Maling…!!!

Maling…!!!

Catatan Kecil di tengah kebosanan.

By : Nuran Wibisono

 

Maling adalah suatu kata yang berkonotasi negatif. Kalau kita mendengar kata maling tentu yang terbayang di benak kita adalah orang yang pekerjaannya mencuri. Dan entah sejak kapan mencuri itu dikategorikan sebagai suatu mata pencaharian, dan hal itu menyebabkan banyak orang jadi maling, entah itu maling beneran atau maling iseng.

 

Mari kita melihat contoh maling iseng. Maling dalam kategori ini biasanya mencuri hanya untuk iseng karena gak ada kerjaan, dan biasanya mencurinya gak sering-sering amat dan bernilai kecil alias tidak terlalu berharga. Dan biasanya maling iseng ini agak keder kalau disuruh mencuri barang-barang yang bernilai besar.

 

Maling iseng sangat gampang banget ditemui dimana-mana. Mungkin saya sendiri adalah contoh maling kecil. Sewaktu SMA, saya sering mencuri uang SPP. Sebenarnya bukan mencuri, karena pada akhirnya saya bayarkan lagi. Atau kasus lain adalah saya sering ngutil makanan kecil macem pisang goring atau snack di kantin sekolah waktu SMA, abis ngambil lalu tiba-tiba kabur. Dan hal ini tidak akan ketahuan, karena kantin sekolah ramainya minta ampun. Lain waktu, kalau lagi kumat gila, saya sering mencuri rokok milik guru saya yang bergeletakan di meja guru saat saya disuruh mengantar LKS, dan rokok itu saya berikan pada teman-teman, karena saya sendiri bukan perokok.

 

Tapi yang namanya maling iseng, alias maling amatir, tentu akan sedikit takut kalau disuruh mencuri barang yang bernilai besar. Contohnya adalah saya ( lagi ). Beberapa hari lalu, ada sebuah helm J-Force hitam yang masih mengkilap yang nangkring di atas sepeda motor. Suasana sepi. Sangat mendukung untuk aksi para maling helm. Teman saya langsung berbisik untuk mengambil helm itu. Tapi entah kenapa, hati terasa ndredeg. Saat itu juga dipikiran saya, kalau saya ketahuan, saya bakalan habis dipermak massa, karena hukuman para pencuri ayam jauh lebih berat dan sadis disbanding hukuman buat koruptor. Maka tak jadilah saya mencuri helm itu. Dan saya tetap berpredikat sebagai maling iseng.

 

Maling beneran. Nah ini yang berbahaya dan bikin suasana tidak kondusif ( ceile ). Maling ini menganggap kalau maling adalah suatu profesi yang bisa dijadikan sandaran hidup, karena itu mereke nge-maling. Maling ini – seperti laiknya pro dibidang lain – memiliki peralatan lengkap. Mulai linggis, sajam, otak cerdik sampe susuk anti kelihatan atau susuk kebal senjata dan mantra sirep yang bisa bikin calon korban jadi ketiduran. Maling di kelas ini memiliki sub kelas. Mulai kelas kroco seperti copet di bus kota sampai kelas kakap seperti perampok.

 

Saya sendiri pernah memiliki berbagai pengalaman dengan maling. Mulai maling kecil yang mencuri sandal eiger kesayangan saya ( padahal tuh sandal bututnya udah naudubille ) sampai mantan teman SMP yang tega mencuri hp saya.

Di jaman postmodern ini, dimana pakaian mewah dan mobil sudah menjadi kebutuhan primer, orang-orang makin banyak yang beralih profesi jadi maling. dan yang semakin gila adalah, barang yang diambil sudah beragam. Mulai perhiasan sampai bunga. Bunga? Bukan bunga tetangga sebelah atau Painem si bunga desa. Tapi bunga beneran. Bunga jenis adenium yang harganya hamper sama dengan gaji PNS di negeri ini. Dan hal ini kebetulan lagi menimpa diri saya.

 

Ceritanya, kemarin sore ada 2 orang anak muda yang mampir kerumah saya. Pakaian yang gaul abis, dan telinga bertindik adalah gambaran yang tepat buat mereka. Ngapain mereka ke rumah saya? Ternyata mereka menawar bunga adenium pemberian tetangga yang ditanam di pot depan rumahku. Sang bunda yang sudah merawat semenjak bunga masih berdaun 1 sampai sekarang berdaun banyak tentu sayang untuk melepas bunga itu. 2 remaja gaul itu tetap memaksa dan memberikan penawaran yang menggiurkan. Tapi tetap sang bunda menolak dengan halus.

 

Nah, paginya, pas waktu sahur, si bunda seperti biasa membuka pintu sejenak untuk ventilasi. Begitu kagetnya sang bunda mendapati bunga kesayangannya yang raib entah kemana. Sang bunda berpendapat kalau bunga itu dicuri. Dan barang bukti yang mendukung itu adalah ceceran tanah yang membentuk jejak hingga sampai ke pagar. Dan memang pagar saya tidak susah untuk dipanjat, bahkan oleh seorang anak kecil pun. Jadilah sang bunda lemas. Jadi ini salah siapa? Salah sang bunda kah yang dengan polosnya menaruh bunga berharga di depan rumah? Atau salah sang maling yang mengambil bunga secara paksa? ( ya iyalah, namanya maling mesti mengambil secara paksa, kalau mereka minta, namanya bukan maling! )

 

Lupakan kejadian bunga konyol yang harganya 5X lipat dari uang saku bulanan saya. Lupakan juga maling kroco macem pencopet atau penilep uang SPP dan penilep rokok guru. Lupakan juga maling kakap sejenis rampok. Karena itu bisa diminimalisir dengan ronda rutin atau tenaga polisi. Yang lebih berbahaya adalah maling kelas paus. Kalian bisa menebak siapa mereka? Kalau kalian menjawab koruptor, maka kalian benar dan berhak mendapat hadiah kencan semalam dengan saya,hahaha.

 

Maling bangsat yang memakai jas dan memiliki gelar seabrek di depan atau di belakang namanya ini begitu sulit dilibas. Korupsi sudah menjadi budaya euy! Nah yang bikin repot adalah, khayalak umum tahu kalau korupsi semakin besar nilainya, semakin sulit pula buat diadili. Jadi para koruptor berpikir, nanggung kalau korupsi nilainya jutaan, sekalian puluhan milyar saja. Dihukum pun paling cuman 2-3 tahun saja. Lepas dari penjara, tinggal menikmati hasil korupsinya.

 

Ah, kok jadi malah bahas korupsi? Bikin botak kepala dan bikin marah saja. Jadi apa kesimpulan dari corat-coret ini? Waspadalah! Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat jahat sang pelaku, tapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah waspadalah!! Alahhh!!

 

 

 

 

 

Corat-coret iseng di rumah kedua,Sekret Tegalboto

 

Jember, 19 September 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: