Arsip untuk Escapade

Dolanan Nang Cirebon

Oleh:

Teks: Mening Marganingsih

Foto: Ratna Dwi Suhendra

MENING

Mening Marganingsih adalah seorang gadis asal Blitar. Dia hijrah dari kota kecil itu untuk menuntut ilmu di hijaunya Fakultas Sastra Universitas Jember. Gadis manis ini mencintai anak-anak, traveling, novel, hujan serta es krim. Saat ini sedang berusaha keras untuk berjuang menyelesaikan skripsinya diantara gempuran hasrat untuk traveling. Gadis pecinta Nouvelle Vague ini bisa dihubungi di: sedalamata@yahoo.co.id.  Tulisan ini adalah kontribusinya yang pertama untuk blog ini.

***

Cublak-cublak suweng

Suwenge thing gelenter

Mambu ketundhung gudel

Pak empong lera-lere

Sapa ngguyu ndhelikake

Sir sir pong dhele kopong, sir sir pong dhele gosong…


Masih segar dalam ingatanku sepenggal tembang dolanan itu. Permainan yang dulu sering kumainkan bersama beberapa kawan tatkala senja merona. Seperti lirik di atas, tembang-tembang dalam permainan tradisional umumnya ringan dan menggelitik. Cara bermainnya pun sederhana namun interaktif. Berbeda dengan permainan anak masa kini, misalnya PS yang cenderung statis-individualistis, permainan tradisional anak zaman dulu konon memang all in one.  Saat anak bermain cublak-cublak suweng, sluku-sluku bathok, gobak sodor/ galah asin, ataupun dolanan tradisional lain, maka dia sedang mengasah fungsi motorik dan psikomotoriknya, berinteraksi dengan teman-teman sepermainannya, sekaligus melatih emosinya. Ada banyak nilai filosofis yang diusung, seperti sportifitas, tenggangrasa, kejujuran, dan kegigihan. Tubuh sehat, hati riang, banyak kawan:)

Dan ngomong-ngomong tentang dolanan, baru-baru ini Depbudpar menggelar Pesta Permainan Tradisional Anak dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional. Tujuannya adalah untuk mengenalkan dan meningkatkan apresiasi anak-anak nusantara terhadap ragam permainan tradisional. Event yang digelar tgl 15-17 Juni 2009 ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan besar dari Pekan Budaya Seni dan Film 2009 Kota Cirebon, dan diikuti sekitar 120 anak yang berasal dari Jember-Surakarta-Yogyakarta-Jakarta-Cirebon-Bandung-Serang. Kebetulan (nothing’s coincidence actually:) Rumah Belajar dan Rumah Bermain ‘Untukmu Si Kecil’ Jember mendapat kehormatan untuk mengirimkan 8 anak terpilih, beserta Prof. Sutarto selaku pendiri USK, dan 3 pendamping yakni aku, Ratna dan Witing untuk mengikuti event ini. Karena aku ada di sana saat event ini berlangsung, maka si empunya blog memintaku untuk berbagi cerita lewat aksara:)

Aku mulai saja…

Hari pertama yaitu pawai budaya. Anak-anak yang datang dari berbagai kota tersebut diminta mengenakan busana adat masing-masing dan bergabung dengan lebih dari 1000 personil parade lainnya seperti pasukan Keraton Cirebon, Jaka dan Rara Cirebon, anggota PMR Kota Cirebon, anggota Paskibra Kota Cirebon, beberapa instansi, dan masih banyak lagi. Pukul 14.00 WIB peserta pawai mulai berjalan selangkah demi selangkah menyusuri kota yang dipadati masyarakat yang telah lama menanti. Kontingen Jember putra berjalan bergantian di atas egrang kayu, sedangkan yang putri berjalan anggun ayu. Kontingen Surakarta juga beratraksi dengan egrang, namun egrangnya terbuat dari bambu yang lebih ringan.

Nyaris tidak ada hal yang baru di sini. Pawai atau karnaval ini hampir sama dengan pawai yang pernah kusaksikan di kota-kota lain. Baru separuh perjalanan, salah satu peserta Jember sakit perut. Karena tak sanggup berjalan, maka dia naik becak, aku selaku pendamping pun menemani:) Bisa ditebak, rasanya menyenangkan naik ‘Beca Wisata Cerbon’ sambil mengamati suasana kota. Personil pawai bersemangat tak kenal lelah menempuh 5KM rute pawai. Terik matahari sepertinya tak menjadi rintangan. Dalam hati aku berharap peserta pawai khususnya anak-anak itu tidak sampai pingsan di jalan. Over all, pawai berjalan lancar. Sekitar pukul 16.00 WIB seluruh peserta sampai di garis finish yakni Aloon-Aloon Keraton Kasepuhan. Setelah sejenak meluruskan kaki yang letih, semua peserta kembali ke hotel. Hari yang melelahkan namun menyenangkan :)

bersiap pawai 02

bersiap pawai 03

Hari kedua juga sangat menguras energi. Agenda hari ini adalah lomba permainan tradisional. Diawali dengan lomba bola gotong royong dan lomba bakiak panjang yang menuntut kekompakan, rasa saling percaya dan daya tahan prima. Kemudian lomba egrang bambu dan lomba egrang bathok yang membutuhkan kegigihan. Ada yang menang ada yang kalah, biasa dalam setiap pertandingan. Acara ini ternyata menyedot perhatian masyarakat dan media. Setelah perlombaan usai, para pengunjung yang mayoritas terdiri dari anak-anak itu diizinkan untuk mencoba bakiak panjang, egrang bambu, dan egrang bathok.

Ketika matahari tepat di atas kepala, dimulai lah adu kreativitas yang diadakan di panggung utama yang lokasinya cukup sejuk. Bahan yang telah dipersiapkan harus dirangkai menjadi alat permainan tradisional. Kontingen Jember mulai membuat pistol-pistolan dari pelepah pisang, mahkota dari daun nangka, dan hiasan dinding dari kertas koran. Sedangkan janur mereka manfaatkan untuk membuat candi-candian, pecut-pecutan, dan keris-kerisan. Kontingen lain membuat mainan dari kulit jeruk, gabus, kayu, kaleng, gelas air mineral dan aneka barang bekas lain. Senang sekali mengamati anak-anak berkreasi. Sesekali mereka saling menggoda bercanda tertawa, sembari tangan mereka tetap melipat janur atau menumpuk gabus.

Beralih ke panggung hiburan, tarian tradisional Betawi -yang aku lupa namanya- disuguhkan. Yang jelas tarian itu sungguh memukau. Gadis-gadis penari dengan mahir melipat dan membuka kipas merah. Gerakan tarian yang graceful yet powerful itu membuat hasratku untuk les menari menyala lagi;)

Hari ketiga saatnya peragaan permainan tradisional dari tiap kontingen. Misalnya saja, Jember dengan bola egrang, Jakarta dengan permainan nenek grandong mencari mangsa, Cirebon dengan cublak-cublak cuwing, Bandung dengan perepet jengkol, di mana 3-4 pemain berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan dan mengaitkan salah satu kaki ke belakang. Dengan berdiri satu kaki, para pemain bergerak berputar ke arah kiri atau kanan sesuai aba-aba. Sambil bertepuk tangan, semuanya menyanyikan tembang dolanan perepet jengkol. Kemudian Serang menampilkan bentengan, dua tim saling mempertahankan benteng. Jogjakarta dengan cheng boleng, yaitu semacam olahraga tradisional (tidak kuuraikan karena panjang dan agak membingungkan:)

Ternyata permainan yang ada di suatu daerah terdapat pula di daerah lain, hanya saja nama dan tembang dolanannya berbeda. Kontingen Serang juga menampilkan atraksi angklung buhun, kesenian etnis Baduy. Aku baru tahu bahwa pakaian pemain angklung buhun yang bernuansa hitam merupakan refleksi kepercayaan masyarakat Baduy terhadap warna hitam sebagai simbol bumi. Kemudian acara berlanjut pada atraksi gasing nusantara. Di sini, ragam gasing dari beberapa daerah di Indonesia ditampilkan. Para peserta diberi kesempatan melepas gasing bersama-sama. Setelah itu baru acara penyerahan hadiah pada para jawara.

Sekedar info, kontingen Jember menjadi juara 1 lomba bakiak panjang putri, juara 2 dan 3 egrang bambu putra, juara 3 egrang bathok, dan juara 1 adu kreativitas. Well, sebenarnya menurutku semua anak adalah jawara. Menang kalah tak masalah, yang penting mereka sehat dan bahagia menikmati permainan tradisional warisan leluhur mereka:) Setelah penutupan, anak-anak beserta panitia saling berjabat tangan tanda persahabatan. Terima kasih pada Depbudpar dan semua pihak yang mendukung event penting ini. Berharap tahun depan lebih semarak. Tidak tertutup kemungkinan bahwa selain layang-layang, akan ada permainan tradisional lain yang go international :)

Semoga semakin banyak anak-anak negeri yang mencintai permainan asli pribumi yang sebenarnya jauh lebih inspiratif, edukatif, dan rekreatif dibandingkan instant games masa kini. Anak-anak tetap lah anak-anak, apapun lagu yang mereka dendangkan, bagaimanapun kalimat yang mereka ujarkan. Jangan paksa mereka terlalu cepat dewasa, biarkan mereka menikmati momen sejati mereka:)

P.S. Beberapa detil yang ingin kutambahkan adalah bahwa selama di Cirebon aku belum sempat ke mana-mana. Ingin sekali kabur barang sejenak untuk berwisata kuliner seorang diri, atau berjalan kaki menikmati nuansa kota itu, namun apa daya…tak ada waktu rupanya. Untung sempat beberapa menit ke toko oleh-oleh. Kalau di Jogja ada oseng mercon, maka di Cirebon ada kerupuk mercon. Aku sempat icip-icip dan terbakar bibir. Nikmatnya;) Sekedar cerita, karena baru pertama kali naik kereta eksekutif (kalau enggak gratis, pasti milih pahe lah, hehehe…), maka aku baru tahu kalau di kereta itu pedagang asongan hanya boleh menjajakan dagangan dengan cara meneriakkan dagangannya berulang-ulang dari ujung gerbong, malah kadang tidak diizinkan naik sama sekali. Entah kenapa, aku malah merindukan transaksi ala gerbong ekonomi yang terkadang bikin geli:)

Anyway, thanks Nuran, for this nice space :)

Komentar (2) »

Eksotisme Tari Seblang Di Ujung Timur Pulau Jawa*

Text: Nuran Wibisono

Photos: Andrey Gromico dan Nuran Wibisono

Banyuwangi, kota kecil yang menyimpan ribuan jejak sejarah. Banyak budaya eksotis yang tersimpan disini, yang sekarang harus rela berkelindan dengan rok mini, celana pensil, dan segala macam produk jaman modern lainnya. Meskipun berhasil berbaur, tak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan tradisional itu makin lama makin tergerus ibarat aspal jalanan Anyer-Panarukan yang lambat laun makin tipis tergerinda oleh roda truk raksasa yang angkuh dan tak bersahabat.

Gandrung mungkin adalah salah satu budaya Banyuwangi yang berhasil mendunia. Bahkan beberapa tahun lalu sempat ada kehebohan saat Temu, seorang seniman Gandrung, karyanya “dibajak” oleh salah satu institut budaya terkemuka di dunia, Smithsonian. Karyanya saat itu dicetak dalam cakram digital dan diperjual belikan secara legal, dan sang pencipta lagu mengklaim tidak mendapatkan royalti. Ternyata saat saya mengobrol dengan mas Wendi Putranto, salah seorang wartawan Rolling Stone Indonesia, kasusnya itu lebih berupa pada ketidak pahaman sang seniman atas sistem pembayaran royalti. Saat itu, Smithsonian Institute memilih untuk membayar dengan cara flat pay, yakni royalti di bayar sekali di muka. Sang seniman yang tidak tahu menahu soal sistem-sistem yang rumit seperti itu, hanya bisa menandatangani surat perjanjian tentang royalti itu. Hal ini menjadi ironis, disaat karya besar yang seharusnya dihargai – terutama oleh pemerintah Indonesia sendiri – ternyata malah dijadikan komoditas penipuan intelektual. Siapa yang salah? Anda tentu mempunyai pendapat sendiri-sendiri.

Selain Gandrung, Tari Seblang perlahan sudah menjadi trademark budaya khas Banyuwangi. Tari ini melambangkan kesakralan, ritual pertemuan dua dunia, sekaligus sebagai rasa syukur atas karunia yang diberikan oleh sang Pencipta dan juga menjadi permohonan untuk tolak bala. Hasnan Singodimayan, salah seorang budayawan Banyuwangi mengatakan bahwa Tari Seblang pada awalnya berfungsi sebagai tari tolak bala dan pernah tercatat di arsip Camat Glagah pada tahun 1930. Namun banyak budayawan lain beranggapan bahwa Tari Seblang sudah eksis sebelum tahun 1930.

Bapak Hasnan Singodimayan Sang Tetua: Di usia yang terbilang sepuh, Bapak Hasnan masih tetap mengawal ritual Seblang agar tetap sesuai dengan tradisi lama

Pada dasarnya, Tari ini bisa dibedakan menjadi dua, yakni dilihat dari penarinya. Kalau anda pergi ke Desa Umbulsari, anda akan menemukan penari yang masih gadis remaja. Di desa ini, ritual Tari Seblang biasanya diadakan setelah hari raya Idul Fitri. Lain lagi dengan Tari Seblang yang ada di Desa Bakungan. Meski sama-sama berada di Kecamatan Glagah, penari di Desa Bakungan adalah seorang yang sudah berusia lanjut. Waktu diadakannya pun setelah hari raya Idul Adha. Ke desa kedualah saya pergi dengan Miko, backpacker-mate saya kali ini, berharap bisa menyaksikan kesakralan dan keeksotisan Tari Seblang dengan mata kepala saya sendiri .

Berangkat dari Jember pada sore hari dengan motor, kami sampai di Banyuwangi sekitar 3 jam kemudian. Sempat singgah sejenak ke rumah Azhar Prasetyo, salah seorang budayawan Banyuwangi yang menulis buku tentang sejarah batik Banyuwangi, kami lalu diantar oleh beliau ke desa Bakungan. Kami berangkat setelah adzan maghrib berkumandang.

Setengah jam dari rumah bapak Azhar, kami sampai di desa Bakungan. Di kanan-kiri jalan desa yang sudah beraspal, tampak puluhan keluarga sudah membeber tikar dan karpet serta menyantap hidangan yang sudah disiapkan sejak dari rumah, seperti layaknya saat piknik.

Di bangku VIP, tampak pula sang bupati Banyuwangi yang cantik, Ratna Ani Lestari beserta para staffnya. Acara masih belum mulai, mungkin beberapa menit lagi.

Di arena tempat diadakannya ritual Seblang ini, ada pula amben (semacam meja kecil tempat menaruh boneka nini towok, bunga-bunga yang nantinya akan dijual pada penonton, hiasan dari janur, tebu, padi hingga sesajen). Hiasan padi, tebu dan tanaman pangan lainnya ini adalah untuk melambangkan kesuburan yang patut disyukuri. Boneka nini towok, dalam beberapa kepercayaan di Jawa, adalah merupakan simbol padi dan kesuburan. Di kanan-kiri amben, tampak duduk berjejer para pemangku adat dan juga master of ceremony.

