Being Dead is Ok, Being Forgotten is Bitch!!

 

        Tentu anda semua kenal Gesang,maestro keroncong legendaries yang menciptakan lagu Bengawan Solo dan Jembatan Merah yang popular tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.semula saya berpikir bahwa semua orang Indonesia pasti kenal,minimal tahu tentang sang maestro.tapi ternyata pikiran saya salah.

        Ceritanya,hari Minggu,17 Juni 2007 saya sedang bersantai dan melihat TV.kebetulan acaranya bagus, cerdas cermat antar SLTP tingkat nasional.acara yang disponsori oleh salah satu merk susu terkenal ini di pandu oleh raja kuis,Helmi Yahya.menurut saya soal dalam cerdas cermat ini sangat berbobot dan bervariasi,mulai Fisika hingga Bahasa Inggris.

        Tapi yang lucu sekaligus memprihatinkan,saat Helmi bertanya “ Siapakah pencipta lagu Bengawan Solo dan Jembatan Merah? “ tak ada satupun peserta yang bisa menjawab,yang ada hanya tatapan bingung para peserta yang menampakkan wajah tidak tahu seakan bertanya “ lagu apa itu?? “.bahkan ada peserta yang dengan konyolnya menjawab “ Ismail Marzuki !”

        Realita ini mungkin kelihatan sepele,tapi hal ini sebenarnya bisa diartikan semakin hilangnya budaya Indonesia dan para seniman Indonesia dari ingatan para anak muda Indonesia jaman sekarang.bagaimana mungkin seorang Gesang yang legendaries tidak dikenal oleh anak-anak SMP itu?mungkin di otak mereka,Samsons,Nidji,Kangen Band lebih menarik untuk di ingat daripada Gesang.saat itu pula saya langsung berpikir bahwa di otak anak jaman sekarang,tak ada maestro legendaries bernama Gesang

 

 

  Komposisi Bengawan Solo dalam versi bahasa asing
( entah mandarin ato jepang )

 

 

        Saya jadi ingat masa kecil saya,saat ayah tercinta saya memperdengarkan Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin,Little Wing-Nya Jimi Hendrix atau Smoke on The Water-nya Deep Purple,beliau tidak pernah lupa untuk memperdengarkan juga Gesang,Waljinah bahkan mengajak saya menonton Ketoprak atau Ludruk.bukan bermaksud apa-apa,beliau hanya tak ingin anaknya hanya tahu budaya barat,tapi beliau juga berharap anaknya mengetahui khazanah seni Indonesia.

        Saya jadi ingat perkataan Freddy Krueger dalam film Freddy VS Jason “ Mati memang tak enak,tapi di lupakan jauh lebih tak enak dan menyakitkan.” Andai saja Gesang menonton acara kuis tersebut,pastilah dia menangis tersedu sedan karena dilupakan oleh para anak muda sekarang.

        Jadi,taka apa apa kita mengagumi Nidji,SamSons atau Peter Pan asalkan jangan lupa untuk terus mengingat budaya kita sendiri.idolakan dan ingatlah para seniman tradisional kita seperti kita mengingat Jimi Hendrix,Kurt Cobain,Sid Vicious,Bob Marley,Freddie Mercury atau Matsumoto Hideto.

Salam!

 

1 Response so far »

  1. 1

    Hiandiono said,

    Kalau generasi muda kita ini sekarang tidak banyak mengenal tokoh-tokoh nasional, maka kita perlu berkaca pada diri sendiri. Sudahkah sebagai orangtua yang “lebih dahulu tahu” tentang segala hal – memberitahu kepada generasi penerus kita?
    Sebagai generasi muda, janganlah terus terlena oleh arus informasi global. Boleh saja menggemari artis kelas dunia manca negara, tetapi seniman lokal (yang sudah pasti jauh dari promosi dan hingar-bingar dunia showbiz) jangan sampai dilupakan. Nasib para seniman senior kita banyak yang tidak jelas. Kepedulian kita kepada mereka merupakan setitik embun bagi jiwa dahaga mereka.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: