Arsip untuk Musik

Playlist of This Week

Beberapa minggu ini saya lagi pusing. Pusing berat malah. Banyak masalah yang seakan berkonspirasi untuk membikin kepala saya menjadi pusing lalu pecah dan isinya berantakan. Mulai masalah band, lalu mengenai tulisan buat majalah tahunan Tegalboto, harus mencari uang untuk bertahan hidup dengan mengerjakan proyek translate, harus menjadi pemain basket dadakan dalam dekan cup, menjadi panitia untuk Dekan Cup hingga masalah dengan mahluk-mahluk imut nan menggemaskan yang bisa berubah menjadi mahluk yang menyebalkan. Mahluk itu dipanggil dengan sebutan wanita…
Saat itu saya jadi kembali tersadar. Betapa terkadang hidup itu bisa begitu melelahkan sehingga kadang bisa membuat kita lupa untuk sekedar tersenyum. Saya sekarang jadi paham bagaimana perasaan orang yang suntuk akibat bekerja. Selama ini saya selalu santai dalam menghadapi semua masalah. I’ll finish it all with my smile and laugh. Ternyata sekarang saya tidak bisa menghadapi cukup dengan senyuman.
Lagu menjadi senjata saya untuk bisa berperang dengan semua masalah itu. Dan berhasil, masalah saya akhirnya bisa terselesaikan satu persatu. Puji Jimi Hendrix. Benar kata sang pembunuh tuhan bernama Nietsczhe bahwa hidup itu adalah seni menyelesaikan masalah. Dan hidup jadi lebih menyenangkan dengan adanya masalah, dan menjadi jaduh lebih menyenangkan saat masalah itu terselesaikan.
Berikut ini adalah beberapa “senjata” saya dalam minggu ini:

1. Wonderbra – Indie V: Ah, lagi-lagi saya jatuh cinta dengan band ini. Band ini selalu berhasil membuat saya jatuh cinta. Mulai dari suara sang vokalis yang menggelegar bagai petir, suara gitar yang meraung-raung bagaikan iblis yang menjerit, cabikan bass yang mencambuk telinga anda hingga dentuman drum yang tanpa lelah bertalu-talu menggempur gendang telinga anda. Lagu ini berbahasa indonesia, berbeda dengan lagu-lagu di album Crossing the Railroad yang kesemuanya berbahasa inggris. Rupanya band ini sedang mencoba merambah ke ranah yang baru. Pattern lagu ini tetap sama, mengandalkan vokal Thera dan cabikan gitar yang “liar” dari Nosa. Asep sang pemain bass juga dengan lincah memainkan senar bass. Lagu ini paling cocok di dengarkan setelah bangun di pagi hari sambil menikmati segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng hangat. Luangkan waktu anda untuk menari sejenak bersama musik gila ini.

2. 70’s Orgasm Club – Indonesia Supermarket Bencana: saya selalu suka dengan musik blues funk. Sama seperti saya menyukai band ini. Anto sang gitaris sekaligus vokalis ini memiliki jari sakti yang langsung bisa menyihir anda melalui kuping. Suaranya mungkin biasa saja, namun permainan gitarnya bisa membuat anda pingsan. Lagu ini memiliki aura black music era 70-80-an. Mungkin sedikit kelemahan dari lagu ini adalah suara vokal kadang masih berkejar-kejaran dengan suara musiknya. Namun hal itu adalah wajar mengingat tingkat kesulitan bernyanyi sambil bermain gitar. Hal ini perkecualian jika anda adalah tipe vokalis-gitaris macam Charly ST12 atau Pasha Ungu. Saya pernah mencoba melakukan peran sebagai gitaris-vokalis di atas panggung, dan hasilnya adalah sebuah cover the SIGIT yang sangat buruk. Saya juga menyayangkan bagian solo gitarnya yang saya rasa kurang panjang mengingat saya sangat menikmati solo gitar dari musik blues funk (Anto: hey bocah ingusan! Kau pikir mudah membuat solo gitar yang panjang?!). kalau 70’s OC bermaksud membawa pendengar ke tahun 80-an, they did it! Mission accomplished.

3. Shaggy Dog – Lagu Rindu: ini lagu lama, dari album Kembali Berdansa. Namun entah kenapa saya kembali menyukainya. Apa karena suasana hati? Sumpah, dulu pas dengar lagu ini, aura musik ini belum keluar dengan maksimal, masih kalah dengan lagu Kembali Berdansa dan Jalan-Jalan. Namun di suatu malam di sekretariat Tegalboto, saya iseng mendengarkan Lagu Rindu. Dan saya tersentak! Lagu dari Pasukan Sayidan ini terdengar begitu jazz di kuping saya yang awam ini. Meskipun lagu ini berlirik sederhana, entah kenapa liriknya begitu terasa sangat dalam. Lagu ini sangat cocok di dengarkan di malam hari saat hujan deras turun. Oh ya, kalau anda menyanyikan lagu ini, anda harus mempunyai kharisma seperti Heru sang vokalis. Kalau anda tidak bisa menjiwai lagu ini, maka jangan pernah menyanyikan lagu ini di depan wanita incaran anda. Beberapa hari lalu saya coba melakukan hal itu. Dan hasilnya adalah wanita incaran saya itu berguling-guling sambil ketawa keras.

4. Sir Dandy Harrington – Ode to Antruefunk: dulu saya berpikir hanya Pidi Baiq yang bisa menulis lirik lucu sekaligus bermakna dalam secara bersamaan. Namun saat saya mendengarkan lagu ini, damn, the writer is a genius! Sir Dandy, saya rasa adalah sebuah antitesis dari sosok ideal seorang frontman band rock. Dia adalah anomali dari semua anggapan tentang bagaimana seharusnya vokalis band rock berbahaya. Tak perlu wajah tampan, suara bagus dan badan six pack untuk bisa jadi vokalis band rock yang keren. Jujur, dalam lagu ini, cara dia bermain gitar pun masih kalah dengan anak SMP. Di awal lagu saja sudah terdengar bunyi “teeot” pertanda ada kesalahan dalam memainkan nada. Suara dia pun sumbang minta ampun. Tapi jangan salah dan jangan mencibir, coba didengarkan lirik lagunya. Isi lagu ini bercerita tentang dia yang begitu mengagumi sang Antruefunk, gitaris dan vokalis dari band 70’s Orgasm Club. Begitu menghibur. Dan satu lagi, bagi saya, Sir Dandy masih jauh lebih baik kalau dibandingkan dengan vokalis band-band melayu saat ini. You rock uncle!

5. Sting – Englishman in New York: lagu ini juga lagu lama. Namun ya itu tadi, saya jadi sangat sering memutarnya belakangan ini. Suara Sting terdengar begitu serak-serak basah dan merdu secara bersamaan. Nuansa reggata de blanc terdengar padu dengan unsur jazz di pertengahan lagu. Ah, saya sangat cinta dengan lagu ini. I’m the englishman in new york…

6. Gugun and the Bluesbug – Spinning Around Me: kalau banyak orang bilang Gugun adalah titisan SRV, mereka salah. Gugun is so much better! Hehehe… entahlah apa pendapat saya itu benar, apa hanya karena saya begitu terpesona dengan lagu ini? Sama seperti lagu Wonderbra, Spinning Around Me sangat cocok kalau di dengarkan di pagi hari saat tetangga masih pada tidur. Nyalakan perangkat sound system anda pada titik paling keras, dan putar lagu ini. Dijamin anda akan di usir dari kamar kos anda saat itu juga. Ah, saya cinta blues! Saya cinta funk! Dan saya cinta Gugun! Oh ya, jangan lupa ritual berdansa saat mendengar lagu ini, kalian harus melakukan itu!

7. AKA – Shake Me: Puji Janis Joplin! Dulu waktu masih SMP, saya hanya tahu God Bless sebagai raja musik rock Indonesia. Namun setelah sedikit berumur, saya tahu bahwa ada band bernama AKA yang bahkan jauh lebih gila dan jauh lebih rock dibanding dengan God Bless. Sejak itu saya menisbatkan AKA sebagai raja rock musik Indonesia dalam hati saya. Ugh! Apa yang bisa membuat penggemar rock tidak suka dengan dengan band ini? Nyaris tidak ada! Mulai dari vokalis Ucok yang seperti penjelmaan Jim Morrison (meski kalah tampan) yang selalu bisa memadukan unsur “the other side” dengan musik rock. Musik perpaduan funk, hard rock dan psychedelic. Oh ya, apa sudah saya katakan bahwa pronounciation Ucok sangat-sangat sempurna? Maafkan saya eyang-eyang God Bless, dengan terpaksa kalian harus menjadi pangeran rock saja.

Komentar bertahan »

Eksotisme Tari Seblang Di Ujung Timur Pulau Jawa*

Text: Nuran Wibisono

Photos: Andrey Gromico dan Nuran Wibisono

Banyuwangi, kota kecil yang menyimpan ribuan jejak sejarah. Banyak budaya eksotis yang tersimpan disini, yang sekarang harus rela berkelindan dengan rok mini, celana pensil, dan segala macam produk jaman modern lainnya. Meskipun berhasil berbaur, tak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan tradisional itu makin lama makin tergerus ibarat aspal jalanan Anyer-Panarukan yang lambat laun makin tipis tergerinda oleh roda truk raksasa yang angkuh dan tak bersahabat.

Gandrung mungkin adalah salah satu budaya Banyuwangi yang berhasil mendunia. Bahkan beberapa tahun lalu sempat ada kehebohan saat Temu, seorang seniman Gandrung, karyanya “dibajak” oleh salah satu institut budaya terkemuka di dunia, Smithsonian. Karyanya saat itu dicetak dalam cakram digital dan diperjual belikan secara legal, dan sang pencipta lagu mengklaim tidak mendapatkan royalti. Ternyata saat saya mengobrol dengan mas Wendi Putranto, salah seorang wartawan Rolling Stone Indonesia, kasusnya itu lebih berupa pada ketidak pahaman sang seniman atas sistem pembayaran royalti. Saat itu, Smithsonian Institute memilih untuk membayar dengan cara flat pay, yakni royalti di bayar sekali di muka. Sang seniman yang tidak tahu menahu soal sistem-sistem yang rumit seperti itu, hanya bisa menandatangani surat perjanjian tentang royalti itu. Hal ini menjadi ironis, disaat karya besar yang seharusnya dihargai – terutama oleh pemerintah Indonesia sendiri – ternyata malah dijadikan komoditas penipuan intelektual. Siapa yang salah? Anda tentu mempunyai pendapat sendiri-sendiri.

Selain Gandrung, Tari Seblang perlahan sudah menjadi trademark budaya khas Banyuwangi. Tari ini melambangkan kesakralan, ritual pertemuan dua dunia, sekaligus sebagai rasa syukur atas karunia yang diberikan oleh sang Pencipta dan juga menjadi permohonan untuk tolak bala. Hasnan Singodimayan, salah seorang budayawan Banyuwangi mengatakan bahwa Tari Seblang pada awalnya berfungsi sebagai tari tolak bala dan pernah tercatat di arsip Camat Glagah pada tahun 1930. Namun banyak budayawan lain beranggapan bahwa Tari Seblang sudah eksis sebelum tahun 1930.

Bapak Hasnan Singodimayan Sang Tetua: Di usia yang terbilang sepuh, Bapak Hasnan masih tetap mengawal ritual Seblang agar tetap sesuai dengan tradisi lama

Pada dasarnya, Tari ini bisa dibedakan menjadi dua, yakni dilihat dari penarinya. Kalau anda pergi ke Desa Umbulsari, anda akan menemukan penari yang masih gadis remaja. Di desa ini, ritual Tari Seblang biasanya diadakan setelah hari raya Idul Fitri. Lain lagi dengan Tari Seblang yang ada di Desa Bakungan. Meski sama-sama berada di Kecamatan Glagah, penari di Desa Bakungan adalah seorang yang sudah berusia lanjut. Waktu diadakannya pun setelah hari raya Idul Adha. Ke desa kedualah saya pergi dengan Miko, backpacker-mate saya kali ini, berharap bisa menyaksikan kesakralan dan keeksotisan Tari Seblang dengan mata kepala saya sendiri .

Berangkat dari Jember pada sore hari dengan motor, kami sampai di Banyuwangi sekitar 3 jam kemudian. Sempat singgah sejenak ke rumah Azhar Prasetyo, salah seorang budayawan Banyuwangi yang menulis buku tentang sejarah batik Banyuwangi, kami lalu diantar oleh beliau ke desa Bakungan. Kami berangkat setelah adzan maghrib berkumandang.

Setengah jam dari rumah bapak Azhar, kami sampai di desa Bakungan. Di kanan-kiri jalan desa yang sudah beraspal, tampak puluhan keluarga sudah membeber tikar dan karpet serta menyantap hidangan yang sudah disiapkan sejak dari rumah, seperti layaknya saat piknik.

Di bangku VIP, tampak pula sang bupati Banyuwangi yang cantik, Ratna Ani Lestari beserta para staffnya. Acara masih belum mulai, mungkin beberapa menit lagi.

Di arena tempat diadakannya ritual Seblang ini, ada pula amben (semacam meja kecil tempat menaruh boneka nini towok, bunga-bunga yang nantinya akan dijual pada penonton, hiasan dari janur, tebu, padi hingga sesajen). Hiasan padi, tebu dan tanaman pangan lainnya ini adalah untuk melambangkan kesuburan yang patut disyukuri. Boneka nini towok, dalam beberapa kepercayaan di Jawa, adalah merupakan simbol padi dan kesuburan. Di kanan-kiri amben, tampak duduk berjejer para pemangku adat dan juga master of ceremony.

RITUAL, DEWI SRI, WANITA DAN KESUBURAN

Tari Seblang bukanlah satu-satunya tari tradisional Indonesia yang diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanaman yang mereka peroleh. Dalam budaya Jawa-Mataraman dikenal yang namanya upacara Bersih Desa. Pada budaya Jawa non-Mataraman, dikenal pula upacara Sedekah Bumi. Di Bugis-Makassar, ada upacara bernama Mappalili. Dalam budaya Suku Dayak Kenyah yang berada di Kalimantan Timur ada pula upacara kesuburan yang disebut Lepeq Majau. Di Bali ada upacara Mungkah, Mendak Sari atau Muat Emping Ngaturan Sari.

Simbol kesuburan dilambangkan dengan sesosok dewi cantik jelita bernama Dewi Sri. Lain daerah, lain pula nama simbol padi dan kesuburannya. Dalam budaya Jawa, ada simbol yang bernama Nini Thowok. Pada budaya Sunda, dikenal dewi bernama Nyi Pohaci Sangiang Sri Dangdayang Tisnawati. Pada budaya Dayak, simbol padi dan kesuburan dilambangkan dengan penokohan Bini Kabungsuan.

dewisriDewi Sri Sang Dewi Kesuburan

Tokoh Dewi Sri dalam budaya kesuburan adalah sakral. Folklore tiap daerah pun mempunyai versi yang berbeda tentang Dewi ini. Dalam folklore Sunda, Dewi Sri lahir dari sebutir telur dari air mata seorang Dewa cacat bernama Dewa Anta. Konon, saking cantiknya sang Dewi, raja para Dewa; Bathara Guru, jatuh cinta dan ingin mengawininya. Namun niat itu digagalkan oleh dewa lain dengan cara membunuh Dewi Sri dan menguburkannya di bumi. Beberapa hari kemudian, dari kuburannya muncul beberapa jenis tanaman pangan. Dari bagian kepala, munculah kelapa. Dari bagian mata, tumbuh padi biasa. Dari dadanya, muncullah padi ketan. Dari kemaluannya tumbuh pohon enau dan dari bagian lain muncullah rerumputan. Kejadian di daerah lain, hampir sama, yakni sosok sentral wanita meninggal. Lalu dari kuburannya muncul tanaman-tanaman pangan.

Bukan hanya di Indonesia, Curt Sarch sang penulis buku World History of the Dance mengungkapkan bahwa jauh sebelum Masehi, para Shaman telah menciptakan hujan dengan ritual tari gembira. Kalau anda penasaran seperti apa ghost dance atau rain dance ini, tengoklah sosok Jim Morrison saat sedang tampil di atas panggung dan dalam keadaan trance. Morrison yang terobsesi dengan budaya Indian akan menari-nari liar. Itulah ghost dance kawan.

Di suku Amazon , ada tari bernama Tari Itogapuk. Tari ini membentuk gerakan laki-laki dan perempuan yang saling bersatu, melingkari sebuah tanaman, saling menempelkan pinggul lalu sang penari perempuan digendong untuk kemudian dibawa pergi.

Ben Suharto, sang penulis buku Tayub; Pertunjukan dan Ritus Kesuburan, mengungkapkan bahwa tari ritual kesuburan selalu berusaha mencapai suatu sikap mistis tentang seksual dengan cara mendekatkan manusia berbeda kelamin atau dengan cara saling melingkari.

Tari Seblang pun, melambangkan kesuburan dengan simbol mahkota yang dipakai oleh sang penari yang dihias dengan kembang aneka warna yang melambangkan kesuburan.

Satu kesimpulan yang bisa ditarik dari sini adalah betapa wanita merupakan sosok penting dalam mitos kesuburan, baik kesuburan tanaman maupun kesuburan reproduksi.

Saya jadi ingat sebuah petikan dari sebuah naskah kuno bernama Atharvaveda yang berbunyi “Perempuan datang sebagai lahan hidup; taburkanlah benih ke dalamnya, oh para lelaki.”

***

Selayaknya ritual lain, Tari Seblang pun memiliki beberapa tahapan sebelum mencapai ritual puncak. Inilah urutan ritual yang harus dijalankan :

1. Penari Seblang dirias dan mengenakan busana tarinya. Pada bagian tubuh dan wajahnya, dibaluri sejenis tepung batu halus berwarna kuning (biasa disebut atal ) yang dicampur dengan air. Lalu sang penari pergi berjalan menuju arena dengan beberapa penyanyi perempuan dan pemilik hajat.

foto-2

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Menuju Arena: Para tetua desa menuntun sang penari Seblang yang sudah trance menuju arena tempat dia menari.

