokalis cewek ini mau gak mau mengingatkan aku pada Joan Jett. Rambut pendek, suara khas dan sama-sama memegang gitar. Mengandalkan power dalam permainan mereka, hanya beda jenis musik. Kalau Joan Jett memainkan rock n roll ala 80-an, kalau Pagi Hari mereka memainkan rock modern yang kadang-kadang orang menyebutnya sebagai musik emo. Yang penting dandanan mereka jauh dari emo. Dan musik mereka keren, berkarakter dan ngerock! Itu aja yang penting. Setelah ngebawain 4 lagu, mereka pun pamit mundur diiringi tepuk tangan yang membahana di seluruh penjuru café. Well done guys!

Sepi…

***

Band yang telah ditungu-tunggu akhirnya datang juga. The Brandals yang terdiri dari Eka (vocal), Toni (gitar), Bayu (Gitar), Dodi (Bass), Rully yang berdiri di belakang perangkat drum yang juga sekaligus adik dari sang vokalis.

“Selamat malam Jember! Ayo teman-teman, maju dong, jangan duduk aja. Nonton musik rock sambil duduk-duduk sama seperti nonton striptease tapi gak bisa dipegang!” kata-kata pembuka dari sang vokalis meluncur tanpa beban yang langsung disambut teriakan bagaikan massa pendukung dari calon bupati yang menggemborkan janji palsu…

 

***

Setelah Pagi Hari tampil dan The Brandals masih siap-siap, ada satu kejadian menarik. Sang MC dari neraka mulai iseng. Sambil menenteng 2 buah tas kecil berisi sesuatu, dia berkeliaran mencari penonton untuk sebuah game. Bagaikan penyamun yang mencari perawan, dia berkeliaran. Orang apes pertama adalah cewek yang kelihatan binal yang duduk di meja sebelahku. Orang apes kedua adalah orang mesum yang duduk di sebelahku, siapa lagi kalau bukan Taufik.

“Ayo mas, maju, maen game, ntar dapet hadiah” bujuk si MC.

“Nggak mas, sebelahku aja wis” si Taufik mengelak sambil menunjuk agar aku aja yang bermain game. Si Taufik ini meskipun sering malu-maluin, tapi dia sangat grogi kalau disuruh tampil di depan umum.

“Ya udah kalau gak mau hadiah, biar mas disebelahnya aja yang maju”

Aku yang udah males mau mengelak, akhirnya pasrah ketika digelandang menuju depan untuk bermain game, entah apa bentuk gamenya. Otak liar sedikit berpikir, jangan-jangan disuruh cipokan sambil ngambil permen dari bibir cewek binal disebelahku ini? Tapi sang MC ternyata gak secabul aku. Setelah dapet 1 pasangan cowok-cewek lagi, dia mengumumkan gamenya.

“Joget sambil mengikuti musik!”

MATI AKU!

Kenapa gak suruh aku telanjang sekalian?

“What should we do then?” Tanya cewek binal disebelahku sok inggris.

“You should fuck me!” aku pengen ngomong gitu, tapi takut digampar.

“I don’t know, just shake your hips and try to do any dance just like he asked…” sahutku.

Musik pun dimainkan. Lagu dance yang sering diputar di acara dangdut koplo di kampung-kampung. Musik yang akan membuat kita berjoget hingga lupa umur. Musik yang bikin oom-oom lupa kalau mereka sudah punya anak istri. Dan ini jelas bukan musik favoritku. Kenapa gak sekalian musik dangdut aja? Toh ntar hasilnya pasti sama-sama joget. Tapi sayang, sang DJ sepertinya tidak mendengar ucapan dalam hati itu. Dia tetap memainkan musik itu seperti orang yang digigit semut hitam dipunggung. Menggelinjang. Kesetanan. Kesurupan.