RITUAL, DEWI SRI, WANITA DAN KESUBURAN

Tari Seblang bukanlah satu-satunya tari tradisional Indonesia yang diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanaman yang mereka peroleh. Dalam budaya Jawa-Mataraman dikenal yang namanya upacara Bersih Desa. Pada budaya Jawa non-Mataraman, dikenal pula upacara Sedekah Bumi. Di Bugis-Makassar, ada upacara bernama Mappalili. Dalam budaya Suku Dayak Kenyah yang berada di Kalimantan Timur ada pula upacara kesuburan yang disebut Lepeq Majau. Di Bali ada upacara Mungkah, Mendak Sari atau Muat Emping Ngaturan Sari.

Simbol kesuburan dilambangkan dengan sesosok dewi cantik jelita bernama Dewi Sri. Lain daerah, lain pula nama simbol padi dan kesuburannya. Dalam budaya Jawa, ada simbol yang bernama Nini Thowok. Pada budaya Sunda, dikenal dewi bernama Nyi Pohaci Sangiang Sri Dangdayang Tisnawati. Pada budaya Dayak, simbol padi dan kesuburan dilambangkan dengan penokohan Bini Kabungsuan.

dewisriDewi Sri Sang Dewi Kesuburan

Tokoh Dewi Sri dalam budaya kesuburan adalah sakral. Folklore tiap daerah pun mempunyai versi yang berbeda tentang Dewi ini. Dalam folklore Sunda, Dewi Sri lahir dari sebutir telur dari air mata seorang Dewa cacat bernama Dewa Anta. Konon, saking cantiknya sang Dewi, raja para Dewa; Bathara Guru, jatuh cinta dan ingin mengawininya. Namun niat itu digagalkan oleh dewa lain dengan cara membunuh Dewi Sri dan menguburkannya di bumi. Beberapa hari kemudian, dari kuburannya muncul beberapa jenis tanaman pangan. Dari bagian kepala, munculah kelapa. Dari bagian mata, tumbuh padi biasa. Dari dadanya, muncullah padi ketan. Dari kemaluannya tumbuh pohon enau dan dari bagian lain muncullah rerumputan. Kejadian di daerah lain, hampir sama, yakni sosok sentral wanita meninggal. Lalu dari kuburannya muncul tanaman-tanaman pangan.

Bukan hanya di Indonesia, Curt Sarch sang penulis buku World History of the Dance mengungkapkan bahwa jauh sebelum Masehi, para Shaman telah menciptakan hujan dengan ritual tari gembira. Kalau anda penasaran seperti apa ghost dance atau rain dance ini, tengoklah sosok Jim Morrison saat sedang tampil di atas panggung dan dalam keadaan trance. Morrison yang terobsesi dengan budaya Indian akan menari-nari liar. Itulah ghost dance kawan.

Di suku Amazon , ada tari bernama Tari Itogapuk. Tari ini membentuk gerakan laki-laki dan perempuan yang saling bersatu, melingkari sebuah tanaman, saling menempelkan pinggul lalu sang penari perempuan digendong untuk kemudian dibawa pergi.

Ben Suharto, sang penulis buku Tayub; Pertunjukan dan Ritus Kesuburan, mengungkapkan bahwa tari ritual kesuburan selalu berusaha mencapai suatu sikap mistis tentang seksual dengan cara mendekatkan manusia berbeda kelamin atau dengan cara saling melingkari.

Tari Seblang pun, melambangkan kesuburan dengan simbol mahkota yang dipakai oleh sang penari yang dihias dengan kembang aneka warna yang melambangkan kesuburan.

Satu kesimpulan yang bisa ditarik dari sini adalah betapa wanita merupakan sosok penting dalam mitos kesuburan, baik kesuburan tanaman maupun kesuburan reproduksi.

Saya jadi ingat sebuah petikan dari sebuah naskah kuno bernama Atharvaveda yang berbunyi “Perempuan datang sebagai lahan hidup; taburkanlah benih ke dalamnya, oh para lelaki.”

***

Selayaknya ritual lain, Tari Seblang pun memiliki beberapa tahapan sebelum mencapai ritual puncak. Inilah urutan ritual yang harus dijalankan :

1. Penari Seblang dirias dan mengenakan busana tarinya. Pada bagian tubuh dan wajahnya, dibaluri sejenis tepung batu halus berwarna kuning (biasa disebut atal ) yang dicampur dengan air. Lalu sang penari pergi berjalan menuju arena dengan beberapa penyanyi perempuan dan pemilik hajat.

foto-2

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Menuju Arena: Para tetua desa menuntun sang penari Seblang yang sudah trance menuju arena tempat dia menari.

.

2. Pada tahapan kedua ini, sang penari dikenakan mahkota yang dihias beraneka bunga dengan beragam warna. Tak lupa, sang penari memegang nyiru dengan tangannya. Lalu ada seorang perempuan tua yang menutup mata sang penari dengan tangannya. Setelah itu ada sang pawang yang membakar dupa serta merapal mantra untuk memanggil dhanyang (roh penjaga desa) yang dikenal dengan nama Buyut Kethut, Buyut Jalil, dan Buyut Rasio agar memberkahi pertunjukan Seblang ini. Saat nyiru yang dipegang penari Seblang itu jatuh, maka dia sudah mulai kejiman alias kesurupan.

3. Tahap ketiga, adalah tahap pemilihan lagu untuk mengiringi sang penari. Ada kalanya, lagu yang dimainkan tidak disetujui oleh sang penari yang sudah trance ini. Kalau sang penari setuju, maka ia akan berdiri dan menari dengan gemulai berlawanan dengan arah jarum jam. Kalau tidak setuju, dia tidak mau berdiri serta memberi isyarat agar sang pengiring memainkan lagu lain. Kadang kala, disaat jeda pemilihan lagu dan sang penari beristirahat, disisipkan pula ritual sabung ayam.

foto-4<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

The Owners: Para pemilik ayam aduan dengan bangga menggendong ayam jagoannya masuk menuju arena aduan dengan diiringi musik gandrung.

.

foto-3

Fight For Hysteria: Dua ayam jago diadu hingga darah mengucur dan penonton berteriak histeris.

.

foto-6 Break on Through to the Otherside: Sang penari ini sudah kejiman alias tubuhnya sudah dimasuki roh halus penjaga desa yang disebut dengan dhanyang. Saat itu pula tubuhnya lalu gemulai menari mengikuti irama musik


4. Setelah ritual tari berhenti sejenak, maka ada beberapa gadis cantik dengan kebaya memegang kembang dirma yakni bunga beraneka warna yang dipercayai bisa mendatangkan berkah. Lalu bunga ini diberikan pada penonton, lalu penonton memberikan derma uang ala kadarnya.

foto-51 Kembang Dirma: Salah seorang penyanyi yang manisnya gak ketulungan, memberi bunga yang disebut dengan Kembang Dirma pada penonton, dan penonton memberikan uang sekadarnya untuk sekedar menambal biaya operasional

.


5. Tahapan ini disebut tundik dan beberapa menyebutnya Ngibing, yakni saat dimana sang penari mengajak penonton untuk ikut menari. Cara memilih penontonnya unik, yakni sang penari Seblang melemparkan sampur pada penonton. Siapa yang ketiban sampur itu harus menari bersama penari Seblang. Suasana menjadi ramai dan penuh tawa saat penonton lari berhamburan menghindari sampur yang dilempar itu. Saat ditanya kenapa lari, jawaban mereka hampir seragam, “takut”. Kawan, inilah hasil nyata dari pembodohan film horror Indonesia yang membuat orang beranggapan bahwa orang kesurupan bisa membunuh kita.

foto-8

Ngibing atau Tundik?: inilah saat sang penari melempar samplung pada penonton. Dan seringkali penonton – terutama anak-anak- lari ketakutan saat sang penari menghampiri.

.

6. Inilah titik puncak dari upacara Seblang. Saat sang pengiring memainkan lagu Candradewi yang dimainkan dengan cepat, sang penari juga berputar dengan cepat. Lalu sang penari rebah dan tergeletak menelungkup. Saat ini petugas kembali meminta derma dari para penonton.

Selepas Isya, acara pun dimulai. Para kameramen dari beberapa media elektronik sudah siap dengan kamera dan tripod. Para fotografer sudah mendapat angle yang bagus. Dan para pamong praja bertingkah over acting menghalau penonton atas nama kenyamanan ibu Bupati yang terhormat serta jajarannya yang penjilat.

***

Seusai pertunjukkan, ada satu ritual lain yang tak afdol rasanya jika tak diikuti. Yakni acara berebutan sesajen hasil pertanian yang digantung di beberapa bagian kantor balai desa. Ada durian, padi, alpukat, sirsak, pisang hingga kelapa. Saya dan Miko yang terkena euforia, langsung saja ikut berebutan sesajen itu dengan puluhan ibu-ibu dan juga anak-anak yang lincah. Saya dan Miko yang berperut buncit karena jarang olahraga, kalah gesit dan akhirnya hanya mendapat dua buah pisang. Karena tahu bakalan tidak kebagian lagi, kami lebih memilih untuk memotret acara perebutan sesajen itu.

dsc_03661Masih Ingat Pria Ini?

.

foto-7

Huuup!: Dengan sedikit melompat, anak kecil ini berusaha keras untuk bisa mengambil sirsak yang digantungkan sebagai sesajen.

.

Setelah acara berebut itu selesai, kami mengobrol dengan ibu Eko Wahyuni Rahayu, seorang dosen dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya jurusan Sendratasik (Seni, Drama, Tari dan Musik). Rupanya selama beberapa tahun terakhir, beliau rutin mengajak anak-anak didiknya untuk melihat upacara Seblang ini. Beliau ingin mengajarkan dan menanamkan pada pikiran mahasiswanya bahwa masih ada tari tradisional yang bahkan jauh lebih eksotis daripada tari modern yang lebih didominasi unsur western.

Beliau berharap dengan adanya pikiran seperti itu, tari Seblang tak akan pernah punah digilas jaman. Satu lagi yang bikin saya senyum-senyum senang adalah, gerombolan mahasiswa itu didominasi oleh mahluk indah yang disebut wanita. Dan mereka kebanyakan berparas indah ibarat Dewi Sri yang turun dari khayangan, halah! Mata saya yang sedikit ngantuk tiba-tiba menjadi terang saat melihat paras rupawan para calon seniman itu. Sayang, saya dan Miko adalah orang-orang yang ditakdirkan untuk jadi pecundang saat harus berkenalan dengan wanita. Apalagi kalau dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka bertampang manis sedang kami bahkan belum mandi…

.

foto-9

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Faces of the Crowd: inilah kerumunan penonton yang menonton tari Seblang. Beberapa dari mereka berasal dari luar kota, mulai saya yang dari Jember hingga sepasang suami istri yang berasal dari Surabaya. Cari gadis mana yang paling cantik…

***

Setelah selesai mengobrol, kami pun bersiap untuk pulang. Setelah pamit dengan Bapak Hasnan, Ibu Eko dan dengan para tetua adat daerah sana, kami pun bergegas pulang menuju Jember, kota kami tercinta. Malam memang dingin, namun tiba-tiba terasa menjadi hangat saat saya berjanji pada diri saya sendiri untuk datang kesini lagi tahun depan, untuk kembali menyaksikan tari tradisional yang penuh magis ini. Sambil berjanji, saya juga berharap agar kesenian tradisional seperti ini tak akan pernah lapuk dimakan jaman, semoga…

* Tulisan ini adalah versi asli dari tulisan yang masuk di situs www.jakartabeat.net

Komentar (2) »

Jogja’s Day Out!

Teks: Nuran Wibisono
Foto: Miko dan Nuran

***

Berkunjung ke Jogja selalu menyenangkan. Menyusuri hitam rel kereta api yang puluhan tahun telah terpanggang matahari. Menyaksikan para peragawan-ti senior menjunjung barang dagangan diatas kepala mereka dengan seimbang. Diterpa angin jalanan yang menyegarkan namun juga menebar debu di wajah kita. Berjalan menyusuri trotoar Malioboro, memandang pernak pernik beraneka warna dan juga para turis berwajah bening dengan senyumnya yang tampak menggoda dan pakaian yang mengundang birahi.
Biasanya aku pergi ke Jogja dengan alat transportasi sejuta umat, kereta api. Selain suasana yang menyenangkan, harga tiket yang murah juga menjadi pertimbanganku. Harga tiket Logawa jurusan Jember-Jogja Cuma Rp.31.500 saja. Bandingkan dengan harga tiket bus. Lalu bau solar yang bikin aku mual juga menjadi alasan untuk aku membenci bus dan segala atributnya.
Tapi kali ini lain. Aku dengan terpaksa harus naik bus dari jember menuju jogja. Alasannya adalah aku harus mengikuti materi tambahan buat KKT-ku. Damn! Materi tambahan itu membuat semua rencana backpackingku berantakan dan aku yang semula berencana naik kereta api dengan terpaksa harus berangkat menggunakan bus.
Kawan, kali ini aku tidak backpacking sendirian. Ada salah satu teman priaku, dan dia jomblo, serta diindikasi dia adalah seorang gay, yang merengek mengajak aku backpacking ke Bali. Berhubung planning ke Jogja ini (nyambung sampai bandung) sudah lama aku rencanakan, jadilah aku mengajak pria mesum in huntuk ikut dalam backpackingku kali ini. Dia yang tidak pernah merasakan hawa dingin kota Bandung kontan langsung setuju saat aku mengajak dia untuk pergi ke Jogja dan Bandung. Fellas, perkenalkan backpack-mate ku kali ini, Andrey Gromico. Seorang lajang kelahiran Malang yang hobi fotografi. Jadi backpacking kali ini juga disertai misi hunting foto-foto yang asu tenan (baca: keren). Entah kenapa, perjalanan dengan Micko ini selalu ada kisah konyol yang selalu seru untuk diceritakan kembali. Maka janga beranjak dari depan monitor anda, tetaplah membaca blog sesat ini.

dsc_1112

Miko Si Pecinta Pria

***

Perjalan dimulai dengan bus jurusan Jember-Lumajang, yang konyolnya, kita salah naik bus. Jadi untuk menuju Lumajang, ada 2 jalur yang bisa ditempuh. Kebanyakan orang-orang naik yang melewati Tanggul. Dan sebagian kecil orang memilih melewati Kencong Jember. Dan saat ini kami berada di bus reot yang berjalan bagai suster ngesot bersama orang-orang kelompok sebagian kecil itu. Jadi Jember-Lumajang yang seharusnya hanya memakan waktu 1 ½ jam saja menjadi 2 ½ jam karena busnya lewat jalur yang memutar. Itulah kekonyolan kami yang pertama, dan sempet bikin aku sedikit gondok.

