Arsip untuk Juni, 2008

1 Juni 2008…??

Fuhhh… setelah berhari-hari kepala sedikit seperti mau pecah, akhirnya hari ini aku dapet kesempatan untuk sedikit menyegarkan pikiran dan menormalkan kembali otakku. Kesempatan itu datang saat Miko menawari untuk pergi ke kolam renang. Ngapain ke kolam renang? Uhhhh, banyak sih, mulai dari mengintip cewek ganti baju, menggoda mbak penjual tiket dan… renang! Ya iya lah goblok!

Jadilah sore itu, menjelang maghrib kami berangkat menuju kebon agung, salah satu kolam renang terkenal di jember. Olalala, ternyata ada peraturan baru di Kebon Agung. Setiap hari senin- sabtu, jam buka hanya sampai jam 18.00 saja. Sementara saat itu waktu sudah menunjukkan jam 18.30. akhirnya kami pun pergi ke Bandung Permai, kolam renang yang terletak di depan saklah satu took gudang rabat. Oh ya, kali ini aku tidak hanya ditemani Miko, tapi ada juga si Koko, teman 1 SMA si Miko di Malang dulu. Si Koko ini nanti akan banyak membawa aib bagi aku karena dengan bangganya mengumumkan diri sebagai pasangan homoku, huahahahaha, parah!!!!

Intinya, malam ini kami bisa dengan santai melepas semua beban. Menggerakkan badan, tangan, kepala dan kaki untuk membelah air yang berwarna kehijauan karena efek dari kaporit. Tidak banyak pengunjung yang datang di kola mini, karena memang waktu sebenarnya sudah cukup malam untuk mencemplungkan diri di kolam renang.

Oh ya, si Miko kali ini dengan membawa kamera DSLR Nikon D 60-nya berhasil membujuk aku untuk menjadi “kelinci percobaan” fotografinya. Aku disuruh berkali-kali melompat ke dalam kolam hanya untuk mendapatkan gambarku yang melayang dan masuk ke dalam kolam. Dan yang membuatku pengen nenggelamin si Miko ke dasar kolam adalah banyak dari jepretannya gagal. Ada yang terlalu cepat lah, gak focus lah, kurang pencahayaan lah dan segala macam alasan tolol lain yang berhasil membuatku ngos-ngosan karena harus berkali-kali naik-lompat kolam… tapi overall, beberapa foto cukup bagus hasilnya. Nice pict!

JUMP!!!

sok iye! padahal tampang kayak tukang buah! hahahaha

hehehe, ini aku yang moto…

3 orang homo?? ugh!!! threesome?? uweek!!!

L-Men Of The Year? huahahahaha!!!!

Nuran Cakep??? huahahahahahahahaha!!

Okeh. Cukup cerita renangnya. Setelah badan cukup segar karena efek olahraga, perjalanan malam ini dilanjutin dengan survey soal harga tiket ke Makassar. Buat yang belum tahu, seandainya Allah ngijinin, aku akan berangkat ke Makassar tanggal 7 Juni 2008 ini. Harga tiket mulai Rp.228.000 sampe Rp.270.000. Lama perjalanan kira-kira 1 hari 1 malam. Yah, moga-moga saja perjalanan kali ini jadi dan berhasil, amin!

Setelah survey harga tiket ke Makassar, kami berencana makan. Tapi ndilalah ada demo di bunderan DPR. Demo yang dilakukan oleh beberapa organisasi extra ini ternyata bukan demo BBM. Mereka demo untuk mengkritik ulah FPI yang semakin lama semakin arogan dan sering memakai kekerasan dalam aksinya. Demo ini berjalan tertib dan damai. Jauh dari kerusuhan yang sekarang ini menjadi sahabat karib dikala demo. Jadilah kami turun sejenak dari motor tua Miko, lalu sedikit meliput dan memotret. Setelah itu baru makan.

Sok Abstrak, padahal amatir, huahahahahaha

Huffff, hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan telah berakhir seiring aku berada di atas karpet merah, alas lantai Tegalboto yang menyimpan jutaan makna…… dan liur, hehehehe. It’s time for me to take some sleep, cause tomorrow will be better, and harder…

See you again…

Rock On!

Komentar (3) »

It’s A Long Way to the Top (If You Wanna Rock N Roll): Skid Row Live Concert in Malang

Judul lagu dari band rock legendaris asal Australia, AC/DC, itu mungkin sedikit banyak menceritakan tentang bagaimana susahnya untuk menggapai sesuatu. Entah itu cita-cita anda atau bahkan hingga hal yang terkecil, seperti pacar misalnya. Tulisan kali ini adalah sesuai dengan isi lagu AC/DC itu. Bagaimana saya harus menempuh jalan yang panjang untuk menggapai sesuatu yang bernama rock n roll. Disinilah saya, tanggal 14 Maret 2008. berdiri di jalan Jawa VII. Di sebuah kontrakan tempat teman saya tinggal. Saya menunggu hujan yang tak kunjung reda untuk kemudian berangkat menuju Malang. Ada apa di Malang? Ada mimpi dan harapan saya disana. Sesuatu yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang rockstar dan selalu belajar untuk menjadi seorang pemberontak. Mimpi dan harapan saya itu adalah Skid Row

***

Bagi pemuda yang besar di era akhir 80an dan awal 90an, pasti mengenal yang namanya Skid Row. Saya sendiri meski baru lahir pada akhir 80-an, sudah dijejali musik tahun 70an oleh ayah saya semenjak masih berumur 4 tahun, masih TK!. Seingat saya, waktu anak seumuran saya belajar menyanyikan Kodok Ngorek atau Bintang Kecil, saya sudah dijejali Jimi Hendrix, Rolling Stones, Deep Purple, Led Zeppelin hingga yang sedikit slow seperti Bee Gees atau The Beatles. Peracunan pun terus berjalan dan misi ini diemban oleh adik ayah saya. Ya, ayah dan om saya telah “berdosa” membuat saya terjebak dalam era classic glam rock itu. Setelah ayah saya menjejali musik kegemarannya, gantian, om saya yang menjejali musik kegemarannya pada saya. Dan itu berarti Guns N Roses, Skid Row, White Lion, Cinderella, Bon Jovi, Motley Crue hingga Poison masuk kedalam kuping dan turun hingga ke hati. Dan sampai saat ini pun, tradisi peracunan itu masih berlaku. Gantian saya yang berusaha menjejali adik atau keponakan saya untuk mendengarkan musik legendaris itu. Dan jujur, masa sekarang hal itu jauh lebih sulit. Percayalah!

Skid Row adalah salah satu band hero saya selain Guns N Roses. Tumbuh besar dalam sayatan gitar Scotti Hill dan Snake Sabo, Lengkingan vocal Sebastian Bach, Cabikan bass Rachel Bolan dan gebukan drum bertenaga oleh Rob Affuso, mau gak mau mendoktrin saya tentang selera musik. Dan attitude mereka juga sangat berpengaruh dalam segala tetek bengek kehidupan saya. Saya pun, sama seperti om saya, menganggap mereka adalah pahlawan.

Anda bisa membayangkan bagaimana kalau band pahlawan anda datang ke kota tetangga, dengan harga tiket yang sangat terjangkau? Apa yang anda lakukan? Tentu anda akan berusaha untuk menonton konser itu. Begitu pula yang saya lakukan saat mendengar Log Zhelebour akan mendatangkan Skid Row ke Indonesia. Kabar pastinya saya dapat dari internet dan tv. Selain berhasil menjadi perantara media untuk meracuni masyarakat dengan sinetron-sinetron najisnya, ternyata Tv memang tetap menjadi sumber informasi yang bisa diandalkan. Tak aneh memang kalau sempat ada prediksi kalau jurnalisme elektronik (baca: intenet, tv) akan mengalahkan jurnalisme cetak (Koran atau majalah). Skid Row akan konser di 5 kota dengan harga tiket yang gila-gilaan… murahnya! Bayangkan, jika anda hidup di kota besar seperti Jakarta, anda cukup merogoh kocek sebesar 100 ribu untuk menonton band sekelas Skid Row. Sedangkan di kota lain, Bandung ( 30 Ribu ), Semarang ( 20 Ribu ), Surabaya dan Malang ( 25 Ribu ). Bandingkan dengan harga tiket konser Diana Ross kemarin yang kelas VVIP mencapai 10 juta! What the fuckkk!!! Dan herannya, ada saja orang kelebihan duit yang mau mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk menonton seorang wanita kribo menyanyi. Saya jadi heran, saya ini hidup di Negara miskin atau Negara kaya ya? Tapi itulah, jika seseorang sudah mengidolakan sesuatu, apapun akan dilakukannya. Dan memang, tak aneh jika mereka mengeluarkan uang yang cukup untuk membeli nasi bungkus sebanyak 3333, 3333 bungkus (kalkulasi harga sebungkus Rp.3000) hanya untuk menonton konser.