Tanpa dikomando, cewek yang aku sangka binal maju kedepan. Mengambil kursi. Dan ternyata dia membuktikan kebinalannya. Dia goyang. Entah goyang apa. Goyang gergaji kek, goyang ngecor kek, goyang ngebor kek, gak penting. Yang penting dia HOT! REALLY REALLY HOT! Beberapa orang laki-laki bertampang mesum dan mata jauh lebih mesum – termasuk Taufik pastinya – ngeliatin dan bersorak kegirangan. Yeah! Do it more baby!

Setelah puas merangsang beberapa pria, sekarang giliranku maju.

“Mas, sapa namanya?” si MC busuk ini bertanya

“Nuran”

“Lurah?” tanyanya sambil tertawa nista

Anjing

“Nuran!” sahutku sedikit lebih keras

“Apa? Murah?” dan kali ini ketawanya membahana

Taiiikkkk…

“Whatever lah, yang penting, ayo joget!” sahutnya.

Damn! Aku kudu joget apaan? Aku nyesel dulu gak pernah mau diajak liat dangdut dan belajar koreografi dangdut ama preman-preman yang nonton – yang goyangnya jauh lebih hot daripada penyanyinya sendiri –

 

Sempet terpikir mau joget nista ala iklan batere, tapi aku takut dilempar botol.

Tepuk tangan semakin membahana, aku panik!

Kalau di panggung, jangan gunakan otakmu

Tiba-tiba aku inget salah satu petuah dari pengunjung blogku. Dan tiba-tiba aku maju, dengan gaya penari striptease di video klipnya Aerosmith. Entah apa yang aku lakukan. Aku maju mendekat ke kursi. Melepas jaketku perlahan. Memutar-mutar jaketku diatas kepala, seperti koboi memutar tali lasso. Dan sorakan langsung terdengar. Sempet terdengar pula jeritan beberapa wanita, tapi kurang begitu jelas bunyi jeritannya, apakah “kamu ganteng!” ataukah “Kamu gay ya?” but, show must go on…

Seperti orang gila, aku memutar-mutarkan pantatku. Damn! Aku lebih baik mati! Tapi karena teringat petuah bijak tadi, aku seakan membuang semua akal sehatku. Insting yang bermain bung!

Aku berjoget. Meliuk. Cepat. Cadas. Hot. Binal. Nakal. Menggoda. Merangsang. Entah apa lagi. Mungkin kalau ada tante girang lagi liat aku joget, aku berani bertaruh, dia bakal nyamperin aku dan nanya “tarifnya semalam berapa mas?” hehehe…

Dan penyiksaan pun usai. Tepuk tangan membahana. Aku jadi ngerasa, kok aku yang show, bukannya The Brandals, hehehehe.

Setelah 2 orang berikutnya berjoget, saatnya pengundian siapa yang menang. Hadiahnya cuman ada 2 paket aja. Siapa yang menang dari 4 orang itu?

 

***

The Brandals telah berorasi dengan cukup bagus. Kalimat yang mencerminkan bagaimana seharusnya band rock n roll bersikap dengan kata-kata. Nakal dan sedikit vulgar. Gak sopan? Kalau anda ingin sesuatu yang sopan, silahkan datang aja ke Seminar atau arisan RT, jangan ke konser rock n roll.

Konser malam itu sepi. Banget malah untuk ukuran band seperti The Brandals. Di Jakarta mereka adalah bintang, meski ada suatu waktu dimana mereka sepi dari job karena kelakuan sang vokalis yang gemar melontarkan kata-kata tak senonoh yang mungkin dianggap sedikit berlebihan buat para penonton. Tingkah laku sedikit berandal itu pula yang menyebabkan sang vokalis sempat dilempar Lumpur oleh beberapa anak yang berdandan punk saat mereka jadi headliner di pensi salah satu SMA di Jakarta pada tahun 2004. Plok! Tepat di wajah, dan sang vokalis beserta bandnya harus turun dari panggung. Karena barang yang dilempar semakin banyak, dan tidak Cuma Lumpur.

