PKL Sastra Inggris UNEJ Angkatan 2005

PKL Bali 2007….

Sebuah Catatan Kecil dari sebuah perjalanan

By : Nuran Wibizono

Layaknya anak kuliahan lain yang selalu mempunyai agenda PKL di akhir semester ( biasanya semester 4 ), anak Sastra Inggris tak mau kalah. Kita juga ngadain PKL, tujuannya mana lagi kalau bukan di Paradise Island, Bali. Kenapa mesti Bali? Karena para orang jaman dahulu berpendapat kalau Bali itu tempat berkumpulnya turis dari seluruh dunia, karena itu kita bisa mempraktekkan bahasa inggris kita, antara lain ya dengan cara conversation dengan para bule-bule itu. Kenapa kita harus susah-susah mempraktekkan bahasa inggris kita? Ya karena kita anak sastra inggris!

 

Dan seperti kisah perjalanan lain yang ada di banyak buku maupun film, perjalanan ini begitu banyak memiliki kisah unik dan menyenangkan yang gak akan terlupa hingga kita berada di liang kubur ( duile! ). Seperti apa kisahnya? Check this one out!

 

Awal penentuan jadi tidaknya PKL banyak mengundang kontroversi. Banyak menghabiskan tenaga dan waktu. Ada 2 pihak yang berada di balik PKL ini. Ada pihak yang pro dan kontra. Yang pro karena mereka menganggap PKL ini penting buat masa depan kita (?). dan yang kontra karena mempertimbangkan biaya dan status PKL ini. Memang PKL di fakultas Sastra masih mengambang statusnya, antara wajib dan tidak. Dan mereka berpikir, kalo PKL itu tidak wajib, kenapa harus ikut, mending duitnya buat biaya hidup.

 

Setelah perdebatan yang panjang dan berdarah-darah, akhirnya ditentukan PKL itu wajib bagi angkatan 2005, entah gimana dengan angkatan 2006 dan seterusnya. Proses perdebatan ini tidak perlu dijelaskan karena hanya akan menghabiskan waktu anda dan membikin capek saya karena harus menulis kisah perdebatan itu.

 

Akhir kata, jadilah kita berangkat PKL. Hari dan tanggal yang ditentukan adalah tanggal 9 Juli 2007. Aku, Budi, Togog, Taufik, Dipta, Robith, Alvin, Agus, Kiki, Chen, Emil adalah beberapa nama yang berangkat dengan status exhausted. Kenapa? Karena sejak tanggal 1-8 Juli kita menjadi panitia Sastra Basketball Championship.1 minggu aku, Budi, Togog, Taufik dan Dipta menginap di Lapangan Basket PKM, sampe aku lupa gimana empuknya kasur. Aku, Budi, Alvin adalah 3 nama yang menginap di lapangan basket di malam sebelum keberangkatan. Jadilah kita semua kecapekan, dan berangkat dengan wajah yang begitu merindukan keempukan kasur dan hangatnya bantal dan guling.

 

Tanggal 9 malam, para anak-anak Sastra Inggris berkumpul di Kampus tercinta. Kita setuju menggunakan Buana Kharisma Travel karena pertimbangan harga yang paling ekonomis. Untuk pemberitahuan, setiap anak mendapat subsidi sebesar Rp.100.000 dari fakultas. Tapi entah kenapa yang diberikan pada mahasiswa Cuma sebesar Rp. 85.000 aja. Apakah ada pungli? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

 

Berangkatlah kita menuju pulau Bali tercinta. Gerombolan si berat yang udah di sebutkan diatas masuk ke Bis 2. Sekedar pemberitahuan bis 2 adalah bis kaum minoritas. Karena para dosen dan guide berada di bis 1. Hanya beberapa anak yang berada di bis 2.Aku pun bisa bernafas lega, karena bakalan bisa tidur tenang selama perjalanan. Tapi begitu tahu aku dan para gerombolanKu berada di Bis 2, entah kenapa banyak temen-temen lain minta pindah ke bis 2. saat ditanya alasannya, mereka menjawab “ karena ntar bisa guyon ama kalian “. Oh my god! Aku mau tidur tenang!!!!!!

 

Singkat cerita, kita pun sampai di Bali pada pagi hari, 10 Juli 2007 setelah menyebrang dengan selamat meskipun ombak lagi gede-gedenya.

 

Tujuan pertama adalah sholat subuh di masjid Al- Ikhsani Sanur sambil menikmati sunrise di pantai. Setelah menikmati sunrise, kita langsung meluncur ke Mahajaya Tower hotel untuk check in. di hotel yang ada kolam renangnya itu, para temen-temen yang gak pernah lihat kolam renang, langsung aja nyebur. Sedang aku? Kalian bisa menebak, lanjutin tidur!!!

 

Setelah tidur yang cukup nyenyak, kita berangkat menuju tujuan berikutnya, Disparda Bali. Ngapain disana? Yang jelas untuk belajar sedikit tentang manajemen pariwisata Bali. Kalo sampe sana ketemu cewek cantik lalu dilanjutin dengan kencan, ya anggap aja sebagai bonus, hehehe. Ternyata eh ternyata, karena salah paham — pihak Disparda mengira pertemuan diadakan tanggal 11 jam 10 sedang pihak travel bilang tanggal 10 jam 11 — akhirnya pertemuan ditunda besok

 

Tujuan setelah Disparda adalah Desa Adat di Tampak Siring. Apa yang bisa diceritakan? Ummm.. hanya kagum melihat masih ada desa adat dan penduduknya yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran di antara gempuran invasi barat melalui free sex, minuman keras dan budaya barat lain yang begitu akrab dengan Bali modern. Arsitektur rumahnya juga keren, masih tradisional banget, jadi keinget ama perkampungan jepang di film The Last Samurai.