Tapi lain halnya kalau ini terjadi pada mahasiswa berkantong cekak seperti saya. Saat ada selentingan kabar Skid Row akan main di Indonesia, saya sudah membayangkan harga minimal ratusan ribu rupiah untuk dapat menonton band dari New Jersey ini. Kalau itu yang terjadi, biarlah saya tidak menonton Skid Row. Karena bagaimanapun, mengidolakan seseorang bukan berarti membuat kita kehilangan akal sehat. Tapi beruntung sekali Indonesia mempunyai promotor seperti Log Zhelebour yang terkadang tidak begitu memikirkan profit, asalkan Indonesia bisa mendapat hiburan rock yang bermutu dan terjangkau. Saat mengetahui harga tiket yang hanya segitu, jadilah saya mengambil uang tabungan saya yang pas-pasan untuk ongkos pp, tiket dan akomodasi selama disana. Agar lebih mudah dan murah, saya memutuskan untuk menaiki alat transportasi sejuta umat, sepeda motor!

***

Tanggal 14 Maret, saya yang sudah berhasil membujuk 5 orang teman saya untuk menonton Skid Row, memutuskan untuk berangkat. Sebenarnya hal ini sedikit mengharukan. Bagaimana tidak, dari 5 orang teman saya, mereka semua bukan penggemar berat Skid Row, bahkan ada yang tidak tahu lagu-lagu Skid Row seperti apa. Tapi mereka tetap mau saya ajak. Rencananya hari ini 4 orang berangkat (termasuk saya di dalamnya), dan 2 orang menyusul besok. Karena hujan yang tidak kunjung reda, kami sedikit nekat untuk berangkat. Rencananya kami akan singgah dan menginap di rumah salah satu teman yang ikut, Alvin, yang rumahnya ada di Probolinggo. Akhirnya selepas maghrib, kami pun berangkat.

Sempat berhenti sejenak di daerah Jatiroto karena hujan sangat deras, akhirnya pukul 20.00 wib, kami memutuskan untuk berjalan terus. Sekalian basah! Dan ternyata tuhan memang ada dan masih perduli pada kami. Meski kami banyak dosa, jarang sholat, jarang ingat tuhan kalau gak ada maunya, ternyata tuhan masih sayang pada kami. Itu terlihat saat setidaknya tuhan sedikit bermurah kasih dengan menghentikan hujan pada saat kami berada di daerah Klakah. Thanks god!

Kami sampai di Probolinggo sekitar pukul 21.00. Setelah mengeringkan badan, kami pun dijamu makan oleh tuan rumah yang sangat ramah. Lumayan, selain enak, kami juga bisa sedikit menghemat biaya akomodasi. Mungkin karena lelah dihantam hujan dan angin, setelah makan kami pun langsung berangkat menuju pulau kapuk. Sebuah pulau yang menjanjikan kenikmatan bagi siapa pun yang masuk ke dalamnya. Bukan begitu? Selamat tidur semua…

***

Esoknya, setelah 2 orang teman kami datang, kami memutuskan untuk berangkat. Setelah mandi dan sarapan, kami pun langsung meluncur menuju Malang, kota yang terletak sekitar 50 Km dari kota Probolinggo. Malang, kota dingin yang terletak di lereng gunung Arjuno – Welirang. Kota yang terkenal dengan argowisata dan hasil perkebunan, terutama apel dan ubi ungunya. Kota sejuk yang mempopulerkan Bakpo Telo. Kota basis rock Jawa Timur tempat konser Skid Row diadakan. Berangkat!!!!

Kami sampai di Malang sekitar jam 11.30 wib. Satu setengah jam perjalanan dari Malang dengan sepeda motor. Kalau main hitung-hitungan, memang ongkos transport menuju malang, lebih murah jika menggunakan sepeda motor. Sekarang coba kalau kita naik kereta api Tawang Alun, dari Stasiun Jember – Stasiun Malang, harga tiketnya Rp.20. 000. Total jenderal, kalau kita naik kereta api, pp perorang mencapai Rp. 40.000. Dengan sepeda motor, setelah dihitung-hitung jumlah uang untuk membeli bensin untuk pulang pergi Jember – Malang, itupun masih dipakai untuk keliling kota Malang, perorang cukup mengeluarkan uang sejumlah Rp.28. 000 saja. Total Rp.56. 000 untuk ongkos bensin per sepeda motor. Tolong dicatat, jenis sepeda motor juga mempengaruhi jumlah liter bensin yang dikeluarkan.

Tujuan pertama kami di Malang adalah Lapangan Rampal, dengan asumsi ticket box sudah dibuka di lapangan tempat konser Skid Row itu. Jadi kami pun meluncur ke lapangan yang berada tepat di daerah kompleks militer itu.

***

Tapi apes, ada sebuah insiden yang menimpa Hadi dan Alvin. Karena meleng saat berada di pertigaan menuju Rampal, mereka menerobos lampu merah. Apesnya lagi, ada seorang bertampang garang berbaju coklat yang sedang berdiri pas di Zebra Cross yang langsung menghentikan sepeda motor mereka. Kenalkan, orang bertampang garang berbaju coklat itu bukan Pemandu Pramuka, melainkan polisi!

Seakan lupa dengan tugasnya untuk mengatur lalu lintas yang sedang macet, bapak polisi yang terhormat langsung meminta STNK dan tersenyum licik begitu mengetahui plat nomer sepeda si Hadi adalah nomer luar kota. Dengan langkah penuh kemenangan, pak polisi ini meminta Hadi dan Alvin untuk mengikutinya menuju pos polisi yang terletak di ujung jalan. “kesinilah domba manis, oom serigala akan memangsamu!” mungkin begitu yang ada di pikirannya.

Entah saya memiliki firasat yang kuat, atau sudah bukan rahasia lagi, bahwa beberapa oknum polisi tidak bertanggung jawab sering menyuruh pelanggar lalu lintas untuk memilih, sidang atau denda. Apesnya lagi, karena plat nomer sepeda si Hadi dari luar kota dan Alvin pun mencangklong tas seperti orang yang berpergian (yes, he is!) pak polisi itu sedikit beretorika, memilih antara sidang atau denda. Dan jelas, bagi mereka, para orang luar kota yang sedang berpergian, memilih untuk menghabiskan hari hanya untuk menunggu hari sidang STNK jelas bukan ide yang baik. Dan logikanya, para pelancong jelas memilih denda, dan polisi busuk itu pun seakan sudah bisa membaca hal itu. Dan benar, Rp. 60.000 terpaksa melayang dari kantong mereka berdua sebagai ganti “keteledoran” mereka menerobos lampu merah.

Bukannya tidak ikhlas (memang kita gak ikhlas!!!), tapi jujur saja, kesalahan 2 orang sahabat saya itu jelas bukan kesalahan yang besar. Bahkan roda belakangnya pun belum melewati marka, hanya ban depan hingga setengah bagian depan sepeda yang melewati marka, setengah bagian belakang hingga roda belakang masih tetap berada di marka yang benar. Yang membuat saya dan sahabat saya makin menggondok, di sebelah sepeda teman saya ada 1 orang tentara dengan seragam dinas yang sama-sama ban depan kendaraannya sedikit melewati marka. Tetapi kenapa hanya 2 orang sahabat saya yang “disayang”? jelas ini bukan hal yang adil.

Masalah yang jauh lebih besar dan bisa memperburuk image kota Malang dimata para pendatang adalah sikap polisi kepada para pendatang. Ketika mengetahui plat nomer sepeda dari luar kota, jadilah teman saya dijadikan bulan-bulanan seakan mereka melakukan kesalahan fatal, sudah menabrak seseorang hingga mati misalnya. Saya jadi sedikit membandingkan polisi busuk itu dengan polisi di daerah Bali. Tapi saya juga tidak paham apakah semua polisi Malang bertipikal seperti itu.

Saat saya sedang berkeliling di daerah Denpasar, karena tidak begitu paham lalu-lintas Denpasar, saya pun salah jalur, dan kebetulan ada polisi memergoki kesalahan saya. Bukannya memasang tampang seram dan meminta menunjukkan STNK, polisi itu dengan ramah menegur dan memberi petunjuk jalan yang benar ketika beliau tahu saya dari luar kota, dan kebetulan plat nomer sepeda saya juga plat nomer luar kota. Apakah itu hanya kebetulan (tapi kejadian ini tidak hanya sekali) atau memang polisi Bali sudah sadar pentingnya sikap ramah pada pendatang atau pelancong? Entahlah. Dan memang saat ini, Bali masih menjadi jujugan para pelancong. Apa itu juga disebabkan oleh keramahan para aparat disana? Bisa jadi…

***

Ternyata penjualan tiket baru dibuka pukul 15 wib nanti. Jadilah kami mendatangi tempat singgah kami selama di Malang, kontrakan tempat kakak dari Taufik, salah satu teman kami yang juga ikut menonton konser ini. Setelah sedikit melepas lelah dan membasuh muka lusuh kami, kami pun berkeliling kota Malang. Setelah lelah mengelilingi kota Malang, kami pun meluncur ke Lapangan Rampal untuk membeli tiket.