Sejak saat itu, The Brandals sempat di black list oleh beberapa Event Organizer di ibu kota. Dan The Brandals pun sepi job. Mereka tenggelam.

Gara-gara publikasi yang kurang maksimal, hasilnya pun jelas tidak maksimal. Dan hal itu terlihat saat konser ini. Hanya segelintir orang yang datang demi The Brandals. Memang café ini cukup ramai, tapi aku yakin, yang datang untuk menonton konser The Brandals hanya segelintir saja. Dan benar, yang maju ke depan panggung mungkin hanya sekitar 15 – 20 orang saja. Yang lainnya? Duduk sambil menghisap rokok mereka. Saat itu pula aku jadi tambah yakin kalau sebenarnya seksi Pubdekdok mungkin jauh lebih krusial perannnya dibandingkan seksi konsumsi atau malah Ketua Panitia.

Ah peduli setan dengan mereka yang Cuma duduk manis! It’s rock n roll show fucker! You don’t have to be a saint here! Dance till you drop!

 

***

Eka Annash adalah seorang dengan bad attitudes. Suka mengumpat, mengeluarkan kata-kata kotor dan sederet perbuatan tak menyenangkan lainnya. Entah apakah itu cuma propaganda media yang cenderung membesar-besarkan sesuatu atau itu hanya publicity stunt, tapi aku tidak melihat itu semua saat konser kemarin. Yang ada hanya vokalis yang atraktif, komunikatif dan kreatif. Tak sekali pun kata-kata kotor keluar.

Malah pada saat lagu “Bercinta”, dia turun dari panggung yang memang tingginya hanya ½ meter saja. Mengajak para penonton yang berjumlah sedikit untuk bernyanyi bersama. Karuan saja crowd langsung menggila. Mereka memeluk Eka, bernyanyi bareng, menjepretkan kameranya, menjadi fotografer mendadak. Dan aku termasuk salah satu dari mereka.

 

 

 

 

 

***

“Sekarang anda yang menentukan pemenangnya” sang MC dari neraka itu sok serius, sedikit meniru para MC di ajang yang bisanya cuma mencetak idola instan.

“Semakin banyak yang bertepuk tangan untuk peserta yang dipanggil, maka dia yang menang”

Aku ragu. Mungkin yang menang adalah 2 orang cewek, karena sebagian besar penonton adalah para cowok-jarang-sholat-mesum-dan-tak-pernah-disentuh-cewek. Dan aku sedikit beranggapan positif kalau mereka adalah cowok-cowok yang bukan gay. Jadi sedikit kemungkinan mereka bertepuk tangan untuk cowok gondrong awut-awutan bernama Nuran yang dengan nista berjoged striptis ala Alicia Silverstone di video Crazy-nya Aerosmith.

“Peserta pertama, si Ayu (Nama samaran)” terdengar tepuk tangan membahana.

“4700 orang yang tepuk tangan!” sahut sang MC

Baguuuus, selain jadi MC, ternyata kamu adalah pegawai statistic yang tangguh.

“Peserta kedua, eh, sapa nama lu?”

Kampret!

“Nuran!!” Aku teriak sambil berharap gak dipanggil Paimin.

“Oke, Nuran… Gimana dengan performance Nuran?!”

Dan tanpa aku duga, penonton bertepuk tangan dengan meriah, sangat meriah! Mengalahkan si Ayu. Malah ada beberapa gerombolan cewek-cowok yang pake standing ovation segala. Damn! Aku terharu! Terima kasih buat Tuhan YME, orang tuaku yang mendidik aku dengan baik, para teman-temanku yang selalu ada buat aku, hiks hiks… I love you all!! Hahahahaha!!! Tapi beneran! Yang tepuk tangan ada buanyak! Malah aku liat, si Eka dan personel The Brandals lain sempat ketawa-ketawa sambil tepuk tangan.