.

2. Pada tahapan kedua ini, sang penari dikenakan mahkota yang dihias beraneka bunga dengan beragam warna. Tak lupa, sang penari memegang nyiru dengan tangannya. Lalu ada seorang perempuan tua yang menutup mata sang penari dengan tangannya. Setelah itu ada sang pawang yang membakar dupa serta merapal mantra untuk memanggil dhanyang (roh penjaga desa) yang dikenal dengan nama Buyut Kethut, Buyut Jalil, dan Buyut Rasio agar memberkahi pertunjukan Seblang ini. Saat nyiru yang dipegang penari Seblang itu jatuh, maka dia sudah mulai kejiman alias kesurupan.

3. Tahap ketiga, adalah tahap pemilihan lagu untuk mengiringi sang penari. Ada kalanya, lagu yang dimainkan tidak disetujui oleh sang penari yang sudah trance ini. Kalau sang penari setuju, maka ia akan berdiri dan menari dengan gemulai berlawanan dengan arah jarum jam. Kalau tidak setuju, dia tidak mau berdiri serta memberi isyarat agar sang pengiring memainkan lagu lain. Kadang kala, disaat jeda pemilihan lagu dan sang penari beristirahat, disisipkan pula ritual sabung ayam.

foto-4<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

The Owners: Para pemilik ayam aduan dengan bangga menggendong ayam jagoannya masuk menuju arena aduan dengan diiringi musik gandrung.

.

foto-3

Fight For Hysteria: Dua ayam jago diadu hingga darah mengucur dan penonton berteriak histeris.

.

foto-6 Break on Through to the Otherside: Sang penari ini sudah kejiman alias tubuhnya sudah dimasuki roh halus penjaga desa yang disebut dengan dhanyang. Saat itu pula tubuhnya lalu gemulai menari mengikuti irama musik


4. Setelah ritual tari berhenti sejenak, maka ada beberapa gadis cantik dengan kebaya memegang kembang dirma yakni bunga beraneka warna yang dipercayai bisa mendatangkan berkah. Lalu bunga ini diberikan pada penonton, lalu penonton memberikan derma uang ala kadarnya.

foto-51 Kembang Dirma: Salah seorang penyanyi yang manisnya gak ketulungan, memberi bunga yang disebut dengan Kembang Dirma pada penonton, dan penonton memberikan uang sekadarnya untuk sekedar menambal biaya operasional

.


5. Tahapan ini disebut tundik dan beberapa menyebutnya Ngibing, yakni saat dimana sang penari mengajak penonton untuk ikut menari. Cara memilih penontonnya unik, yakni sang penari Seblang melemparkan sampur pada penonton. Siapa yang ketiban sampur itu harus menari bersama penari Seblang. Suasana menjadi ramai dan penuh tawa saat penonton lari berhamburan menghindari sampur yang dilempar itu. Saat ditanya kenapa lari, jawaban mereka hampir seragam, “takut”. Kawan, inilah hasil nyata dari pembodohan film horror Indonesia yang membuat orang beranggapan bahwa orang kesurupan bisa membunuh kita.

foto-8

Ngibing atau Tundik?: inilah saat sang penari melempar samplung pada penonton. Dan seringkali penonton – terutama anak-anak- lari ketakutan saat sang penari menghampiri.

.

6. Inilah titik puncak dari upacara Seblang. Saat sang pengiring memainkan lagu Candradewi yang dimainkan dengan cepat, sang penari juga berputar dengan cepat. Lalu sang penari rebah dan tergeletak menelungkup. Saat ini petugas kembali meminta derma dari para penonton.

Selepas Isya, acara pun dimulai. Para kameramen dari beberapa media elektronik sudah siap dengan kamera dan tripod. Para fotografer sudah mendapat angle yang bagus. Dan para pamong praja bertingkah over acting menghalau penonton atas nama kenyamanan ibu Bupati yang terhormat serta jajarannya yang penjilat.

***

Seusai pertunjukkan, ada satu ritual lain yang tak afdol rasanya jika tak diikuti. Yakni acara berebutan sesajen hasil pertanian yang digantung di beberapa bagian kantor balai desa. Ada durian, padi, alpukat, sirsak, pisang hingga kelapa. Saya dan Miko yang terkena euforia, langsung saja ikut berebutan sesajen itu dengan puluhan ibu-ibu dan juga anak-anak yang lincah. Saya dan Miko yang berperut buncit karena jarang olahraga, kalah gesit dan akhirnya hanya mendapat dua buah pisang. Karena tahu bakalan tidak kebagian lagi, kami lebih memilih untuk memotret acara perebutan sesajen itu.

dsc_03661Masih Ingat Pria Ini?

.

foto-7

Huuup!: Dengan sedikit melompat, anak kecil ini berusaha keras untuk bisa mengambil sirsak yang digantungkan sebagai sesajen.

.

Setelah acara berebut itu selesai, kami mengobrol dengan ibu Eko Wahyuni Rahayu, seorang dosen dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya jurusan Sendratasik (Seni, Drama, Tari dan Musik). Rupanya selama beberapa tahun terakhir, beliau rutin mengajak anak-anak didiknya untuk melihat upacara Seblang ini. Beliau ingin mengajarkan dan menanamkan pada pikiran mahasiswanya bahwa masih ada tari tradisional yang bahkan jauh lebih eksotis daripada tari modern yang lebih didominasi unsur western.

Beliau berharap dengan adanya pikiran seperti itu, tari Seblang tak akan pernah punah digilas jaman. Satu lagi yang bikin saya senyum-senyum senang adalah, gerombolan mahasiswa itu didominasi oleh mahluk indah yang disebut wanita. Dan mereka kebanyakan berparas indah ibarat Dewi Sri yang turun dari khayangan, halah! Mata saya yang sedikit ngantuk tiba-tiba menjadi terang saat melihat paras rupawan para calon seniman itu. Sayang, saya dan Miko adalah orang-orang yang ditakdirkan untuk jadi pecundang saat harus berkenalan dengan wanita. Apalagi kalau dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka bertampang manis sedang kami bahkan belum mandi…

.

foto-9

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Faces of the Crowd: inilah kerumunan penonton yang menonton tari Seblang. Beberapa dari mereka berasal dari luar kota, mulai saya yang dari Jember hingga sepasang suami istri yang berasal dari Surabaya. Cari gadis mana yang paling cantik…

***

Setelah selesai mengobrol, kami pun bersiap untuk pulang. Setelah pamit dengan Bapak Hasnan, Ibu Eko dan dengan para tetua adat daerah sana, kami pun bergegas pulang menuju Jember, kota kami tercinta. Malam memang dingin, namun tiba-tiba terasa menjadi hangat saat saya berjanji pada diri saya sendiri untuk datang kesini lagi tahun depan, untuk kembali menyaksikan tari tradisional yang penuh magis ini. Sambil berjanji, saya juga berharap agar kesenian tradisional seperti ini tak akan pernah lapuk dimakan jaman, semoga…

* Tulisan ini adalah versi asli dari tulisan yang masuk di situs www.jakartabeat.net

Komentar (2) »

It’s A Long Way to the Top (If You Wanna Rock N Roll): Skid Row Live Concert in Malang

Judul lagu dari band rock legendaris asal Australia, AC/DC, itu mungkin sedikit banyak menceritakan tentang bagaimana susahnya untuk menggapai sesuatu. Entah itu cita-cita anda atau bahkan hingga hal yang terkecil, seperti pacar misalnya. Tulisan kali ini adalah sesuai dengan isi lagu AC/DC itu. Bagaimana saya harus menempuh jalan yang panjang untuk menggapai sesuatu yang bernama rock n roll. Disinilah saya, tanggal 14 Maret 2008. berdiri di jalan Jawa VII. Di sebuah kontrakan tempat teman saya tinggal. Saya menunggu hujan yang tak kunjung reda untuk kemudian berangkat menuju Malang. Ada apa di Malang? Ada mimpi dan harapan saya disana. Sesuatu yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang rockstar dan selalu belajar untuk menjadi seorang pemberontak. Mimpi dan harapan saya itu adalah Skid Row

***

Bagi pemuda yang besar di era akhir 80an dan awal 90an, pasti mengenal yang namanya Skid Row. Saya sendiri meski baru lahir pada akhir 80-an, sudah dijejali musik tahun 70an oleh ayah saya semenjak masih berumur 4 tahun, masih TK!. Seingat saya, waktu anak seumuran saya belajar menyanyikan Kodok Ngorek atau Bintang Kecil, saya sudah dijejali Jimi Hendrix, Rolling Stones, Deep Purple, Led Zeppelin hingga yang sedikit slow seperti Bee Gees atau The Beatles. Peracunan pun terus berjalan dan misi ini diemban oleh adik ayah saya. Ya, ayah dan om saya telah “berdosa” membuat saya terjebak dalam era classic glam rock itu. Setelah ayah saya menjejali musik kegemarannya, gantian, om saya yang menjejali musik kegemarannya pada saya. Dan itu berarti Guns N Roses, Skid Row, White Lion, Cinderella, Bon Jovi, Motley Crue hingga Poison masuk kedalam kuping dan turun hingga ke hati. Dan sampai saat ini pun, tradisi peracunan itu masih berlaku. Gantian saya yang berusaha menjejali adik atau keponakan saya untuk mendengarkan musik legendaris itu. Dan jujur, masa sekarang hal itu jauh lebih sulit. Percayalah!

Skid Row adalah salah satu band hero saya selain Guns N Roses. Tumbuh besar dalam sayatan gitar Scotti Hill dan Snake Sabo, Lengkingan vocal Sebastian Bach, Cabikan bass Rachel Bolan dan gebukan drum bertenaga oleh Rob Affuso, mau gak mau mendoktrin saya tentang selera musik. Dan attitude mereka juga sangat berpengaruh dalam segala tetek bengek kehidupan saya. Saya pun, sama seperti om saya, menganggap mereka adalah pahlawan.

Anda bisa membayangkan bagaimana kalau band pahlawan anda datang ke kota tetangga, dengan harga tiket yang sangat terjangkau? Apa yang anda lakukan? Tentu anda akan berusaha untuk menonton konser itu. Begitu pula yang saya lakukan saat mendengar Log Zhelebour akan mendatangkan Skid Row ke Indonesia. Kabar pastinya saya dapat dari internet dan tv. Selain berhasil menjadi perantara media untuk meracuni masyarakat dengan sinetron-sinetron najisnya, ternyata Tv memang tetap menjadi sumber informasi yang bisa diandalkan. Tak aneh memang kalau sempat ada prediksi kalau jurnalisme elektronik (baca: intenet, tv) akan mengalahkan jurnalisme cetak (Koran atau majalah). Skid Row akan konser di 5 kota dengan harga tiket yang gila-gilaan… murahnya! Bayangkan, jika anda hidup di kota besar seperti Jakarta, anda cukup merogoh kocek sebesar 100 ribu untuk menonton band sekelas Skid Row. Sedangkan di kota lain, Bandung ( 30 Ribu ), Semarang ( 20 Ribu ), Surabaya dan Malang ( 25 Ribu ). Bandingkan dengan harga tiket konser Diana Ross kemarin yang kelas VVIP mencapai 10 juta! What the fuckkk!!! Dan herannya, ada saja orang kelebihan duit yang mau mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk menonton seorang wanita kribo menyanyi. Saya jadi heran, saya ini hidup di Negara miskin atau Negara kaya ya? Tapi itulah, jika seseorang sudah mengidolakan sesuatu, apapun akan dilakukannya. Dan memang, tak aneh jika mereka mengeluarkan uang yang cukup untuk membeli nasi bungkus sebanyak 3333, 3333 bungkus (kalkulasi harga sebungkus Rp.3000) hanya untuk menonton konser.

Tapi lain halnya kalau ini terjadi pada mahasiswa berkantong cekak seperti saya. Saat ada selentingan kabar Skid Row akan main di Indonesia, saya sudah membayangkan harga minimal ratusan ribu rupiah untuk dapat menonton band dari New Jersey ini. Kalau itu yang terjadi, biarlah saya tidak menonton Skid Row. Karena bagaimanapun, mengidolakan seseorang bukan berarti membuat kita kehilangan akal sehat. Tapi beruntung sekali Indonesia mempunyai promotor seperti Log Zhelebour yang terkadang tidak begitu memikirkan profit, asalkan Indonesia bisa mendapat hiburan rock yang bermutu dan terjangkau. Saat mengetahui harga tiket yang hanya segitu, jadilah saya mengambil uang tabungan saya yang pas-pasan untuk ongkos pp, tiket dan akomodasi selama disana. Agar lebih mudah dan murah, saya memutuskan untuk menaiki alat transportasi sejuta umat, sepeda motor!

***

Tanggal 14 Maret, saya yang sudah berhasil membujuk 5 orang teman saya untuk menonton Skid Row, memutuskan untuk berangkat. Sebenarnya hal ini sedikit mengharukan. Bagaimana tidak, dari 5 orang teman saya, mereka semua bukan penggemar berat Skid Row, bahkan ada yang tidak tahu lagu-lagu Skid Row seperti apa. Tapi mereka tetap mau saya ajak. Rencananya hari ini 4 orang berangkat (termasuk saya di dalamnya), dan 2 orang menyusul besok. Karena hujan yang tidak kunjung reda, kami sedikit nekat untuk berangkat. Rencananya kami akan singgah dan menginap di rumah salah satu teman yang ikut, Alvin, yang rumahnya ada di Probolinggo. Akhirnya selepas maghrib, kami pun berangkat.

Sempat berhenti sejenak di daerah Jatiroto karena hujan sangat deras, akhirnya pukul 20.00 wib, kami memutuskan untuk berjalan terus. Sekalian basah! Dan ternyata tuhan memang ada dan masih perduli pada kami. Meski kami banyak dosa, jarang sholat, jarang ingat tuhan kalau gak ada maunya, ternyata tuhan masih sayang pada kami. Itu terlihat saat setidaknya tuhan sedikit bermurah kasih dengan menghentikan hujan pada saat kami berada di daerah Klakah. Thanks god!

Kami sampai di Probolinggo sekitar pukul 21.00. Setelah mengeringkan badan, kami pun dijamu makan oleh tuan rumah yang sangat ramah. Lumayan, selain enak, kami juga bisa sedikit menghemat biaya akomodasi. Mungkin karena lelah dihantam hujan dan angin, setelah makan kami pun langsung berangkat menuju pulau kapuk. Sebuah pulau yang menjanjikan kenikmatan bagi siapa pun yang masuk ke dalamnya. Bukan begitu? Selamat tidur semua…

***

Esoknya, setelah 2 orang teman kami datang, kami memutuskan untuk berangkat. Setelah mandi dan sarapan, kami pun langsung meluncur menuju Malang, kota yang terletak sekitar 50 Km dari kota Probolinggo. Malang, kota dingin yang terletak di lereng gunung Arjuno – Welirang. Kota yang terkenal dengan argowisata dan hasil perkebunan, terutama apel dan ubi ungunya. Kota sejuk yang mempopulerkan Bakpo Telo. Kota basis rock Jawa Timur tempat konser Skid Row diadakan. Berangkat!!!!

Kami sampai di Malang sekitar jam 11.30 wib. Satu setengah jam perjalanan dari Malang dengan sepeda motor. Kalau main hitung-hitungan, memang ongkos transport menuju malang, lebih murah jika menggunakan sepeda motor. Sekarang coba kalau kita naik kereta api Tawang Alun, dari Stasiun Jember – Stasiun Malang, harga tiketnya Rp.20. 000. Total jenderal, kalau kita naik kereta api, pp perorang mencapai Rp. 40.000. Dengan sepeda motor, setelah dihitung-hitung jumlah uang untuk membeli bensin untuk pulang pergi Jember – Malang, itupun masih dipakai untuk keliling kota Malang, perorang cukup mengeluarkan uang sejumlah Rp.28. 000 saja. Total Rp.56. 000 untuk ongkos bensin per sepeda motor. Tolong dicatat, jenis sepeda motor juga mempengaruhi jumlah liter bensin yang dikeluarkan.

Tujuan pertama kami di Malang adalah Lapangan Rampal, dengan asumsi ticket box sudah dibuka di lapangan tempat konser Skid Row itu. Jadi kami pun meluncur ke lapangan yang berada tepat di daerah kompleks militer itu.

***

Tapi apes, ada sebuah insiden yang menimpa Hadi dan Alvin. Karena meleng saat berada di pertigaan menuju Rampal, mereka menerobos lampu merah. Apesnya lagi, ada seorang bertampang garang berbaju coklat yang sedang berdiri pas di Zebra Cross yang langsung menghentikan sepeda motor mereka. Kenalkan, orang bertampang garang berbaju coklat itu bukan Pemandu Pramuka, melainkan polisi!

Seakan lupa dengan tugasnya untuk mengatur lalu lintas yang sedang macet, bapak polisi yang terhormat langsung meminta STNK dan tersenyum licik begitu mengetahui plat nomer sepeda si Hadi adalah nomer luar kota. Dengan langkah penuh kemenangan, pak polisi ini meminta Hadi dan Alvin untuk mengikutinya menuju pos polisi yang terletak di ujung jalan. “kesinilah domba manis, oom serigala akan memangsamu!” mungkin begitu yang ada di pikirannya.

Entah saya memiliki firasat yang kuat, atau sudah bukan rahasia lagi, bahwa beberapa oknum polisi tidak bertanggung jawab sering menyuruh pelanggar lalu lintas untuk memilih, sidang atau denda. Apesnya lagi, karena plat nomer sepeda si Hadi dari luar kota dan Alvin pun mencangklong tas seperti orang yang berpergian (yes, he is!) pak polisi itu sedikit beretorika, memilih antara sidang atau denda. Dan jelas, bagi mereka, para orang luar kota yang sedang berpergian, memilih untuk menghabiskan hari hanya untuk menunggu hari sidang STNK jelas bukan ide yang baik. Dan logikanya, para pelancong jelas memilih denda, dan polisi busuk itu pun seakan sudah bisa membaca hal itu. Dan benar, Rp. 60.000 terpaksa melayang dari kantong mereka berdua sebagai ganti “keteledoran” mereka menerobos lampu merah.