Dari Lumajang, kami dioper ke bus lain dengan jurusan Probolinggo. Tak ada yang banyak terjadi disini. Tapi setelah sampai Probolinggo, kami dipaksa pindah bus lagi. Hey, kenapa gak sekalian kami disuruh jalan kaki saja?
Oke, setelah melewati kemacetan di daerah Porong, sampailah kami di Surabaya kota Dolly. Bus berhenti dengan tenang di pemberhentian bus antar kota di terminal Bungurasih. Setelah makan soto, kami bergegas menuju jalur bus yang ke Jogja. Dan karena saat itu adalah waktu liburan, jadilah beberapa bus penuh dan meninggalkan kami dengan kepulan asap knalpot berwarna hitam, sehitam fahmi temanku.
Akhirnya setelah beberapa lama menunggu, datanglah bus messiah yang membawa kami menuju Jogja. Setelah sempat main mata dengan gadis berkacamata yang turun di Mojokerto, kamipun tertidur. aku bermimpi bercinta dengan Pamela Anderson sedang Miko bercinta dengan Tommy Lee…
Kami turun di jembatan layang Janti. Kalau bahasa kerennya Janti Crossover. Dan kami dijemput oleh temanku seorang remaja begundalan yang sekarang sedah nyambi menjadi mahasiswa disalah satu universitas islam di Jogja. Meskipun dia lebih suka berdansa epilepsi dibanding sholat dan dia lebih sering melantunkan Love Will Tear Us Apart dibanding ayat alquran, rupa-rupanya hal itu bukan masalah. Sambutlah lelaki penyuka tante girang ini, Dion Bandenk. Saat ini dia membawa serta seorang temannya yang berambut botak ala narapidana kasus pemerkosaan. Sambutlah juga Yoga. Oh ya, saat itu jam menunjukkan pukul 02.00 wib.
Setelah tidur sampai adzan dhuhur memanggil, aku dan Miko pergi berkeliling Malioboro. Sebenarnya siang itu aku sudah ada di stasiun Lempuyngan, dan mau naik kereta ekonomi Pasundan yang menuju Bandung. Namun karena telat yang dramatis (tau kan? Kita nyampe stasiun dan kereta sedang berjalan perlahan-lahan. Itulah yang kami alami saat itu). Jadilah aku dan Miko menghabiskan siang di Malioboro dan hunting foto-foto yang njancuki (baca: subhanallah kerennya, meski gak sekeren punya blognya ayos, hehehe)

dsc_11141

dsc_11151

dsc_11161

dsc_11201

dsc_11282

dsc_11322

Yang Kiri Lebih Pantas Jadi Tukang Becak


dsc_1137

Let Me Stand Next To Your Fire


dsc_11401

Meski Tampang Mirip Kuda, Punyaku Tidak Sebesar Kuda

***

”Mik, ada yang jual jus Italia nih. Pasti rasanya beda, bisa jadi buahnya impor dari Italia sono. Atau malah sirupnya yang impor dari Italia” kataku pada si homo Miko. Sebagai pemberitahuan, si Miko ini terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau Italia. Mulai bahasa, sepakbola hingga makanan. Maka gak heran si Miko selalu bercita-cita pengen punya pacar segagah Marco Materazzi.

”wah, sip iki. Ayo beli” jawab si Miko yang  sudah terlanjur antusias duluan saat melihat tulisan Italia di gerobak jus itu. Jadilah kami memesan 2 gelas jus. Jus buah naga untuk aku, dan jus buah pear untuk miko. Sebenarnya aku pengen pesan jus buah dada, tapi sayang tidak ada. Cckk ckk ckk, penjual jus macam apa kalian? Amatiran ah…

Ternyata, setelah dicoba… rasanya biasa saja. Sama seperti jus yang di jual di depan PKM ato yang di depan gedung DPR itu. Gak ada bedanya. Aku yang penasaran langsung aja bertanya.
”mbak, kenapa namanya jus italia? Tapi kok rasanya sama aja ya mbak?” protesku pada mbak yang melayani kami.
”oh, itu karena kami berjualan di depan toko yang namanya toko italia” jawab mbak pramusaji itu dengan sok polos dan ketawa licik. Seketika itu juga aku ingin menggerinda wajahya dengan aspal panas.
”jancuuuukkkk!” itu suara aku dan miko yang sedang teriak menyesali kebodohan dan keidiotan kami. Delapan ribu rupiah melayang sudah…

***

Saat melewati gedung budaya di sebelah pasar buku itu, kami menyempatkan diri untuk mampir sejenak. Biasanya disini sering diadakan pameran seni rupa. Dulu waktu aku dan Hottie backpacking bareng ke Jogja, juga ada pameran lukisan. Kali ini rupanya juga, ada pameran lukisan yang diadakan disana. Sayang kami kelupaan siapa yang mengadakan pameran lukisan itu. Akhirnya aku dan miko foto-fotoan disana. Ini beberapa hasil jepretan goblok kami.

dsc_11451

Orang Ganteng


dsc_11461

Katanya Miko Merinding Kalo Liat Tulisan Ini. Kenapa Mik? Lu Horny?


***

Yang menarik dari Malioboro adalah saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat dan bulan perlahan mulai menampakkan wajahnya. Tingkah polah para pedagang sangat menarik untuk diamati. Tak lupa pula jam segitu para penjual kaset bekas sudah mulai muncul. Aku mengajak Miko untuk hunting kaset bekas. Miko akhirnya membeli beberapa kaset bekas dari Pavarotti hingga Michael Jackson. Kami juga sempet memotret beberapa objek menarik, Malioboro; Manusia; dan Senja…

dsc_11521


dsc_11571


Setelah puas foto-fotoan, aku keinget kalau ada seorang backpacker wanita temanku yang saat ini sedang menapakkan kakinya di Jogja. Dia seorang wanita dengan inner beauty yang kuat. Dia juga mahasiswa teladan di angkatanku. Sekarang sedang menggarap skripsi. Seorang wanita polos yang ternyata memiliki beberapa imajinasi liar. Perkenalkanlah, a friend of mine, Mening.
Saat itu dia menginap di Losmen Jaya di daerah pasar kembang, tepatnya di gang Sosrowijayan II. Losmen ini juga langgananku kalau aku sedang ingin bener-bener straveling sendirian. Harganya khas backpacker, hanya 60 ribu semalam untuk dobel bed. Losmen ini tempatnya bersih banget dan aman. Bener-bener cocok untuk para backpacker, gak cuma yang domestik. Yang dari luar negeri pun juga sering menginap disini.
Ternyata saat itu ada 2 teman Mening pas dia KKN dulu. Namanya Yetti dan Neni. Mereka berdua adalah anggota Lembaga Pers Mahasiswa FE Unej, Ecpose. Aku dan Miko numpang istirahat barang sejenak di kamar mereka. Setelah mandi dan sedikit rebahan, aku mengajak mereka ke Kopi Joss yang ada di jalan XXX sebelah Stasiun Tugu. Buat yang gak tahu apa itu kopi joss, jadi kopi joss itu adalah kopi yang diberi  arang yang panas membara (taelah!) kedalamnya. Rasanya? Sama saja seperti kopi biasa. Hanya sensasi bunyi cess dari arang panas yang dimasukkan ke dalam kopi yang juga panas lah yang menyebabkan kopi ini begitu terkenal dan digemari. Sepanjang jalan XXX ini berjejer para penjual kopi joss ini. Minuman lain yang direkomendasikan adalah  es tape hijau. Es ini hanya berupa air putih, diberi tape hijau dan gula. Namun kesederhanaan itulah yang menjadi pemikat lidah. Rasanya bercampur antara manis-asam dari tape ketan hijau dan rasa legit dari gula-nya. Nongkrong disini tanpa dilengkapi dengan makan, tak afdol rasanya. Tersedia pula disini nasi kucing (nasi bungkus dengan porsi kecil seperti porsi makan kucing), dan berbagai jenis kudapan yang unik, seperti sate gajih ayam, serta ceker goreng. Ada pula ketan bakar hingga gorengan standar macam tempe dan tahu goreng.

dsc_11601

Mening Khawatir Apakah Kopinya Bisa Membikin Dia Jadi Gila Seperti Aku


dsc_11591

Ngomong-ngomong soal nasi kucing, merupakan hal yang menarik bahwa setiap daerah memiliki nama dan versi sendiri tentang nasi bungkus ini. Kalau kalian berdiri di pulau dewata, sebutan untuk nasi bungkus ini adalah nasi jinggo, yang artinya nasi seribu lima ratus. Lalu pergi ke daerah Lamongan maka kalian akan menemukan nasi bandeng, karena lauk utamanya adalah nasi bandeng. Ke daerah banyuwangi, ada pula nasi tempong, yang namanya berasal dari bahasa using yang berarti tampar. Jadi karena saking pedasnya sambal di nasi ini, maka mulut kalian akan kepedasan seperti ditampar setelah selesai makan.
Masalah penyajian juga tiap daerah berbeda. Nasi kucing (ada juga sebutan nasi macan) di daerah Jogja dan Solo itu hanya berupa nasi segenggam dan sejumput oseng-oseng tempe. Ada juga yang Cuma berupa nasi putih dan sejumput sambal merah, dan tanpa lauk. Itu yang kelas mahasiswa. Kalau naik kelas sedikit, ada suwiran ayam sebagai topping diatas nasi, hehehe.
Kalau  nasi Jinggo itu  dibungkus dengan daun pisang, bukan kertas koran seperti nasi bungkus lain. Isinya berupa nasi putih dengan lawar sayur dan suwiran daging ayam atau bebek. Itu yang halal. Kalau yang tidak halal, lawarnya biasanya lawar daging babi. Nasi tempong sendiri porsinya itu porsi kuli. Lauk standardnya berupa tempe dan tahu goreng dengan sambal merah menyala yang banyaknya hampir serupa dengan nasi sambelan ala Surabaya. Tak lupa lalapan daun singkong yang pahit itu. Dan sumpah, sambelnya, saking pedesnya, kalau itu diraupkan ke matamu, maka niscaya matamu akan buta seumur hidup.
Nasi bandeng, dinamakan begitu karena Lamongan terkenal sebagai penghasil Bandeng kualitas jempolan selain terkenal dengan tahu campurnya. Visualnya? Ya nasi putih dengan oseng-oseng tempe, sedikit sambal untuk penyedap rasa dan secarik daging bandeng. Kesamaan dari para nasi bungkus itu adalah harganya yang murah meriah. Berkisar antara 1500-2500 rupiah saja.
Oek, cukup sudah intermezzo kuliner kali ini. Sekarang kita kembali lagi ke meja dimana kita duduk. Oh ya, ditempat kopi jos ini pula aku bertemu dengan Donna dan keluarganya. Gadis manis teman sekosan Hottie ini sedang berlibur bareng sama ibu dan saudara-saudara lelakinya. Aih, kemana pula saudara-saudara wanitamu kawan?
Si Miko dari tadi sudah merengek-rengek pengen minum Lapen. Buat yang belum tahu apa lapen itu, jadi lapen itu adalah minuman alkohol tradisional khas Jogja. Kalau Solo terkenal dengan Ciu, Bali terkenal dengan Arak, maka Jogja terkenal dengan Lapennya. Berkat kekreatifak para pembuat lapen ini, maka lapen sekarang memiliki banyak rasa, mulai rasa coklat sampai dengan rasa vanilla. Rasanya? Entahlah, aku tak pernah minum.
Ternyata si Miko sedang dipeluk malaikat keberuntungan. Erwin, pacar si Lydoz – Lydoz ini temanku yang juga teman sekosan si Hottie – ingin berangkat ke Bandung juga. Jadilah kami janjian berangkat ke bandung bareng dengan kereta Kahuripan. Jam setengah delapan malam, sudah saatnya kami berpisah dengan Mening dkk. Sayonara kawan, sampai jumpa di Jember yang semakin menyesakkan…

Lydoz Dan Erwin The Happy Couple

Bandung, aku datang…
Setelah beli tiket, kami bertemu dengan Erwin. Kereta datang jam delapan empat puluh, sedikit telat dari jadwal keberangkatan. Namun tak usah heran kawan, sejak kapan di Indonesia kereta ekonomi tidak terlambat? Kalaupun ada maka bolehlah kita memasukkan itu ke dalam 7 kejaiban dunia yang jarang terjadi. Dan si Miko mendadak kegirangan, karena tiba-tiba setelah kami mendapat tempat duduk, si Erwin mengeluarkan sebotol aqua berukuran sedang berisi cairan berwarna coklat. Apakah itu kawan? Itu dia yang dinamakan lapen rasa coklat. Dan langsung saja si Miko senyum-senyum puas. Si Miko pun minum dengan lahap minuman beralkohol itu. Hasilnya? Semenjak berangkat dari Jogja hingga masuk Bandung, tak sekalipun dia terbangun. Yap, dia terkapar dengan puasnya di kursi kereta. (Bersambung)

dsc_11691Di Depan Itu Stasiun Kiaracondong

Nb: Miko adalah seperti pria normal lain yang mencintai wanita. Jadi cercaan bahwa dia adalah homo di tulisan ini adalah hanya sekedar becandaan.

Komentar (4) »

Apa Aku Berada di Surga? Atau Mereka Mengundang Mahluk Surga?

Dari kejauhan tampak pulau kecil itu, tampak begitu mungil ditengah lautan yang luas dan kejam. kapal kecil yang aku naiki berjalan pelan menuju pulau itu. langit tampak cerah, biru menggoda. air laut yang berwarna biru tua pun hanya sesekali bergelombang kecil. ya, cuaca sedang cerah, seakan sedang menyambutku. bunyi diesel kapal yang berisik seakan tak mampu membuyarkan konsentrasiku akan pulau itu. dari kejauhan tampak gerombolan burung camar terbang mengelilingi pulau itu. kapal semakin mendekati pulau itu, perlahan namun pasti. semakin dekat, tampak gradasi warna air laut berubah. ya, air laut yang sedang surut ini sekarang berwarna hijau muda. dan tampaklah! lihatlah! ratusan atau bahkan ribuan ikan beraneka jenis dan warna berenang de ngan bebas, mereka berseliweran dengan santainya. tampak oleh mataku ikan badut ( Amphiprion clarkii ) atau yang lebih dikenal dengan nama ikan nemo. tampak pula ikan barakuda ( Sphyraena barracuda ) hingga ikan pari ( Taeniura lymma ). bukan hanya ikan-ikan nan lucu itu yang berenang, tak ketinggalan pula ada maskot dari pulau ini, penyu hijau raksasa ( chelonia mydas ) yang sesekali muncul ke permukaan air. ada pula sebagai penghias alami laut ini, para terumbu karang yang dijadikan tempat bermain ikan-ikan kecil. terumbu karang, mereka tampak tenang dibawah sana, sama sekali tidak takut akan tangan jahil manusia, karena mereka tahu mereka aman disana. kapal semakin mendekati dermaga. tampaklah oleh mataku, ratusan pohon kelapa yang berdiri gagah, mereka seakan meyambut kedatanganku. daunnya yang besar dan rindang bergoyang dihembus angin. mereka tampaknya bangga sebagai penhuni tertinggi di pulau ini semenjak ratusan tahun yang lalu. tak ada dan semoga tidak ada pencakar langit yang merampas kedudukan mereka sebagai penghuni tertinggi di pulau ini. sejenak aku tertegun… “apa aku sedang berada di surga?”
ROAD TO PARADISE
Ternyata aku tidak sedang berada di surga. Saat ini aku dan carrier tuaku sedang menginjakkan kaki di Kalimantan Timur, Tepatnya di kabupaten Berau. Dan surga yang aku gambarkan barusan? itu bukan surga kawan, melainkan suatu pulau kecil di Berau  yang bernama Derawan. Pernah dengar nama itu? mungkin beberapa sudah pernah mendengar nama itu, dan sebagian belum pernah. Maklum, meski pemandangan bawah lautnya tidak kalah dengan Bunaken, pulau ini masih kalah pamor dibanding Bunaken. Mungkin salah satu faktornya adalah sulitnya sarana transportasi menuju pulau ini.
aku masih belum ingin bercerita banyak, hanya sedikit memberi gambaran saja. Untuk cerita selengkapnya, nanti… Derawan menjadi titik terjauh dalam petualanganku kali ini. dan ceritanya tentu tidak akan berakhir hanya sampai disini.
Sekian dulu kawan. Oh ya bagi sahabat – sahabatku yang selalu menanyakan aku lagi ada dimana, saat ini aku masih berada di Surabaya, baru kemarin datang dari Kalimantan. Tapi sore ini aku pergi lagi ke Bandung, untuk menemui seorang wanita yang rela bersabar meladeni aku yang dengan egoisnya pergi ke Kalimantan disaat aku harusnya memeluk dia lebih lama lagi…
jadi…. sampai ketemu di tulisan berikutnya…
Bandung, tunggu aku…

Komentar (8) »

1 Juni 2008…??

Fuhhh… setelah berhari-hari kepala sedikit seperti mau pecah, akhirnya hari ini aku dapet kesempatan untuk sedikit menyegarkan pikiran dan menormalkan kembali otakku. Kesempatan itu datang saat Miko menawari untuk pergi ke kolam renang. Ngapain ke kolam renang? Uhhhh, banyak sih, mulai dari mengintip cewek ganti baju, menggoda mbak penjual tiket dan… renang! Ya iya lah goblok!