Seperti layaknya konser besar, puluhan calo pun berjejer di pinggir jalan di sekitar venue. “Tiket Skid Row! Cuma 25 ribu rupiah!” teriak mereka lantang sambil melambaikan lembaran tiket di tangan mereka. Banyak juga orang yang malas masuk kedalam tempat penjualan tiket resmi, berhenti untuk membeli tiket. Dan memang tidak seperti calo saat musim mudik tiba, calo tiket konser ini mematok harga sama dengan harga tiket yang ditawarkan promoter, Rp.25.000. Apakah kalian berpikir bahwa apa mereka tidak mengambil untung sama sekali? Kalau kalian berpikir begitu, berarti pikiran anda sama dengan saya dan sahabat-sahabat saya.

Tapi pertanyaan itu segera saja terjawab saat saya dan Budi, masuk menuju tempat penjualan tiket. Ternyata antara calo dan pihak penjual tiket sudah kenal sebelumnya. Dan calo ini memiliki semacam perkumpulan. Jadi anggota dari perkumpulan ini akan diberi diskon tiap membeli tiket dalam jumlah tertentu. Dan profit mereka, ya dari diskon yang diberikan itu. Dan ternyata diskonnya cukup lumayan juga, tergantung dari banyaknya tiket yang mereka beli. Semakin banyak tiket yang mereka beli, semakin besar pula potongan harganya Tak heran kalau ada puluhan calo yang rela berdiri di pinggir jalan untuk menjual tiket itu. Bukankah jaman sekarang orang harus sedikit bekerja keras untuk mendapatkan uang? Yang penting halal. Benar tidak saudara?

***

Ditangan saya kini terpegang benda yang paling penting dan paling berharga dalam hidup saya saat ini, tiket konser Skid Row. Dan saya tidak akan rela menukar tiket ini dengan Luna Maya telanjang sekali pun, kalau mengingat betapa berat perjuangan saya demi mendapatkan tiket ini. Kehujanan, bolos kuliah, menguras duit, ditilang polisi dan berbagai penderitaan lain seakan menambah arti penting dari tiket ini.

Tak lama setelah saya sampai venue, saya dan 5 orang teman saya segera masuk ke dalam venue. Tapi sebelum itu, 2 orang teman saya, si Budi dan Taufik sempat terpisah, dan akhirnya bertemu di dalam venue.

Pengamanan sangat ketat. Tak Cuma polisi yang menjaga, para tentara pun turun tangan, membuat para penonton tak cukup nyali untuk menorobos penjagaan. Ribuan anak muda tumpek blek di luar venue. Ada yang bergerombol sambil sama-sama memakai kaos hitam sebagai tanda anak metal, ada yang berpasangan sambil bergandengan tangan, ada juga yang muntah karena terlalu banyak meminum alkohol. Intinya, semua jenis anak muda ada disana.

Akhirnya konser agung itu pun akan dimulai. Setelah Rampal puas dihentak dengan penampilan 2 grup rock baru, Log Guns dan Kobe, kini saatnya sang nabi metal tampil dan mengguncang para penganutnya.

Seorang botak keluar dari backstage. Tiba-tiba saja tanpa dikomando, penonton bersorak, suasana bergemuruh. Mungkin mereka mengira dia adalah Jhonny Solinger yang rambutnya dipotong botak plontos. Dan MC gaek yang memandu acara tersebut hanya bisa berkomentar dengan logat Jawa Timuran yang khas “wah, ndeso rek! Ndelok wong bule wae seneng! Iku duduk Skid Row, iku tekhnisine!” penonton hanya bisa tertawa kecut.

Saat ini saya berada hanya 5 meter dari bibir panggung. Konser ini sebenarnya tidak terlalu ramai. Apalagi kalau dibandingkan dengan konser dangdut yang setiap kali konser, penontonnya pasti berjubel, penuh sesak hingga tak ada ruang untuk bergerak. Mc yang berdiri di atas panggung adalah seorang dedengkot musik rock Malang dan seorang Aremania sejati. Terbukti dari orasinya yang selalu mengagungkan Arema.

“Buat para calon bupati! Jangan hanya minta suara rakyat! Tapi perhatikan juga keinginan rakyat. Malang tidak butuh Mall, Malang butuh tempat yang layak untuk menggelar musik rock!” lagi-lagi dia berorasi. Sedikit mengingatkan para rakyat Malang bahwa sebentar lagi akan ada pilkada. Dan itu berarti ada beberapa orang busuk yang tiba-tiba saja hobi blusukan ke tempat kumuh atau tempat terpencil, tentu dengan diiringi wartawan yang setiap saat meliput kegiatan tidak penting itu dan menuliskannya di Koran

“Engko lek Skid Row mudun soko panggung, celuken meneh wae. Sing kompak rek! Njaluko tambah lagune… oyi?!” dia mengingatkan para penonton tentang kebiasaan encore para artis luar negeri yang cenderung sudah basi. Dimana lagu jagoan belum dimainkan dan artis sudah turun dari panggung. Saat penontong berteriak we want more, barulah artis itu keluar lagi dan memainkan lagu jagoan mereka. Klise sebenarnya.

***

Skid Row kali ini tidak sama dengan Skid Row yang merilis album Slave to the Grind, album metal pertama dalam sejarah yang berhasil mencapai peringkat 1 dalam chart album Billboard di Amerika saat itu. Bahkan sang dewa metal, Metallica belum mampu melakukan itu. Dan jangan menganggap generasi metal baru macam Avenged Sevenvold atau Dragon Force bisa melakukan itu dengan mudah.

Skid Row kali ini hanya membawa 2 personil aslinya, Scotti Hill yang tetap setia dengan gitar Blackhawk kesayangannya dan Rachel Bolan, pembetot bass yang jauh tampak lebih muda dari umurnya dengan rambut yang dipotong pendek. Seharusnya Dave “Snake” Sabo masih bergabung dan ikut datang pada konser ini. Tapi beberapa hari sebelum hari H, Snake jatuh sakit dan terpaksa digantikan oleh Ryan Cook, gitaris rhytim yang kalau dilihat sepintas, wajah dan penampilan serta gitar yang digunakan (Gibson Les Paul), mirip dengan Gilby Clarke, mantan pemain gitar Guns N Roses yang menggantikan Izzy Stradlin. Posisi drum yang dulu diisi oleh Rob Affuso kini digantikan oleh Dave Gara yang tidak kalah garang. Posisi vocal adalah yang paling penting. Setelah Sebastian Bach keluar dari Skid Row, posisi vital ini diisi oleh vokalis asal Texas berpenampilan cowboy, Jhonny Solinger. Banyak yang meragukan kemampuan Solinger dalam membawakan lagu Skid Row dan menggantikan karisma serta kemampuan Sebastian Bach. Dalam hemat saya, Sebastian Bach adalah salah satu vokalis rock terbaik disamping Axl Rose, Michael Matijevic dan Robert Plant. Dan benar-benar sebuah pekerjaan yang sulit bagi Skid Row untuk menggantikan posisi Sebastian Bach. Menurut banyak orang – termasuk saya – Skid Row tanpa Sebastian Bach adalah bukan Skid Row. Sepanjang perjalanan mau menonton konser, pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran saya, bisakah Jhonny Solinger tampil sebaik Sebastian Bach?

Skid Row Formasi Baru, Ki-Ka: Scotti Hill, Snake Sabo, Rachel Bolan, Johnny Solinger, Dave Gara

Sebastian Bach, Mantan Vokalis Skid Row

***

Dan saat-saat paling mendebarkan dalam hidup saya akan segera tiba saat terdengar lagu Blietzkrieg Bob-nya Ramones dari sound system yang berdaya 10.000 watt. The Ramones sendiri adalah band favorit Rachel Bolan. Rachel sempat menyanyikan lagu Psycho Therapy yang masuk di dalam album b-side ourselves, sebuah album dimana kreativitas Skid Row seakan terhenti dan hanya bisa memainkan lagu orang lain. Persis seperti kasus Sphagetti Incident-nya Guns N Roses.

Tahun 1990 keatas bisa dibilang adalah masa suram glam rock, hard rock, heavy metal atau apalah namanya. Jenis-jenis musik itu seakan tergilas oleh kedigdayaan grunge yang dibawa pasukan Seattle pimpinan sang komandan, Kurt Cobain dengan Nirvana-nya. Perlahan namun pasti, band-band rock dengan suara bening, rambut mekar dan kelakuan hedon jadi masa lalu dunia musik. Suara distorsi kasar, suara serak dan anti hero menjadi trend dan Kurt Cobain adalah idola terbesarnya. Grunge seakan menjadi antitesis dari musik mewah dan sikap hedon para rockstar era 80-an. Pamor band rock tambah tenggelam seiring era boysband. Kumpulan anak muda-ganteng-tidak kreatif-yang-bisanya cuma menyanyikan lagu orang-bukan ciptaan sendiri ini muncul dan melibas para generasi rock. Apalagi ditambah dengan kematian Kurt yang juga menjadi gong kematian bagi musik rock, apapun jenisnya. New Kids on the Block, Boyzone, Backstreet Boys, N’ Sync, A1, Westlife pun menjadi dewa baru. Dimana para orang tua lebih menyukai mereka yang bertampang manis dan berpakaian rapi kapanpun dimanapun. Dan rock pun tenggelam semakin dalam…

***

Benar saja, Skid Row pun muncul!

“From New Jersey, please welcome, Skid Fucking Row!!!!” dan…

“UOHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!” Teriakan membahana pun keluar dari masing-masing mulut penonton. Tak ada yang tak berteriak, saya yakin itu. Suara saya pun keluar dengan kencangnya, seakan menghabiskan semua energi yang sudah saya simpan semenjak berangkat dari Jember. Dan saat-saat susah demi Skid Row ini rasanya terbayar ketika saya melihat 5 orang yang tidak bisa dibilang sebagai pemuda lagi ini muncul.

Anjinggg!!! Hanya itu yang ada di pikiran saya. 16 tahun yang lalu saya hanya bisa melihat mereka dari sampul album. Dan sekarang saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana kerennya mereka. Entah kenapa saya jadi ingin menangis. Saya jadi paham bagaimana seorang Andrea Galliano nekat memanjat tiang listrik dan mengancam untuk melompat kalau Elvis Presley tidak membalas suratnya. Saya jadi paham bagaimana perasaan para gadis-gadis yang menangis karena melihat Westlife. Tapi perasaan saya ini berbeda dengan mereka. Bukan karena anggota Skid Row ganteng. Pertemuan saya dengan Skid Row adalah ibarat Old Shatterhand bertemu dengan Winnetou, Ikal bertemu dengan Weh atau bagaimana Starsky bertemu dengan Hutch. Agh! Saya jadi ngaco!

Wajah mereka sendiri sudah banyak berubah. Scotti Hill tetap bertampang garang, tapi dengan tambahan beberapa kerut dimuka yang menandakan bahwa dia sudah cukup berumur. Saya cukup kaget melihat wajahnya yang jadi kelihatan jauh lebih tua. Sama kagetnya ketika saya melihat Duff McKagan saat muncul bareng Velvet Revolver setelah sekian lama tidak ngeband. Wajahnya jauh kelihatan lebih tua.

Konser ini sepertinya tidak akan bisa saya tulis. This fucking amazing concert can’t be described by words… kalian seharusnya melihat sendiri bagaimana para umat Skid Row begitu khusyuk menyimak petuah-petuah nakal nan pemberontak milik Skid Row. Lagu-lagu hits mereka macam 18 & Life, Monkey Bussines, Slave to the Grind pun dimainkan secara kuat oleh mereka. Dan aplaus paling keras tentu saat Ryan Cook menenteng gitar akustiknya, Johnny mengambil mike dan 3 personel lain turun dan lagu I Remember You dimainkan. Lagu evergreen yang mungkin ada di file mp3 di computer anda. Apakah saya benar? Kalau saya benar, mari putar lagu itu dan bernyanyi bersama.

Saya sedikit khawatir ketika Skid Row turun dari panggung, dan penonton tidak kompak. Ada yang berteriak we want more tapi sebagian malah bernyanyi mars Arema. Tidak kompak! Saya khawatir Skid Row ngambek dan tidak mau muncul lagi. Tapi ternyata Skid Row sudah dewasa. Mereka muncul lagi sambil mengacungkan jempol kearah penonton.

Suasana asyik dalam 4 lagu terakhir seharusnya bisa lebih saya nikmati. Tapi mendadak ada arus masuk, dan tiba-tiba saja jarak antar penonton jadi jauh lebih rapat. Ya benar, seakan sudah menjadi aturan tak tertulis kalau menjelang akhir konser, pintu dibuka dan penonton bebas masuk. Sebenarnya ini adalah salah kaprah dimana polisi menganggap para penonton tak bertiket bisa masuk dan ikut menikmati konser ini. Tapi tidakkah kalian menyadari bahwa tindakan mereka sama sekali tidak menghargai promotor dan band itu sendiri. Dan yang jauh lebih menyebalkan, kebanyakan para anak bau kencur yang masuk itu memakai kaos hitam ketat bertuliskan kata sakti (atau basi?) yang bisa ditemui di hampir semua kaos yang dijual di pinggir jalan, “punks not dead”. Entah apa maksud “S” dibelakang kata punk. Plural? Saya gak ambil pusing!

Dengan dandanan rambut Mohawk bagai diberi lem kayu, celana pensil dan mulut bau alkohol murahan, mereka yang tinggi badannya hanya sedada saya tiba-tiba melakukan gerakan pogo. Menghantamkan tangannya ke kanan, ke kiri. Para gerombolan anak kecil yang saya taksir masih berumur 13 atau 14 tahun ini seperti kesurupan. Moshing dadakan pun tiba-tiba digelar. Saya yang mencoba menahan kekesalan saya hanya bisa diam sambil menggondok. Tapi tiba-tiba sebuah hantaman mendarat di bahu saya. Ternyata ada anak kecil botak memakai kaus (lagi-lagi) bertulis Punks Not Dead melakukan gerakan pogo. Saya yang sudah terlanjur kesal langsung saja melayangkan “ciuman” sayang ke kepalanya yang botak. Saat dia menoleh, saya melotot, benar-benar melotot sambil memasang tampang terseram yang pernah saya punya. Bukannya marah, dia hanya tersenyum kecut dan minggir dari hadapan saya. Dia bergeser sekitar 5 meter ke arah kanan saya, dan masih… melakukan pogo! Anak kecil yang bagai tuyul itu hanya menjadi bahan tertawaan orang-orang berdiri dibelakangnya karena lebih mirip tuyul mabok duren ketimbang anak skinhead yang lagi goyang pogo.

4 lagu terakhir itu benar-benar menjadi saat yang tidak menyenangkan. Ada beberapa anak yang sama botak sama norak, malah bergoyang ala reggae dan dangdut. Bukannya mengkritik, tapi goyang pogo, moshing atau goyang reggae itu mbok ya pada tempatnya. Yang pogo dan moshing itu ya di konser punk atau sejenisnya, dan yang mau joget reggae ya mbok di konser reggae. Rupanya mereka mengira Skid Row adalah orkes melayu dan Jhonny Solinger dianggap sebagai Dewi Persik. Atau mereka malah menganggap Skid Row adalah Sex Pistols dan Rachel Bolan adalah Sid Vicious? Entahlah…

Youth Gone Wild, lagu Skid Row favorit saya sepanjang masa menjadi penutup konser agung ini. Saya yang sudah tahu bahwa lagu ini adalah lagu terakhir, bersikeras menghabiskan sisa suara yang masih bisa saya produksi untuk bernyanyi bersama.

“no matter how old are you, where you from, we always gonna be???!!!”

“YOUTH GONE WILD!!!!” penonton bersorak menanggapi teriakan Jhonny. Dan lagu wajib generasi muda pemberontak di tahun 80 dan 90an pun dinyanyikan bersama…

Since I was born, they cant hold me down

Another misfit kid, another burn out town

I never play by the rule, and I never really care

My nasty reputation takes me everywhere

Now I’m looking, see it’s not only me

So many other stood where I stand

We are the youth, so raise our hand!

They called us problem child

We spent our lives on trial

We walk an endless mile

We are the youth gone wild!

We stand and we won’t fall

We’re one and one for all

The writings on the wall

We are the youth gone wild

Boss screamin’ in my ear bout who iam supposed to be

Get a three piece wall street smile, son you’ll just like me

I said, “hi man, there’s something you oughta know

I tell you this park avenue leads to SKID ROW!”

Now I’m looking, see it’s not only me

We’re standing tall, ain’t never a doubt

We are the youth

So shout it loud!

They called us problem child

We spent our lives on trial

We walk an endless mile

We are the youth gone wild!

We stand and we won’t fall

We’re one and one for all

The writings on the wall

We are the youth gone wild!

Suara saya sudah habis. Terkuras. Badan lemas tak bertenaga. Tapi saya seakan mempunyai semangat kembali begitu mengetahui bahwa om saya yang sedang dinas di Jambi bakalan gigit jari dan misuh-misuh begitu tahu saya dengan suksesnya melihat Skid Row langsung sedangkan dia di pedalaman Sumatera hanya bisa menyetel lagu Youth Gone Wild dari cd playernya…

Pertanyaan itu pun terjawab sudah. Johnny Solinger tampil bagus malam ini. Cara dia ketawa juga khas. Dia juga mampu membawakan nada tinggi dalam 18 & Life atau I Remember You, meski dengan caranya sendiri. Intinya dia pantas jadi vokalis Skid Row. Tapi tetap… Sebastian Bach tidak akan bisa tergantikan. Sebuah konser bintang 5 dari sang tuhan para umat metal, Skid Row!

Johnny Solinger, Vokalis Baru Skid Row

* Nuran Wibisono adalah seorang pecinta musik rock, menyukai sastra, berpacaran dengan carrier, petualangan dan gitar tapi juga sangat mencintai wanita. Seorang anak muda yang rela mengalah untuk tidak menggondrongkan rambut hanya karena sang ibunda tercinta tidak suka kalau anaknya berambut gondrong. Berharap lahir di tahun 1945 dan tumbuh besar di era Flower Generation, namun ternyata lahir pada tahun dimana Guns N Roses merilis Appetite for Destruction. Diracuni musik rock 70 – 80an semenjak baru bisa berjalan…

Komentar (3) »

Flower Generation; The Greatest Youth Generation Ever?!

1959, perang Vietnam dimulai. Tak ada yang tahu bahwa perang ini akan menimbulkan sesuatu yang fenomenal dan menjadi legenda di kemudian hari. Perang Vietnam ini telah melahirkan satu generasi legendaris yang disebut dengan Flower Generation (Generasi Bunga).

***

Jika anda melihat ke belakang sejenak, pada masa remaja orang tua kita, sekitar tahun 1959 – 1975, mungkin kalian akan menemukan segepok foto yang gambarnya sekelompok pemuda dengan dandanan nyentrik. Beberapa pemuda berambut gondrong berpakaian warna-warni, celana cut bray dan sepatu pantofel. Ya, itulah bukti bahwa Flower Generation juga menjalar hingga ke Indonesia, dan tidak hanya dalam musik dan fashion, melainkan juga gaya hidup.

Tidak sekedar seks bebas yang dulu masih dianggap tabu di Indonesia, melainkan juga drugs. Saya masih ingat cerita paman dari ayah saya, yang menceritakan masa mudanya – waktu itu awal tahun 1970-an. Beliau dengan bangga memamerkan fotonya, yang saat itu dia masih berambut kribo ala Ucok A.K.A atau Ahmad Albar. Dia juga dengan mata menerawang dan sesekali tertawa kecil menceritakan bagaimana nakalnya dia waktu remaja. Musik rock, obat-obatan terlarang dan alkohol adalah teman sejati. Dia juga menceritakan bagaimana dia dan teman-temannya sempat sekarat karena menenggak beberapa butir pil psikotropika dan beberapa botol minuman keras. Mungkin cerita dari paman ayah saya merupakan salah satu bukti bagaimana perilaku hidup ala Hippies juga merasuk dan menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

***

Flower Generation merupakan satu generasi yang didominasi oleh anak muda berumur di bawah 30 tahun yang hidup dan tumbuh berkembang pada era akhir 60-an hingga awal 80-an. Flower Generation ini sebenarnya muncul sebagai counter culture terhadap budaya kemapanan para orang tua dan lingkungan sekitar.

Sistem yang berlaku di Amerika umumnya – sama saja dengan Indonesia- adalah sekolah dan kuliah yang rajin, lulus dengan nilai baik, mendapatkan perkerjaan dengan gaji bagus dan hidup terhormat. Para anak muda yang masih dalam tahap pencarian jati diri, cenderung eksplosif, pemberontak dan kritis berusaha berontak terhadap sistem kemapanan semu ini. Belum lagi isu rasial, perang dingin dan ancaman perang nuklir yang juga menjadi trigger lain dari kelahiran Flower Generation. Gerakan ini seakan menjadi bom waktu yang hanya menunggu waktu yang tepat untuk di ledakkan dan ledakannya menyebar ke seluruh dunia.

Bom waktu itu meledak juga. Pada tahun 1959 dimulailah perang Vietnam. Para kumpulan anak muda yang sudah merasa muak dengan sistem kemapanan dan perang, berkumpul menjadi satu dan lahirlah sebuah generasi baru, Generasi Bunga.

FLOWER GENERATION DAN HIPPIES

Flower Generation untuk merepresentasikan “fight with flower” (lawanlah dengan bunga) yang melambangkan kelembutan, dan tidak dengan kekerasan. “Flower” (bunga) memang melambangkan sesuatu yang lembut. Hal itu sangat pas dengan keadaan pada zaman itu, dimana pemerintah Amerika sendiri mulai kehilangan kepercayaan dari rakyat, terutama kaum muda, lalu melakukan berbagai perlawanan. Pada masa itu, mereka memberontak dengan gayanya sendiri, cenderung bebas dan terkesan “liar”. Banyak ciri-ciri yang bisa kita lihat pada pengikut gerakan bunga ini, yang rata-rata berpenampilan seragam.

Para pengikutnya disebut Flower Children. Mereka berpakaian ham press body (kemeja ketat) dengan warna yang mencolok mata (diilhami dari halusinasi saat memakai marijuana atau LSD), celana baggy atau cut bray, memakai ikat kepala (bandana) bagi pria, dan memakai bandana panjang – ala peramal hippy zaman dahulu - bagi wanita. Kebanyakan dari mereka tidak melakukan apa-apa kecuali duduk di pinggir jalan sambil membawa spanduk berisi ajakan penolakan perang dan slogan perdamaian, bermain gitar sambil bernyanyi. Tapi jangan anggap pakaian mereka itu norak. Di kemudian hari, gaya berpakaian mereka dianggap salah satu pengaruh terbesar bagi dunia fashion.

Para Flower Children ini sering diasosiasikan sebagai kaum hippies. Menurut Jesse Sheidlower, seorang leksikografer yang juga seorang editor dari Oxford English Dictionary, terms “hipster” dan “hippie” berasal dari kata “hip” yang sebenarnya arti aslinya tidak diketahui. Malcolm- X sendiri pernah mengungkapkan dalam biografinya, bahwa “hippy” sendiri merujuk pada orang kulit putih yang bertingkah seperti orang negro, bahkan melebihi tingkah polah negro itu sendiri. Banyak orang melambangkan kaum hippy dengan kebebasan dan ketidakteraturan.

Terlepas dari istilah dan makna tersebut, kaum hippies sendiri memiliki pola hidup yang tak teratur, cenderung bebas dan tak terikat pola aturan masyarakat. Flower Children, selayaknya sebutan mereka sebagai kaum hippies, mereka cenderung hidup bebas. Bebas dalam arti luas tentunya. Hidup bebas atau malah bebas menggunakan obat-obatan terlarang. Selain itu kaum hippies cenderung hidup menyendiri dalam kehidupan bersama dan berusaha keluar dari kehidupan formal, baik dari sistem kekeluargaan tradisional, pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat dan bernegara pada umumnya.

Mereka biasanya vegetarian dan memakan makanan yang tidak diolah dan mempraktekkan pengobatan alternatif. Pengobatan alternatif seakan juga menjadi simbol perlawanan bagi sesuatu yang mapan, dalam hal ini pengobatan modern. Mereka mempunyai jargon “Back to Nature” atau gerakan kembali ke alam. Gerakan ini sekarang kembali populer di abad 21. Mereka menjalankan gaya hidup terbuka dengan tingkat toleransi tinggi yang sangat kontras jika dibandingkan dengan apa yang terjadi pada masyarakat formal saat itu.

PERIODE EMAS ROCK N ROLL?

Dalam pandangan saya, musik pada zaman itu adalah masa kejayaan musik rock n roll. Mulai yang dianggap terbesar, The Beatles hingga sang pelopor Heavy Metal, Led Zeppelin, Deep Purple atau Black Sabbath. Memang, sejarah mencatat periode 1959 hingga 1975 sebagai periode kejayaan musik rock. Dimana para legenda lahir dan seakan menjadi “nabi” yang membawa wahyu dan pencerahan bagi para pendengarnya.

Musik rock mereka pun bermacam jenisnya. Mau yang sedikit lembut dan “manis”? ada The Beatles, atau mau musik rock dengan vokalis yang punya range vocal tinggi dan solo gitar mewah? Ada Led Zeppelin dan Deep Purple. Adapula yang sedikit gelap dengan bumbu psychedelic seperti The Doors dan 13th Elevator. Hingga progresif macam YES atau Pink Floyd. Wanitanya pun tidak ketinggalan. Ada sang ratu musik rock yang namanya tetap abadi sampai sekarang, Janis Joplin. Anda mengaku sebagai rocker tapi tidak kenal siapa mereka? Masuk nerakalah anda!