Bukannya tidak ikhlas (memang kita gak ikhlas!!!), tapi jujur saja, kesalahan 2 orang sahabat saya itu jelas bukan kesalahan yang besar. Bahkan roda belakangnya pun belum melewati marka, hanya ban depan hingga setengah bagian depan sepeda yang melewati marka, setengah bagian belakang hingga roda belakang masih tetap berada di marka yang benar. Yang membuat saya dan sahabat saya makin menggondok, di sebelah sepeda teman saya ada 1 orang tentara dengan seragam dinas yang sama-sama ban depan kendaraannya sedikit melewati marka. Tetapi kenapa hanya 2 orang sahabat saya yang “disayang”? jelas ini bukan hal yang adil.

Masalah yang jauh lebih besar dan bisa memperburuk image kota Malang dimata para pendatang adalah sikap polisi kepada para pendatang. Ketika mengetahui plat nomer sepeda dari luar kota, jadilah teman saya dijadikan bulan-bulanan seakan mereka melakukan kesalahan fatal, sudah menabrak seseorang hingga mati misalnya. Saya jadi sedikit membandingkan polisi busuk itu dengan polisi di daerah Bali. Tapi saya juga tidak paham apakah semua polisi Malang bertipikal seperti itu.

Saat saya sedang berkeliling di daerah Denpasar, karena tidak begitu paham lalu-lintas Denpasar, saya pun salah jalur, dan kebetulan ada polisi memergoki kesalahan saya. Bukannya memasang tampang seram dan meminta menunjukkan STNK, polisi itu dengan ramah menegur dan memberi petunjuk jalan yang benar ketika beliau tahu saya dari luar kota, dan kebetulan plat nomer sepeda saya juga plat nomer luar kota. Apakah itu hanya kebetulan (tapi kejadian ini tidak hanya sekali) atau memang polisi Bali sudah sadar pentingnya sikap ramah pada pendatang atau pelancong? Entahlah. Dan memang saat ini, Bali masih menjadi jujugan para pelancong. Apa itu juga disebabkan oleh keramahan para aparat disana? Bisa jadi…

***

Ternyata penjualan tiket baru dibuka pukul 15 wib nanti. Jadilah kami mendatangi tempat singgah kami selama di Malang, kontrakan tempat kakak dari Taufik, salah satu teman kami yang juga ikut menonton konser ini. Setelah sedikit melepas lelah dan membasuh muka lusuh kami, kami pun berkeliling kota Malang. Setelah lelah mengelilingi kota Malang, kami pun meluncur ke Lapangan Rampal untuk membeli tiket.

Seperti layaknya konser besar, puluhan calo pun berjejer di pinggir jalan di sekitar venue. “Tiket Skid Row! Cuma 25 ribu rupiah!” teriak mereka lantang sambil melambaikan lembaran tiket di tangan mereka. Banyak juga orang yang malas masuk kedalam tempat penjualan tiket resmi, berhenti untuk membeli tiket. Dan memang tidak seperti calo saat musim mudik tiba, calo tiket konser ini mematok harga sama dengan harga tiket yang ditawarkan promoter, Rp.25.000. Apakah kalian berpikir bahwa apa mereka tidak mengambil untung sama sekali? Kalau kalian berpikir begitu, berarti pikiran anda sama dengan saya dan sahabat-sahabat saya.

Tapi pertanyaan itu segera saja terjawab saat saya dan Budi, masuk menuju tempat penjualan tiket. Ternyata antara calo dan pihak penjual tiket sudah kenal sebelumnya. Dan calo ini memiliki semacam perkumpulan. Jadi anggota dari perkumpulan ini akan diberi diskon tiap membeli tiket dalam jumlah tertentu. Dan profit mereka, ya dari diskon yang diberikan itu. Dan ternyata diskonnya cukup lumayan juga, tergantung dari banyaknya tiket yang mereka beli. Semakin banyak tiket yang mereka beli, semakin besar pula potongan harganya Tak heran kalau ada puluhan calo yang rela berdiri di pinggir jalan untuk menjual tiket itu. Bukankah jaman sekarang orang harus sedikit bekerja keras untuk mendapatkan uang? Yang penting halal. Benar tidak saudara?

***

Ditangan saya kini terpegang benda yang paling penting dan paling berharga dalam hidup saya saat ini, tiket konser Skid Row. Dan saya tidak akan rela menukar tiket ini dengan Luna Maya telanjang sekali pun, kalau mengingat betapa berat perjuangan saya demi mendapatkan tiket ini. Kehujanan, bolos kuliah, menguras duit, ditilang polisi dan berbagai penderitaan lain seakan menambah arti penting dari tiket ini.

Tak lama setelah saya sampai venue, saya dan 5 orang teman saya segera masuk ke dalam venue. Tapi sebelum itu, 2 orang teman saya, si Budi dan Taufik sempat terpisah, dan akhirnya bertemu di dalam venue.

Pengamanan sangat ketat. Tak Cuma polisi yang menjaga, para tentara pun turun tangan, membuat para penonton tak cukup nyali untuk menorobos penjagaan. Ribuan anak muda tumpek blek di luar venue. Ada yang bergerombol sambil sama-sama memakai kaos hitam sebagai tanda anak metal, ada yang berpasangan sambil bergandengan tangan, ada juga yang muntah karena terlalu banyak meminum alkohol. Intinya, semua jenis anak muda ada disana.

Akhirnya konser agung itu pun akan dimulai. Setelah Rampal puas dihentak dengan penampilan 2 grup rock baru, Log Guns dan Kobe, kini saatnya sang nabi metal tampil dan mengguncang para penganutnya.

Seorang botak keluar dari backstage. Tiba-tiba saja tanpa dikomando, penonton bersorak, suasana bergemuruh. Mungkin mereka mengira dia adalah Jhonny Solinger yang rambutnya dipotong botak plontos. Dan MC gaek yang memandu acara tersebut hanya bisa berkomentar dengan logat Jawa Timuran yang khas “wah, ndeso rek! Ndelok wong bule wae seneng! Iku duduk Skid Row, iku tekhnisine!” penonton hanya bisa tertawa kecut.

Saat ini saya berada hanya 5 meter dari bibir panggung. Konser ini sebenarnya tidak terlalu ramai. Apalagi kalau dibandingkan dengan konser dangdut yang setiap kali konser, penontonnya pasti berjubel, penuh sesak hingga tak ada ruang untuk bergerak. Mc yang berdiri di atas panggung adalah seorang dedengkot musik rock Malang dan seorang Aremania sejati. Terbukti dari orasinya yang selalu mengagungkan Arema.

“Buat para calon bupati! Jangan hanya minta suara rakyat! Tapi perhatikan juga keinginan rakyat. Malang tidak butuh Mall, Malang butuh tempat yang layak untuk menggelar musik rock!” lagi-lagi dia berorasi. Sedikit mengingatkan para rakyat Malang bahwa sebentar lagi akan ada pilkada. Dan itu berarti ada beberapa orang busuk yang tiba-tiba saja hobi blusukan ke tempat kumuh atau tempat terpencil, tentu dengan diiringi wartawan yang setiap saat meliput kegiatan tidak penting itu dan menuliskannya di Koran

“Engko lek Skid Row mudun soko panggung, celuken meneh wae. Sing kompak rek! Njaluko tambah lagune… oyi?!” dia mengingatkan para penonton tentang kebiasaan encore para artis luar negeri yang cenderung sudah basi. Dimana lagu jagoan belum dimainkan dan artis sudah turun dari panggung. Saat penontong berteriak we want more, barulah artis itu keluar lagi dan memainkan lagu jagoan mereka. Klise sebenarnya.

***

Skid Row kali ini tidak sama dengan Skid Row yang merilis album Slave to the Grind, album metal pertama dalam sejarah yang berhasil mencapai peringkat 1 dalam chart album Billboard di Amerika saat itu. Bahkan sang dewa metal, Metallica belum mampu melakukan itu. Dan jangan menganggap generasi metal baru macam Avenged Sevenvold atau Dragon Force bisa melakukan itu dengan mudah.

Skid Row kali ini hanya membawa 2 personil aslinya, Scotti Hill yang tetap setia dengan gitar Blackhawk kesayangannya dan Rachel Bolan, pembetot bass yang jauh tampak lebih muda dari umurnya dengan rambut yang dipotong pendek. Seharusnya Dave “Snake” Sabo masih bergabung dan ikut datang pada konser ini. Tapi beberapa hari sebelum hari H, Snake jatuh sakit dan terpaksa digantikan oleh Ryan Cook, gitaris rhytim yang kalau dilihat sepintas, wajah dan penampilan serta gitar yang digunakan (Gibson Les Paul), mirip dengan Gilby Clarke, mantan pemain gitar Guns N Roses yang menggantikan Izzy Stradlin. Posisi drum yang dulu diisi oleh Rob Affuso kini digantikan oleh Dave Gara yang tidak kalah garang. Posisi vocal adalah yang paling penting. Setelah Sebastian Bach keluar dari Skid Row, posisi vital ini diisi oleh vokalis asal Texas berpenampilan cowboy, Jhonny Solinger. Banyak yang meragukan kemampuan Solinger dalam membawakan lagu Skid Row dan menggantikan karisma serta kemampuan Sebastian Bach. Dalam hemat saya, Sebastian Bach adalah salah satu vokalis rock terbaik disamping Axl Rose, Michael Matijevic dan Robert Plant. Dan benar-benar sebuah pekerjaan yang sulit bagi Skid Row untuk menggantikan posisi Sebastian Bach. Menurut banyak orang – termasuk saya – Skid Row tanpa Sebastian Bach adalah bukan Skid Row. Sepanjang perjalanan mau menonton konser, pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran saya, bisakah Jhonny Solinger tampil sebaik Sebastian Bach?

Skid Row Formasi Baru, Ki-Ka: Scotti Hill, Snake Sabo, Rachel Bolan, Johnny Solinger, Dave Gara

Sebastian Bach, Mantan Vokalis Skid Row

***

Dan saat-saat paling mendebarkan dalam hidup saya akan segera tiba saat terdengar lagu Blietzkrieg Bob-nya Ramones dari sound system yang berdaya 10.000 watt. The Ramones sendiri adalah band favorit Rachel Bolan. Rachel sempat menyanyikan lagu Psycho Therapy yang masuk di dalam album b-side ourselves, sebuah album dimana kreativitas Skid Row seakan terhenti dan hanya bisa memainkan lagu orang lain. Persis seperti kasus Sphagetti Incident-nya Guns N Roses.

Tahun 1990 keatas bisa dibilang adalah masa suram glam rock, hard rock, heavy metal atau apalah namanya. Jenis-jenis musik itu seakan tergilas oleh kedigdayaan grunge yang dibawa pasukan Seattle pimpinan sang komandan, Kurt Cobain dengan Nirvana-nya. Perlahan namun pasti, band-band rock dengan suara bening, rambut mekar dan kelakuan hedon jadi masa lalu dunia musik. Suara distorsi kasar, suara serak dan anti hero menjadi trend dan Kurt Cobain adalah idola terbesarnya. Grunge seakan menjadi antitesis dari musik mewah dan sikap hedon para rockstar era 80-an. Pamor band rock tambah tenggelam seiring era boysband. Kumpulan anak muda-ganteng-tidak kreatif-yang-bisanya cuma menyanyikan lagu orang-bukan ciptaan sendiri ini muncul dan melibas para generasi rock. Apalagi ditambah dengan kematian Kurt yang juga menjadi gong kematian bagi musik rock, apapun jenisnya. New Kids on the Block, Boyzone, Backstreet Boys, N’ Sync, A1, Westlife pun menjadi dewa baru. Dimana para orang tua lebih menyukai mereka yang bertampang manis dan berpakaian rapi kapanpun dimanapun. Dan rock pun tenggelam semakin dalam…

***

Benar saja, Skid Row pun muncul!

“From New Jersey, please welcome, Skid Fucking Row!!!!” dan…

“UOHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!” Teriakan membahana pun keluar dari masing-masing mulut penonton. Tak ada yang tak berteriak, saya yakin itu. Suara saya pun keluar dengan kencangnya, seakan menghabiskan semua energi yang sudah saya simpan semenjak berangkat dari Jember. Dan saat-saat susah demi Skid Row ini rasanya terbayar ketika saya melihat 5 orang yang tidak bisa dibilang sebagai pemuda lagi ini muncul.

Anjinggg!!! Hanya itu yang ada di pikiran saya. 16 tahun yang lalu saya hanya bisa melihat mereka dari sampul album. Dan sekarang saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana kerennya mereka. Entah kenapa saya jadi ingin menangis. Saya jadi paham bagaimana seorang Andrea Galliano nekat memanjat tiang listrik dan mengancam untuk melompat kalau Elvis Presley tidak membalas suratnya. Saya jadi paham bagaimana perasaan para gadis-gadis yang menangis karena melihat Westlife. Tapi perasaan saya ini berbeda dengan mereka. Bukan karena anggota Skid Row ganteng. Pertemuan saya dengan Skid Row adalah ibarat Old Shatterhand bertemu dengan Winnetou, Ikal bertemu dengan Weh atau bagaimana Starsky bertemu dengan Hutch. Agh! Saya jadi ngaco!

Wajah mereka sendiri sudah banyak berubah. Scotti Hill tetap bertampang garang, tapi dengan tambahan beberapa kerut dimuka yang menandakan bahwa dia sudah cukup berumur. Saya cukup kaget melihat wajahnya yang jadi kelihatan jauh lebih tua. Sama kagetnya ketika saya melihat Duff McKagan saat muncul bareng Velvet Revolver setelah sekian lama tidak ngeband. Wajahnya jauh kelihatan lebih tua.

Konser ini sepertinya tidak akan bisa saya tulis. This fucking amazing concert can’t be described by words… kalian seharusnya melihat sendiri bagaimana para umat Skid Row begitu khusyuk menyimak petuah-petuah nakal nan pemberontak milik Skid Row. Lagu-lagu hits mereka macam 18 & Life, Monkey Bussines, Slave to the Grind pun dimainkan secara kuat oleh mereka. Dan aplaus paling keras tentu saat Ryan Cook menenteng gitar akustiknya, Johnny mengambil mike dan 3 personel lain turun dan lagu I Remember You dimainkan. Lagu evergreen yang mungkin ada di file mp3 di computer anda. Apakah saya benar? Kalau saya benar, mari putar lagu itu dan bernyanyi bersama.

Saya sedikit khawatir ketika Skid Row turun dari panggung, dan penonton tidak kompak. Ada yang berteriak we want more tapi sebagian malah bernyanyi mars Arema. Tidak kompak! Saya khawatir Skid Row ngambek dan tidak mau muncul lagi. Tapi ternyata Skid Row sudah dewasa. Mereka muncul lagi sambil mengacungkan jempol kearah penonton.

Suasana asyik dalam 4 lagu terakhir seharusnya bisa lebih saya nikmati. Tapi mendadak ada arus masuk, dan tiba-tiba saja jarak antar penonton jadi jauh lebih rapat. Ya benar, seakan sudah menjadi aturan tak tertulis kalau menjelang akhir konser, pintu dibuka dan penonton bebas masuk. Sebenarnya ini adalah salah kaprah dimana polisi menganggap para penonton tak bertiket bisa masuk dan ikut menikmati konser ini. Tapi tidakkah kalian menyadari bahwa tindakan mereka sama sekali tidak menghargai promotor dan band itu sendiri. Dan yang jauh lebih menyebalkan, kebanyakan para anak bau kencur yang masuk itu memakai kaos hitam ketat bertuliskan kata sakti (atau basi?) yang bisa ditemui di hampir semua kaos yang dijual di pinggir jalan, “punks not dead”. Entah apa maksud “S” dibelakang kata punk. Plural? Saya gak ambil pusing!

Dengan dandanan rambut Mohawk bagai diberi lem kayu, celana pensil dan mulut bau alkohol murahan, mereka yang tinggi badannya hanya sedada saya tiba-tiba melakukan gerakan pogo. Menghantamkan tangannya ke kanan, ke kiri. Para gerombolan anak kecil yang saya taksir masih berumur 13 atau 14 tahun ini seperti kesurupan. Moshing dadakan pun tiba-tiba digelar. Saya yang mencoba menahan kekesalan saya hanya bisa diam sambil menggondok. Tapi tiba-tiba sebuah hantaman mendarat di bahu saya. Ternyata ada anak kecil botak memakai kaus (lagi-lagi) bertulis Punks Not Dead melakukan gerakan pogo. Saya yang sudah terlanjur kesal langsung saja melayangkan “ciuman” sayang ke kepalanya yang botak. Saat dia menoleh, saya melotot, benar-benar melotot sambil memasang tampang terseram yang pernah saya punya. Bukannya marah, dia hanya tersenyum kecut dan minggir dari hadapan saya. Dia bergeser sekitar 5 meter ke arah kanan saya, dan masih… melakukan pogo! Anak kecil yang bagai tuyul itu hanya menjadi bahan tertawaan orang-orang berdiri dibelakangnya karena lebih mirip tuyul mabok duren ketimbang anak skinhead yang lagi goyang pogo.

4 lagu terakhir itu benar-benar menjadi saat yang tidak menyenangkan. Ada beberapa anak yang sama botak sama norak, malah bergoyang ala reggae dan dangdut. Bukannya mengkritik, tapi goyang pogo, moshing atau goyang reggae itu mbok ya pada tempatnya. Yang pogo dan moshing itu ya di konser punk atau sejenisnya, dan yang mau joget reggae ya mbok di konser reggae. Rupanya mereka mengira Skid Row adalah orkes melayu dan Jhonny Solinger dianggap sebagai Dewi Persik. Atau mereka malah menganggap Skid Row adalah Sex Pistols dan Rachel Bolan adalah Sid Vicious? Entahlah…

Youth Gone Wild, lagu Skid Row favorit saya sepanjang masa menjadi penutup konser agung ini. Saya yang sudah tahu bahwa lagu ini adalah lagu terakhir, bersikeras menghabiskan sisa suara yang masih bisa saya produksi untuk bernyanyi bersama.