“ Wow! Ada 5467 orang yang tepuk tangan!”

Dan 2 orang sisa, bisa dianggap sebagai penghibur saja. Hadiahnya? Cukup mendapatkan ucapan terima kasih doang, hehehe.

“Ini hadiahnya, thanks” si MC menyerahkan hadiah. Tiba-tiba saja dia terlihat sangat baik hati dan tampan serta menawan, huahahahaha!!!

Pas aku ngeliat, isinya 2 starter pack (lagi!) dan 1 buah CD The Brandals yang baru! Damn! I’am a lucky bastard. Yah, cukup setara dengan pengorbananku striptis tadi, hohoho. Dan pas aku kembali ke tempat dudukku, si Taufik hanya bisa misuh-misuh setelah tahu bahwa hadiahnya adalah CD The Brandals. Ayu sang gadis binal pun kembali ke mejanya. Dia menyulut rokok, sambil menawarkan rokok padaku. Tapi setelah dia tahu aku bukan perokok, matanya mengerling padaku sambil tersenyum penuh makna. Get laid? Kita liat aja ntar, tapi yang jelas aku masih ingin perjaka sampe nikahku ntar, hehehe. Atau mungkin mau sesuatu dariku yang jelas lebih besar dari sebatang rokok? Huahahaha, mesuuuummmm!!!!

 

***

 

Brandalisme adalah album ke 3 dari The Brandals yang bener-bener dikerjakan secara indipenden. Band yang berada di bawah naungan Aksara Record, sebuah label rekaman band indie ini sedikit demi sedikit mengumpulkan uang dari hasil manggung. Eka sendiri juga sempet bercerita soal penggarapan album ini.

“Kita bikin album ini dengan duit sendiri, biaya sendiri. Bener-bener do it yourself” katanya seakan memberi semangat band-band indie di seluruh Indonesia. Dia berkata begitu untuk menunjukkan bahwa semangat do it yourself harus tetap dipelihara. Dan untuk ukuran sebuah album indie, Brandalisme sangat jauh dari kesan mengecewakan. Musiknya terasa lebih dewasa. Di dua album sebelumnya, Self titled (masuk dalam daftar 150 album Indonesia terbaik) dan Audio Imperialist, liriknya cenderung agak mentah. Standar band rock n roll, sedikit nakal dan bercerita tentang masa muda, dunia malam atau one night stand. Audio Imperialist sendiri, meskipun lirik dan musik makin membaik, tapi kualitas sound yang dihasilkan sangat buruk. Tapi album ini sedikit berbeda. Unsur distorsi memang masih dominan, tapi lirik yang diusung jauh mengalami pendewasaan. Coba saja simak lagu Surat Seorang Proletar Untuk Kaum Elit Borjuis atau Janji 1000 Hari. Liriknya menyerempet kearah social politik. Hmm, suatu transformasi yang cukup berhasil. The Brandals juga menyisipkan bebunyian terompet dalam lagu Is It You Girl?. Pemain terompet sendiri adalah Amar, sang peniup trompet Maliq and D’Essential. Is It You Girl? jadi lagu yang cukup nendang menurut saya. Sebuah album bintang 3 dari The Brandals.

 

***

The Brandals memang terlihat telah menyimpan energi untuk dihabiskan di panggung malam itu. Eka Annash seakan tak pernah lelah berjoget, berdansa, melompat, berteriak. Energinya tertular ke belasan penonton yang menyemut di depan panggung.

 

Tak terasa waktu sudah hampir jam 12 lewat. Penonton terus berteriak “24 Lewat!”, meminta masterpiece The Brandals itu untuk segera dimainkan.

“Sabar, belum juga jam 24 lewat” Eka mengelak. Gantinya, The Brandals menggempur dengan lagu baru dari album baru, Broken Heart Blues. Dan lagi, penonton bernyanyi. Lingkar Labirin, Mobil Balap bergantian dinyanyikan. Dan waktu sudah lewat dari jam 24. Saatnya himne 24 Lewat dikumandangkan.

 

***

“Berkali-kali kau buat tidurku tak nyenyak… bertaburan lampu angkasa, mimpiku bergolak…” Himne pun dinyanyikan secara khidmat. Tak ada penonton yang tak bernyanyi. Semua menggelinjang resah, hingga puas. Dan saya berpikir, konser ini telah mencapai klimaksnya. Tapi ternyata para berandal ini belum puas.

Tanpa teriakan encore, 100 % Kontrol pun dimainkan. Lagu jagoan dari Album Brandalisme ini kembali mengundang koor dari penonton. Semua berkeringat. Semua bergairah. Semua ingin bercinta. Semua puas. Semua senang.

Dan The Brandals pun turun panggung diiringi bunyi tepuk tangan yang membahana. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 24.20. DJ pun muncul dari balik panggung. Kembali memainkan lagu nista berirama disko. Dan aku tahu, saat sang DJ muncul, itu berarti saatnya aku, Widhi dan Taufik pulang. Memang masih banyak cewek-seksi-minta-ditidurin. Tapi energi telah habis terkuras setelah Bercinta dengan para berandalan ibu kota. Dan sekarang memang saat yang tepat untuk pulang, dan bercinta dengan bantal. Ah, Sebuah konser bintang 4 dari The Brandals.

 

Aku tahu dimana lantai dansa kan terinjak

Aku tahu dimana kita bisa teriak!

Ahhhhhhh !!!!!

Komentar (8) »

Manusia dan Lensa Kehidupan

Manusia memang selalu menjadi objek foto yang menarik. hal ini yang coba Andrey Gromico, seorang fotografer jomblo dari Tegalboto, tangkap. mengambil setting di tempat pembuangan sampah di daerah Pakusari, dia mencoba membingkai kehidupan ala pemulung yang sering diasosiasikan sebagai orang buangan dan orang yang cinta sampah. tapi foto memang memiliki ribuan makna. silahkan tangkap sendiri makna yang tersembunyi di foto-foto ini…

Kasih Seorang Ibu
Menunjuk Masa Depan
Melepas Lelah
Oh Nasibku…

Komentar (2) »

Umur dan Kematian…

    Umur manusia memang tak dapat ditebak. Itu adalah rahasia tuhan selain jodoh… kapan kematian, kita tidak bisa memprediksikan. Andai orang tahu kapan dia mati, pastilah Sid Vicious, Jim Morrison atau Janis Joplin bakalan bertaubat dulu sebelum meninggal…

       Menurut  Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad, seorang sufi dan ulama terkenal, umur seseorang dibagi menjadi

  1. Masa perpindahannya sejak pertama dalam tulang sulbi para ayah dan rahim para ibu sebelum dilahirkan.
  2. Masa kehidupan di dunia sejak ia dilahirkan dan diwafatkan oleh Allah SWT.
  3. Masa tinggal di alam Barzah sejak wafat hingga dibangkitkan kembali.
  4. Masa tinggal di padang Mahsyar sejak dibangkitkan hingga diputuskan amalnya oleh Allah SWT.
  5. Masa kehidupan di alam yang kekal dalam kenikmatan surga atau dalam kepedihan neraka.

    Entah apa yang mau aku tulis disini. Aku hanya merenung. Betapa cepat terkadang tuhan memanggil “kekasihnya” kembali disampingnya.