Pergerakan musik rock era Flower Generation ini mencapai titik kulminasi pada tahun 1969. Sebuah lahan pertanian seluas 240 hektar milik Max Yasgur yang terletak di Bethel, New York menjadi saksi bisu dari sebuah acara legendaris yang diadakan mulai tanggal 15 – 18 Agustus. Woodstock adalah nama pagelaran itu. Sebuah pagelaran musik raksasa paling bergengsi yang masuk pada “50 Moments That Changed the History of Rock and Roll” versi Rolling Stone. Musisi yang tampil disana adalah beberapa nama yang kita kenal hingga sekarang. Mereka melambangkan etos solidaritas dan semangat. Kata semangat mungkin pantas ditujukan pada Joan Baez yang pada saat tampil, dia sedang hamil 6 bulan! Santana, The Grateful Dead, CCR, The Who, Jhonny Winter dan Saudaranya, Edgar Winter, Janis Joplin, dan ditutup oleh sang dewa gitar, Jimi Hendrix, adalah beberapa nama yang tampil di Woodstock paling legendaris itu. Diperkirakan lebih dari 500.000 “hippies” datang dan menyaksikan acara ini.

Di Indonesia sendiri, musik ala The Beatles pun sempat masuk dan menjadi trend, meskipun mendapat perlawanan yang keras dari pemerintah.

Koes Plus Bersaudara tentu tak akan lupa pengapnya terali besi yang mereka rasakan saat presiden pertama kita memenjarakan mereka karena beliau menganggap musik mereka dianggap mirip The Beatles. “Ngak Ngik Ngok!” adalah istilah untuk musik mereka. Warisan imperalis kapitalis! Teriak mereka yang membenci musik ini.

***

Pernah menonton Almost Famous? Film yang bersetting pada tahun 1973 ini adalah film garapan Cameron Crowe yang bercerita tentang seorang anak muda yang bekerja di majalah musik Creem, lalu direkrut untuk menulis di majalah Rolling Stone. Film ini adalah salah satu film yang menceritakan dengan gamblang bagaimana kehidupan para bintang rock, groupies hingga orang tua pada zaman itu.

William Miller, sang wartawan remaja itu seharusnya menulis tentang Black Sabbath. Tapi karena tidak memiliki tiket, maka dia tidak diperbolehkan masuk ke dalam gedung pertunjukan. Ditengah cara memikirkan cara masuk ke dalam konser untuk meliput Black Sabbath, dia bertemu dengan gerombolan cewek yang tidak mau disebut groupies. Mereka mendeklarasikan diri mereka sebagai Band Aides. Mereka beranggapan kalau groupies adalah wanita murahan yang mau tidur dengan seorang bintang rock untuk mendapat popularitas, tapi mereka beda. Mereka juga bilang tidak akan berhubungan seks dengan para pemain band itu. Juga tidak akan jatuh cinta pada mereka. Gerombolan Band Aides ini dipimpin oleh seorang wanita cantik bernama Penny Lane yang diperankan sangat apik oleh Kate Hudson. Kate sendiri pada dunia nyata menikah dengan vokalis The Black Crowes, Chris Robinson, meski pada akhirnya mereka bercerai.

Setelah mengetahui perbedaan antar groupies dan Band Aides, William bertemu dengan sebuah band mediocre, Stillwater. Pada akhirnya, William memutuskan untuk menulis tentang band ini dengan cara mengikuti tour band ini meski hal ini sempat ditentang oleh ibunya.

Perjalanan yang menggambarkan gaya hidup di zaman Flower Generation pun diceritakan dengan sangat jelas, kalau tidak mau dibilang eksplisit, oleh Cameron Crowe yang memang pernah bekerja sebagai wartawan di Rolling Stone dan pernah mengikuti tour band raksasa seperti The Allman Brothers, Lynyrd Skynyrd hingga Led Zeppelin.

Ganja, LSD, seks adalah suatu hal yang biasa saat itu. Justru kalau ada orang yang tidak memakainya, mereka akan dianggap aneh oleh orang lain. Hal ini tercermin saat ibu William mengantar William ke konser Black Sabbath.

“Don’t take drugs!” seru sang ibu. Tapi yang terjadi adalah orang-orang yang mendengar jeritan sang ibu hanya tertawa sinis dan mengulang kalimat sang ibu dengan gaya sarkas. Hal ini sedikit banyak melambangkan sikap orang tua yang kontras dengan gaya hidup pada saat itu.

KONSTRUKSI GAYA HIDUP ALA ROCKSTAR

Bintang adalah bintang. Meskipun pada masanya bintang akan meredup. Tapi saat masih menjadi bintang, kenapa tidak dimanfaatkan? Dan para rockstar pada generasi bunga pun sadar kalau mereka adalah bintang. Mereka hidup di zaman kebebasan, jadi kenapa juga mereka tidak hidup bebas? Mereka pun hidup sesuai aturan yang berlaku disana pada saat itu, yaitu no rules!

Pola hidup mereka telah terstruktur untuk hedon dan bebas. Karena mereka idola, wajar jika gaya hidup mereka diikuti oleh para penggemarnya. Yang lebih keren, sang pemuja benar-benar mengamini gaya hidup para “nabi” rock n roll itu. Hal ini merupakan hal yang lumrah, pemuja mengikuti dan meniru segala hal tentang idolanya. Dan para pemujanya pun tumbuh menjadi calon bintang rock. Mereka adalah orang-orang yang akan meneruskan tahta menjadi bintang dan pembawa pesan rock n roll pada seluruh umat manusia di masa yang akan datang. Axl Rose, Izzy Stradlin, Slash, C.C Deville, Vince Neill atau Tommy Lee, mungkin adalah beberapa nama yang saat itu masih sangat muda dan memuja Jimi Hendrix, Mick Jagger, Keith Richard atau Jim Morrison.

Apa yang lalu terjadi? Selain karena faktor patologis, otak mereka jadi terstruktur bahwa seorang rocker, musisi rock, harus bersikap seperti itu. Pemberontak, urakan, suka minuman beralkohol, menggunakan obat-obatan terlarang, meniduri banyak groupies atau melemparkan tv dari kamar hotel mereka. Jadilah mereka manusia, idola dan binatang secara bersamaan.

Mungkin mereka tidak sadar bahwa sikap mereka telah mengancam populasi rocker di masa depan. Di Indonesia sendiri, menerapkan gaya hidup seperti itu adalah tidak mungkin. Para orang tua, terutama ibu, akan khawatir kalau anaknya bercita-cita menjadi rocker. Ya betul, orang tua tentu takut sang anak akan mati overdosis, atau menjadi pecandu alkohol, menghamili groupies lalu punya anak haram. Di Negara liberal seperti Amerika atau Inggris, mungkin hal itu adalah biasa. Tapi di Indonesia?

Saya jadi berandai-andai. Andai saat itu, Jimi Hendrix tidak menggunakan LSD. Membayangkan Jim Morrison membawa injil dan setiap minggu pergi ke gereja. Bermimpi andai Janis Joplin beragama Islam, berkerudung, rajin sholat dan mengaji di masjid. Andaikan saja para rocker tersebut bersikap manis, mengajarkan para pemujanya bagaimana seorang rocker bisa bersikap manis dan sopan.

Andai saja semua rocker bisa berpakaian seperti The Beatles. Rapi, tidak memakai celana jeans butut yang robek di bagian lutut. Dengan rambut pendek, bukannya gondrong awut-awutan. Andai saja para rocker jaman dahulu mengajarkan untuk jangan minum alkhol, jangan nyimeng, jangan pake heroin, belajar yang rajin, pastilah orang tua setuju kalo anaknya jadi rocker. Mungkin akibatnya tidak begitu terasa di Negara liberal. Tapi di Indonesia sendiri, dampaknya bisa jadi sangat terasa. Mungkin tahun 70-an, AKA, God Bless atau The Rollies bisa mengilhami para anak muda lain untuk menjadi rocker. Tapi sekarang?

Coba anda bilang ke orang tua anda, “saya tidak mau menjadi dosen, saya mau menjadi seperti Jim Morrison Pak. Saya mau menjadi rocker! Lalu punya istri yang seperti Janis Joplin,” lalu lihat bagaimana reaksi orang tua anda. Memang tidak semua orang tua akan bersikap kontra terhadap keinginan seperti itu, tapi bisa dipastikan, sebagian besar orang tua di Indonesia akan berpikir seribu kali untuk memperbolehkan anaknya menjadi seorang musisi rock. Ujung-ujungnya pasti kita disuruh bikin band yang alirannya kayak Samsons, Ungu atau Kangen Band, biar bisa dapet banyak duit. Paling pol ya kita disuruh ikutan ajang menyanyi yang banyak mencetak penyanyi karbitan dan idola instant. Tapi jadi rocker? Apalagi tipe rocker seperti Keith Richard, orang tua anda akan berpikir seribu kali untuk memperbolehkan, bahkan kemungkinan besar tidak akan diperbolehkan.