“no matter how old are you, where you from, we always gonna be???!!!”

“YOUTH GONE WILD!!!!” penonton bersorak menanggapi teriakan Jhonny. Dan lagu wajib generasi muda pemberontak di tahun 80 dan 90an pun dinyanyikan bersama…

Since I was born, they cant hold me down

Another misfit kid, another burn out town

I never play by the rule, and I never really care

My nasty reputation takes me everywhere

Now I’m looking, see it’s not only me

So many other stood where I stand

We are the youth, so raise our hand!

They called us problem child

We spent our lives on trial

We walk an endless mile

We are the youth gone wild!

We stand and we won’t fall

We’re one and one for all

The writings on the wall

We are the youth gone wild

Boss screamin’ in my ear bout who iam supposed to be

Get a three piece wall street smile, son you’ll just like me

I said, “hi man, there’s something you oughta know

I tell you this park avenue leads to SKID ROW!”

Now I’m looking, see it’s not only me

We’re standing tall, ain’t never a doubt

We are the youth

So shout it loud!

They called us problem child

We spent our lives on trial

We walk an endless mile

We are the youth gone wild!

We stand and we won’t fall

We’re one and one for all

The writings on the wall

We are the youth gone wild!

Suara saya sudah habis. Terkuras. Badan lemas tak bertenaga. Tapi saya seakan mempunyai semangat kembali begitu mengetahui bahwa om saya yang sedang dinas di Jambi bakalan gigit jari dan misuh-misuh begitu tahu saya dengan suksesnya melihat Skid Row langsung sedangkan dia di pedalaman Sumatera hanya bisa menyetel lagu Youth Gone Wild dari cd playernya…

Pertanyaan itu pun terjawab sudah. Johnny Solinger tampil bagus malam ini. Cara dia ketawa juga khas. Dia juga mampu membawakan nada tinggi dalam 18 & Life atau I Remember You, meski dengan caranya sendiri. Intinya dia pantas jadi vokalis Skid Row. Tapi tetap… Sebastian Bach tidak akan bisa tergantikan. Sebuah konser bintang 5 dari sang tuhan para umat metal, Skid Row!

Johnny Solinger, Vokalis Baru Skid Row

* Nuran Wibisono adalah seorang pecinta musik rock, menyukai sastra, berpacaran dengan carrier, petualangan dan gitar tapi juga sangat mencintai wanita. Seorang anak muda yang rela mengalah untuk tidak menggondrongkan rambut hanya karena sang ibunda tercinta tidak suka kalau anaknya berambut gondrong. Berharap lahir di tahun 1945 dan tumbuh besar di era Flower Generation, namun ternyata lahir pada tahun dimana Guns N Roses merilis Appetite for Destruction. Diracuni musik rock 70 – 80an semenjak baru bisa berjalan…

Komentar (3) »

Flower Generation; The Greatest Youth Generation Ever?!

1959, perang Vietnam dimulai. Tak ada yang tahu bahwa perang ini akan menimbulkan sesuatu yang fenomenal dan menjadi legenda di kemudian hari. Perang Vietnam ini telah melahirkan satu generasi legendaris yang disebut dengan Flower Generation (Generasi Bunga).

***

Jika anda melihat ke belakang sejenak, pada masa remaja orang tua kita, sekitar tahun 1959 – 1975, mungkin kalian akan menemukan segepok foto yang gambarnya sekelompok pemuda dengan dandanan nyentrik. Beberapa pemuda berambut gondrong berpakaian warna-warni, celana cut bray dan sepatu pantofel. Ya, itulah bukti bahwa Flower Generation juga menjalar hingga ke Indonesia, dan tidak hanya dalam musik dan fashion, melainkan juga gaya hidup.

Tidak sekedar seks bebas yang dulu masih dianggap tabu di Indonesia, melainkan juga drugs. Saya masih ingat cerita paman dari ayah saya, yang menceritakan masa mudanya – waktu itu awal tahun 1970-an. Beliau dengan bangga memamerkan fotonya, yang saat itu dia masih berambut kribo ala Ucok A.K.A atau Ahmad Albar. Dia juga dengan mata menerawang dan sesekali tertawa kecil menceritakan bagaimana nakalnya dia waktu remaja. Musik rock, obat-obatan terlarang dan alkohol adalah teman sejati. Dia juga menceritakan bagaimana dia dan teman-temannya sempat sekarat karena menenggak beberapa butir pil psikotropika dan beberapa botol minuman keras. Mungkin cerita dari paman ayah saya merupakan salah satu bukti bagaimana perilaku hidup ala Hippies juga merasuk dan menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

***

Flower Generation merupakan satu generasi yang didominasi oleh anak muda berumur di bawah 30 tahun yang hidup dan tumbuh berkembang pada era akhir 60-an hingga awal 80-an. Flower Generation ini sebenarnya muncul sebagai counter culture terhadap budaya kemapanan para orang tua dan lingkungan sekitar.

Sistem yang berlaku di Amerika umumnya – sama saja dengan Indonesia- adalah sekolah dan kuliah yang rajin, lulus dengan nilai baik, mendapatkan perkerjaan dengan gaji bagus dan hidup terhormat. Para anak muda yang masih dalam tahap pencarian jati diri, cenderung eksplosif, pemberontak dan kritis berusaha berontak terhadap sistem kemapanan semu ini. Belum lagi isu rasial, perang dingin dan ancaman perang nuklir yang juga menjadi trigger lain dari kelahiran Flower Generation. Gerakan ini seakan menjadi bom waktu yang hanya menunggu waktu yang tepat untuk di ledakkan dan ledakannya menyebar ke seluruh dunia.

Bom waktu itu meledak juga. Pada tahun 1959 dimulailah perang Vietnam. Para kumpulan anak muda yang sudah merasa muak dengan sistem kemapanan dan perang, berkumpul menjadi satu dan lahirlah sebuah generasi baru, Generasi Bunga.

FLOWER GENERATION DAN HIPPIES

Flower Generation untuk merepresentasikan “fight with flower” (lawanlah dengan bunga) yang melambangkan kelembutan, dan tidak dengan kekerasan. “Flower” (bunga) memang melambangkan sesuatu yang lembut. Hal itu sangat pas dengan keadaan pada zaman itu, dimana pemerintah Amerika sendiri mulai kehilangan kepercayaan dari rakyat, terutama kaum muda, lalu melakukan berbagai perlawanan. Pada masa itu, mereka memberontak dengan gayanya sendiri, cenderung bebas dan terkesan “liar”. Banyak ciri-ciri yang bisa kita lihat pada pengikut gerakan bunga ini, yang rata-rata berpenampilan seragam.

Para pengikutnya disebut Flower Children. Mereka berpakaian ham press body (kemeja ketat) dengan warna yang mencolok mata (diilhami dari halusinasi saat memakai marijuana atau LSD), celana baggy atau cut bray, memakai ikat kepala (bandana) bagi pria, dan memakai bandana panjang – ala peramal hippy zaman dahulu - bagi wanita. Kebanyakan dari mereka tidak melakukan apa-apa kecuali duduk di pinggir jalan sambil membawa spanduk berisi ajakan penolakan perang dan slogan perdamaian, bermain gitar sambil bernyanyi. Tapi jangan anggap pakaian mereka itu norak. Di kemudian hari, gaya berpakaian mereka dianggap salah satu pengaruh terbesar bagi dunia fashion.

Para Flower Children ini sering diasosiasikan sebagai kaum hippies. Menurut Jesse Sheidlower, seorang leksikografer yang juga seorang editor dari Oxford English Dictionary, terms “hipster” dan “hippie” berasal dari kata “hip” yang sebenarnya arti aslinya tidak diketahui. Malcolm- X sendiri pernah mengungkapkan dalam biografinya, bahwa “hippy” sendiri merujuk pada orang kulit putih yang bertingkah seperti orang negro, bahkan melebihi tingkah polah negro itu sendiri. Banyak orang melambangkan kaum hippy dengan kebebasan dan ketidakteraturan.

Terlepas dari istilah dan makna tersebut, kaum hippies sendiri memiliki pola hidup yang tak teratur, cenderung bebas dan tak terikat pola aturan masyarakat. Flower Children, selayaknya sebutan mereka sebagai kaum hippies, mereka cenderung hidup bebas. Bebas dalam arti luas tentunya. Hidup bebas atau malah bebas menggunakan obat-obatan terlarang. Selain itu kaum hippies cenderung hidup menyendiri dalam kehidupan bersama dan berusaha keluar dari kehidupan formal, baik dari sistem kekeluargaan tradisional, pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat dan bernegara pada umumnya.

Mereka biasanya vegetarian dan memakan makanan yang tidak diolah dan mempraktekkan pengobatan alternatif. Pengobatan alternatif seakan juga menjadi simbol perlawanan bagi sesuatu yang mapan, dalam hal ini pengobatan modern. Mereka mempunyai jargon “Back to Nature” atau gerakan kembali ke alam. Gerakan ini sekarang kembali populer di abad 21. Mereka menjalankan gaya hidup terbuka dengan tingkat toleransi tinggi yang sangat kontras jika dibandingkan dengan apa yang terjadi pada masyarakat formal saat itu.

PERIODE EMAS ROCK N ROLL?

Dalam pandangan saya, musik pada zaman itu adalah masa kejayaan musik rock n roll. Mulai yang dianggap terbesar, The Beatles hingga sang pelopor Heavy Metal, Led Zeppelin, Deep Purple atau Black Sabbath. Memang, sejarah mencatat periode 1959 hingga 1975 sebagai periode kejayaan musik rock. Dimana para legenda lahir dan seakan menjadi “nabi” yang membawa wahyu dan pencerahan bagi para pendengarnya.

Musik rock mereka pun bermacam jenisnya. Mau yang sedikit lembut dan “manis”? ada The Beatles, atau mau musik rock dengan vokalis yang punya range vocal tinggi dan solo gitar mewah? Ada Led Zeppelin dan Deep Purple. Adapula yang sedikit gelap dengan bumbu psychedelic seperti The Doors dan 13th Elevator. Hingga progresif macam YES atau Pink Floyd. Wanitanya pun tidak ketinggalan. Ada sang ratu musik rock yang namanya tetap abadi sampai sekarang, Janis Joplin. Anda mengaku sebagai rocker tapi tidak kenal siapa mereka? Masuk nerakalah anda!

Pergerakan musik rock era Flower Generation ini mencapai titik kulminasi pada tahun 1969. Sebuah lahan pertanian seluas 240 hektar milik Max Yasgur yang terletak di Bethel, New York menjadi saksi bisu dari sebuah acara legendaris yang diadakan mulai tanggal 15 – 18 Agustus. Woodstock adalah nama pagelaran itu. Sebuah pagelaran musik raksasa paling bergengsi yang masuk pada “50 Moments That Changed the History of Rock and Roll” versi Rolling Stone. Musisi yang tampil disana adalah beberapa nama yang kita kenal hingga sekarang. Mereka melambangkan etos solidaritas dan semangat. Kata semangat mungkin pantas ditujukan pada Joan Baez yang pada saat tampil, dia sedang hamil 6 bulan! Santana, The Grateful Dead, CCR, The Who, Jhonny Winter dan Saudaranya, Edgar Winter, Janis Joplin, dan ditutup oleh sang dewa gitar, Jimi Hendrix, adalah beberapa nama yang tampil di Woodstock paling legendaris itu. Diperkirakan lebih dari 500.000 “hippies” datang dan menyaksikan acara ini.

Di Indonesia sendiri, musik ala The Beatles pun sempat masuk dan menjadi trend, meskipun mendapat perlawanan yang keras dari pemerintah.

Koes Plus Bersaudara tentu tak akan lupa pengapnya terali besi yang mereka rasakan saat presiden pertama kita memenjarakan mereka karena beliau menganggap musik mereka dianggap mirip The Beatles. “Ngak Ngik Ngok!” adalah istilah untuk musik mereka. Warisan imperalis kapitalis! Teriak mereka yang membenci musik ini.

***

Pernah menonton Almost Famous? Film yang bersetting pada tahun 1973 ini adalah film garapan Cameron Crowe yang bercerita tentang seorang anak muda yang bekerja di majalah musik Creem, lalu direkrut untuk menulis di majalah Rolling Stone. Film ini adalah salah satu film yang menceritakan dengan gamblang bagaimana kehidupan para bintang rock, groupies hingga orang tua pada zaman itu.

William Miller, sang wartawan remaja itu seharusnya menulis tentang Black Sabbath. Tapi karena tidak memiliki tiket, maka dia tidak diperbolehkan masuk ke dalam gedung pertunjukan. Ditengah cara memikirkan cara masuk ke dalam konser untuk meliput Black Sabbath, dia bertemu dengan gerombolan cewek yang tidak mau disebut groupies. Mereka mendeklarasikan diri mereka sebagai Band Aides. Mereka beranggapan kalau groupies adalah wanita murahan yang mau tidur dengan seorang bintang rock untuk mendapat popularitas, tapi mereka beda. Mereka juga bilang tidak akan berhubungan seks dengan para pemain band itu. Juga tidak akan jatuh cinta pada mereka. Gerombolan Band Aides ini dipimpin oleh seorang wanita cantik bernama Penny Lane yang diperankan sangat apik oleh Kate Hudson. Kate sendiri pada dunia nyata menikah dengan vokalis The Black Crowes, Chris Robinson, meski pada akhirnya mereka bercerai.

Setelah mengetahui perbedaan antar groupies dan Band Aides, William bertemu dengan sebuah band mediocre, Stillwater. Pada akhirnya, William memutuskan untuk menulis tentang band ini dengan cara mengikuti tour band ini meski hal ini sempat ditentang oleh ibunya.

Perjalanan yang menggambarkan gaya hidup di zaman Flower Generation pun diceritakan dengan sangat jelas, kalau tidak mau dibilang eksplisit, oleh Cameron Crowe yang memang pernah bekerja sebagai wartawan di Rolling Stone dan pernah mengikuti tour band raksasa seperti The Allman Brothers, Lynyrd Skynyrd hingga Led Zeppelin.

Ganja, LSD, seks adalah suatu hal yang biasa saat itu. Justru kalau ada orang yang tidak memakainya, mereka akan dianggap aneh oleh orang lain. Hal ini tercermin saat ibu William mengantar William ke konser Black Sabbath.

“Don’t take drugs!” seru sang ibu. Tapi yang terjadi adalah orang-orang yang mendengar jeritan sang ibu hanya tertawa sinis dan mengulang kalimat sang ibu dengan gaya sarkas. Hal ini sedikit banyak melambangkan sikap orang tua yang kontras dengan gaya hidup pada saat itu.

KONSTRUKSI GAYA HIDUP ALA ROCKSTAR

Bintang adalah bintang. Meskipun pada masanya bintang akan meredup. Tapi saat masih menjadi bintang, kenapa tidak dimanfaatkan? Dan para rockstar pada generasi bunga pun sadar kalau mereka adalah bintang. Mereka hidup di zaman kebebasan, jadi kenapa juga mereka tidak hidup bebas? Mereka pun hidup sesuai aturan yang berlaku disana pada saat itu, yaitu no rules!

Pola hidup mereka telah terstruktur untuk hedon dan bebas. Karena mereka idola, wajar jika gaya hidup mereka diikuti oleh para penggemarnya. Yang lebih keren, sang pemuja benar-benar mengamini gaya hidup para “nabi” rock n roll itu. Hal ini merupakan hal yang lumrah, pemuja mengikuti dan meniru segala hal tentang idolanya. Dan para pemujanya pun tumbuh menjadi calon bintang rock. Mereka adalah orang-orang yang akan meneruskan tahta menjadi bintang dan pembawa pesan rock n roll pada seluruh umat manusia di masa yang akan datang. Axl Rose, Izzy Stradlin, Slash, C.C Deville, Vince Neill atau Tommy Lee, mungkin adalah beberapa nama yang saat itu masih sangat muda dan memuja Jimi Hendrix, Mick Jagger, Keith Richard atau Jim Morrison.

Apa yang lalu terjadi? Selain karena faktor patologis, otak mereka jadi terstruktur bahwa seorang rocker, musisi rock, harus bersikap seperti itu. Pemberontak, urakan, suka minuman beralkohol, menggunakan obat-obatan terlarang, meniduri banyak groupies atau melemparkan tv dari kamar hotel mereka. Jadilah mereka manusia, idola dan binatang secara bersamaan.

Mungkin mereka tidak sadar bahwa sikap mereka telah mengancam populasi rocker di masa depan. Di Indonesia sendiri, menerapkan gaya hidup seperti itu adalah tidak mungkin. Para orang tua, terutama ibu, akan khawatir kalau anaknya bercita-cita menjadi rocker. Ya betul, orang tua tentu takut sang anak akan mati overdosis, atau menjadi pecandu alkohol, menghamili groupies lalu punya anak haram. Di Negara liberal seperti Amerika atau Inggris, mungkin hal itu adalah biasa. Tapi di Indonesia?

Saya jadi berandai-andai. Andai saat itu, Jimi Hendrix tidak menggunakan LSD. Membayangkan Jim Morrison membawa injil dan setiap minggu pergi ke gereja. Bermimpi andai Janis Joplin beragama Islam, berkerudung, rajin sholat dan mengaji di masjid. Andaikan saja para rocker tersebut bersikap manis, mengajarkan para pemujanya bagaimana seorang rocker bisa bersikap manis dan sopan.