    Aku jadi merenung… saat aku dipanggil nanti, apakah amalanku sudah cukup untuk mengadap padaNya? Apakah dosaku terlalu berat sehingga nantinya aku bakalan langsung dicemplungkan ke neraka tanpa dihizab? Wallahualam, semua adalah rahasiaNya…

 
Tulisan ini didedikasikan buat Lukman, seorang sahabat dari SD Alfurqan yang tak lama ini telah dipanggil menghadap sang khalik dalam usia yang sangat muda. Dia bahkan belum menikah…

 

 

 

Kenangan indah sewaktu reuni SD bersama para sahabat masa kecil. Lukman dengan baju merahnya terlihat gagah…

juga buat Taufik, seorang teman yang tak terasa udah hampir 8 tahun semenjak dia meninggal tertabrak kereta api saat membolos… juga buat semua teman yang meninggal dunia begitu cepat… Janis Joplin, Hide, Jimi Hendrix, Kurt Cobain, Jim Morrison, Freddie Mercury, semua legenda yang meninggalkan dunia ini terlalu cepat…

Dan juga buat aku sendiri, agar aku ingat umur dan ingat bahwa kematian bisa datang kapan saja. Agar aku bisa menjadi mahluk yang lebih ingat padaNya…

Selamat jalan Lukman, sahabatku… semoga kau tenang disisiNya…

Amin…

Komentar (1) »

Jalan – Jalan Ke Papuma

                Beberapa hari lalu, karena sumpek dan bosan dengan rutinitas, beberapa bangsat-bangsat dari PORSA ngerencanain pergi ke salah satu pantai yang terkenal di Jember. Puger? Karena lokalisasi-nya udah di gusur, pantai itu sekarang udah gak begitu terkenal. Orang kesana Cuma buat nyari ikan. Nyari yang “lainnya?”  Maap mas, udah pada digusur tuh…

                Papuma mungkin jauh lebih menarik. Setelah sempat bingung nentuin antara Bandealit, Selokambang, Pasir Putih atau Papuma, akhirnya kita memilih pergi ke Papuma. Selain jarak yang cukup dekat, biayanya juga lebih murah. Maklum, hari tua oom.  Ke bandealit, butuh sepeda motor yang tangguh. Dan 1 hari jelas gak cukup. Selokambang, terlalu jauh (Lumajang) dan tempatnya biasa aja. Jadilah kita berangkat ke Papuma. Berangkattt!!!!

                Perjalalan kesana memakan waktu sekitar 1 jam. Tapi kali ini masih ditambah waktu buat menembel ban sepeda laknat milik Dani yang bocor(yang kebetulan goncengan ama aku). Jalanan juga cukup indah, banyak sawah hijau disepanjang jalan, sayan g pemandangan indah ini tidak sempat aku potret, aku kebagian nyetir, juancuk!

 

 

 

 

                Apa yang aku dan para gerombolan narapidana ini lakukan disini? Gak ada yang special. Yang gila foto, ya jalan-jalan sambil foto-foto. Yang kepingin tenang ya duduk-duduk, ngobrol ngalor ngidul. Seperti yang aku dan Alvin lakukan. Dan ternyata duduk-duduk ini membawa hadiah. Aku jadi tau sebuah rahasia. Dan rahasia ini sangat mengagetkan!

                Ternyata ada seorang temen cewekku (untuk menghindari rasa malu pada cewek itu, aku samarkan saja namanya menjadi Sutinem, huahahahaha!!!) yang pernah suka sama si Alvin ini. Nah, entah untuk menarik perhatian Alvin atau ada alasan lain, si cewek ini pernah membuat pengakuan pada si Alvin, bahwa  Aku pernah nembak Si Sutinem itu! Dan ditolak!! Uasuuu!!!

                Aku kaget! Gak nyangka aja aku difitnah sedemikian rupa. Dan ini bukan hal yang pertama. Waktu SMP, pernah beberapa temen cewek ngaku pernah ditembak dan ngaku pacaran sama aku (aku bukan narsis anjink!) waktu SMA juga malah lebih parah, ada adik kelasku yang mengaku udah tunangan sama aku! Anjiiinnkkk!!! Parahnya lagi, pengakuan tak bermoral ini ditulis di WC sekolah! Jadilah semua sekolah tahu berita busuk nan bohong ini… Huohohoho… parah!