Jadilah sore itu, menjelang maghrib kami berangkat menuju kebon agung, salah satu kolam renang terkenal di jember. Olalala, ternyata ada peraturan baru di Kebon Agung. Setiap hari senin- sabtu, jam buka hanya sampai jam 18.00 saja. Sementara saat itu waktu sudah menunjukkan jam 18.30. akhirnya kami pun pergi ke Bandung Permai, kolam renang yang terletak di depan saklah satu took gudang rabat. Oh ya, kali ini aku tidak hanya ditemani Miko, tapi ada juga si Koko, teman 1 SMA si Miko di Malang dulu. Si Koko ini nanti akan banyak membawa aib bagi aku karena dengan bangganya mengumumkan diri sebagai pasangan homoku, huahahahaha, parah!!!!

Intinya, malam ini kami bisa dengan santai melepas semua beban. Menggerakkan badan, tangan, kepala dan kaki untuk membelah air yang berwarna kehijauan karena efek dari kaporit. Tidak banyak pengunjung yang datang di kola mini, karena memang waktu sebenarnya sudah cukup malam untuk mencemplungkan diri di kolam renang.

Oh ya, si Miko kali ini dengan membawa kamera DSLR Nikon D 60-nya berhasil membujuk aku untuk menjadi “kelinci percobaan” fotografinya. Aku disuruh berkali-kali melompat ke dalam kolam hanya untuk mendapatkan gambarku yang melayang dan masuk ke dalam kolam. Dan yang membuatku pengen nenggelamin si Miko ke dasar kolam adalah banyak dari jepretannya gagal. Ada yang terlalu cepat lah, gak focus lah, kurang pencahayaan lah dan segala macam alasan tolol lain yang berhasil membuatku ngos-ngosan karena harus berkali-kali naik-lompat kolam… tapi overall, beberapa foto cukup bagus hasilnya. Nice pict!

JUMP!!!

sok iye! padahal tampang kayak tukang buah! hahahaha

hehehe, ini aku yang moto…

3 orang homo?? ugh!!! threesome?? uweek!!!

L-Men Of The Year? huahahahaha!!!!

Nuran Cakep??? huahahahahahahahaha!!

Okeh. Cukup cerita renangnya. Setelah badan cukup segar karena efek olahraga, perjalanan malam ini dilanjutin dengan survey soal harga tiket ke Makassar. Buat yang belum tahu, seandainya Allah ngijinin, aku akan berangkat ke Makassar tanggal 7 Juni 2008 ini. Harga tiket mulai Rp.228.000 sampe Rp.270.000. Lama perjalanan kira-kira 1 hari 1 malam. Yah, moga-moga saja perjalanan kali ini jadi dan berhasil, amin!

Setelah survey harga tiket ke Makassar, kami berencana makan. Tapi ndilalah ada demo di bunderan DPR. Demo yang dilakukan oleh beberapa organisasi extra ini ternyata bukan demo BBM. Mereka demo untuk mengkritik ulah FPI yang semakin lama semakin arogan dan sering memakai kekerasan dalam aksinya. Demo ini berjalan tertib dan damai. Jauh dari kerusuhan yang sekarang ini menjadi sahabat karib dikala demo. Jadilah kami turun sejenak dari motor tua Miko, lalu sedikit meliput dan memotret. Setelah itu baru makan.

Sok Abstrak, padahal amatir, huahahahahaha

Huffff, hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan telah berakhir seiring aku berada di atas karpet merah, alas lantai Tegalboto yang menyimpan jutaan makna…… dan liur, hehehehe. It’s time for me to take some sleep, cause tomorrow will be better, and harder…

See you again…

Rock On!

Komentar (3) »

It’s A Long Way to the Top (If You Wanna Rock N Roll): Skid Row Live Concert in Malang

Judul lagu dari band rock legendaris asal Australia, AC/DC, itu mungkin sedikit banyak menceritakan tentang bagaimana susahnya untuk menggapai sesuatu. Entah itu cita-cita anda atau bahkan hingga hal yang terkecil, seperti pacar misalnya. Tulisan kali ini adalah sesuai dengan isi lagu AC/DC itu. Bagaimana saya harus menempuh jalan yang panjang untuk menggapai sesuatu yang bernama rock n roll. Disinilah saya, tanggal 14 Maret 2008. berdiri di jalan Jawa VII. Di sebuah kontrakan tempat teman saya tinggal. Saya menunggu hujan yang tak kunjung reda untuk kemudian berangkat menuju Malang. Ada apa di Malang? Ada mimpi dan harapan saya disana. Sesuatu yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang rockstar dan selalu belajar untuk menjadi seorang pemberontak. Mimpi dan harapan saya itu adalah Skid Row

***

Bagi pemuda yang besar di era akhir 80an dan awal 90an, pasti mengenal yang namanya Skid Row. Saya sendiri meski baru lahir pada akhir 80-an, sudah dijejali musik tahun 70an oleh ayah saya semenjak masih berumur 4 tahun, masih TK!. Seingat saya, waktu anak seumuran saya belajar menyanyikan Kodok Ngorek atau Bintang Kecil, saya sudah dijejali Jimi Hendrix, Rolling Stones, Deep Purple, Led Zeppelin hingga yang sedikit slow seperti Bee Gees atau The Beatles. Peracunan pun terus berjalan dan misi ini diemban oleh adik ayah saya. Ya, ayah dan om saya telah “berdosa” membuat saya terjebak dalam era classic glam rock itu. Setelah ayah saya menjejali musik kegemarannya, gantian, om saya yang menjejali musik kegemarannya pada saya. Dan itu berarti Guns N Roses, Skid Row, White Lion, Cinderella, Bon Jovi, Motley Crue hingga Poison masuk kedalam kuping dan turun hingga ke hati. Dan sampai saat ini pun, tradisi peracunan itu masih berlaku. Gantian saya yang berusaha menjejali adik atau keponakan saya untuk mendengarkan musik legendaris itu. Dan jujur, masa sekarang hal itu jauh lebih sulit. Percayalah!

Skid Row adalah salah satu band hero saya selain Guns N Roses. Tumbuh besar dalam sayatan gitar Scotti Hill dan Snake Sabo, Lengkingan vocal Sebastian Bach, Cabikan bass Rachel Bolan dan gebukan drum bertenaga oleh Rob Affuso, mau gak mau mendoktrin saya tentang selera musik. Dan attitude mereka juga sangat berpengaruh dalam segala tetek bengek kehidupan saya. Saya pun, sama seperti om saya, menganggap mereka adalah pahlawan.

Anda bisa membayangkan bagaimana kalau band pahlawan anda datang ke kota tetangga, dengan harga tiket yang sangat terjangkau? Apa yang anda lakukan? Tentu anda akan berusaha untuk menonton konser itu. Begitu pula yang saya lakukan saat mendengar Log Zhelebour akan mendatangkan Skid Row ke Indonesia. Kabar pastinya saya dapat dari internet dan tv. Selain berhasil menjadi perantara media untuk meracuni masyarakat dengan sinetron-sinetron najisnya, ternyata Tv memang tetap menjadi sumber informasi yang bisa diandalkan. Tak aneh memang kalau sempat ada prediksi kalau jurnalisme elektronik (baca: intenet, tv) akan mengalahkan jurnalisme cetak (Koran atau majalah). Skid Row akan konser di 5 kota dengan harga tiket yang gila-gilaan… murahnya! Bayangkan, jika anda hidup di kota besar seperti Jakarta, anda cukup merogoh kocek sebesar 100 ribu untuk menonton band sekelas Skid Row. Sedangkan di kota lain, Bandung ( 30 Ribu ), Semarang ( 20 Ribu ), Surabaya dan Malang ( 25 Ribu ). Bandingkan dengan harga tiket konser Diana Ross kemarin yang kelas VVIP mencapai 10 juta! What the fuckkk!!! Dan herannya, ada saja orang kelebihan duit yang mau mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk menonton seorang wanita kribo menyanyi. Saya jadi heran, saya ini hidup di Negara miskin atau Negara kaya ya? Tapi itulah, jika seseorang sudah mengidolakan sesuatu, apapun akan dilakukannya. Dan memang, tak aneh jika mereka mengeluarkan uang yang cukup untuk membeli nasi bungkus sebanyak 3333, 3333 bungkus (kalkulasi harga sebungkus Rp.3000) hanya untuk menonton konser.

Tapi lain halnya kalau ini terjadi pada mahasiswa berkantong cekak seperti saya. Saat ada selentingan kabar Skid Row akan main di Indonesia, saya sudah membayangkan harga minimal ratusan ribu rupiah untuk dapat menonton band dari New Jersey ini. Kalau itu yang terjadi, biarlah saya tidak menonton Skid Row. Karena bagaimanapun, mengidolakan seseorang bukan berarti membuat kita kehilangan akal sehat. Tapi beruntung sekali Indonesia mempunyai promotor seperti Log Zhelebour yang terkadang tidak begitu memikirkan profit, asalkan Indonesia bisa mendapat hiburan rock yang bermutu dan terjangkau. Saat mengetahui harga tiket yang hanya segitu, jadilah saya mengambil uang tabungan saya yang pas-pasan untuk ongkos pp, tiket dan akomodasi selama disana. Agar lebih mudah dan murah, saya memutuskan untuk menaiki alat transportasi sejuta umat, sepeda motor!

***

Tanggal 14 Maret, saya yang sudah berhasil membujuk 5 orang teman saya untuk menonton Skid Row, memutuskan untuk berangkat. Sebenarnya hal ini sedikit mengharukan. Bagaimana tidak, dari 5 orang teman saya, mereka semua bukan penggemar berat Skid Row, bahkan ada yang tidak tahu lagu-lagu Skid Row seperti apa. Tapi mereka tetap mau saya ajak. Rencananya hari ini 4 orang berangkat (termasuk saya di dalamnya), dan 2 orang menyusul besok. Karena hujan yang tidak kunjung reda, kami sedikit nekat untuk berangkat. Rencananya kami akan singgah dan menginap di rumah salah satu teman yang ikut, Alvin, yang rumahnya ada di Probolinggo. Akhirnya selepas maghrib, kami pun berangkat.

Sempat berhenti sejenak di daerah Jatiroto karena hujan sangat deras, akhirnya pukul 20.00 wib, kami memutuskan untuk berjalan terus. Sekalian basah! Dan ternyata tuhan memang ada dan masih perduli pada kami. Meski kami banyak dosa, jarang sholat, jarang ingat tuhan kalau gak ada maunya, ternyata tuhan masih sayang pada kami. Itu terlihat saat setidaknya tuhan sedikit bermurah kasih dengan menghentikan hujan pada saat kami berada di daerah Klakah. Thanks god!

Kami sampai di Probolinggo sekitar pukul 21.00. Setelah mengeringkan badan, kami pun dijamu makan oleh tuan rumah yang sangat ramah. Lumayan, selain enak, kami juga bisa sedikit menghemat biaya akomodasi. Mungkin karena lelah dihantam hujan dan angin, setelah makan kami pun langsung berangkat menuju pulau kapuk. Sebuah pulau yang menjanjikan kenikmatan bagi siapa pun yang masuk ke dalamnya. Bukan begitu? Selamat tidur semua…

***

Esoknya, setelah 2 orang teman kami datang, kami memutuskan untuk berangkat. Setelah mandi dan sarapan, kami pun langsung meluncur menuju Malang, kota yang terletak sekitar 50 Km dari kota Probolinggo. Malang, kota dingin yang terletak di lereng gunung Arjuno – Welirang. Kota yang terkenal dengan argowisata dan hasil perkebunan, terutama apel dan ubi ungunya. Kota sejuk yang mempopulerkan Bakpo Telo. Kota basis rock Jawa Timur tempat konser Skid Row diadakan. Berangkat!!!!

Kami sampai di Malang sekitar jam 11.30 wib. Satu setengah jam perjalanan dari Malang dengan sepeda motor. Kalau main hitung-hitungan, memang ongkos transport menuju malang, lebih murah jika menggunakan sepeda motor. Sekarang coba kalau kita naik kereta api Tawang Alun, dari Stasiun Jember – Stasiun Malang, harga tiketnya Rp.20. 000. Total jenderal, kalau kita naik kereta api, pp perorang mencapai Rp. 40.000. Dengan sepeda motor, setelah dihitung-hitung jumlah uang untuk membeli bensin untuk pulang pergi Jember – Malang, itupun masih dipakai untuk keliling kota Malang, perorang cukup mengeluarkan uang sejumlah Rp.28. 000 saja. Total Rp.56. 000 untuk ongkos bensin per sepeda motor. Tolong dicatat, jenis sepeda motor juga mempengaruhi jumlah liter bensin yang dikeluarkan.

Tujuan pertama kami di Malang adalah Lapangan Rampal, dengan asumsi ticket box sudah dibuka di lapangan tempat konser Skid Row itu. Jadi kami pun meluncur ke lapangan yang berada tepat di daerah kompleks militer itu.

***

Tapi apes, ada sebuah insiden yang menimpa Hadi dan Alvin. Karena meleng saat berada di pertigaan menuju Rampal, mereka menerobos lampu merah. Apesnya lagi, ada seorang bertampang garang berbaju coklat yang sedang berdiri pas di Zebra Cross yang langsung menghentikan sepeda motor mereka. Kenalkan, orang bertampang garang berbaju coklat itu bukan Pemandu Pramuka, melainkan polisi!

Seakan lupa dengan tugasnya untuk mengatur lalu lintas yang sedang macet, bapak polisi yang terhormat langsung meminta STNK dan tersenyum licik begitu mengetahui plat nomer sepeda si Hadi adalah nomer luar kota. Dengan langkah penuh kemenangan, pak polisi ini meminta Hadi dan Alvin untuk mengikutinya menuju pos polisi yang terletak di ujung jalan. “kesinilah domba manis, oom serigala akan memangsamu!” mungkin begitu yang ada di pikirannya.