Andai saja semua rocker bisa berpakaian seperti The Beatles. Rapi, tidak memakai celana jeans butut yang robek di bagian lutut. Dengan rambut pendek, bukannya gondrong awut-awutan. Andai saja para rocker jaman dahulu mengajarkan untuk jangan minum alkhol, jangan nyimeng, jangan pake heroin, belajar yang rajin, pastilah orang tua setuju kalo anaknya jadi rocker. Mungkin akibatnya tidak begitu terasa di Negara liberal. Tapi di Indonesia sendiri, dampaknya bisa jadi sangat terasa. Mungkin tahun 70-an, AKA, God Bless atau The Rollies bisa mengilhami para anak muda lain untuk menjadi rocker. Tapi sekarang?

Coba anda bilang ke orang tua anda, “saya tidak mau menjadi dosen, saya mau menjadi seperti Jim Morrison Pak. Saya mau menjadi rocker! Lalu punya istri yang seperti Janis Joplin,” lalu lihat bagaimana reaksi orang tua anda. Memang tidak semua orang tua akan bersikap kontra terhadap keinginan seperti itu, tapi bisa dipastikan, sebagian besar orang tua di Indonesia akan berpikir seribu kali untuk memperbolehkan anaknya menjadi seorang musisi rock. Ujung-ujungnya pasti kita disuruh bikin band yang alirannya kayak Samsons, Ungu atau Kangen Band, biar bisa dapet banyak duit. Paling pol ya kita disuruh ikutan ajang menyanyi yang banyak mencetak penyanyi karbitan dan idola instant. Tapi jadi rocker? Apalagi tipe rocker seperti Keith Richard, orang tua anda akan berpikir seribu kali untuk memperbolehkan, bahkan kemungkinan besar tidak akan diperbolehkan.

Terlepas dari anggapan negatif para orang tua tentang gaya hidup ala bohemian ini, kita sebenarnya patut mencontoh mereka. Terserah anda mau meniru yang bagian mana, positif atau negatifnya. Di balik sikap mereka yang ugal-ugalan, mereka adalah beberapa nama yang berani bersikap kritis, lalu berbuat sesuatu berdasarkan cara mereka sendiri. Mereka merubah dunia dengan cara mereka sendiri. Mereka adalah beberapa nama yang telah tercatat dalam hitam putih lembar rock n roll. Sebagian dari mereka mati muda? No fucking problem at all. Mereka mati dengan masih mempertahankan idealisme mereka dan mereka mati setelah puas menikmati surga duniawi. Masalah nanti dibakar dan dirajam habis-habisan di neraka, itu hubungan habblu minallah. Kita tidak berhak untuk menghakimi dan menganggap mereka adalah titisan setan. Karena kita bukan Tuhan!

FLOWER GENERATION ABAD 21?

Tahun 1975, perang Vietnam berakhir. Amerika pulang dengan menanggung malu. Ribuan tentara mereka tewas, banyak tentara yang menderita gangguan jiwa akibat dari perang, dan Amerika kalah! Berakhirnya perang itu seakan menjadi lonceng yang mengakhiri kiprah para generasi bunga. Masa hura-hura sudah selesai, saatnya kembali ke dunia nyata. Mereka harus – mau gak mau- kembali ke bangku sekolah. Melanjutkan pelajaran mereka sambil berharap mereka lulus dengan nilai baik dan menjadi salah satu orang yang memakai dasi dan bekerja di balik meja.

Sekarang kita hidup di tahun 2008. Masa dimana teknologi informasi telah menjadi kekuatan baru. Bukan sekedar solidaritas semata yang bisa membangun dunia menjadi lebih baik. Kemudian jejak para anak-anak bunga seakan telah lenyap. Hanya bisa dilihat dari film, poster, atau stiker yang mencantumkan credo “make love, not war”. Lalu apa yang tersisa?

Setidaknya semangat flower generation mungkin masih tersisa, meski Cuma berupa kenangan di dalam hati. Tapi begitu banyak hal dan pelajaran yang bisa kita pelajari dari flower generation. Bagaimana seharusnya manusia, bagaimanapun bentuknya, apapun sukunya, apapun agamanya, jenis kelaminnya, tetap harus memiliki solidaritas yang tinggi. Para pemuda bunga bukanlah tipe pemuda rasialis, yang meributkan perbedaan suku atau agama hingga sampai tega membunuh sesama. Sikap kritis mereka adalah yang paling patut untuk dicontoh. Mungkin gerakan ini sama sekali tidak berhasil menghentikan perang itu. Tapi sejarah mencatat bahwa gerakan ini juga sedikit banyak mempengaruhi kekalahan Amerika di Vietnam.

Musik di era sekarang pun sudah jauh berbeda. Tidak ada lagi lengkingan khas ala Robert Plant, tidak ada lagi solo gitar mewah seperti milik Tomi Iommy, Ritchie Blackmore atau Jimi Hendrix. Sudah jarang sekali wanita yang “berani” dan bernyanyi rock blues penuh penjiwaan seperti Janis Joplin (dalam hitunganku, si Thera Wonderbra masuk ke dalam pewaris mahkota Janis Joplin). Musik sekarang… ya tahu sendiri lah, makin banyak macamnya, mulai musik Emo yang kemarin-kemarin sempet booming, ada Green Day yang dicap punk (?) hingga musik-musik pop cengeng tidak mendidik dan tidak keren macem… uppsss, saya tidak mau menyebutkan nama. Silahkan anda klasifikasikan sendiri…

Saya jadi bermimpi lagi. Berandai-andai lagi, saya lahir pada tahun 1945. sehingga saya bisa mengecap pahit manis Flower Generation. Saya bisa menyaksikan bagaimana Jimi Hendrix “bersenggama” dengan gitarnya. Saya juga bisa menyaksikan bagaimana Janis Joplin menyihir pemujanya bagaikan Cleopatra menyihir Julius Caesar. Tapi ternyata saya lahir pada tahun dimana Guns N Roses merilis Appetite For Destruction. Saat ini saya cuma bisa mendengar lagu-lagu mereka yang populer di tahun 70 an. Lalu menyadari dan mengagumi apa yang bisa diperbuat oleh ratusan ribu anak manusia pada saat itu. Menyadari bahwa Generasi Bunga tak akan pernah mati. Semangatnya akan tetap ada di hati anak muda yang kritis dan menginginkan perubahan.

Disinilah saya, tanpa LSD, tanpa ganja, tanpa minuman keras, mendengarkan lagu “San Fransisco” yang ditulis oleh John Phillips dari The Mamas and The Papas yang dinyanyikan oleh Scott Mc Kenzie. Berharap semangat dari flower children merasuk ke dalam jiwa saya…

If you’re going to San Francisco,
be sure to wear some flowers in your hair…
If you come to San Francisco,
Summertime will be a love-in there.

Komentar (11) »

Punk; “Decision To Be Different”

Peliput: – Artitik Dyah Ikhsanti (UKPKM Tegalboto Unej)*

- Ismal Muntaha (Suara Mahasiswa Unisba)

Bandung, 25 Januari 2008, sekitar empat meter dari Vila Putih, Lembang, samar-samar suara musik terdengar. Petikan bas yang cadas dan gebukan drum yang cepat. Saat saya berjalan menelusuri tangga, terlihat puluhan Punkers mengerumuni sebuah ruangan. Ada yang berdiri di sekitar ruangan sembari manggut-manggut, adapula yang hanya duduk duduk di sekitar tangga dan di depan ruangan itu. Sebagai orang yang baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini, terus terang terasa kikuk. Untungnya, ada saat itu saya ditemani beberapa rekan dari Bandung yang lebih mengerti kehidupan orang Punk.

Di samping ruangan bising itu ada sebuah vila. Jaraknya tidak begitu jauh. Di teras samping vila itu ada beberapa orang menjajakan kaos dan cendra mata lainnya. Salah seorang panitia berkata bahwa, hasil penjualan cendra mata tersebut digunakan untuk tambahan biaya penyelenggaraan acara. Hampir semua cindera mata itu berwarna hitam, mungkin saja mereka punya interpretasi tertentu dengan warna hitam. Sangat kontras dengan rambut mohawk mereka yang berwarna-warni.

Begitulah mereka mencoba bertahan di tengah arus kapitalisme. Mereka menyelenggarakan acara tidak dengan dukungan sponsor sebagaimana layaknya sebuah konser diadakan. Bahkan tiket masuk pun tidak. Disana hanya ada sebuah kardus yang menampung sumbngan dari pengunjung. Dengan kemampuan sendiri serta bantuan dari beberapa kenalan, mereka bisa mengadakan sebuah pertunjukan musik yang didatangi banyak orang bahkan dari luar kota. Selain itu, band pendukung acara pun tampaknya memang sudah terbiasa dengan pagelaran musik seperti ini. Mereka tidak meminta bayaran.

Acara ini berlangsung dua hari. Hari pertama berisikan pagelaran musik dari band-band dalam maupun luar negeri. Pada hari kedua diadakan diskusi panel mengenai Punk. Kedekatan antar individu di dalam komunitas Punk membuat mereka bisa mendatangkan siapa saja di komunitasnya. Seperti band pengisi acara yang berasal dari Malaysia dan Jerman, selain band asal Bandung sendiri.

Itulah yang menjadi ciri dari komunitas ini. Acara yang mereka selenggarakan ini selain menyuarakan agitasi perlawanan terhadap kapitalis dan pemerintah, juga mengusung samangat DIY (do it yourself). Dimana maksud dari semboyan ini adalah sebuah ajakan untuk melakukan semuanya sendiri. Hebatnya, dengan swadaya sendiri, mereka bisa mengadakan acara serupa di beberapa tempat. Acara musik seperti ini umumnya disebut gigs. Meskipun acara seperti ini baru pertama saya hadiri, saat itu misi saya dari redaksi adalah untuk membicarakan tentang Punk itu sendiri. Perbedaan bahasa menjadi salah satu kendala. Maklumlah, teman saya dan narasumber adalah orang Sunda. Saya yang dari Jawa Timur ini harus menterjemahkan setelah acara berakhir.

Setelah sejenak merasakan “kegarangan” para mosher, saya keluar dari ruangan karena situasi disitu membuat jantung saya berdebar kencang. Takut kalau-kalau, mereka saling menabrak dan mengenai badan saya. Namun demikian, wajah tenang tetap terpasang. Saya duduk di sebuah bangku di depan teras. “Uuu…wek!” ada yang muntah tepat di belakang saya. Kemudian seorang pria bertubuh mungil dengan dandanan ala Punk menghampiri. Namanya Fajar, ketua panitia acara ini. Mulailah perbincangan kami mengenai acara ini dan Punk. Saya sempat merasa kaget melihat keramahan dan cara mereka menghormati kami. Pasalnya, label anarkis dan garang ditempelkan sebagian besar orang di jidat mereka, dan itulah yang membuat kebanyakan orang terpengaruh –termasuk saya. Asal tahu saja, mereka menerima kami karena kami dari pers mahasiswa, bukan media massa umum yang mencari keuntungan.

Saat itu, tidak hanya Fajar yang bersedia meladeni pertanyaan-pertanyaan kami. Kunx, salah satu panitia, juga nimbrung dalam obrolan seru itu. Selain itu, salah satu pengisi acara asal Jerman, Neverbuiltruins, menyempatkan diri untuk bercerita tentang Punk pada kesempatan terpisah.

“Secara ekonomi, diditu (orang diluar komunitas Punk) lebih gampang,” kata Fajar dalam logat Sunda yang kental. Saat ditanya alasan mengapa memilih Villa Putih, ia menuturkan bahwa ini salah satu tempat yang mengizinkan. “Untuk orang seperti kita tempat terbatas,” lanjutnya.

Komunitas yang dapat dikatakan sebuah komunitas yang minoritas. Hal ini dikarenakan ciri khas pada kehidupan mereka sehari-hari. Rambut mohawk seperti suku Indian, baju yang sobek di beberapa bagian, anting di tempat yang tidak lumrah bagi orang kebanyakan, ditambah minuman keras dan musik cadas. Sebagaian dari mereka malah ada yang memilih untuk hidup di jalan, dan tidak mengikuti tata cara hidup orang kebanyakan. Tidak mengherankan kalau hanya sedikit orang yang mau memberi tempat bagi mereka.

Komunitas yang berkembang pada tahun 70-an ini, memiliki ideologi, dimana mereka melawan beberapa hal yang ada di dunia ini. Melalui musik mereka menlontarkan agitasi anti-seksisme, anti-kapitalisme, anti-rasisme, anti-fundamentalis agama, anti-nasionalisme, anti-dogmatisme dan anti-militerisme.

Gerakan mereka pun dapat dikatakan bersifat anarkis. Bagi mereka, anarki adalah sebuah ide yang sudah lama, tepatnya ide tentang cara berpolitik. “Anarki bukan kekerasan.” kata Heiko, salah satu personel Neverbuiltruins. Ia kemudian menambahkan bahwa media dan orang lain memiliki pandangan berbeda tentang anarki. Menurutnya, anarki adalah berkumpul bersama tanpa pemimpin. Dimana semua orang adalah sama, namun media mengumumkan bahwa anarki adalah kekerasan. Oleh karena itu, mereka selalu melakukan aktivitasnya dengan berkumpul. Dalam bermusik misalnya, mereka bermusik dengan membentuk band. Bagi Robin, si vokalis, berkelompok itu lebih “kaya” karena lebih banyak orang.

Bagi komunitas ini, berkumpul merupakan cara terbaik untuk melakukan perubahan. Meskipun mereka sadar bahwa revolusi tidak bisa serta merta terjadi. “Kita nggak bisa hancurin negara gitu aja”, kata Kunx. Baginya, apa yang dilakukan komunitas Punk saat ini dengan musiknya dapat membuat perubahan. “Beropini melalui musik. Mungkin dengan liriknya, kalo jelas,” kata pria berkaca mata ini.

Punk merupakan subkultur yang diminati banyak orang, dari yang memang memproklamirkan diri sebagai anak Punk, sampai mereka yang sekedar simpati. Oleh karena itu, kaum kapitalis bisa mengendus keuntungan dari budaya yang dibawa oleh subkultur ini. Gaya Punk dieksploitasi habis-habisan hingga akhirnya menjadi sekedar ikon bagi remaja gaul, bukan untuk sebuah ideologi. Senada dengan Kunx, Robin mengatakan bahwa cara berpakaian boleh apa saja, itu terserah mereka. Kemudian ia menambahkan, “saya tidak akan minum dengan mereka. We’re different”. Ia mengakui di Eropa Punk sudah menjadi budaya anak muda, namun hal itu tidak menjadi sesuatu yang perlu digubris. Bagi mereka, Punk merupakan ideologi bukan sekedar pakaian.

Menjadi seorang Punker merupakan sebuah keputusan, tepatnya keputusan untuk menjadi beda dengan orang kebanyakan. Sebagaimana yang diungkapkan Neverbuiltruins pada wawancara dengan Tegalboto, “essentially we got all into punk by listening to the music, attending concerts and participating manifestations. By doing this you will get inevitably in contact with people sharing your ideas, making friends with them. Soon a part of your social network or even the whole of it is consisting of ‘punks’ or people germane to that culture.”

Questions To Neverbuiltruins:

How this band was established?

    The band was a follow-up project to the band ‘Cruise Missiles’, at the beginning featuring all of the former members expect the singer. After a certain time Kaspar joined as the new singer and some months later also Robin got into it as a second guitarist.

    All of the members have been playing for years in punk-, hardcore- and metal-bands and some of us also know each other for several years. So far nothing unusual, expect that we are living in three different cities located in Germany and Switzerland which makes it somewhat hard to practice.

    You said that punk is a political way. In fact, we find there is no significant effect that is made by this kind of movement. What do you think about that?

      The questions are: what kind of effects do you expect? For which effects did you control? What is your conceptualization of significance (statistic, value a.s.o.)? Using your conceptualization: when is an effect considered as being significant?

      Beside these rather methodological issues, there are some points to list: If you await a world revolution or something similar – you won’t find it. In our opinion the ‘political’ components of punk in Switzerland/Germany are followings:

      Being critical against

      · political systems and their instruments of control, i. e. police and similar institutions

      · information provided by the mass-media (this includes asking about the information which is not provided)

      Fighting

      · sexism

      · racism

      · religion (if used as an instrument to control and suppress people)

      · religious fundamentalism

      · nationalism

      · dogmatism

      · speciesism (some of us)

      Punk uses music as medium and can therefore reach a lot of people. At shows people are gathering and exchanging their ideas. Some of them will be applied in the daily life or put in different forms of action, e. g. manifestations, flyers and blogs.

      What if everybody in this world is a Punker?

        This would largely depend on the kind of punker you imagine. If it would be one sharing at least the believes listed above the world might be better – unless beer would run short.

        When I red the agitations of you songs. They sound like you are really mean to against globalization. In what aspect that you do not agree with globalization?

          We do not agree with the neoliberal aspects of globalization. As multinational companies are growing they are simultaneously increasing their power. The turnover of several multinationals already exceeds the GDP of the poorest nations. As these companies are acting on a global level they can set up their factories where they want and can close them arbitrarily, moving to the next place. You know these examples. Many aspects are tied with the sample mentioned above: (sudden) unemployment, decrease of tax yield, environmental pollution and so forth.

          Some positive aspects of globalization might be: rising of the standard of living, more and more people are getting access to information, intercultural exchanging of ideas, increasing of the level of education. But one should be aware that the participation in these benefits of globalization is highly inequitably distributed.

          To put it briefly: we basically criticize the inequalities caused and/or intensified by a globalization which is mainly driven by neoliberal thoughts of western provenance.

          Do you think that one day, we can really free of capitalism?

            This is at least theoretically imaginable. However, the current developments point in another direction: heavily populated countries like India and China enjoy a considerable economical growth allowing their people to consume, which most of them will do intensively. Especially the branch of consumer electronics seems to be prospering, needing a lot of resources (including also huge amounts of water, this is often neglected!), e. g. over 1 billion mobiles were sold worldwide in 2006.

            Basically we consider all countries to be capitalist to a certain degree (maybe expect North Korea, which is not a good example for an alternative form of organizing a society though). So far no alternatives put into practice could stand the test of time and the pressure of capitalist market forces.

            What made you become Punkers?