Terlepas dari anggapan negatif para orang tua tentang gaya hidup ala bohemian ini, kita sebenarnya patut mencontoh mereka. Terserah anda mau meniru yang bagian mana, positif atau negatifnya. Di balik sikap mereka yang ugal-ugalan, mereka adalah beberapa nama yang berani bersikap kritis, lalu berbuat sesuatu berdasarkan cara mereka sendiri. Mereka merubah dunia dengan cara mereka sendiri. Mereka adalah beberapa nama yang telah tercatat dalam hitam putih lembar rock n roll. Sebagian dari mereka mati muda? No fucking problem at all. Mereka mati dengan masih mempertahankan idealisme mereka dan mereka mati setelah puas menikmati surga duniawi. Masalah nanti dibakar dan dirajam habis-habisan di neraka, itu hubungan habblu minallah. Kita tidak berhak untuk menghakimi dan menganggap mereka adalah titisan setan. Karena kita bukan Tuhan!

FLOWER GENERATION ABAD 21?

Tahun 1975, perang Vietnam berakhir. Amerika pulang dengan menanggung malu. Ribuan tentara mereka tewas, banyak tentara yang menderita gangguan jiwa akibat dari perang, dan Amerika kalah! Berakhirnya perang itu seakan menjadi lonceng yang mengakhiri kiprah para generasi bunga. Masa hura-hura sudah selesai, saatnya kembali ke dunia nyata. Mereka harus – mau gak mau- kembali ke bangku sekolah. Melanjutkan pelajaran mereka sambil berharap mereka lulus dengan nilai baik dan menjadi salah satu orang yang memakai dasi dan bekerja di balik meja.

Sekarang kita hidup di tahun 2008. Masa dimana teknologi informasi telah menjadi kekuatan baru. Bukan sekedar solidaritas semata yang bisa membangun dunia menjadi lebih baik. Kemudian jejak para anak-anak bunga seakan telah lenyap. Hanya bisa dilihat dari film, poster, atau stiker yang mencantumkan credo “make love, not war”. Lalu apa yang tersisa?

Setidaknya semangat flower generation mungkin masih tersisa, meski Cuma berupa kenangan di dalam hati. Tapi begitu banyak hal dan pelajaran yang bisa kita pelajari dari flower generation. Bagaimana seharusnya manusia, bagaimanapun bentuknya, apapun sukunya, apapun agamanya, jenis kelaminnya, tetap harus memiliki solidaritas yang tinggi. Para pemuda bunga bukanlah tipe pemuda rasialis, yang meributkan perbedaan suku atau agama hingga sampai tega membunuh sesama. Sikap kritis mereka adalah yang paling patut untuk dicontoh. Mungkin gerakan ini sama sekali tidak berhasil menghentikan perang itu. Tapi sejarah mencatat bahwa gerakan ini juga sedikit banyak mempengaruhi kekalahan Amerika di Vietnam.

Musik di era sekarang pun sudah jauh berbeda. Tidak ada lagi lengkingan khas ala Robert Plant, tidak ada lagi solo gitar mewah seperti milik Tomi Iommy, Ritchie Blackmore atau Jimi Hendrix. Sudah jarang sekali wanita yang “berani” dan bernyanyi rock blues penuh penjiwaan seperti Janis Joplin (dalam hitunganku, si Thera Wonderbra masuk ke dalam pewaris mahkota Janis Joplin). Musik sekarang… ya tahu sendiri lah, makin banyak macamnya, mulai musik Emo yang kemarin-kemarin sempet booming, ada Green Day yang dicap punk (?) hingga musik-musik pop cengeng tidak mendidik dan tidak keren macem… uppsss, saya tidak mau menyebutkan nama. Silahkan anda klasifikasikan sendiri…

Saya jadi bermimpi lagi. Berandai-andai lagi, saya lahir pada tahun 1945. sehingga saya bisa mengecap pahit manis Flower Generation. Saya bisa menyaksikan bagaimana Jimi Hendrix “bersenggama” dengan gitarnya. Saya juga bisa menyaksikan bagaimana Janis Joplin menyihir pemujanya bagaikan Cleopatra menyihir Julius Caesar. Tapi ternyata saya lahir pada tahun dimana Guns N Roses merilis Appetite For Destruction. Saat ini saya cuma bisa mendengar lagu-lagu mereka yang populer di tahun 70 an. Lalu menyadari dan mengagumi apa yang bisa diperbuat oleh ratusan ribu anak manusia pada saat itu. Menyadari bahwa Generasi Bunga tak akan pernah mati. Semangatnya akan tetap ada di hati anak muda yang kritis dan menginginkan perubahan.

Disinilah saya, tanpa LSD, tanpa ganja, tanpa minuman keras, mendengarkan lagu “San Fransisco” yang ditulis oleh John Phillips dari The Mamas and The Papas yang dinyanyikan oleh Scott Mc Kenzie. Berharap semangat dari flower children merasuk ke dalam jiwa saya…

If you’re going to San Francisco,
be sure to wear some flowers in your hair…
If you come to San Francisco,
Summertime will be a love-in there.

Komentar (11) »

Punk; “Decision To Be Different”

Peliput: – Artitik Dyah Ikhsanti (UKPKM Tegalboto Unej)*

- Ismal Muntaha (Suara Mahasiswa Unisba)

Bandung, 25 Januari 2008, sekitar empat meter dari Vila Putih, Lembang, samar-samar suara musik terdengar. Petikan bas yang cadas dan gebukan drum yang cepat. Saat saya berjalan menelusuri tangga, terlihat puluhan Punkers mengerumuni sebuah ruangan. Ada yang berdiri di sekitar ruangan sembari manggut-manggut, adapula yang hanya duduk duduk di sekitar tangga dan di depan ruangan itu. Sebagai orang yang baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini, terus terang terasa kikuk. Untungnya, ada saat itu saya ditemani beberapa rekan dari Bandung yang lebih mengerti kehidupan orang Punk.

Di samping ruangan bising itu ada sebuah vila. Jaraknya tidak begitu jauh. Di teras samping vila itu ada beberapa orang menjajakan kaos dan cendra mata lainnya. Salah seorang panitia berkata bahwa, hasil penjualan cendra mata tersebut digunakan untuk tambahan biaya penyelenggaraan acara. Hampir semua cindera mata itu berwarna hitam, mungkin saja mereka punya interpretasi tertentu dengan warna hitam. Sangat kontras dengan rambut mohawk mereka yang berwarna-warni.

Begitulah mereka mencoba bertahan di tengah arus kapitalisme. Mereka menyelenggarakan acara tidak dengan dukungan sponsor sebagaimana layaknya sebuah konser diadakan. Bahkan tiket masuk pun tidak. Disana hanya ada sebuah kardus yang menampung sumbngan dari pengunjung. Dengan kemampuan sendiri serta bantuan dari beberapa kenalan, mereka bisa mengadakan sebuah pertunjukan musik yang didatangi banyak orang bahkan dari luar kota. Selain itu, band pendukung acara pun tampaknya memang sudah terbiasa dengan pagelaran musik seperti ini. Mereka tidak meminta bayaran.

Acara ini berlangsung dua hari. Hari pertama berisikan pagelaran musik dari band-band dalam maupun luar negeri. Pada hari kedua diadakan diskusi panel mengenai Punk. Kedekatan antar individu di dalam komunitas Punk membuat mereka bisa mendatangkan siapa saja di komunitasnya. Seperti band pengisi acara yang berasal dari Malaysia dan Jerman, selain band asal Bandung sendiri.

Itulah yang menjadi ciri dari komunitas ini. Acara yang mereka selenggarakan ini selain menyuarakan agitasi perlawanan terhadap kapitalis dan pemerintah, juga mengusung samangat DIY (do it yourself). Dimana maksud dari semboyan ini adalah sebuah ajakan untuk melakukan semuanya sendiri. Hebatnya, dengan swadaya sendiri, mereka bisa mengadakan acara serupa di beberapa tempat. Acara musik seperti ini umumnya disebut gigs. Meskipun acara seperti ini baru pertama saya hadiri, saat itu misi saya dari redaksi adalah untuk membicarakan tentang Punk itu sendiri. Perbedaan bahasa menjadi salah satu kendala. Maklumlah, teman saya dan narasumber adalah orang Sunda. Saya yang dari Jawa Timur ini harus menterjemahkan setelah acara berakhir.