Entah saya memiliki firasat yang kuat, atau sudah bukan rahasia lagi, bahwa beberapa oknum polisi tidak bertanggung jawab sering menyuruh pelanggar lalu lintas untuk memilih, sidang atau denda. Apesnya lagi, karena plat nomer sepeda si Hadi dari luar kota dan Alvin pun mencangklong tas seperti orang yang berpergian (yes, he is!) pak polisi itu sedikit beretorika, memilih antara sidang atau denda. Dan jelas, bagi mereka, para orang luar kota yang sedang berpergian, memilih untuk menghabiskan hari hanya untuk menunggu hari sidang STNK jelas bukan ide yang baik. Dan logikanya, para pelancong jelas memilih denda, dan polisi busuk itu pun seakan sudah bisa membaca hal itu. Dan benar, Rp. 60.000 terpaksa melayang dari kantong mereka berdua sebagai ganti “keteledoran” mereka menerobos lampu merah.

Bukannya tidak ikhlas (memang kita gak ikhlas!!!), tapi jujur saja, kesalahan 2 orang sahabat saya itu jelas bukan kesalahan yang besar. Bahkan roda belakangnya pun belum melewati marka, hanya ban depan hingga setengah bagian depan sepeda yang melewati marka, setengah bagian belakang hingga roda belakang masih tetap berada di marka yang benar. Yang membuat saya dan sahabat saya makin menggondok, di sebelah sepeda teman saya ada 1 orang tentara dengan seragam dinas yang sama-sama ban depan kendaraannya sedikit melewati marka. Tetapi kenapa hanya 2 orang sahabat saya yang “disayang”? jelas ini bukan hal yang adil.

Masalah yang jauh lebih besar dan bisa memperburuk image kota Malang dimata para pendatang adalah sikap polisi kepada para pendatang. Ketika mengetahui plat nomer sepeda dari luar kota, jadilah teman saya dijadikan bulan-bulanan seakan mereka melakukan kesalahan fatal, sudah menabrak seseorang hingga mati misalnya. Saya jadi sedikit membandingkan polisi busuk itu dengan polisi di daerah Bali. Tapi saya juga tidak paham apakah semua polisi Malang bertipikal seperti itu.

Saat saya sedang berkeliling di daerah Denpasar, karena tidak begitu paham lalu-lintas Denpasar, saya pun salah jalur, dan kebetulan ada polisi memergoki kesalahan saya. Bukannya memasang tampang seram dan meminta menunjukkan STNK, polisi itu dengan ramah menegur dan memberi petunjuk jalan yang benar ketika beliau tahu saya dari luar kota, dan kebetulan plat nomer sepeda saya juga plat nomer luar kota. Apakah itu hanya kebetulan (tapi kejadian ini tidak hanya sekali) atau memang polisi Bali sudah sadar pentingnya sikap ramah pada pendatang atau pelancong? Entahlah. Dan memang saat ini, Bali masih menjadi jujugan para pelancong. Apa itu juga disebabkan oleh keramahan para aparat disana? Bisa jadi…

***

Ternyata penjualan tiket baru dibuka pukul 15 wib nanti. Jadilah kami mendatangi tempat singgah kami selama di Malang, kontrakan tempat kakak dari Taufik, salah satu teman kami yang juga ikut menonton konser ini. Setelah sedikit melepas lelah dan membasuh muka lusuh kami, kami pun berkeliling kota Malang. Setelah lelah mengelilingi kota Malang, kami pun meluncur ke Lapangan Rampal untuk membeli tiket.

Seperti layaknya konser besar, puluhan calo pun berjejer di pinggir jalan di sekitar venue. “Tiket Skid Row! Cuma 25 ribu rupiah!” teriak mereka lantang sambil melambaikan lembaran tiket di tangan mereka. Banyak juga orang yang malas masuk kedalam tempat penjualan tiket resmi, berhenti untuk membeli tiket. Dan memang tidak seperti calo saat musim mudik tiba, calo tiket konser ini mematok harga sama dengan harga tiket yang ditawarkan promoter, Rp.25.000. Apakah kalian berpikir bahwa apa mereka tidak mengambil untung sama sekali? Kalau kalian berpikir begitu, berarti pikiran anda sama dengan saya dan sahabat-sahabat saya.

Tapi pertanyaan itu segera saja terjawab saat saya dan Budi, masuk menuju tempat penjualan tiket. Ternyata antara calo dan pihak penjual tiket sudah kenal sebelumnya. Dan calo ini memiliki semacam perkumpulan. Jadi anggota dari perkumpulan ini akan diberi diskon tiap membeli tiket dalam jumlah tertentu. Dan profit mereka, ya dari diskon yang diberikan itu. Dan ternyata diskonnya cukup lumayan juga, tergantung dari banyaknya tiket yang mereka beli. Semakin banyak tiket yang mereka beli, semakin besar pula potongan harganya Tak heran kalau ada puluhan calo yang rela berdiri di pinggir jalan untuk menjual tiket itu. Bukankah jaman sekarang orang harus sedikit bekerja keras untuk mendapatkan uang? Yang penting halal. Benar tidak saudara?

***

Ditangan saya kini terpegang benda yang paling penting dan paling berharga dalam hidup saya saat ini, tiket konser Skid Row. Dan saya tidak akan rela menukar tiket ini dengan Luna Maya telanjang sekali pun, kalau mengingat betapa berat perjuangan saya demi mendapatkan tiket ini. Kehujanan, bolos kuliah, menguras duit, ditilang polisi dan berbagai penderitaan lain seakan menambah arti penting dari tiket ini.

Tak lama setelah saya sampai venue, saya dan 5 orang teman saya segera masuk ke dalam venue. Tapi sebelum itu, 2 orang teman saya, si Budi dan Taufik sempat terpisah, dan akhirnya bertemu di dalam venue.

Pengamanan sangat ketat. Tak Cuma polisi yang menjaga, para tentara pun turun tangan, membuat para penonton tak cukup nyali untuk menorobos penjagaan. Ribuan anak muda tumpek blek di luar venue. Ada yang bergerombol sambil sama-sama memakai kaos hitam sebagai tanda anak metal, ada yang berpasangan sambil bergandengan tangan, ada juga yang muntah karena terlalu banyak meminum alkohol. Intinya, semua jenis anak muda ada disana.

Akhirnya konser agung itu pun akan dimulai. Setelah Rampal puas dihentak dengan penampilan 2 grup rock baru, Log Guns dan Kobe, kini saatnya sang nabi metal tampil dan mengguncang para penganutnya.

Seorang botak keluar dari backstage. Tiba-tiba saja tanpa dikomando, penonton bersorak, suasana bergemuruh. Mungkin mereka mengira dia adalah Jhonny Solinger yang rambutnya dipotong botak plontos. Dan MC gaek yang memandu acara tersebut hanya bisa berkomentar dengan logat Jawa Timuran yang khas “wah, ndeso rek! Ndelok wong bule wae seneng! Iku duduk Skid Row, iku tekhnisine!” penonton hanya bisa tertawa kecut.

Saat ini saya berada hanya 5 meter dari bibir panggung. Konser ini sebenarnya tidak terlalu ramai. Apalagi kalau dibandingkan dengan konser dangdut yang setiap kali konser, penontonnya pasti berjubel, penuh sesak hingga tak ada ruang untuk bergerak. Mc yang berdiri di atas panggung adalah seorang dedengkot musik rock Malang dan seorang Aremania sejati. Terbukti dari orasinya yang selalu mengagungkan Arema.

“Buat para calon bupati! Jangan hanya minta suara rakyat! Tapi perhatikan juga keinginan rakyat. Malang tidak butuh Mall, Malang butuh tempat yang layak untuk menggelar musik rock!” lagi-lagi dia berorasi. Sedikit mengingatkan para rakyat Malang bahwa sebentar lagi akan ada pilkada. Dan itu berarti ada beberapa orang busuk yang tiba-tiba saja hobi blusukan ke tempat kumuh atau tempat terpencil, tentu dengan diiringi wartawan yang setiap saat meliput kegiatan tidak penting itu dan menuliskannya di Koran

“Engko lek Skid Row mudun soko panggung, celuken meneh wae. Sing kompak rek! Njaluko tambah lagune… oyi?!” dia mengingatkan para penonton tentang kebiasaan encore para artis luar negeri yang cenderung sudah basi. Dimana lagu jagoan belum dimainkan dan artis sudah turun dari panggung. Saat penontong berteriak we want more, barulah artis itu keluar lagi dan memainkan lagu jagoan mereka. Klise sebenarnya.

***

Skid Row kali ini tidak sama dengan Skid Row yang merilis album Slave to the Grind, album metal pertama dalam sejarah yang berhasil mencapai peringkat 1 dalam chart album Billboard di Amerika saat itu. Bahkan sang dewa metal, Metallica belum mampu melakukan itu. Dan jangan menganggap generasi metal baru macam Avenged Sevenvold atau Dragon Force bisa melakukan itu dengan mudah.

Skid Row kali ini hanya membawa 2 personil aslinya, Scotti Hill yang tetap setia dengan gitar Blackhawk kesayangannya dan Rachel Bolan, pembetot bass yang jauh tampak lebih muda dari umurnya dengan rambut yang dipotong pendek. Seharusnya Dave “Snake” Sabo masih bergabung dan ikut datang pada konser ini. Tapi beberapa hari sebelum hari H, Snake jatuh sakit dan terpaksa digantikan oleh Ryan Cook, gitaris rhytim yang kalau dilihat sepintas, wajah dan penampilan serta gitar yang digunakan (Gibson Les Paul), mirip dengan Gilby Clarke, mantan pemain gitar Guns N Roses yang menggantikan Izzy Stradlin. Posisi drum yang dulu diisi oleh Rob Affuso kini digantikan oleh Dave Gara yang tidak kalah garang. Posisi vocal adalah yang paling penting. Setelah Sebastian Bach keluar dari Skid Row, posisi vital ini diisi oleh vokalis asal Texas berpenampilan cowboy, Jhonny Solinger. Banyak yang meragukan kemampuan Solinger dalam membawakan lagu Skid Row dan menggantikan karisma serta kemampuan Sebastian Bach. Dalam hemat saya, Sebastian Bach adalah salah satu vokalis rock terbaik disamping Axl Rose, Michael Matijevic dan Robert Plant. Dan benar-benar sebuah pekerjaan yang sulit bagi Skid Row untuk menggantikan posisi Sebastian Bach. Menurut banyak orang – termasuk saya – Skid Row tanpa Sebastian Bach adalah bukan Skid Row. Sepanjang perjalanan mau menonton konser, pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran saya, bisakah Jhonny Solinger tampil sebaik Sebastian Bach?

Skid Row Formasi Baru, Ki-Ka: Scotti Hill, Snake Sabo, Rachel Bolan, Johnny Solinger, Dave Gara

Sebastian Bach, Mantan Vokalis Skid Row

***

Dan saat-saat paling mendebarkan dalam hidup saya akan segera tiba saat terdengar lagu Blietzkrieg Bob-nya Ramones dari sound system yang berdaya 10.000 watt. The Ramones sendiri adalah band favorit Rachel Bolan. Rachel sempat menyanyikan lagu Psycho Therapy yang masuk di dalam album b-side ourselves, sebuah album dimana kreativitas Skid Row seakan terhenti dan hanya bisa memainkan lagu orang lain. Persis seperti kasus Sphagetti Incident-nya Guns N Roses.

Tahun 1990 keatas bisa dibilang adalah masa suram glam rock, hard rock, heavy metal atau apalah namanya. Jenis-jenis musik itu seakan tergilas oleh kedigdayaan grunge yang dibawa pasukan Seattle pimpinan sang komandan, Kurt Cobain dengan Nirvana-nya. Perlahan namun pasti, band-band rock dengan suara bening, rambut mekar dan kelakuan hedon jadi masa lalu dunia musik. Suara distorsi kasar, suara serak dan anti hero menjadi trend dan Kurt Cobain adalah idola terbesarnya. Grunge seakan menjadi antitesis dari musik mewah dan sikap hedon para rockstar era 80-an. Pamor band rock tambah tenggelam seiring era boysband. Kumpulan anak muda-ganteng-tidak kreatif-yang-bisanya cuma menyanyikan lagu orang-bukan ciptaan sendiri ini muncul dan melibas para generasi rock. Apalagi ditambah dengan kematian Kurt yang juga menjadi gong kematian bagi musik rock, apapun jenisnya. New Kids on the Block, Boyzone, Backstreet Boys, N’ Sync, A1, Westlife pun menjadi dewa baru. Dimana para orang tua lebih menyukai mereka yang bertampang manis dan berpakaian rapi kapanpun dimanapun. Dan rock pun tenggelam semakin dalam…

***

Benar saja, Skid Row pun muncul!

“From New Jersey, please welcome, Skid Fucking Row!!!!” dan…

“UOHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!” Teriakan membahana pun keluar dari masing-masing mulut penonton. Tak ada yang tak berteriak, saya yakin itu. Suara saya pun keluar dengan kencangnya, seakan menghabiskan semua energi yang sudah saya simpan semenjak berangkat dari Jember. Dan saat-saat susah demi Skid Row ini rasanya terbayar ketika saya melihat 5 orang yang tidak bisa dibilang sebagai pemuda lagi ini muncul.

Anjinggg!!! Hanya itu yang ada di pikiran saya. 16 tahun yang lalu saya hanya bisa melihat mereka dari sampul album. Dan sekarang saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana kerennya mereka. Entah kenapa saya jadi ingin menangis. Saya jadi paham bagaimana seorang Andrea Galliano nekat memanjat tiang listrik dan mengancam untuk melompat kalau Elvis Presley tidak membalas suratnya. Saya jadi paham bagaimana perasaan para gadis-gadis yang menangis karena melihat Westlife. Tapi perasaan saya ini berbeda dengan mereka. Bukan karena anggota Skid Row ganteng. Pertemuan saya dengan Skid Row adalah ibarat Old Shatterhand bertemu dengan Winnetou, Ikal bertemu dengan Weh atau bagaimana Starsky bertemu dengan Hutch. Agh! Saya jadi ngaco!

Wajah mereka sendiri sudah banyak berubah. Scotti Hill tetap bertampang garang, tapi dengan tambahan beberapa kerut dimuka yang menandakan bahwa dia sudah cukup berumur. Saya cukup kaget melihat wajahnya yang jadi kelihatan jauh lebih tua. Sama kagetnya ketika saya melihat Duff McKagan saat muncul bareng Velvet Revolver setelah sekian lama tidak ngeband. Wajahnya jauh kelihatan lebih tua.

Konser ini sepertinya tidak akan bisa saya tulis. This fucking amazing concert can’t be described by words… kalian seharusnya melihat sendiri bagaimana para umat Skid Row begitu khusyuk menyimak petuah-petuah nakal nan pemberontak milik Skid Row. Lagu-lagu hits mereka macam 18 & Life, Monkey Bussines, Slave to the Grind pun dimainkan secara kuat oleh mereka. Dan aplaus paling keras tentu saat Ryan Cook menenteng gitar akustiknya, Johnny mengambil mike dan 3 personel lain turun dan lagu I Remember You dimainkan. Lagu evergreen yang mungkin ada di file mp3 di computer anda. Apakah saya benar? Kalau saya benar, mari putar lagu itu dan bernyanyi bersama.

Saya sedikit khawatir ketika Skid Row turun dari panggung, dan penonton tidak kompak. Ada yang berteriak we want more tapi sebagian malah bernyanyi mars Arema. Tidak kompak! Saya khawatir Skid Row ngambek dan tidak mau muncul lagi. Tapi ternyata Skid Row sudah dewasa. Mereka muncul lagi sambil mengacungkan jempol kearah penonton.