              Five guys, five stories to tell. Essentially we got all into punk by listening to the music, attending concerts and participating manifestations. By doing this you will get inevitably in contact with people sharing your ideas, making friends with them. Soon a part of your social network or even the whole of it is consisting of ‘punks’ or people germane to that culture.

              Komentar bertahan »

              Wawancara Dengan Wendi Putranto*

              Bagian ini merupakan bagian dari Backpackingku saat aku mengunjungi Jakarta. hasil wawancaraku ini masuk di Majalah Tegalboto edisi ke XIII dengan tema Musikografi.

              Bisa ceritakan awal mula Rolling Stone Indonesia (RSI)?

              RSI pertama terbit tahun 2005, bulan Mei. Kita adalah majalah RS pertama di benua Asia yang mendapat lisensi itu. Waktu itu sebenarnya ada beberapa perusahaan yang sudah applied ke New York, Amerika untuk mendapatkan lisensi majalah RS. Tapi akhirnya yang berhasil dari sekian banyak itu, P.T A&E Media, itu nama perusahaannya. Pertama kali mendapat lisensi itu awal tahun 2005. setelah persiapan sekitar 5 bulan, Bulan Mei itu kita terbit. Edisi yang pertama waktu itu kovernya Bob Marley. Itu yang edisi pertama kita.

              Bagaimana proses untuk mendapatkan lisensi itu?

              Ada berbagai macam pertimbangan sih pastinya untuk bisa menerbitkan majalah RS. Dari mulai pertimbangan tekhnis, pertimbangan redaksional. Jadi memang akhirnya kita yang terpilih sih, kita juga gak tahu. Dan perusahaan A&E Media yang terpilih gak tau juga. Karena memang beberapa pesaingnya juga waktu itu mau mendapatkan ada Java Musikindo, salah satu yang applied. Tapi gak tau juga kenapa amerikanya sendiri menjatuhkan pilihannya ke P.T A&E Media.

              Menurut Mas Wendi, seberapa besar peran media dalam perkembangan musik itu sendiri? Baik di scene local maupun internasional.

              Yah menurut saya, peran media besar sekali dalam perkembangan musik di Indonesia maupun di luar negeri. Di RS, rubric musik Indonesia juga kita berikan space yang sangat lebih dari cukup. Bahwa selama ini permberitaan dalam majalah, rasionya 30-70. 70% asing, 30% musik local dalam negeri, dalam arti musik Indonesia. Di Indonesia sendiri gak banyak majalah musik yang benar-benar mengklaim diri mereka sebagai majalah musik. Mungkin baru RS, Mtv Trax, Hai juga. Tapi kalau majalah yang free music itu, kaya’ majalah gratisan yang isinya tentang musik banyak sekarang. Tapi yang dijual dan beredar nasional gak banyak. Yang pasti tujuan kita kan untuk mendukung musik Indonesia, dalam arti mempromosikan musiknya, artis-artisnya, memberitakan perkembangan industrinya. Jadi memang perannya signifikan banget.

              Ini mungkin sedikit nyerempet ke arah Kapitalisme. Menurut mas Wendi sendiri, apakah benar bahwa media musik mainstream adalah kaki tangan kapitalis, seperti halnya major label? Karena mungkin sebagian besar yang dimuat di majalah-majalah mainstream adalah artis-artis atau band major yang sedang disukai pasar dan sedang ngetrend.

              Dalam memahami perkembangan industri musik, dari predikatnya “industri”, memang kita melihatnya dari kacamata, bahwa semua yang berlaku dalam industri, pasti parameternya adalah uang. Jadi dalam hal ino uang itu kan capital. Yang pasti orang-orang yang punya capital besar yang bisa terjun ke industri musik. Nah kalau pertimbangan bahwa industri musik itu medianya dimiliki oleh kaum kapitalis, jadi benar, capital disini sebagai modal dan –is nya adalah sebagai pemilik modal. Untuk menerbitkan majalah ini sendiri kita harus membayar lisensi yang gak murah, mahal untuk investasi di bidang ini. Jadi kalau bukan kapitalis yang menginvest disini, saya rasa memang agak sulit sih. Karena memang yang penting, yang paling utama adalah, kalau dalam hal itu – dalam perspektif ekonominya-, kalau dalam perspektif ideologi sih, saya gak ngeliat adanya hal yang signifikan gitu. Ini purely business oriented. Bukan sebuah wacana politik dalam pemberitaan majalahnya.

              Kita tahu bahwa masih sedikit sekali media yang benar-benar media musik. Dan lebih sedikit lagi media musik yang benar-benar milik penerbit local. Menurut anda, apakah itu berpengaruh terhadap perkembangan scene local? Terutama musik tradisional.

              Musik tradisional ya? Mungkin yang dinamakan musik tradisional bukan berarti dia gak ada industrinya, dalam artian, disini majalah ini memang kita 100 % menitik beratkan pemberitaannya pada musik pop. Karena memang yang berlaku dalam dunia industri, etc, segala sesuatu yang bisa menembus sekat-sekat ras, suku, agama itu yang biasanya memang punya potensi untuk bisa dijual belikan di tingkat nasional. Kalau musik industri yang sifatnya etnis atau musik daerah, mereka punya industrinya sendiri juga. Tapi biasanya wilayah penjualan musiknya itu mengalami segmentasi yang lebih kecil dalam artian kalau musik-musik betawi ya akan laku di daerah betawi saja. Sunda ya akan laku di daerah Jabar dan sekitarnya. Musik-musik gamelan dsb di Jateng mungkin hanya akan berlaku di daerah sana. Papua juga begitu, ya musik daerah papua. Jadi memang lebih ke kulturnya dari musik itu sendiri, trus dari masyarakat, audiencenya akan lebih segmented karena memang sifatnya lebih etnis itu tadi.

              Saya adalah pengunjung setia blog mas Wendi. Setahu saya, mas Wendi dulu kan pernah membikin dan mengelola Zine. Apa yang ada di pikiran mas Wendi ketika membuat zine itu?

              Gak ada sih di pikiran saya waktu itu, yang pertama karena intinya kita, saya khususnya, ngurus atau menerbitkan majalah itu sebagai bagian dari praktek jurnalistik, kebetulan saya kuliah di Jurnalistik di FIKOM, Universitas Moestopo. Dan saya suka musik, punya temen-temen musisi underground lah istilahnya, metal gitu. Nah, dari situ akhirnya timbul ide, kenapa nggak juga mengaplikasikan disiplin ilmu saya ke dalam bentuk yang saya suka? Dalam hal ini musik. Ya udah, akhirnya menerbitkan majalah musik, tapi karena waktu itu kita gak kenal dengan artis-artis siapa aja, dan kebetulan Cuma punya temen yang ada di lingkungan tongkrongan saya, ya udah akhirnya musiknya musik yang saya suka dan yang temen-temen saya kenal, band-band metal. Edisi pertama waktu itu tahun 1996. zine istilahnya, malahan pada waktu itu belum ada istilah zine, kita nyebutnya majalah underground. Trus kita fotokopi. Lay outnya manual dengan mesin windows 3.1, keluaran ’93. saya potong, cut and paste gitu, trus transkrip sendiri, pokoknya intinya, do it yourself lah saat itu dan idenya sebenernya bagaimana caranya band-band teman saya bisa lebih dikenal orang bahwa selama ini Cuma di komunitas-komunitas musik yang kecil aja yang mereka tahu. Dan belum ada media seperti itu sebelumnya kalau di Jakarta itu sendiri. Kalau di bandung udah ada Revograms, di Malang ada Mindblast. Dan pas mereka ngeliat dan ngebaca majalah itu, ya pada ketawa “ gila, akhirnya ada juga yang ngeberitain band gue”. Ya itu lebih membanggakan. Seneng ngeliat temen-temen itu jadi seneng juga, hehe.

              Besar gak pengaruh Zine itu sendiri ke perkembangan musik indie?

              Pada zamannya, emang besar ya. Karena gak ada yang mau memberitakan band-band ini. Band-band yang sekarang bisa kita baca di RS, Hai atau majalah seperti Mtv Trax itu dulu gak mendapatkan tempat di majalah-majalah tersebut. Bahkan gak ada yang tahu kiprah mereka, gak ada yang tau musik mereka, bahkan gak ada yang ngerti apa sih yang mereka sedang lakukan. Jadi media-media mainstream pada saat itu emang sangat awam tentang apa yang disebut dengan gerakan bermusik secara indie. Dan mereka gak paham sama sekali lah, istilahnya. Untuk itu, bahwa akhirnya pada perkembangannya, kemudian kan 10 tahun dari ’97-an ya akhirnya mereka mulai belajar dan lama kelamaan malah dikenal gitu. Oh musiknya seperti ini, oh idealismenya kayak begini dan akhirnya semakin diterima bahwa band-band itu diliput oleh majalah-majalah besar. Tapi emang sebaliknya di media indienya sendiri yang ternyata sekarang kayaknya semakin menurun perkembangan penerbitan di indipenden itu sendiri, dalam artian ini, zine musik.

              Sekitar pasca reformasi duli, 98-an, sempet tu dulu terjadi ledakan zine indie itu. Ya di Jakarta, Bandung, Yogya, Malang, Bali. Tapi gak tau perkembangannya sekarang. Setelah keluarnya desktop publishing ya, kita lebih gampang buat ngelayout, buat melakukan peliputan, orang kayaknya sudah gak suka lagi untuk menerbitkan zine. Karena sepertinya, kok sulit aja gitu kan? ngapain sih males-males, mendingan bikin yang bagus, yang berwarna, yang colorful. Akhirnya sebenarnya sih dari sisi fisiknya udah bagus sekarang. Tapi saya sendiri masih suka terganggu kalau baca kontennya, kayaknya gak digarap serius. Nulis males-malesan atau penulisnya kayaknya kesannya emang lebih mentingin fisik majalahnya daripada kontennya. Jadinya ya, gak banyak media-media zine yang berkualitas yang sekarang keluar. Di luar catalog aja gitu ya, ya catalog-katalog musik biasa. Ya kayak gitu sih saya melihat perkembangannya sih. Emang agak-agak menurun penerbitannya.

              http://wenzrawk.multiply.com/photos/album/2/Rolling_Stones_Munich_Germany_Journey#41

              Media berperan besar dalam hal pencitraan seorang idola. Dan media juga mengkonstruksi masyarakat dalam hal selera pasar. Dalam RS sendiri, bagaimana cara mengklasifikasikan sebuah grup band itu layak di dengar, atau band ini adalah band sampah?

              Yang pasti, kalau di RS, kita ada konfrensi sesama editor. Karena majalah ini membawa spirit dari RS Amerika, Otomatis kita juga mengadopsi itu dalam artian, bahwa musik yang menurut kita bagus dan berkualitas adalah musik yang mencerdaskan, dalam artian si pendengarnya itu bisa mendapatkan sesuatu dari band itu. Dalam arti musik, lirik, penampilan, moral dari bandnya juga. Jadi kita ngeliatnya benang merah itu. Kalau akhirnya band-band yang dibilang sampah itu tadi gak masuk, menurut kita pasti karena kita ngeliat gak ada sesuatu yang beda. Pertama, dari musiknya seperti itu, dan liriknya pun seperti itu, bahkan penampilan seperti itu, dan karakter manggungnya ketika diatas panggung itu, kok gak ada yang beda? Kita ngeliat, semua monoton. Yang dijual lagu-lagu cinta melulu. Kenapa begini? Tapi emang pada kenyataannya, di pasar musik Indonesia, yang kayak gitu-gitu itu laku.

              Akhirnya perusahaan rekaman ketika penjualan album lagi menurun terus tiap tahun karena pembajakan yang gak habis-habis, akhirnya mereka lebih mementingkan kuantitas disbanding kualitas. “Ya udah, kita jualan dulu lah, masalah musik bagus atau gak, itu belakangan” Cuma kalau majalah ini kan beda. Kita gak menjual album, kita menjual majalah. Ada integritas, kredibilitas, yang harus dipertahankan disitu. Karena kepercayaan pembaca kan itu kunci dari semuanya. Kalau ternyata pembacanya ngeliat, kok ikut-ikutan juga nih nulis-nulis yang kayak begini, nah itu mungkin akan menjadi boomerang nanti, bisa pada cabut kan yang beli atau yang baca. Karena kebetulan majalah ini segmentasinya kan 25-45 tahun. Jadi majalah dewasa lah boleh dibilang. Dengan pola piker orang-orang umur segitu yang sangat kritis dan bisa menilai dengan jelas bahwa,oh ini begini, oh ini begitu. Diluar dari idealisme masing-masing editor musiknya bahwa menurut kita memang band yang sekarang banyak beredar, kayak Kangen Band, Matta, ST 12, menurut saya gak menawarkan sesuatu yang baru buat industri musik Indonesia, selain mereka laku dan disukai banyak orang, itu aja.

              Tapi kalau buat kita, apa sih yang menarik dari musik-musik kayak gitu? Kayaknya memang sama aja. Yang beda Cuma nama bandnya aja, dan nama personelnya, ha-ha. Yang mereka jual, yang mereka tawarkan, gak ada yang beda. Bisa ditanyakan ke band-band itu juga lho. Apa sih yang membedakan band loe dengan band yang lain? Mereka pasti bingung. Jadi emang kondisi riilnya emang seperti itu, bahwa kita harus memilih. Dari tumpukan sampah itu pasti sebenarnya ada yang bagus. Jadi gak semuanya juga sampah, khususnya yang dari galangan musik-musik independent gitu ya, yang kreativitas musik mereka jauh lebih bagus moralnya. Dan sayangnya memang ada gap, antara band indie dengan crowd-nya. Pendengar musik di Indonesia sebagian besar belum mengalami pencerahan, kalau boleh dibilang. Karena media yang menjejali mereka musik rata-rata memutarkan musiknya gitu-gitu aja. Kan popularitas band itu sangat pengaruh dari radio. Radio kan memutar konstan lagu-lagu itu seluruh Indonesia, dikirimin sample lagunya Kangen Band misal. Pasti akan dengar tuh, dan radio gak peduli juga. Ngapain mikir kualitas musik? Kan yang dicari dari radio adalah pendengar musik yang banyak, karena dengan pendengar musik yang banyak, mereka dapat iklan dari situ. Jadi ya otomatis mereka akan memutarkan lagu-lagu yang didengarkan daripada musik-musik yang gak didengarkan oleh pendengar itu sendiri. Jadi hambatannya, ada gap antara musisi indie-nya sendiri sama masyarakat. Bagaimana mereka bisa mempopulerkan band dan musik mereka juga, itu juga tantangan tersendiri bagi mereka.

              Lalu hubungan antara selera pasar dengan artikel yang dimuat? Apakah selera pasar menentukan artikel yang dibuat, atau…?

              Nggak. Dari kita kebijakan redaksionalnya itu otonom. Indipenden, dalam artian kita gak berkaca pada selera pasar. Malah disini kita mau mencoba menjadi pionir untuk memberitakan band yang selama ini belum dikenal secara luas. Jadi dalam artian gak menjadi tolak ukur satu-satunya bahwa selera pasar atau penjualan itu buat majalah ini. Tapi yang pasti, itu juga menjadi satu hal yang ikut menentukan. Karena biasanya band yang selera pasar itu dikenal oleh orang banyak, dan karena majalah ini sebenarnya majalah mainstream. Cuman, ternyata mainstream di Indonesia itu sendiri kan agak aneh. Yang kayak apa sih yang sebenarnya mainstream? Ya akhirnya kita mengambil kesepakatan, kalaupun kita harus menulis tentang Radja, Kangen Band atau band-band yang aneh itu tadi, pasti dengan sudut pandang yang berbeda, perspektif yang beda. Jadi kenapa band seperti Ungu bisa kita liput, tapi band seperti Kangen gak kita liput. Karena ada argumentasi sendiri di dalam bahwa Ungu, walau bagaimanpun juga mereka sudah bermusik selama 10 tahun, dan sebelum mencapai ketenaran seperti sekarang ini mereka sebenarnya musisi yang amat berbakat.

              Tapi kalau diliat dari Kangen, kan mereka ini band yang baru kemaren sore. Band dalam artian, mereka gak salah ngeband dan gak ada salahnya mereka terkenal. Tapi saya lebih ngeliat ke permasalahan industri musik disini yang memang lagi mau bangkrut. Akhirnya mereka gak perduli pada kualitas musik. Secara teori, si Kangen ini sudah berhasil menggugurkan semua teori dalam industri musik. Bahwa keberhasilan itu harus didukung oleh kemampuan musikalitas yang tinggi, mereka gak punya itu. Harus didukung oleh penampilan yang ganteng. Mereka gak punya itu. Harus didukung oleh skill bermusik yang mumpuni, mereka juga gak punya itu. Tapi kenapa mereka bisa popular? Nah itu dia, factor X yang kita gak tahu sebenarnya. Bahwa mereka 100 % beruntung, itu bisa juga. Dan gak lama sih biasanya umur band seperti itu.

              Lalu sebenarnya, sejauh manakah fungsi Advokasi RSI terhadap musik Indonesia yang dibajak di luar negeri? Seperti kasus penyanyi Gandrung Banyuwangi beberapa waktu lalu, yang musiknya dibajak di Hollywood.

              Ah, oh ya. Smithsonian ya? Yang Jan Polski produsernya? Menurut saya, yang terjadi pada kasus Gandrung Banyuwangi, itu bukan pembajakan malah, tapi ketidak adilan dari produser musiknya terhadap si musisi. Saya dengar album ini udah laku jutaaan kopi di Amerika, Eropa dan mereka menjualnya lewat E-Bay, I-Tunes, segala macam. Nah ternyata pada prosesnya itu sendiri, albumnya laku dan si musisi ternyata Cuma dibayar flat pay, dalam artian jual putus. Mereka gak menerima royalty dari karya mereka, bahkan hak ciptanya pun belum jelas kabarnya. Nah kalau di kita sendiri, sampai sekarang memang kita belum memberitakan itu. Dari sisi advokasinya misalnya. Tapi kita ngeliatnya kasus itu sebenarnya lebih kearah ketidakadilan industri musik. Sebenarnya itu bukan industri musik. Si Smithsonian Institute itu malah lembaga nirlaba yang bertujuan untuk reservasi musik-musik etnis di daerah di seluruh dunia. Tapi ternyata kenapa sifat mereka ketika melakukan praktek bisnisnya gak adil, dalam arti, si musisinya disuruh rekaman dan Cuma dibayar sekali doang, tanpa ada penjelasan, nanti kalau albumnya laku kamu dapet royalty, dan royalty itu bisa berlaku sampai 50 tahun setelah kamu meninggal, itu gak dijelasin. Malah induk si gandrung juga sampai sekarang masih melarat.