                Kenapa aku kaget waktu temen cewekku ngaku dfitembak aku? Simple, aku gak pernah nembak dia, dan waktu SMA aku juga gak begitu dekat ama dia. Kuliah ini aja aku cukup deket ama dia. Dan deketku gak macem-macem, cuman sekedar miscall ato sms doang. That’s all! Karena itu, aku kaget waktu Sutinem bilang aku pernah nembak dia, dan ditolak lagi! Uasuu!!

                Si Alvin yang pada akhirnya nolak Sutinem, pada awalnya juga gak percaya, karena waktu itu Alvin belum begitu kenal ama aku. Tapi setelah kenal aku, dia gak percaya sama gossip murahan itu. Dan makin gak percaya setelah aku kasih tahu yang sebenarnya. Dan terungkaplah semua misteri, si cewek ini adalah busuk! Pengkhianat! Dan ternyata bukan cuman aku korbannya, banyak cowok lain yang jadi korbannya, dibilang sudah nembak Sutinem, dan ditolak! Bahkan si Budi juga dibilang udah nembak 2 kali, dan ditolak 2 kali! Duh, kasihan sekali nasibmu nak…

***

                Setelah cukup puas jalan-jalan, foto-foto, tiba saatnya makan. Dan gak ada menu yang lebih enak (jika berada di pantai) selain ikan baker dan es kelapa muda. Jadilah kita cari warung yang menjual 2 menu andalan daerah pantai. Gak sulit sebenarnya, karena ada puluhan warung yang menjual menu seperti itu. Dan disinilah kami, menikmati ikan bakar dan es kelapa muda… mak nyusss!!!

 

 

 

 

 

 

 

 Ki-Ka: Togog, Robith, Topik, Alvin

 

                Setelah perut kenyang, otak jadi segar, saatnya pulang.

                Rutinitas masih menunggu setiba kami di Jember…

                Juancukkk!!!

                Hehehehehe…

 

 

Nb: Buat Dipta yang gak bisa ikut karena dilarang sama pacarnya… hmmmm, turut berduka cita deh. Aku baru percaya kalo tokoh laki-laki di Sitkom Suami Takut Isteri itu diilhami oleh kejadian nyata. I’ve seen it on you dude, huahahaha…!

Komentar (4) »

Gak Upload Dulu Sementara Waktu

    Maap bagi yang udah nungguin postinganku sampe saat ini. makasih juga buat yang masih tetep ngasih komen di blog ini. untuk sementara ini masih belum bisa upload tulisan yang masih ngendon di harddisk komputer. ternyata jadi orang sibuk itu susah susah gampang ya?

Ceritanya saat ini Tegalboto lagi ngebut bikin majalah terbaru. nah, kebetulan beberapa orang pecinta musik di Tegalboto ngusulin tema yang sedikit absurd buat majalah mahasiswa, musik! setelah melalui rapat dan beberapa lobbying, akhirnya jadilah musik sebagai tema utama.

Gilanya, berhubung bu pimred pecinta lagu abang tukang bakso itu menganggap aku sedikit banyak berperan dalam pemilihan tema, jadilah aku disuruh kerja rodi buat majalah ini. berawal dari wawancara mas Wendi Putranto, salah satu editorial staff Rolling Stone Indonesia di  Kantor RSI di daerah Kemang, hingga beberapa contoh kerja rodi yang tak berkeprimanusiaan, huehehehe…

Jadilah selain kuliah, hidupku saat ini sebagian besar dihabiskan di sekret Tegalboto yang asri.

Jadi, maklum, masih belum bisa ngaplot tulisan yang sebenernya udah ada dan tinggal di aplot aja.

Ada berita backpacking pas liburan kemaren di 4 kota, ada liputan konser The Brandals hingga liputan Konser Skid Row (yes! SKID ROW!!!) di Malang kemaren.

Jadi sabar aja dulu…

Thanks for visiting…

God Bless You All!

Rock On!

Komentar bertahan »