Setelah sejenak merasakan “kegarangan” para mosher, saya keluar dari ruangan karena situasi disitu membuat jantung saya berdebar kencang. Takut kalau-kalau, mereka saling menabrak dan mengenai badan saya. Namun demikian, wajah tenang tetap terpasang. Saya duduk di sebuah bangku di depan teras. “Uuu…wek!” ada yang muntah tepat di belakang saya. Kemudian seorang pria bertubuh mungil dengan dandanan ala Punk menghampiri. Namanya Fajar, ketua panitia acara ini. Mulailah perbincangan kami mengenai acara ini dan Punk. Saya sempat merasa kaget melihat keramahan dan cara mereka menghormati kami. Pasalnya, label anarkis dan garang ditempelkan sebagian besar orang di jidat mereka, dan itulah yang membuat kebanyakan orang terpengaruh –termasuk saya. Asal tahu saja, mereka menerima kami karena kami dari pers mahasiswa, bukan media massa umum yang mencari keuntungan.

Saat itu, tidak hanya Fajar yang bersedia meladeni pertanyaan-pertanyaan kami. Kunx, salah satu panitia, juga nimbrung dalam obrolan seru itu. Selain itu, salah satu pengisi acara asal Jerman, Neverbuiltruins, menyempatkan diri untuk bercerita tentang Punk pada kesempatan terpisah.

“Secara ekonomi, diditu (orang diluar komunitas Punk) lebih gampang,” kata Fajar dalam logat Sunda yang kental. Saat ditanya alasan mengapa memilih Villa Putih, ia menuturkan bahwa ini salah satu tempat yang mengizinkan. “Untuk orang seperti kita tempat terbatas,” lanjutnya.

Komunitas yang dapat dikatakan sebuah komunitas yang minoritas. Hal ini dikarenakan ciri khas pada kehidupan mereka sehari-hari. Rambut mohawk seperti suku Indian, baju yang sobek di beberapa bagian, anting di tempat yang tidak lumrah bagi orang kebanyakan, ditambah minuman keras dan musik cadas. Sebagaian dari mereka malah ada yang memilih untuk hidup di jalan, dan tidak mengikuti tata cara hidup orang kebanyakan. Tidak mengherankan kalau hanya sedikit orang yang mau memberi tempat bagi mereka.

Komunitas yang berkembang pada tahun 70-an ini, memiliki ideologi, dimana mereka melawan beberapa hal yang ada di dunia ini. Melalui musik mereka menlontarkan agitasi anti-seksisme, anti-kapitalisme, anti-rasisme, anti-fundamentalis agama, anti-nasionalisme, anti-dogmatisme dan anti-militerisme.

Gerakan mereka pun dapat dikatakan bersifat anarkis. Bagi mereka, anarki adalah sebuah ide yang sudah lama, tepatnya ide tentang cara berpolitik. “Anarki bukan kekerasan.” kata Heiko, salah satu personel Neverbuiltruins. Ia kemudian menambahkan bahwa media dan orang lain memiliki pandangan berbeda tentang anarki. Menurutnya, anarki adalah berkumpul bersama tanpa pemimpin. Dimana semua orang adalah sama, namun media mengumumkan bahwa anarki adalah kekerasan. Oleh karena itu, mereka selalu melakukan aktivitasnya dengan berkumpul. Dalam bermusik misalnya, mereka bermusik dengan membentuk band. Bagi Robin, si vokalis, berkelompok itu lebih “kaya” karena lebih banyak orang.

Bagi komunitas ini, berkumpul merupakan cara terbaik untuk melakukan perubahan. Meskipun mereka sadar bahwa revolusi tidak bisa serta merta terjadi. “Kita nggak bisa hancurin negara gitu aja”, kata Kunx. Baginya, apa yang dilakukan komunitas Punk saat ini dengan musiknya dapat membuat perubahan. “Beropini melalui musik. Mungkin dengan liriknya, kalo jelas,” kata pria berkaca mata ini.

Punk merupakan subkultur yang diminati banyak orang, dari yang memang memproklamirkan diri sebagai anak Punk, sampai mereka yang sekedar simpati. Oleh karena itu, kaum kapitalis bisa mengendus keuntungan dari budaya yang dibawa oleh subkultur ini. Gaya Punk dieksploitasi habis-habisan hingga akhirnya menjadi sekedar ikon bagi remaja gaul, bukan untuk sebuah ideologi. Senada dengan Kunx, Robin mengatakan bahwa cara berpakaian boleh apa saja, itu terserah mereka. Kemudian ia menambahkan, “saya tidak akan minum dengan mereka. We’re different”. Ia mengakui di Eropa Punk sudah menjadi budaya anak muda, namun hal itu tidak menjadi sesuatu yang perlu digubris. Bagi mereka, Punk merupakan ideologi bukan sekedar pakaian.

Menjadi seorang Punker merupakan sebuah keputusan, tepatnya keputusan untuk menjadi beda dengan orang kebanyakan. Sebagaimana yang diungkapkan Neverbuiltruins pada wawancara dengan Tegalboto, “essentially we got all into punk by listening to the music, attending concerts and participating manifestations. By doing this you will get inevitably in contact with people sharing your ideas, making friends with them. Soon a part of your social network or even the whole of it is consisting of ‘punks’ or people germane to that culture.”

Questions To Neverbuiltruins:

How this band was established?

    The band was a follow-up project to the band ‘Cruise Missiles’, at the beginning featuring all of the former members expect the singer. After a certain time Kaspar joined as the new singer and some months later also Robin got into it as a second guitarist.

    All of the members have been playing for years in punk-, hardcore- and metal-bands and some of us also know each other for several years. So far nothing unusual, expect that we are living in three different cities located in Germany and Switzerland which makes it somewhat hard to practice.

    You said that punk is a political way. In fact, we find there is no significant effect that is made by this kind of movement. What do you think about that?

      The questions are: what kind of effects do you expect? For which effects did you control? What is your conceptualization of significance (statistic, value a.s.o.)? Using your conceptualization: when is an effect considered as being significant?

      Beside these rather methodological issues, there are some points to list: If you await a world revolution or something similar – you won’t find it. In our opinion the ‘political’ components of punk in Switzerland/Germany are followings:

      Being critical against

      · political systems and their instruments of control, i. e. police and similar institutions

      · information provided by the mass-media (this includes asking about the information which is not provided)

      Fighting

      · sexism

      · racism

      · religion (if used as an instrument to control and suppress people)

      · religious fundamentalism

      · nationalism

      · dogmatism

      · speciesism (some of us)

      Punk uses music as medium and can therefore reach a lot of people. At shows people are gathering and exchanging their ideas. Some of them will be applied in the daily life or put in different forms of action, e. g. manifestations, flyers and blogs.

      What if everybody in this world is a Punker?

        This would largely depend on the kind of punker you imagine. If it would be one sharing at least the believes listed above the world might be better – unless beer would run short.

        When I red the agitations of you songs. They sound like you are really mean to against globalization. In what aspect that you do not agree with globalization?

          We do not agree with the neoliberal aspects of globalization. As multinational companies are growing they are simultaneously increasing their power. The turnover of several multinationals already exceeds the GDP of the poorest nations. As these companies are acting on a global level they can set up their factories where they want and can close them arbitrarily, moving to the next place. You know these examples. Many aspects are tied with the sample mentioned above: (sudden) unemployment, decrease of tax yield, environmental pollution and so forth.

          Some positive aspects of globalization might be: rising of the standard of living, more and more people are getting access to information, intercultural exchanging of ideas, increasing of the level of education. But one should be aware that the participation in these benefits of globalization is highly inequitably distributed.

          To put it briefly: we basically criticize the inequalities caused and/or intensified by a globalization which is mainly driven by neoliberal thoughts of western provenance.

          Do you think that one day, we can really free of capitalism?

            This is at least theoretically imaginable. However, the current developments point in another direction: heavily populated countries like India and China enjoy a considerable economical growth allowing their people to consume, which most of them will do intensively. Especially the branch of consumer electronics seems to be prospering, needing a lot of resources (including also huge amounts of water, this is often neglected!), e. g. over 1 billion mobiles were sold worldwide in 2006.

            Basically we consider all countries to be capitalist to a certain degree (maybe expect North Korea, which is not a good example for an alternative form of organizing a society though). So far no alternatives put into practice could stand the test of time and the pressure of capitalist market forces.

            What made you become Punkers?

              Five guys, five stories to tell. Essentially we got all into punk by listening to the music, attending concerts and participating manifestations. By doing this you will get inevitably in contact with people sharing your ideas, making friends with them. Soon a part of your social network or even the whole of it is consisting of ‘punks’ or people germane to that culture.

              Komentar bertahan »