              Jadi emang agak ironis juga kalau ternyata, kok penindasnya dari orang yang sangat intelek. Bahwa sebuah institusi pendidikan seperti Smithsonian itu malah melakukan penindasan ke musisi di Negara dunia ke 3 kaya’ Indonesia. Dan ternyata albumnya dijual komersial. Sebenarnya album yang dijual komersial bukan untuk tujuan pendidikan atau edukasi mestinya dapet royalty. Tapi sampai sejauh ini kita belum ngeliat untuk memberitakan hal itu di RSI. Karena memang yang baru memahami itu masih sangat sedikit. Dan setelah dari tulisan Kompas waktu itu, seharusnya memang ada trigger lain gitu, yang lebih mensupport keberadaan itu, keberadaan si Gandrung. Kalau saya sendiri sih emang ngeliatnya itu bukan sebuah pembajakan musik, tapi lebih ke ketidakadilan, penindasan di bidang musik, karena semua itu beredarnya secara legal, jadi master rekamannya sendiri dipegang oleh Smithsonian. Dan Smithsonian mengedarkannya ke berbagai outlet penjualan di seluruh dunia. Tapi kalau pembajakan itu kan master rekamannya di pegang Smithsonian trus ada institusi lain dari label rekaman yang illegal untuk menggadakan tanpa ijin. Nah itu baru bajakan.

              http://wenzrawk.multiply.com/photos/album/2/Rolling_Stones_Munich_Germany_Journey#51

              Bagaimana menurut pandangan Mas Wendi bahwa media musik yang bisa menjadi trendsetter?

              Kalau itu sih berlaku dengan sendirinya. Kita juga gak memungkiri kalau majalah RS itu besar karena memang di Amerika dan di seluruh dunia sendiri ini majalah yang bisa dibilang nomer satu. Karena kita melisensi, otomatis keuntungan dari lisensi itu kan kita bisa mempunyai shortcut terhadap popularitas brandnya. Kalau kita memakai nama baru, katakanlah majalah Tegalboto ini, untuk bisa dijual secara nasional pasti akan perlu waktu, karena orang gak punya image terhadap Tegalboto sebelumnya secara nasional. Nah, Karena ini majalah yang reputasinya internasional, dan kita melisensi, kita coba memotong durasi untuk mempopulerkannya dengan tinggal menyebarkannya di Indonesia. Karena kita udah punya credibility yang bisa kita jaga lah di Indonesia.

              Nah, kalau masalah menjadi trendsetter, karena mungkin majalah ini (RS, red) Cuma satu-satunya di Indonesia dan gak ada alternative lain dari penggemar musik yang kelasnya advance untuk bisa memahami musik, ya akhirnya mereka look up ke majalah ini. Bahwa dari segi pemberitaan, penulisan, pemotretan, kualitas itu sangat dijaga dalam majalah ini, dari mulai foto-foto yang beredar di dalam situ juga semuanya legal. Nah majalah yang lain kalau di Indonesia gak membayar royalty untuk foto. Mereka menerbitkan foto itu bahkan kadang-kadang credit title-nya gak ada, trus mereka gak membayar royalty walaupun itu foto-foto dari luar negeri. Kalau kita gak bisa begitu karena memang ada aturannya yang berlaku di Indonesia bahwa tiap foto-foto yang ada dalam RS itu kita harus membayar royalty lagi.

              Dan kalau trendsetter itu sendiri ya… sebenarnya lebih karena timnya sendiri di sini udah paham gitu, apa yang harus ditulis, apa yang harus tidak ditulis, apa yang harus didukung, apa yang jangan didukung. Jadi masing-masing editor disini udah memiliki pengetahuan musik yang cukup luas. Trus dalam menentukan sesuatu yang dimasukkan ke dalam majalah ini, kita punya standar-standar tertentu yang memang buat sebagian orang itu gak bisa dipahami. Karena agak sulit memahami, kenapa Kangen Band gak bisa masuk RS, tapi Radja bisa diliput. Sebenarnya kalau mau dilihat, Radja itu memang begitu kondisinya, mereka beda dengan Kangen Band. Bahwa mereka tetap bisa bermusik dengan baik. Yang membuat kita males kan karena tingkah laku Ian Kasela. Kayak gitu deh intinya. Dan kita sendiri menyerahkan penilaian ke orang diluar, pembaca. Gak kita yang mengklaim menjadi trendsetter, itu berdasarkan penilaian orang diluar yang udah ngebaca RS. Tapi kalau emang ada yang yang menilai begitu, ya, sepertinya itu satu bentuk apresiasi yang menyenangkan.

              Dalam pandangan Mas Wendi, gimana peran media dalam hal komodifikasi? Jadi misalnya, dulu Punk adalah sebuah ideology, berhubung banyak media yang mengulas tentang punk, mulai lifestyle hingga dandanan, akhirnya banyak orang awam yang mengikuti lifestyle anak punk, mengaku-ngaku sebagai anak punk, sementara di sisi lain, mereka sama sekali tidak tahu menahu soal ideology punk itu sendiri.

              Itu kecendrungannya. Ketika punk pertama kali masuk ke industri musik, pasti akan terjadi komodifikasi, akan terjadi jual beli. Bahwa dulu mungkin The Ramones, Sex Pistol pertama kali muncul pertengahan tahun ‘70an di Amerika dan Inggris, mereka sama sekali gak punya bayangan kalau gerakan bermusik mereka bisa menimbulkan isnpirasi yang sebegitu besar sampai sekarang ini. Mungkin yang dulu mereka lakukan Cuma, mereka bosen ama musik-musik yang ada, dan mereka muak dengan kondisi pemerintahan, kondisi di Negara itu, dengan pengangguran yang menggila, dengan ekonomi yang berantakan, penguasa yang tiran, ya akhirnya ada bentuk ekspresi baru yang timbuil dari mereka, dan mereka namakan itu punk. Dan dimana-mana kalau ada sesuatu yang disuka oleh orang, apalagi jumlahnya masssal, itu pasti akan ada pebisnis yang melihat potensi. Dimana ada pengusaha yang berpikir dan melihat “oh, ternyata ini ada yang suka, meski musiknya gak berskill, orang-orangnya juga anarkis. Terus statement mereka juga keras, dalam hal ini politis” akhirnya mereka berpikir, kenapa juga nggak kita komodifikasi musik yang satu ini?

              Kalau secara musik, sebenarnya punk itu kan kelanjutan dari rock n roll. Yang membedakan kan Cuma lifestyle dan ideologinya, bahwa ternyata punk lebih political sementara rock n roll lebih hedon. Tapi ternyata, ya itu Cuma terjadi di tahun ‘70an. kalau sekarang ini,di luar punk-punk yang bener-bener underground yang masih eksis, semua punk yang masuk ke mainstream di tingkatan nasional, itu menurut saya sudah bukan punk dalam arti yang sebenernya. Bisa jadi mereka Cuma melihat punk hanya sebagai musik, atau punk hanya sebagai identitas. Mereka gak menggunakan punk sebagai alat untuk ( minta nutrisari 3 dong…) membebaskan buat pendengarnya. Kalau sebagai sarana penyampai pesan politik kan udah dilakukan oleh band-band seperti Marginal. Kalau dari sisi yang itu, mereka memang bergeraknya di sisi ideologis, bahwa musik yang mereka tawarkan itu menjanjikan pencerahan, istilahnya. Mereka percaya sama “Musik itu adalah senjata” mereka percaya itu.

              Tapi kalau buat punk-punk yang sekarang berada di industri musik, menurut saya, mungkin mereka sudah menjadikan punk sebagai profesi, musisi. Yang membedakan mereka Cuma musik dan attitude atau lifestyle mereka. Tapi kalau di sisi perjuangannya sendiri, mereka hanya berjuang bagaimana band bisa dikenal lebih luas, lebih banyak lagi orang yang denger musik mereka. Jadi bukan sebuah perjuangan politik, bukan dalam frame itu mereka berjuang. Dan gak salah dan gak bener juga, masing-masing pihak bisa mengklaim bahwa mereka benar, mereka paling bener dan gak ada yang mau mengklaim mereka salah, yang pasti itu. Tapi yang pasti memang, semuanya, selama itu disukai oleh orang banyak, pasti punya potensi untuk menjadi komoditas, ya itu aja.

              Apakah anda setuju dengan statement bahwa media sangat berpengaruh dalam hal pengkultusan idola?

              Oh pasti, setuju. Dalam arti gak Cuma di bidang musik gitu ya, di bidang politik juga, si Hittler bisa menjadi sebegitu kuatnya karena Joseph Gobels. Dia kan actor propaganda nomer satunya si Hittler dengan media-media yang dia punya, dengan teatrikal yang dia punya di berbagai panggungnya Hittler. Sementara kalau di musik, otomatis gitu. Karena sejauh ini orang itu hanya bisa berkomunikasi dengan idolanya lewat majalah, akhirnya menciptakan mitos-mitos gitu kan. kaya’ mitosnya si Axl Rose. Dia itu orangnya sangat urakan, sangat demen ribut. Bisa jadi itu sebuah strategi dari manajemen mereka juga. Bahwa ternyata kalau kita udah mengenal, bisa jadi dia orang yang sangat santun, sangat baik hati dan sangat ramah. Tetapi ada bias media yang membuat pencitraan si Axl jadi begitu, negative. Dan disana sih bekerja dengan baik ya image-image kayak gitu. Tapi kalau di Indonesia sih kayaknya gak bakal lama umur band yang kayak gitu (yang mengandalkan citra negative dari infotainment, red.) tapi emang untuk mengkultuskan itu, sangat penting media. Orang gak akan bisa mencapai taraf superstar kalau dia gak dikenal siapa-siapa. Yang bisa memperkenalkan dia dengan orang kan media salah satunya. Gak Cuma majalah sih, TV, radio. Jadi emang bener statement itu.

              Jadi sebenarnya produk bajakan itu berpengaruh banget ya? Ya contohnya kayak si Kangen Band yang terkenal gara-gara lagu mereka beredar di lapak-lapak penjual produk bajakan.

              Betul. Itu sih yang bikin miris sebenarnya. Bahwa ternyata kok industri yang legal sekarang berkacanya ke industri bajakan. Menjadikan parameter keberhasilan penjualan album bajakan dari sisi legal. Ketika artis itu sukses (di produk bajakan), maka direkrut. Aneh itu sebenarnya. Kok industri legalnya malah takluk ama pembajakan. Tapi sebagai informasi aja, emang rekaman yang legal, sekarang beredar di Indonesia tinggal 8 %. 92 %-nya itu rekaman bajakan. Dan ini laporan tahun 2007. tahun 2008 belum ada masukan lagi. Cuma yang pasti turun, diperkirakan akan turun, lecendrungannya turus terun soalnya tiap tahun (persentase produk legal di pasaran, red.) jadi kalau pada saatnya nanti tinggal 1 % rekaman yang legal beredar di pasaran, dan 99 % yang beredar adalah bajakan, sekali lagi, yang paling menderita, selain label rekaman, ya artis-artis itu sendiri.

              Musik mereka seakan gak ada harganya, karena yang paling ngenes kan sebenarnya gak ada royalty yang didapet dari situ. Semua keuntungan jatuhnya hanya ke penjualnya / pembajaknya. Sementara musisi yang menginvestasikan bakatnya, dan label rekaman yang menginvestasikan uangnya, gak dapet apa-apa dari situ. Jadi sebenarnya, yang jeleknya sih disitu, tapi disini malah menjadi parameter. Itu aneh.

              Prediksi Mas Wendi soal masa depan media musik cetak jika dibandingkan dengan media musik di internet?

              Selama koneksi internet di Indonesia masih lamban, kayaknya belum menjadi ancaman yang gede, ha-ha. Selama ini kan kita tau lah, koneksi internet di Indonesia, apalagi yang di daerah-daerah. Yang di Jakarta aja masih lamban, apalagi yang di daerah-daerah. Jadi internet belum menjadi saingan utama lah. Masa depan majalah musik sih masih cerah. Karena orang-orang di Indonesia juga lompatan tekhnologinya belum segila di Jepang misalnya. Mungkin disana, menerbitkan majalah bisa jadi agak-agak riskan karena internet itu sudah mencakup semuanya. Ada multimedia, audio visual dan tergantung kitanya lagi, mau denger apa, mau nonton apa. Jadi bukan media itu yang menentukan. Kalau di Mtv kan, kalau kita liat, video klipnya itu lagi semuanya. Tapi di internet kan kita bisa, music on demand, video on demand. Jadi terserah kita mau nonton apa modelnya. Jadi masa depan masih sangat cerah sih. Dan masih menjadi salah satu variable yang penting lah untuk menentukan popularitas sebuah artis atau band. Jadi… mungkin nanti, sekitar 10 tahun lagi, ha-ha-ha.

              Menurut mas, seberapa pentingkah media musik asli Indonesia untuk muncul saat ini?

              Sebenernya sih kalau ngeliat dari sejarahnya, majalah-majalah musik di Indonesia itu gak ada yang bertahan lama. Pada tahun 60-70 an, ada Aktuil dari Bandung. Tahun 80-an ada Hai yang menjadi rajanya. Tahun 90-an, mulai tabloid dangdut, tabloid rock, news musik, berbagai majalah gitu. Cuma yang survive sekarang, gak banyak. Jadi… kalau dibilang, itu tadi. Kalau melihat sejarahnya kok memang sejarahnya agak-agak hitem, ha-ha. Emang gak tau buat kedepannya nanti, apakah sangat penting ya? Karena ternyata kalau gak didukung brand yang bernuansa luar negeri, itu gak survive gitu. Kenapa selalu kolaps, bangkrut, tutup? Sebenarnya sebelum RS ini terbit, News Music itu sudah mengadopsi apa yang kita (RS, red.) tampilkan. Dari mulai kalau kita ngeliat cover-nya, font-nya, NM itu sangat mengadopsi RS. Tapi entah kenapa mereka gak bisa survive di tahun ke 3 atau ke 4. padahal itu memang asli Indonesia. Walaupun penampilan fisik mereka mengadopsi dari RS gitu. Emang pertimbangan-pertimbangan itu sangat masuk akal, bahwa kok bisa gak survive ya? Kenapa? Makanya akhirnya ada strategi untuk mencoba brand-nya, brand luar, trus kita apply di Indonesia. Apakah itu sukses nantinya? Yah itu nanti, 5 tahun lagi kita wawancara lagi baru ketahuan, ha-ha. Tapi yang pasti emang gak banyak yang survive sih, kalau dilihat dari sejarahnya.

              Jadi emang pertimbangan-pertimbangan itu jadi factor yang gede buat memikirkan, apakah dengan nama Indonesia itu gak menjual? Dan perlu nama dari luar negeri, license dari luar negeri untuk menerbitkan majalah musik disini? Dan memang sepertinya kayak gitu, karena ternyata penjualannya bagus, image-nya bagus, jadi orang-orang Indonesia cenderung lebih mempercayai brand luar negeri. Gak tau, entah kenapa, tapi yang pasti factor kualitas sangat kita perhatikan disini.

              Atau mungkin sebagian besar orang Indonesia sendiri masih belum siap dengan gaya penulisan ala Amerika yang cenderung sastrawi?

              Dari amerika, kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ya mungkin lebih terpengaruh nama besar RS itu sendiri. Nama besar itu memang jadi pengaruh besar buat kita untuk membangun kredibilitas dalam waktu singkat. Tapi tanggung jawabnya ya, kita gak akan meninggalkan kualitas dari kitanya juga. Kalo artikel-artikel yang luar itu bisa sangat bombastis dan hebat nulisnya, nah kita harus ngejar itu juga. Jadi jangan sampai orang yang baca RSI kecewa. Wah, di Indonesia begini aja RS-nya? Mendingan baca RS Amerika atau Australia sekalian. Jadi ya, mudah-mudahan sih udah tercapai. Tergantung yang baca juga sih.

              Mungkin pertanyaan selanjutnya ini agak lucu dan absurd, he-he.

              Gak apa-apa, bebas, ayo dibahas.

              Apakah mungkin suatu saat RSI membahas full tentang musik etnis atau musik yang kurang popular seperti Dangdut atau Campursari misalnya?

              Gak menutup kemungkinan juga sih, tapi… nah, ini ada tapinya. Ketika tolak ukurnya itu adalah disukai orang banyak, tapi ketika disukai orang banyak, kenapa kita gak menulis tentang dangdut? Ya dari kita ngeliat, pertama itu segmen pembaca majalah ini, tingkat pendidikan mereka. Majalah ini juga bukan majalah murah, 35 ribu rupiah harganya. Kelas pembacanya juga kelas A&B. yang menjadi focus utama dengan umur antara 25-45 tahun. Jadi kita udah bisa mengidentifikasi market dari majalah ini dari situ. Apakah yang membaca RS mendengarkan dangdut? Apakah yang mendengarkan dangdut membaca RS? Kalau saya lihat, dua-duanya itu gak relevan. Dalam arti ternyata pendengar dangdut itu tidak membaca RS. Mereka membaca majalah-majalah, misalnya majalah dangdut atau Koran-koran yang sifatnya umum. Dan kalu kita menulis tentang dangdut, kok ternyata malah gak ada dampaknya juga. Jadi dari kita memang lebih fokusnya ngeliat ke bisnisnya dalam hal itu. Intinya, kita bukan gak nulis. Kalo dalam 150 album Indonesia terbaik sepanjang masa (RS Edisi Desember, Red.) kita juga masukin Rhoma Irama. Karena menurut kita, dangdut yang dihasilkan oleh Rhoma Irama itu jenius. Dia bisa mengawinkan musik rock dengan dangdut. Dan pengaruhnya gede si Rhoma Irama. Nah setelah itu, kesini-kesini kok kita gak melihat musik dangdut yang lebih variatif lagi?