Suasana asyik dalam 4 lagu terakhir seharusnya bisa lebih saya nikmati. Tapi mendadak ada arus masuk, dan tiba-tiba saja jarak antar penonton jadi jauh lebih rapat. Ya benar, seakan sudah menjadi aturan tak tertulis kalau menjelang akhir konser, pintu dibuka dan penonton bebas masuk. Sebenarnya ini adalah salah kaprah dimana polisi menganggap para penonton tak bertiket bisa masuk dan ikut menikmati konser ini. Tapi tidakkah kalian menyadari bahwa tindakan mereka sama sekali tidak menghargai promotor dan band itu sendiri. Dan yang jauh lebih menyebalkan, kebanyakan para anak bau kencur yang masuk itu memakai kaos hitam ketat bertuliskan kata sakti (atau basi?) yang bisa ditemui di hampir semua kaos yang dijual di pinggir jalan, “punks not dead”. Entah apa maksud “S” dibelakang kata punk. Plural? Saya gak ambil pusing!

Dengan dandanan rambut Mohawk bagai diberi lem kayu, celana pensil dan mulut bau alkohol murahan, mereka yang tinggi badannya hanya sedada saya tiba-tiba melakukan gerakan pogo. Menghantamkan tangannya ke kanan, ke kiri. Para gerombolan anak kecil yang saya taksir masih berumur 13 atau 14 tahun ini seperti kesurupan. Moshing dadakan pun tiba-tiba digelar. Saya yang mencoba menahan kekesalan saya hanya bisa diam sambil menggondok. Tapi tiba-tiba sebuah hantaman mendarat di bahu saya. Ternyata ada anak kecil botak memakai kaus (lagi-lagi) bertulis Punks Not Dead melakukan gerakan pogo. Saya yang sudah terlanjur kesal langsung saja melayangkan “ciuman” sayang ke kepalanya yang botak. Saat dia menoleh, saya melotot, benar-benar melotot sambil memasang tampang terseram yang pernah saya punya. Bukannya marah, dia hanya tersenyum kecut dan minggir dari hadapan saya. Dia bergeser sekitar 5 meter ke arah kanan saya, dan masih… melakukan pogo! Anak kecil yang bagai tuyul itu hanya menjadi bahan tertawaan orang-orang berdiri dibelakangnya karena lebih mirip tuyul mabok duren ketimbang anak skinhead yang lagi goyang pogo.

4 lagu terakhir itu benar-benar menjadi saat yang tidak menyenangkan. Ada beberapa anak yang sama botak sama norak, malah bergoyang ala reggae dan dangdut. Bukannya mengkritik, tapi goyang pogo, moshing atau goyang reggae itu mbok ya pada tempatnya. Yang pogo dan moshing itu ya di konser punk atau sejenisnya, dan yang mau joget reggae ya mbok di konser reggae. Rupanya mereka mengira Skid Row adalah orkes melayu dan Jhonny Solinger dianggap sebagai Dewi Persik. Atau mereka malah menganggap Skid Row adalah Sex Pistols dan Rachel Bolan adalah Sid Vicious? Entahlah…

Youth Gone Wild, lagu Skid Row favorit saya sepanjang masa menjadi penutup konser agung ini. Saya yang sudah tahu bahwa lagu ini adalah lagu terakhir, bersikeras menghabiskan sisa suara yang masih bisa saya produksi untuk bernyanyi bersama.

“no matter how old are you, where you from, we always gonna be???!!!”

“YOUTH GONE WILD!!!!” penonton bersorak menanggapi teriakan Jhonny. Dan lagu wajib generasi muda pemberontak di tahun 80 dan 90an pun dinyanyikan bersama…

Since I was born, they cant hold me down

Another misfit kid, another burn out town

I never play by the rule, and I never really care

My nasty reputation takes me everywhere

Now I’m looking, see it’s not only me

So many other stood where I stand

We are the youth, so raise our hand!

They called us problem child

We spent our lives on trial

We walk an endless mile

We are the youth gone wild!

We stand and we won’t fall

We’re one and one for all

The writings on the wall

We are the youth gone wild

Boss screamin’ in my ear bout who iam supposed to be

Get a three piece wall street smile, son you’ll just like me

I said, “hi man, there’s something you oughta know

I tell you this park avenue leads to SKID ROW!”

Now I’m looking, see it’s not only me

We’re standing tall, ain’t never a doubt

We are the youth

So shout it loud!

They called us problem child

We spent our lives on trial

We walk an endless mile

We are the youth gone wild!

We stand and we won’t fall

We’re one and one for all

The writings on the wall

We are the youth gone wild!

Suara saya sudah habis. Terkuras. Badan lemas tak bertenaga. Tapi saya seakan mempunyai semangat kembali begitu mengetahui bahwa om saya yang sedang dinas di Jambi bakalan gigit jari dan misuh-misuh begitu tahu saya dengan suksesnya melihat Skid Row langsung sedangkan dia di pedalaman Sumatera hanya bisa menyetel lagu Youth Gone Wild dari cd playernya…

Pertanyaan itu pun terjawab sudah. Johnny Solinger tampil bagus malam ini. Cara dia ketawa juga khas. Dia juga mampu membawakan nada tinggi dalam 18 & Life atau I Remember You, meski dengan caranya sendiri. Intinya dia pantas jadi vokalis Skid Row. Tapi tetap… Sebastian Bach tidak akan bisa tergantikan. Sebuah konser bintang 5 dari sang tuhan para umat metal, Skid Row!

Johnny Solinger, Vokalis Baru Skid Row

* Nuran Wibisono adalah seorang pecinta musik rock, menyukai sastra, berpacaran dengan carrier, petualangan dan gitar tapi juga sangat mencintai wanita. Seorang anak muda yang rela mengalah untuk tidak menggondrongkan rambut hanya karena sang ibunda tercinta tidak suka kalau anaknya berambut gondrong. Berharap lahir di tahun 1945 dan tumbuh besar di era Flower Generation, namun ternyata lahir pada tahun dimana Guns N Roses merilis Appetite for Destruction. Diracuni musik rock 70 – 80an semenjak baru bisa berjalan…

Komentar (3) »

Wawancara Dengan Wendi Putranto*

Bagian ini merupakan bagian dari Backpackingku saat aku mengunjungi Jakarta. hasil wawancaraku ini masuk di Majalah Tegalboto edisi ke XIII dengan tema Musikografi.

Bisa ceritakan awal mula Rolling Stone Indonesia (RSI)?

RSI pertama terbit tahun 2005, bulan Mei. Kita adalah majalah RS pertama di benua Asia yang mendapat lisensi itu. Waktu itu sebenarnya ada beberapa perusahaan yang sudah applied ke New York, Amerika untuk mendapatkan lisensi majalah RS. Tapi akhirnya yang berhasil dari sekian banyak itu, P.T A&E Media, itu nama perusahaannya. Pertama kali mendapat lisensi itu awal tahun 2005. setelah persiapan sekitar 5 bulan, Bulan Mei itu kita terbit. Edisi yang pertama waktu itu kovernya Bob Marley. Itu yang edisi pertama kita.

Bagaimana proses untuk mendapatkan lisensi itu?

Ada berbagai macam pertimbangan sih pastinya untuk bisa menerbitkan majalah RS. Dari mulai pertimbangan tekhnis, pertimbangan redaksional. Jadi memang akhirnya kita yang terpilih sih, kita juga gak tahu. Dan perusahaan A&E Media yang terpilih gak tau juga. Karena memang beberapa pesaingnya juga waktu itu mau mendapatkan ada Java Musikindo, salah satu yang applied. Tapi gak tau juga kenapa amerikanya sendiri menjatuhkan pilihannya ke P.T A&E Media.

Menurut Mas Wendi, seberapa besar peran media dalam perkembangan musik itu sendiri? Baik di scene local maupun internasional.

Yah menurut saya, peran media besar sekali dalam perkembangan musik di Indonesia maupun di luar negeri. Di RS, rubric musik Indonesia juga kita berikan space yang sangat lebih dari cukup. Bahwa selama ini permberitaan dalam majalah, rasionya 30-70. 70% asing, 30% musik local dalam negeri, dalam arti musik Indonesia. Di Indonesia sendiri gak banyak majalah musik yang benar-benar mengklaim diri mereka sebagai majalah musik. Mungkin baru RS, Mtv Trax, Hai juga. Tapi kalau majalah yang free music itu, kaya’ majalah gratisan yang isinya tentang musik banyak sekarang. Tapi yang dijual dan beredar nasional gak banyak. Yang pasti tujuan kita kan untuk mendukung musik Indonesia, dalam arti mempromosikan musiknya, artis-artisnya, memberitakan perkembangan industrinya. Jadi memang perannya signifikan banget.

Ini mungkin sedikit nyerempet ke arah Kapitalisme. Menurut mas Wendi sendiri, apakah benar bahwa media musik mainstream adalah kaki tangan kapitalis, seperti halnya major label? Karena mungkin sebagian besar yang dimuat di majalah-majalah mainstream adalah artis-artis atau band major yang sedang disukai pasar dan sedang ngetrend.

Dalam memahami perkembangan industri musik, dari predikatnya “industri”, memang kita melihatnya dari kacamata, bahwa semua yang berlaku dalam industri, pasti parameternya adalah uang. Jadi dalam hal ino uang itu kan capital. Yang pasti orang-orang yang punya capital besar yang bisa terjun ke industri musik. Nah kalau pertimbangan bahwa industri musik itu medianya dimiliki oleh kaum kapitalis, jadi benar, capital disini sebagai modal dan –is nya adalah sebagai pemilik modal. Untuk menerbitkan majalah ini sendiri kita harus membayar lisensi yang gak murah, mahal untuk investasi di bidang ini. Jadi kalau bukan kapitalis yang menginvest disini, saya rasa memang agak sulit sih. Karena memang yang penting, yang paling utama adalah, kalau dalam hal itu – dalam perspektif ekonominya-, kalau dalam perspektif ideologi sih, saya gak ngeliat adanya hal yang signifikan gitu. Ini purely business oriented. Bukan sebuah wacana politik dalam pemberitaan majalahnya.

Kita tahu bahwa masih sedikit sekali media yang benar-benar media musik. Dan lebih sedikit lagi media musik yang benar-benar milik penerbit local. Menurut anda, apakah itu berpengaruh terhadap perkembangan scene local? Terutama musik tradisional.

Musik tradisional ya? Mungkin yang dinamakan musik tradisional bukan berarti dia gak ada industrinya, dalam artian, disini majalah ini memang kita 100 % menitik beratkan pemberitaannya pada musik pop. Karena memang yang berlaku dalam dunia industri, etc, segala sesuatu yang bisa menembus sekat-sekat ras, suku, agama itu yang biasanya memang punya potensi untuk bisa dijual belikan di tingkat nasional. Kalau musik industri yang sifatnya etnis atau musik daerah, mereka punya industrinya sendiri juga. Tapi biasanya wilayah penjualan musiknya itu mengalami segmentasi yang lebih kecil dalam artian kalau musik-musik betawi ya akan laku di daerah betawi saja. Sunda ya akan laku di daerah Jabar dan sekitarnya. Musik-musik gamelan dsb di Jateng mungkin hanya akan berlaku di daerah sana. Papua juga begitu, ya musik daerah papua. Jadi memang lebih ke kulturnya dari musik itu sendiri, trus dari masyarakat, audiencenya akan lebih segmented karena memang sifatnya lebih etnis itu tadi.

Saya adalah pengunjung setia blog mas Wendi. Setahu saya, mas Wendi dulu kan pernah membikin dan mengelola Zine. Apa yang ada di pikiran mas Wendi ketika membuat zine itu?

Gak ada sih di pikiran saya waktu itu, yang pertama karena intinya kita, saya khususnya, ngurus atau menerbitkan majalah itu sebagai bagian dari praktek jurnalistik, kebetulan saya kuliah di Jurnalistik di FIKOM, Universitas Moestopo. Dan saya suka musik, punya temen-temen musisi underground lah istilahnya, metal gitu. Nah, dari situ akhirnya timbul ide, kenapa nggak juga mengaplikasikan disiplin ilmu saya ke dalam bentuk yang saya suka? Dalam hal ini musik. Ya udah, akhirnya menerbitkan majalah musik, tapi karena waktu itu kita gak kenal dengan artis-artis siapa aja, dan kebetulan Cuma punya temen yang ada di lingkungan tongkrongan saya, ya udah akhirnya musiknya musik yang saya suka dan yang temen-temen saya kenal, band-band metal. Edisi pertama waktu itu tahun 1996. zine istilahnya, malahan pada waktu itu belum ada istilah zine, kita nyebutnya majalah underground. Trus kita fotokopi. Lay outnya manual dengan mesin windows 3.1, keluaran ’93. saya potong, cut and paste gitu, trus transkrip sendiri, pokoknya intinya, do it yourself lah saat itu dan idenya sebenernya bagaimana caranya band-band teman saya bisa lebih dikenal orang bahwa selama ini Cuma di komunitas-komunitas musik yang kecil aja yang mereka tahu. Dan belum ada media seperti itu sebelumnya kalau di Jakarta itu sendiri. Kalau di bandung udah ada Revograms, di Malang ada Mindblast. Dan pas mereka ngeliat dan ngebaca majalah itu, ya pada ketawa “ gila, akhirnya ada juga yang ngeberitain band gue”. Ya itu lebih membanggakan. Seneng ngeliat temen-temen itu jadi seneng juga, hehe.

Besar gak pengaruh Zine itu sendiri ke perkembangan musik indie?

Pada zamannya, emang besar ya. Karena gak ada yang mau memberitakan band-band ini. Band-band yang sekarang bisa kita baca di RS, Hai atau majalah seperti Mtv Trax itu dulu gak mendapatkan tempat di majalah-majalah tersebut. Bahkan gak ada yang tahu kiprah mereka, gak ada yang tau musik mereka, bahkan gak ada yang ngerti apa sih yang mereka sedang lakukan. Jadi media-media mainstream pada saat itu emang sangat awam tentang apa yang disebut dengan gerakan bermusik secara indie. Dan mereka gak paham sama sekali lah, istilahnya. Untuk itu, bahwa akhirnya pada perkembangannya, kemudian kan 10 tahun dari ’97-an ya akhirnya mereka mulai belajar dan lama kelamaan malah dikenal gitu. Oh musiknya seperti ini, oh idealismenya kayak begini dan akhirnya semakin diterima bahwa band-band itu diliput oleh majalah-majalah besar. Tapi emang sebaliknya di media indienya sendiri yang ternyata sekarang kayaknya semakin menurun perkembangan penerbitan di indipenden itu sendiri, dalam artian ini, zine musik.

Sekitar pasca reformasi duli, 98-an, sempet tu dulu terjadi ledakan zine indie itu. Ya di Jakarta, Bandung, Yogya, Malang, Bali. Tapi gak tau perkembangannya sekarang. Setelah keluarnya desktop publishing ya, kita lebih gampang buat ngelayout, buat melakukan peliputan, orang kayaknya sudah gak suka lagi untuk menerbitkan zine. Karena sepertinya, kok sulit aja gitu kan? ngapain sih males-males, mendingan bikin yang bagus, yang berwarna, yang colorful. Akhirnya sebenarnya sih dari sisi fisiknya udah bagus sekarang. Tapi saya sendiri masih suka terganggu kalau baca kontennya, kayaknya gak digarap serius. Nulis males-malesan atau penulisnya kayaknya kesannya emang lebih mentingin fisik majalahnya daripada kontennya. Jadinya ya, gak banyak media-media zine yang berkualitas yang sekarang keluar. Di luar catalog aja gitu ya, ya catalog-katalog musik biasa. Ya kayak gitu sih saya melihat perkembangannya sih. Emang agak-agak menurun penerbitannya.

http://wenzrawk.multiply.com/photos/album/2/Rolling_Stones_Munich_Germany_Journey#41

Media berperan besar dalam hal pencitraan seorang idola. Dan media juga mengkonstruksi masyarakat dalam hal selera pasar. Dalam RS sendiri, bagaimana cara mengklasifikasikan sebuah grup band itu layak di dengar, atau band ini adalah band sampah?

Yang pasti, kalau di RS, kita ada konfrensi sesama editor. Karena majalah ini membawa spirit dari RS Amerika, Otomatis kita juga mengadopsi itu dalam artian, bahwa musik yang menurut kita bagus dan berkualitas adalah musik yang mencerdaskan, dalam artian si pendengarnya itu bisa mendapatkan sesuatu dari band itu. Dalam arti musik, lirik, penampilan, moral dari bandnya juga. Jadi kita ngeliatnya benang merah itu. Kalau akhirnya band-band yang dibilang sampah itu tadi gak masuk, menurut kita pasti karena kita ngeliat gak ada sesuatu yang beda. Pertama, dari musiknya seperti itu, dan liriknya pun seperti itu, bahkan penampilan seperti itu, dan karakter manggungnya ketika diatas panggung itu, kok gak ada yang beda? Kita ngeliat, semua monoton. Yang dijual lagu-lagu cinta melulu. Kenapa begini? Tapi emang pada kenyataannya, di pasar musik Indonesia, yang kayak gitu-gitu itu laku.

Akhirnya perusahaan rekaman ketika penjualan album lagi menurun terus tiap tahun karena pembajakan yang gak habis-habis, akhirnya mereka lebih mementingkan kuantitas disbanding kualitas. “Ya udah, kita jualan dulu lah, masalah musik bagus atau gak, itu belakangan” Cuma kalau majalah ini kan beda. Kita gak menjual album, kita menjual majalah. Ada integritas, kredibilitas, yang harus dipertahankan disitu. Karena kepercayaan pembaca kan itu kunci dari semuanya. Kalau ternyata pembacanya ngeliat, kok ikut-ikutan juga nih nulis-nulis yang kayak begini, nah itu mungkin akan menjadi boomerang nanti, bisa pada cabut kan yang beli atau yang baca. Karena kebetulan majalah ini segmentasinya kan 25-45 tahun. Jadi majalah dewasa lah boleh dibilang. Dengan pola piker orang-orang umur segitu yang sangat kritis dan bisa menilai dengan jelas bahwa,oh ini begini, oh ini begitu. Diluar dari idealisme masing-masing editor musiknya bahwa menurut kita memang band yang sekarang banyak beredar, kayak Kangen Band, Matta, ST 12, menurut saya gak menawarkan sesuatu yang baru buat industri musik Indonesia, selain mereka laku dan disukai banyak orang, itu aja.

Tapi kalau buat kita, apa sih yang menarik dari musik-musik kayak gitu? Kayaknya memang sama aja. Yang beda Cuma nama bandnya aja, dan nama personelnya, ha-ha. Yang mereka jual, yang mereka tawarkan, gak ada yang beda. Bisa ditanyakan ke band-band itu juga lho. Apa sih yang membedakan band loe dengan band yang lain? Mereka pasti bingung. Jadi emang kondisi riilnya emang seperti itu, bahwa kita harus memilih. Dari tumpukan sampah itu pasti sebenarnya ada yang bagus. Jadi gak semuanya juga sampah, khususnya yang dari galangan musik-musik independent gitu ya, yang kreativitas musik mereka jauh lebih bagus moralnya. Dan sayangnya memang ada gap, antara band indie dengan crowd-nya. Pendengar musik di Indonesia sebagian besar belum mengalami pencerahan, kalau boleh dibilang. Karena media yang menjejali mereka musik rata-rata memutarkan musiknya gitu-gitu aja. Kan popularitas band itu sangat pengaruh dari radio. Radio kan memutar konstan lagu-lagu itu seluruh Indonesia, dikirimin sample lagunya Kangen Band misal. Pasti akan dengar tuh, dan radio gak peduli juga. Ngapain mikir kualitas musik? Kan yang dicari dari radio adalah pendengar musik yang banyak, karena dengan pendengar musik yang banyak, mereka dapat iklan dari situ. Jadi ya otomatis mereka akan memutarkan lagu-lagu yang didengarkan daripada musik-musik yang gak didengarkan oleh pendengar itu sendiri. Jadi hambatannya, ada gap antara musisi indie-nya sendiri sama masyarakat. Bagaimana mereka bisa mempopulerkan band dan musik mereka juga, itu juga tantangan tersendiri bagi mereka.

Lalu hubungan antara selera pasar dengan artikel yang dimuat? Apakah selera pasar menentukan artikel yang dibuat, atau…?

Nggak. Dari kita kebijakan redaksionalnya itu otonom. Indipenden, dalam artian kita gak berkaca pada selera pasar. Malah disini kita mau mencoba menjadi pionir untuk memberitakan band yang selama ini belum dikenal secara luas. Jadi dalam artian gak menjadi tolak ukur satu-satunya bahwa selera pasar atau penjualan itu buat majalah ini. Tapi yang pasti, itu juga menjadi satu hal yang ikut menentukan. Karena biasanya band yang selera pasar itu dikenal oleh orang banyak, dan karena majalah ini sebenarnya majalah mainstream. Cuman, ternyata mainstream di Indonesia itu sendiri kan agak aneh. Yang kayak apa sih yang sebenarnya mainstream? Ya akhirnya kita mengambil kesepakatan, kalaupun kita harus menulis tentang Radja, Kangen Band atau band-band yang aneh itu tadi, pasti dengan sudut pandang yang berbeda, perspektif yang beda. Jadi kenapa band seperti Ungu bisa kita liput, tapi band seperti Kangen gak kita liput. Karena ada argumentasi sendiri di dalam bahwa Ungu, walau bagaimanpun juga mereka sudah bermusik selama 10 tahun, dan sebelum mencapai ketenaran seperti sekarang ini mereka sebenarnya musisi yang amat berbakat.

Tapi kalau diliat dari Kangen, kan mereka ini band yang baru kemaren sore. Band dalam artian, mereka gak salah ngeband dan gak ada salahnya mereka terkenal. Tapi saya lebih ngeliat ke permasalahan industri musik disini yang memang lagi mau bangkrut. Akhirnya mereka gak perduli pada kualitas musik. Secara teori, si Kangen ini sudah berhasil menggugurkan semua teori dalam industri musik. Bahwa keberhasilan itu harus didukung oleh kemampuan musikalitas yang tinggi, mereka gak punya itu. Harus didukung oleh penampilan yang ganteng. Mereka gak punya itu. Harus didukung oleh skill bermusik yang mumpuni, mereka juga gak punya itu. Tapi kenapa mereka bisa popular? Nah itu dia, factor X yang kita gak tahu sebenarnya. Bahwa mereka 100 % beruntung, itu bisa juga. Dan gak lama sih biasanya umur band seperti itu.

Lalu sebenarnya, sejauh manakah fungsi Advokasi RSI terhadap musik Indonesia yang dibajak di luar negeri? Seperti kasus penyanyi Gandrung Banyuwangi beberapa waktu lalu, yang musiknya dibajak di Hollywood.

Ah, oh ya. Smithsonian ya? Yang Jan Polski produsernya? Menurut saya, yang terjadi pada kasus Gandrung Banyuwangi, itu bukan pembajakan malah, tapi ketidak adilan dari produser musiknya terhadap si musisi. Saya dengar album ini udah laku jutaaan kopi di Amerika, Eropa dan mereka menjualnya lewat E-Bay, I-Tunes, segala macam. Nah ternyata pada prosesnya itu sendiri, albumnya laku dan si musisi ternyata Cuma dibayar flat pay, dalam artian jual putus. Mereka gak menerima royalty dari karya mereka, bahkan hak ciptanya pun belum jelas kabarnya. Nah kalau di kita sendiri, sampai sekarang memang kita belum memberitakan itu. Dari sisi advokasinya misalnya. Tapi kita ngeliatnya kasus itu sebenarnya lebih kearah ketidakadilan industri musik. Sebenarnya itu bukan industri musik. Si Smithsonian Institute itu malah lembaga nirlaba yang bertujuan untuk reservasi musik-musik etnis di daerah di seluruh dunia. Tapi ternyata kenapa sifat mereka ketika melakukan praktek bisnisnya gak adil, dalam arti, si musisinya disuruh rekaman dan Cuma dibayar sekali doang, tanpa ada penjelasan, nanti kalau albumnya laku kamu dapet royalty, dan royalty itu bisa berlaku sampai 50 tahun setelah kamu meninggal, itu gak dijelasin. Malah induk si gandrung juga sampai sekarang masih melarat.

Jadi emang agak ironis juga kalau ternyata, kok penindasnya dari orang yang sangat intelek. Bahwa sebuah institusi pendidikan seperti Smithsonian itu malah melakukan penindasan ke musisi di Negara dunia ke 3 kaya’ Indonesia. Dan ternyata albumnya dijual komersial. Sebenarnya album yang dijual komersial bukan untuk tujuan pendidikan atau edukasi mestinya dapet royalty. Tapi sampai sejauh ini kita belum ngeliat untuk memberitakan hal itu di RSI. Karena memang yang baru memahami itu masih sangat sedikit. Dan setelah dari tulisan Kompas waktu itu, seharusnya memang ada trigger lain gitu, yang lebih mensupport keberadaan itu, keberadaan si Gandrung. Kalau saya sendiri sih emang ngeliatnya itu bukan sebuah pembajakan musik, tapi lebih ke ketidakadilan, penindasan di bidang musik, karena semua itu beredarnya secara legal, jadi master rekamannya sendiri dipegang oleh Smithsonian. Dan Smithsonian mengedarkannya ke berbagai outlet penjualan di seluruh dunia. Tapi kalau pembajakan itu kan master rekamannya di pegang Smithsonian trus ada institusi lain dari label rekaman yang illegal untuk menggadakan tanpa ijin. Nah itu baru bajakan.

http://wenzrawk.multiply.com/photos/album/2/Rolling_Stones_Munich_Germany_Journey#51

Bagaimana menurut pandangan Mas Wendi bahwa media musik yang bisa menjadi trendsetter?

Kalau itu sih berlaku dengan sendirinya. Kita juga gak memungkiri kalau majalah RS itu besar karena memang di Amerika dan di seluruh dunia sendiri ini majalah yang bisa dibilang nomer satu. Karena kita melisensi, otomatis keuntungan dari lisensi itu kan kita bisa mempunyai shortcut terhadap popularitas brandnya. Kalau kita memakai nama baru, katakanlah majalah Tegalboto ini, untuk bisa dijual secara nasional pasti akan perlu waktu, karena orang gak punya image terhadap Tegalboto sebelumnya secara nasional. Nah, Karena ini majalah yang reputasinya internasional, dan kita melisensi, kita coba memotong durasi untuk mempopulerkannya dengan tinggal menyebarkannya di Indonesia. Karena kita udah punya credibility yang bisa kita jaga lah di Indonesia.

Nah, kalau masalah menjadi trendsetter, karena mungkin majalah ini (RS, red) Cuma satu-satunya di Indonesia dan gak ada alternative lain dari penggemar musik yang kelasnya advance untuk bisa memahami musik, ya akhirnya mereka look up ke majalah ini. Bahwa dari segi pemberitaan, penulisan, pemotretan, kualitas itu sangat dijaga dalam majalah ini, dari mulai foto-foto yang beredar di dalam situ juga semuanya legal. Nah majalah yang lain kalau di Indonesia gak membayar royalty untuk foto. Mereka menerbitkan foto itu bahkan kadang-kadang credit title-nya gak ada, trus mereka gak membayar royalty walaupun itu foto-foto dari luar negeri. Kalau kita gak bisa begitu karena memang ada aturannya yang berlaku di Indonesia bahwa tiap foto-foto yang ada dalam RS itu kita harus membayar royalty lagi.

Dan kalau trendsetter itu sendiri ya… sebenarnya lebih karena timnya sendiri di sini udah paham gitu, apa yang harus ditulis, apa yang harus tidak ditulis, apa yang harus didukung, apa yang jangan didukung. Jadi masing-masing editor disini udah memiliki pengetahuan musik yang cukup luas. Trus dalam menentukan sesuatu yang dimasukkan ke dalam majalah ini, kita punya standar-standar tertentu yang memang buat sebagian orang itu gak bisa dipahami. Karena agak sulit memahami, kenapa Kangen Band gak bisa masuk RS, tapi Radja bisa diliput. Sebenarnya kalau mau dilihat, Radja itu memang begitu kondisinya, mereka beda dengan Kangen Band. Bahwa mereka tetap bisa bermusik dengan baik. Yang membuat kita males kan karena tingkah laku Ian Kasela. Kayak gitu deh intinya. Dan kita sendiri menyerahkan penilaian ke orang diluar, pembaca. Gak kita yang mengklaim menjadi trendsetter, itu berdasarkan penilaian orang diluar yang udah ngebaca RS. Tapi kalau emang ada yang yang menilai begitu, ya, sepertinya itu satu bentuk apresiasi yang menyenangkan.

Dalam pandangan Mas Wendi, gimana peran media dalam hal komodifikasi? Jadi misalnya, dulu Punk adalah sebuah ideology, berhubung banyak media yang mengulas tentang punk, mulai lifestyle hingga dandanan, akhirnya banyak orang awam yang mengikuti lifestyle anak punk, mengaku-ngaku sebagai anak punk, sementara di sisi lain, mereka sama sekali tidak tahu menahu soal ideology punk itu sendiri.

Itu kecendrungannya. Ketika punk pertama kali masuk ke industri musik, pasti akan terjadi komodifikasi, akan terjadi jual beli. Bahwa dulu mungkin The Ramones, Sex Pistol pertama kali muncul pertengahan tahun ‘70an di Amerika dan Inggris, mereka sama sekali gak punya bayangan kalau gerakan bermusik mereka bisa menimbulkan isnpirasi yang sebegitu besar sampai sekarang ini. Mungkin yang dulu mereka lakukan Cuma, mereka bosen ama musik-musik yang ada, dan mereka muak dengan kondisi pemerintahan, kondisi di Negara itu, dengan pengangguran yang menggila, dengan ekonomi yang berantakan, penguasa yang tiran, ya akhirnya ada bentuk ekspresi baru yang timbuil dari mereka, dan mereka namakan itu punk. Dan dimana-mana kalau ada sesuatu yang disuka oleh orang, apalagi jumlahnya masssal, itu pasti akan ada pebisnis yang melihat potensi. Dimana ada pengusaha yang berpikir dan melihat “oh, ternyata ini ada yang suka, meski musiknya gak berskill, orang-orangnya juga anarkis. Terus statement mereka juga keras, dalam hal ini politis” akhirnya mereka berpikir, kenapa juga nggak kita komodifikasi musik yang satu ini?