              Tapi kalau musik etnis atau tradisional, kalau di Indonesia, jangankan yang etnis atau tradisional, yang edisi 100 % Indonesia aja kita gak akan buat kayaknya. Kenapa? Karena tiap bulannya kita bayar royalty untuk content. Jadi isi yang dari luar negeri itu, didalam majalah RS itu, kita bayar setiap tahunnya, puluhan juta. Jadi kalau kita gak make, ya rugi, ha-ha-ha. Kita bayar royalty tiap bulan tapi gak kita pake karena harus memberitakan 100 % musik Indonesia, kan akhirnya…mendingan nggak sih… tapi kalau diliput sih nanti bisa saja. Tapi mungkin gak semuanya 100 % musik etnis. Karena jangankan yang etnik, yang pop aja kita gak bisa muat 100 % karena pertimbangan itu.

              Dalam pandangan Mas Wendi, gimana tentang statement “musik gak hanya sebagai hiburan”

              Ya itu, kembali lagi sih ke orangnya yang denger. Kebutuhan musik di Indonesia itu sebatas apa. Kalau bagi orang yang gila musik, pasti udah kayak sembako, musik udah sampai tingkatan taraf kebutuhan. Bahwa orang itu nanti akan ngeliatnya, wah kalo gak denger musik sehari gua bisa mati, sama kayak gak makan gak minum. Tapi kalau buat sebagian besar pendengar musik di Indonesia, kayaknya masih sebatas hiburan. Dalam arti mereka mendengarkan musik yang enak, yang simple, yang menyenangkan dan apresiasi mereka memang rata-rata masih sebatas itu. Mereka gak mendengarkan musik untuk jadi alat pembangkit semangat politik misalnya. Atau melihat musik sebagai alat yang membebaskan, melihat musik sebagai alat yang mencerahkan. Kayaknya enggak, belum. Bukannya gak ada ya, tapi rata-rata mayoritas disini masyarakat Indonesia masih seneng denger lagu dan gak setia ke Band-nya. Mereka gak perduli bandnya apa, kalau lagunya enak ya gua denger. Setelah Kangen trus ada band namanya Armada atau Merpati, kalau lagunya itu enak menurut mereka, ya pasti mereka pindah gitu. Dan Kangen akan dilupakan nantinya. Mereka akan menjadi yesterday news lah istilahnya. Yang gua lihat di Indonesia, ya perkembangannya seperti itu. Bahwa musik di Indonesia itu barus sebatas hiburan. Belum sebatas alat yang tujuannya lebih dalem dari itu, dan belum sampai pada taraf kebutuhan pokok. Ini masih, yang namanya hiburan itu kan kebutuhan yang, taut uh, sekunder apa tersier gitu ya? Belum bisa diklasifikasikan lagi.

              Tapi perkembangannya mungkin nanti akan ada, karena prosesnya ini kan belum jalan. Orang belum muak aja dengerin musik-musik yang gitu-gitu aja, yang katanya sih laku, tapi setiap di eksploitasi habis-habisan gitu, itu akan membosankan pasti nantinya. Dan ini memang harus ada prosesnya untuk bisa sampai kesana dan gak gampang untuk menyadarkan. Tapi biarin aja ini berjalan, toh nanti juga kita gak tahu sebetulnya kalau banyak banget band-band yang kacangan itu diproduksi dan gak laku sebenarnya. Tapi kenapa kita gak tahu? Karena gak diekspos. Yang di ekspos kan Cuma yang berhasil doang. Setelah Kangen Band, pasti ada jutaan band yang kayak gitu sekarang. Dan dengan kompetisi yang makin ketat, makin susah sebenarnya buat mereka, band-band itu untuk timbul ke permukaan. Itu akan jadi problem sendiri nantinya kalau mereka bikin musik yang kayak gitu lagi. Tapi kalau yang kreatif-kreatif malah banyakan di Indie, malah stand out. Oh, nih beda nih, gitu. Jadi proses inovasi kayaknya lebih berjalan di musisi indie dibandin mainstream-nya. Dan kayak gitu sih kenyataannya di Indonesia. Sad But True…

              * Wendi Putranto adalah salah seorang editor majalah Rolling Stone Indonesia. Juga merupakan personal manager dari The Upstairs. Pendiri zine indie pertama di Jakarta; Brainwashed. Tampil pula di film dokumenter Global Metal karya Sam Dunn. blog pribadinya di http://wenzrawk.multiply.com

              Komentar (1) »

              Gerilya Bawah Tanah: Eksistensi Diantara Himpitan

              Jember memang kota kecil. Banyak yang bilang Jember adalah kota santri, kota para anak muda alim yang rajin sholat dan mengaji, meskipun pada kenyataannya, produk anak mudanya adalah Dewi Persik, damn!

              Soal musik, Jember masih belum serevolusioner Bandung atau Jakarta. Masih belum punya Zine Indie yang bisa berbicara banyak di dunia musik. Band pun masih sangat jarang yang bisa masuk ke dalam jajaran band nasional. Tercatat hanya Tato, sebuah band slow rock yang berhasil terkenal. Ada juga Anang, yang pernah beken sebagai vokalis Kidnap, tapi sekarang lebih terkenal sebagai produser musik bareng Abdee, dan jauuuuh lebih terkenal sebagai suami Krisdayanti.

              Semenjak aku SMA, sekitar tahun 2003, musik yang booming cuman Hip- Hop atau Reggae, itu aja. Memang ada nama Upnormal yang beraliran Hip Metal yang sempat masuk sebagai salah satu band kompilasi Nescafe Get Started bareng J-Rock. Namun band ini sudah gak terdengar gaungnya karena kesibukan masing-masing para personelnya. Terakhir Jember menjadi harum namanya berkat Blast, band pop (ya, pop!) yang menjadi juara 1 regional Jatim dalam A Mild Live Wanted. Tapi ya itu, gak ada yang berani melawan arus. Kebanyakan band, biar bisa terkenal di Jember ya harus memiliki vokalis wanita yang berani berpakaian seksi dan memainkan lagu Top 40.

               

              ***

               

              Tapi diam-diam ada satu gelaran musik yang berani melawan arus. Tanpa sponsor, gelaran musik ini berhasil menjadi gelaran musik tahunan yang penting di Jember. Setidaknya menurut aku dan ratusan anak yang menyukai suatu yang berbeda, Kumpulan anak muda yang sudah muak dengan musik hip-hop dan top 40. Gelaran itu bertajuk “Gerilya Bawah Tanah”.

              Acara tahunan yang diadakan oleh UKM Kesenian Pusat ini adalah gelaran khusus buat musik yang tidak diterima oleh pasar musik di Jember. Para band yang tidak akan pernah dibayar dan diundang dalam pensi yang selalu menjadikan band Hip-Hop sebagai headliners mereka. Ada aliran punk-rock, hardcore, metalcore hingga ska. Penontonnya? Jangan salah, meski gak sebanyak penonton band hip-hop, massa dari band-band ini cukup banyak.

              Acara tahun ini diadakan di Gedung PKM setelah tahun lalu hanya mendapat “gudang” sebagai tempat manggung (baca artikel: aku, mereka dan punk). Venue lebih besar, penonton pun jadi lebih senang. Gedung PKM memang tak sebesar gedung Asia Africa. Penontonnya pun, meski sama-sama beringas, tetap tak rusuh. Meski penuh, tapi tak memakan korban jiwa.

              Apa yang special dari gelaran bawah tanah ini? Banyak. Mulai dari Headliner yang berasal dari Jerman hingga dandanan dan tingkah polah para crowd, sangat menarik untuk diperhatikan dan dipelajari.

              Photos By:

              Nuran Wibisono

              Lalu Rafli

              Arman Dhani

               

              *
              *
              *
              *
              *
              Ni aku kasih judul: I’m so fucking drunk!!!

              ***

               

              Punk memang sesuatu yang tak pernah habis dimakan waktu. Seiring habisnya generasi bunga di pertengahan tahun 1970-an, gerakan ini mulai mendominasi. Gerakan ini adalah tindak lanjut dari gerakan counter culture para generasi bunga. Cuman mungkin hanya inti ajaran mereka yang sama, anti kemapanan.

              Musik punk pun bisa dibilang adalah anak cucu dari rock n roll, seperti halnya rock n roll adalah anak sah dari blues. Bedanya adalah rock n roll lebih ke hedonisme, sementara punk lebih politikal. Berbeda dengan musik rock n roll atau heavy metal pada jamannya, yang harus memiliki skill mumpuni dan musikalitas yang jempolan, punk tak perlu itu. Kord dasar musik punk pun terkenal dengan sebutan three chords, 3 kord. Karena memang musik dasar yang kebanyakan dipakai Cuma 3 kord saja. The Ramones, Clash atau Sex Pistols adalah pelopor musik punk rock dengan 3 chords. Anda tidak percaya atau tidak terima musik punk dibilang tidak begitu membutuhkan skill? Coba anda bandingkan musik The Ramones dengan Led Zeppelin misalnya. Ada lagi… siapa pahlawan musik bagi kebanyakan anak punk? Pasti mereka menjawab Sid Vicious. Dia terkenal tidak bisa main musik sama sekali! Tapi itu tak jadi masalah, malah hal itu dianggap keren, karena attitudenya yang berani memberontak pada kemapanan lingkungan sekitar. Itulah musik punk, tak perlu solo gitar semewah Led Zeppelin, tak perlu suara sebening Sebastian Bach. Asal anda mencintai dan menjiwai punk, jadilah!

              Musik punk rock sendiri awalnya adalah imbas dari gerakan British Invasion yang dipelopori oleh The Beatles. Anak muda amerika pun keranjingan memainkan musik mereka sendiri. Dan mereka bermain musik ditempat yang ada, kebanyakan di Garasi. Lahirlah istilah: Garage Rock. Musik awal yang dimainkan pun tak senjelimet Led Zep atau Deep Purple. Musik mereka menitik beratkan pada musik yang simple tapi tetep ngerock, seperti Rolling Stones, Yardbirds atau The Who. Band yang dianggap beberapa pelopor musik ini seperti The Standells, The Seeds, The Music Machine, The Leaves, dll. Inilah awal dari musik punk rock.

              Di tahun 1970an, apa yang disebut pure punk semakin kentara. Protes sosial mereka semakin menjadi-jadi, dan kelakuan mereka pun semakin ugal-ugalan. Dari generasi awal punk murni ini ada 2 nama yang sangat legendaris di kalangan punk, MC5 dan Iggy and the Stooges. Pada 1975, punk semakin berkembang dan ada beberapa nama yang pada akhirnya menjadi legenda dan juga dihormati sebagai band punk pertama. Sebut saja The Blondie yang agak pop, The Talking Heads hingga The Ramones.

              The Ramones sendiri punya citra yang unik. Remaja dengan rambut gondrong dan berponi, bercelana belel dan memakai jaket kulit. Tanggal 4 Juni 1976, The Ramones mengadakan konser pertamanya di Inggris. Konser ini ternyata menjadi wahyu bagi para anak muda di Inggris. Diantara ratusan penonton, ada beberapa anak muda yang akhirnya juga menjadi pahlawan anak punk. Mereka membentuk band, ada The Clash, The Damned dan Sex Pistols.

              The Clash dan Sex Pistols memasukkan unsur baru dalam musik punk, protes social dan politik.

              Pada akhirnya punk merambah ke dunia lain. Dari awalnya sebagai counter culture, mereka menjelajah ke dunia social, politik.

              Di sini adalah sedikit penjabaran soal musik punk dan “keluarganya” . artikel ini saya dapat di internet, tapi maaf, saya lupa sumbernya dan nama penulisnya. Yang menulis artikel dibawah ini adalah seorang yang sudah berkecimpung selama puluhan tahun di dunia punk. Monggo dinikmati, dipelajari dan dihayati, betapa punk bukan hanya sebagai lifestyle.

               

              Punk Rock

              Berkembang di Inggris sekitar tahun 70-an.

              · Musik: warna rock n roll masih kuat, masih bermelodi.

              · Contoh: Sex Pistol, The Clash, Ramones.

              · Ciri khas: Jaket kulit, rambut jabrik/acak-acakan, dan sepatu boots.

              Street Punk

              · Musik mulai berdistorsi kasar dengan beat yang cepat.

              · Lirik vulgar dan penuh caci maki dan anarkis.

              · Contoh: Casualities, Circle Jerks, Eksploited.

              · Ciri khas: Jaket kulit plus aksesoris paku,celana jeans ketat, rambut jabrik, mohawk, boots doc mart/converse.

              · Bagian dari Street Punk : HardCore, HardSkin, Punk HardCore, Scoin Kore.

              SkinHead:

              SkinHeads Sejati (Sayap Kiri/Lefties)


              Menganut antifasis dan antirasis. Menyatakan perang dengan paham ultranasionalis sayap kanan dan sangat melindungi kaum minoritas termasuk kaum gay. Musik-musik minoritas kulit hitam seperti reggae, ska dan american soul dianggap sebagai keluarga besar mereka. Musik mereka banyak ragamnya karena banyak mencakup berbagai macam kelompok minoritas.

              · Contoh: The Bussiness, Sham 69, Angelic Upstrats.

              · Ciri: Tidak ada ciri khusus, namun kadang lewat sepatu boots dan bretel yang menunjukkan gol kelas menengah dan buruh.

               

              Nazi SkinHeads (Sayap Kanan/Ultranasionalis)

              Menganut paham rasis (benci kulit berwarna) dan antikaum minoritas adalah prinsipnya. Terkenal dengan istilah Boneheads. Berkembang pesat di Jerman dan negara Eropa daratan lainnya.

              · Contoh: Screwdriver, Brutal Attack, Blood and Honour.

              · Ciri khas: Kepala plontos (boneheads), kadang membaur dalam suporter sepak bola di Eropa (Giggs/Hooligans) untuk membuat kerusuhan.

              Bagian dari SkinHeads :

              · TUTONS

              · SKA

              · SKACORE

              Tutons

              Masih keluarga besar Skinheads sayap kiri. Mereka adalah rakyat kelas bawah yang melakukan protes dengan cara berpakaian seperti orang kaya. Tumbuh di Inggris dan Jamaika. Musik mereka musik kulit hitam kayak rock steady dan reggae. Ngetop lewat aliran ska.

              · Ciri khas: Stelan jas, bretel, topi baret, celana panjang cingkrang (Rude Boy Style)

              · Contoh: The Selector, The Specials, Jimmy Cliff

               

              ***

               

              13 Maret 2008. Malam itu gedung PKM sangat ramai dengan kumpulan para anak muda yang mendeklarasikan diri mereka sebagai anak punk. Entah mereka punk sejati yang benar-benar mengerti dan menghayati idealisme punk ataukah mereka hanya gerombolan anak baru gede yang berharap dianggap keren dengan berdandan ala punk dan berbaur bersama anak punk. Saya tidak tahu, dan saya tidak tertarik untuk mencari tahu. Yang penting adalah mereka disini sedang menikmati acara ini, sama seperti saya.

              Riot Company adalah band punk dari Jerman. Entah bagaimana caranya, mereka bisa mampir dan ikut meramaikan gigs ini. Mereka tampil total malam itu. Tapi sayangnya, saat saya mau mewawancara mereka, ternyata mereka tidak berkomunikasi dengan bahasa inggris. Mereka hanya bisa berbahasa Jerman, lain tidak. Jadilah saya gagal mewawancarai mereka. Tapi memang terkadang bahasa tubuh lebih ampuh dari bahasa mulut. Terbukti saat mereka selesai memainkan lagu dan mengacungkan jari tengah sambil tersenyum, semua crowd merespon dan berteriak… Uuuuoooohhhh!!!!!

               

              *
              *
              *
              *

               

               

              Inilah yang unik dari gigs punk atau gigs bawah tanah lainnya. Tidak ada yang namanya headliner atau artis utama. Kalau di pensi, sesuatu yang paling disuka, paling unik, pasti akan ditaruh di akhir acara (untuk menahan penonton agar tidak pulang). Dan biasanya nama headliner pasti akan dicetak paling besar dalam pamflet. Tapi tidak demikian yang terjadi pada gigs Bawah Tanah ini. Nama Riot Company dicetak sama besar dengan para pengisi acara ini, seperti Server Sick, Skeleton dan nama lainnya. Hanya ditambahi info (Jerman) dibelakang nama Riot Company, sebagai penanda bahwa band ini adalah band dari luar negeri. Dan hal ini terbukti mempan, dengan berduyunnya ratusan anak muda datang dan bermoshing ria saat Riot Company tampil. Uniknya lagi Riot Company tidak tampil terakhir. Setelah RC tampil, masih ada penampilan dari UKM Kesenian Pusat dan 3 band yang tampil setelahnya. Dan kerennya, para penonton tidak pulang, melainkan masih asik bermoshing ria sambil sesekali tertawa. Ada juga beberapa punkers yang melepas lelah sambil mengobrol. Malah saya sempat memotret pasangan muda yang sedang bermesraan dengan cara mereka sendiri, tak vulgar seperti pasangan muda biasanya. Mereka hanya duduk dan bergandengan tangan sambil sesekali bernyanyi bersama. Sungguh sebuah cinta sederhana yang tidak menuntut apa-apa. Klik! Saya pun menekan shutter dengan mantap…

               

               

              *
              TETEP RAME!!!
              *

              Dan cinta memang tidak kenal tempat dan waktu… brutally sweet love…

               

               

               

               

               

               

               

               

               

              Dan sekali lagi saya mendapat bukti bahwa punk memang timbul tenggelam, sama seperti rock n roll. Tapi punk tak pernah mati… saya percaya itu…

              Komentar (12) »