Kalau secara musik, sebenarnya punk itu kan kelanjutan dari rock n roll. Yang membedakan kan Cuma lifestyle dan ideologinya, bahwa ternyata punk lebih political sementara rock n roll lebih hedon. Tapi ternyata, ya itu Cuma terjadi di tahun ‘70an. kalau sekarang ini,di luar punk-punk yang bener-bener underground yang masih eksis, semua punk yang masuk ke mainstream di tingkatan nasional, itu menurut saya sudah bukan punk dalam arti yang sebenernya. Bisa jadi mereka Cuma melihat punk hanya sebagai musik, atau punk hanya sebagai identitas. Mereka gak menggunakan punk sebagai alat untuk ( minta nutrisari 3 dong…) membebaskan buat pendengarnya. Kalau sebagai sarana penyampai pesan politik kan udah dilakukan oleh band-band seperti Marginal. Kalau dari sisi yang itu, mereka memang bergeraknya di sisi ideologis, bahwa musik yang mereka tawarkan itu menjanjikan pencerahan, istilahnya. Mereka percaya sama “Musik itu adalah senjata” mereka percaya itu.

Tapi kalau buat punk-punk yang sekarang berada di industri musik, menurut saya, mungkin mereka sudah menjadikan punk sebagai profesi, musisi. Yang membedakan mereka Cuma musik dan attitude atau lifestyle mereka. Tapi kalau di sisi perjuangannya sendiri, mereka hanya berjuang bagaimana band bisa dikenal lebih luas, lebih banyak lagi orang yang denger musik mereka. Jadi bukan sebuah perjuangan politik, bukan dalam frame itu mereka berjuang. Dan gak salah dan gak bener juga, masing-masing pihak bisa mengklaim bahwa mereka benar, mereka paling bener dan gak ada yang mau mengklaim mereka salah, yang pasti itu. Tapi yang pasti memang, semuanya, selama itu disukai oleh orang banyak, pasti punya potensi untuk menjadi komoditas, ya itu aja.

Apakah anda setuju dengan statement bahwa media sangat berpengaruh dalam hal pengkultusan idola?

Oh pasti, setuju. Dalam arti gak Cuma di bidang musik gitu ya, di bidang politik juga, si Hittler bisa menjadi sebegitu kuatnya karena Joseph Gobels. Dia kan actor propaganda nomer satunya si Hittler dengan media-media yang dia punya, dengan teatrikal yang dia punya di berbagai panggungnya Hittler. Sementara kalau di musik, otomatis gitu. Karena sejauh ini orang itu hanya bisa berkomunikasi dengan idolanya lewat majalah, akhirnya menciptakan mitos-mitos gitu kan. kaya’ mitosnya si Axl Rose. Dia itu orangnya sangat urakan, sangat demen ribut. Bisa jadi itu sebuah strategi dari manajemen mereka juga. Bahwa ternyata kalau kita udah mengenal, bisa jadi dia orang yang sangat santun, sangat baik hati dan sangat ramah. Tetapi ada bias media yang membuat pencitraan si Axl jadi begitu, negative. Dan disana sih bekerja dengan baik ya image-image kayak gitu. Tapi kalau di Indonesia sih kayaknya gak bakal lama umur band yang kayak gitu (yang mengandalkan citra negative dari infotainment, red.) tapi emang untuk mengkultuskan itu, sangat penting media. Orang gak akan bisa mencapai taraf superstar kalau dia gak dikenal siapa-siapa. Yang bisa memperkenalkan dia dengan orang kan media salah satunya. Gak Cuma majalah sih, TV, radio. Jadi emang bener statement itu.

Jadi sebenarnya produk bajakan itu berpengaruh banget ya? Ya contohnya kayak si Kangen Band yang terkenal gara-gara lagu mereka beredar di lapak-lapak penjual produk bajakan.

Betul. Itu sih yang bikin miris sebenarnya. Bahwa ternyata kok industri yang legal sekarang berkacanya ke industri bajakan. Menjadikan parameter keberhasilan penjualan album bajakan dari sisi legal. Ketika artis itu sukses (di produk bajakan), maka direkrut. Aneh itu sebenarnya. Kok industri legalnya malah takluk ama pembajakan. Tapi sebagai informasi aja, emang rekaman yang legal, sekarang beredar di Indonesia tinggal 8 %. 92 %-nya itu rekaman bajakan. Dan ini laporan tahun 2007. tahun 2008 belum ada masukan lagi. Cuma yang pasti turun, diperkirakan akan turun, lecendrungannya turus terun soalnya tiap tahun (persentase produk legal di pasaran, red.) jadi kalau pada saatnya nanti tinggal 1 % rekaman yang legal beredar di pasaran, dan 99 % yang beredar adalah bajakan, sekali lagi, yang paling menderita, selain label rekaman, ya artis-artis itu sendiri.

Musik mereka seakan gak ada harganya, karena yang paling ngenes kan sebenarnya gak ada royalty yang didapet dari situ. Semua keuntungan jatuhnya hanya ke penjualnya / pembajaknya. Sementara musisi yang menginvestasikan bakatnya, dan label rekaman yang menginvestasikan uangnya, gak dapet apa-apa dari situ. Jadi sebenarnya, yang jeleknya sih disitu, tapi disini malah menjadi parameter. Itu aneh.

Prediksi Mas Wendi soal masa depan media musik cetak jika dibandingkan dengan media musik di internet?

Selama koneksi internet di Indonesia masih lamban, kayaknya belum menjadi ancaman yang gede, ha-ha. Selama ini kan kita tau lah, koneksi internet di Indonesia, apalagi yang di daerah-daerah. Yang di Jakarta aja masih lamban, apalagi yang di daerah-daerah. Jadi internet belum menjadi saingan utama lah. Masa depan majalah musik sih masih cerah. Karena orang-orang di Indonesia juga lompatan tekhnologinya belum segila di Jepang misalnya. Mungkin disana, menerbitkan majalah bisa jadi agak-agak riskan karena internet itu sudah mencakup semuanya. Ada multimedia, audio visual dan tergantung kitanya lagi, mau denger apa, mau nonton apa. Jadi bukan media itu yang menentukan. Kalau di Mtv kan, kalau kita liat, video klipnya itu lagi semuanya. Tapi di internet kan kita bisa, music on demand, video on demand. Jadi terserah kita mau nonton apa modelnya. Jadi masa depan masih sangat cerah sih. Dan masih menjadi salah satu variable yang penting lah untuk menentukan popularitas sebuah artis atau band. Jadi… mungkin nanti, sekitar 10 tahun lagi, ha-ha-ha.

Menurut mas, seberapa pentingkah media musik asli Indonesia untuk muncul saat ini?

Sebenernya sih kalau ngeliat dari sejarahnya, majalah-majalah musik di Indonesia itu gak ada yang bertahan lama. Pada tahun 60-70 an, ada Aktuil dari Bandung. Tahun 80-an ada Hai yang menjadi rajanya. Tahun 90-an, mulai tabloid dangdut, tabloid rock, news musik, berbagai majalah gitu. Cuma yang survive sekarang, gak banyak. Jadi… kalau dibilang, itu tadi. Kalau melihat sejarahnya kok memang sejarahnya agak-agak hitem, ha-ha. Emang gak tau buat kedepannya nanti, apakah sangat penting ya? Karena ternyata kalau gak didukung brand yang bernuansa luar negeri, itu gak survive gitu. Kenapa selalu kolaps, bangkrut, tutup? Sebenarnya sebelum RS ini terbit, News Music itu sudah mengadopsi apa yang kita (RS, red.) tampilkan. Dari mulai kalau kita ngeliat cover-nya, font-nya, NM itu sangat mengadopsi RS. Tapi entah kenapa mereka gak bisa survive di tahun ke 3 atau ke 4. padahal itu memang asli Indonesia. Walaupun penampilan fisik mereka mengadopsi dari RS gitu. Emang pertimbangan-pertimbangan itu sangat masuk akal, bahwa kok bisa gak survive ya? Kenapa? Makanya akhirnya ada strategi untuk mencoba brand-nya, brand luar, trus kita apply di Indonesia. Apakah itu sukses nantinya? Yah itu nanti, 5 tahun lagi kita wawancara lagi baru ketahuan, ha-ha. Tapi yang pasti emang gak banyak yang survive sih, kalau dilihat dari sejarahnya.

Jadi emang pertimbangan-pertimbangan itu jadi factor yang gede buat memikirkan, apakah dengan nama Indonesia itu gak menjual? Dan perlu nama dari luar negeri, license dari luar negeri untuk menerbitkan majalah musik disini? Dan memang sepertinya kayak gitu, karena ternyata penjualannya bagus, image-nya bagus, jadi orang-orang Indonesia cenderung lebih mempercayai brand luar negeri. Gak tau, entah kenapa, tapi yang pasti factor kualitas sangat kita perhatikan disini.

Atau mungkin sebagian besar orang Indonesia sendiri masih belum siap dengan gaya penulisan ala Amerika yang cenderung sastrawi?

Dari amerika, kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ya mungkin lebih terpengaruh nama besar RS itu sendiri. Nama besar itu memang jadi pengaruh besar buat kita untuk membangun kredibilitas dalam waktu singkat. Tapi tanggung jawabnya ya, kita gak akan meninggalkan kualitas dari kitanya juga. Kalo artikel-artikel yang luar itu bisa sangat bombastis dan hebat nulisnya, nah kita harus ngejar itu juga. Jadi jangan sampai orang yang baca RSI kecewa. Wah, di Indonesia begini aja RS-nya? Mendingan baca RS Amerika atau Australia sekalian. Jadi ya, mudah-mudahan sih udah tercapai. Tergantung yang baca juga sih.

Mungkin pertanyaan selanjutnya ini agak lucu dan absurd, he-he.

Gak apa-apa, bebas, ayo dibahas.

Apakah mungkin suatu saat RSI membahas full tentang musik etnis atau musik yang kurang popular seperti Dangdut atau Campursari misalnya?

Gak menutup kemungkinan juga sih, tapi… nah, ini ada tapinya. Ketika tolak ukurnya itu adalah disukai orang banyak, tapi ketika disukai orang banyak, kenapa kita gak menulis tentang dangdut? Ya dari kita ngeliat, pertama itu segmen pembaca majalah ini, tingkat pendidikan mereka. Majalah ini juga bukan majalah murah, 35 ribu rupiah harganya. Kelas pembacanya juga kelas A&B. yang menjadi focus utama dengan umur antara 25-45 tahun. Jadi kita udah bisa mengidentifikasi market dari majalah ini dari situ. Apakah yang membaca RS mendengarkan dangdut? Apakah yang mendengarkan dangdut membaca RS? Kalau saya lihat, dua-duanya itu gak relevan. Dalam arti ternyata pendengar dangdut itu tidak membaca RS. Mereka membaca majalah-majalah, misalnya majalah dangdut atau Koran-koran yang sifatnya umum. Dan kalu kita menulis tentang dangdut, kok ternyata malah gak ada dampaknya juga. Jadi dari kita memang lebih fokusnya ngeliat ke bisnisnya dalam hal itu. Intinya, kita bukan gak nulis. Kalo dalam 150 album Indonesia terbaik sepanjang masa (RS Edisi Desember, Red.) kita juga masukin Rhoma Irama. Karena menurut kita, dangdut yang dihasilkan oleh Rhoma Irama itu jenius. Dia bisa mengawinkan musik rock dengan dangdut. Dan pengaruhnya gede si Rhoma Irama. Nah setelah itu, kesini-kesini kok kita gak melihat musik dangdut yang lebih variatif lagi?

Tapi kalau musik etnis atau tradisional, kalau di Indonesia, jangankan yang etnis atau tradisional, yang edisi 100 % Indonesia aja kita gak akan buat kayaknya. Kenapa? Karena tiap bulannya kita bayar royalty untuk content. Jadi isi yang dari luar negeri itu, didalam majalah RS itu, kita bayar setiap tahunnya, puluhan juta. Jadi kalau kita gak make, ya rugi, ha-ha-ha. Kita bayar royalty tiap bulan tapi gak kita pake karena harus memberitakan 100 % musik Indonesia, kan akhirnya…mendingan nggak sih… tapi kalau diliput sih nanti bisa saja. Tapi mungkin gak semuanya 100 % musik etnis. Karena jangankan yang etnik, yang pop aja kita gak bisa muat 100 % karena pertimbangan itu.

Dalam pandangan Mas Wendi, gimana tentang statement “musik gak hanya sebagai hiburan”

Ya itu, kembali lagi sih ke orangnya yang denger. Kebutuhan musik di Indonesia itu sebatas apa. Kalau bagi orang yang gila musik, pasti udah kayak sembako, musik udah sampai tingkatan taraf kebutuhan. Bahwa orang itu nanti akan ngeliatnya, wah kalo gak denger musik sehari gua bisa mati, sama kayak gak makan gak minum. Tapi kalau buat sebagian besar pendengar musik di Indonesia, kayaknya masih sebatas hiburan. Dalam arti mereka mendengarkan musik yang enak, yang simple, yang menyenangkan dan apresiasi mereka memang rata-rata masih sebatas itu. Mereka gak mendengarkan musik untuk jadi alat pembangkit semangat politik misalnya. Atau melihat musik sebagai alat yang membebaskan, melihat musik sebagai alat yang mencerahkan. Kayaknya enggak, belum. Bukannya gak ada ya, tapi rata-rata mayoritas disini masyarakat Indonesia masih seneng denger lagu dan gak setia ke Band-nya. Mereka gak perduli bandnya apa, kalau lagunya enak ya gua denger. Setelah Kangen trus ada band namanya Armada atau Merpati, kalau lagunya itu enak menurut mereka, ya pasti mereka pindah gitu. Dan Kangen akan dilupakan nantinya. Mereka akan menjadi yesterday news lah istilahnya. Yang gua lihat di Indonesia, ya perkembangannya seperti itu. Bahwa musik di Indonesia itu barus sebatas hiburan. Belum sebatas alat yang tujuannya lebih dalem dari itu, dan belum sampai pada taraf kebutuhan pokok. Ini masih, yang namanya hiburan itu kan kebutuhan yang, taut uh, sekunder apa tersier gitu ya? Belum bisa diklasifikasikan lagi.

Tapi perkembangannya mungkin nanti akan ada, karena prosesnya ini kan belum jalan. Orang belum muak aja dengerin musik-musik yang gitu-gitu aja, yang katanya sih laku, tapi setiap di eksploitasi habis-habisan gitu, itu akan membosankan pasti nantinya. Dan ini memang harus ada prosesnya untuk bisa sampai kesana dan gak gampang untuk menyadarkan. Tapi biarin aja ini berjalan, toh nanti juga kita gak tahu sebetulnya kalau banyak banget band-band yang kacangan itu diproduksi dan gak laku sebenarnya. Tapi kenapa kita gak tahu? Karena gak diekspos. Yang di ekspos kan Cuma yang berhasil doang. Setelah Kangen Band, pasti ada jutaan band yang kayak gitu sekarang. Dan dengan kompetisi yang makin ketat, makin susah sebenarnya buat mereka, band-band itu untuk timbul ke permukaan. Itu akan jadi problem sendiri nantinya kalau mereka bikin musik yang kayak gitu lagi. Tapi kalau yang kreatif-kreatif malah banyakan di Indie, malah stand out. Oh, nih beda nih, gitu. Jadi proses inovasi kayaknya lebih berjalan di musisi indie dibandin mainstream-nya. Dan kayak gitu sih kenyataannya di Indonesia. Sad But True…

* Wendi Putranto adalah salah seorang editor majalah Rolling Stone Indonesia. Juga merupakan personal manager dari The Upstairs. Pendiri zine indie pertama di Jakarta; Brainwashed. Tampil pula di film dokumenter Global Metal karya Sam Dunn. blog pribadinya di http://wenzrawk.multiply.com

Komentar (1) »