 

 

 

sumber : www.geocities.com, www.eljohn.net

Seusai dari desa adat, kita makan siang. Setelah itu kita meluncur ke tempat yang begitu dianggap eksotis oleh para bule, tempat yang begitu ingin dituju oleh para mahasiswa Sastra Inggris yang ikut PKL. Kalian bisa menebak tempat apa itu? Kalau kalian menjawab Pantai Kuta, maka kalian benar, dan kalian mendapat hadiah, kencan 1 malam dengan aku,huehehehe….

 

Kuta masih menyimpan beribu pesona. Entah itu ombak yang begitu disayang oleh para surfer. Entah itu gerombolan cewek cantik berbikini. Entah itu deretan toko mahal yang berjejer di sepanjang Kuta dan Legian. Atau para pembikin tato dan penjaja kesenian khas Bali yang selalu ramah terhadap siapapun. Dan hal-hal itu dengan suksesnya membikin Kuta tetap menjadi “ the most wanted place “ di Bali.

n.b : anjrit, sunset di Kuta emang gak ada matinya!

 

Setelah puas minum bir dan melihat cewek berbikini, kita menuju sentral park Kuta untuk makan malam. Selepas makan malam, bandKu, Sex In The Car sempet mainin 2 lagu untuk para pengunjung. Waiting-nya The Adams special untuk Dipta dengan kisah cintanya yang tragis, dan Can’t take my eyes of you-nya Andy Williams yang kita aransemen ulang. Lagu terakhir itu banyak di applaus oleh gerombolan bapak-ibu setengah baya yang juga berlibur di Bali, yang kebetulan lagi nonton kita main ( mungkin keinget ama masa mudanya kali ya,hehehe…).

 

Puas main di Central park, kita meluncur pulang ke hotel. Sebenernya kita disuruh istirahat karena besok masih banyak kegiatan. Tapi karena jiwa muda memberontak dan menyuruh kita untuk menikmati Bali di malam hari daripada tidur di kamar, akhirnya aku, Budi, Togog dan Alvin keluar untuk menikmati Bali di malam hari. Kita akhirnya meluncur ke Kuta, tempat yang tak pernah tidur, yang begitu terkenal sampai dibuatkan lagu oleh Superman Is Dead dengan Kuta Rock City yang sangat nge-hype banget itu.

Setelah sempat antri begitu lama hanya untuk mendapatkan Gourmet Wrap dan Big Mac yang begitu terkenal, disuka sekaligus dibenci dan dihujat oleh para aktivis anti kapitalisme, kita pun meluncur ke monument bom bali I.

 

Untuk menuju ke monument bom Bali I aku memilih untuk melewati sebuah gang kecil berplang Poppies Lane II. Sebuah gang kecil dan unik yang juga sangat legendaries. Dan menjadi inspirasi bagi Slank untuk menciptakan lagu berjudul Poppies Lane Memories. Dan Poppies memang begitu bisa menciptakan banyak kenangan. Sebuah gang kecil yang berisi para penjual baju aspal ( asli atau palsu? ) bermerk terkenal macem Atticus atau Electro Hell yang kalau kalian lihat di Distro kalian bisa terbelalak karena harganya mencapai ratusan ribu, tapi di Poppies kalian bisa mendapatkannya dengan harga hanya 30-50 ribu saja. Sebuah gang kecil dengan berderet pub yang dipenuhi para bule yang mencumbui gelas dan botol birnya sambil menyaksikan live musik. Gang sempit yang kerap kali kita bisa menemukan para bule memaki karena macet yang disebabkan jalan yang sempit. Gang legendaries dimana para pelacur jalanan berkulit coklat terbakar matahari berdiri di sudut-sudut gang sambil merokok mencari teman untuk tidur sekaligus mencari uang untuk dibelikan sepotong rok mini bermerk terkenal. Gang unik dimana para musisi bali mulai The Hydrant, Suicidal Sinatra hingga Superman Is Dead berkumpul, minum sebotol vodka dan menciptakan lagu. Tempat demana ada beberapa penginapan bertarif murah diantara banyak hotel bertarif jutaan,. Begitu banyak hal yang bisa kita lihat di Poppies Lane, sebuah gang kecil yang sarat akan kehidupan……

 

With a bottle of beer infront of Hard Rock Cafe

Setelah sempat memanjakan mata dengan melihat cewek cantik dengan baju yang seperti kekurangan bahan, akhirnya kita meluncur pulang. Saat itu jam menunjukkan jam 01.15 wita. Setelah sempat menelpon seorang teman di Bandung, aku segera terlelap. Tak lama, karena seorang teman membangunkan aku, dan menyuruh aku mandi karena kita akan segera check out dan melanjutkan perjalanan.

 

Tujuan setelah check out adalah Galeri Galuh, sebuah galeri berisi produk seni dan cindera mata khas bali. Dan aku serta teman-temanku gak beli apa-apa. Alasannya tentu saja karena harga barang disana yang lebih cocok buat bule. Akhirnya kami hanya bisa foto-foto dan sedikit mengacau, yang pada akhirnya berhenti karena adanya tatapan sinis dan marah para mbak-mbak penjaga stan disana,hehehe. Setelah dari galeri galuh akhirnya ktia meluncur ke Disparda. Aku serta teman-temanku bertanya-tanya, bahkan sampai sekarang, apa yang kami dapat dari kunjungan kesana? Kalau digambarkan dengan kata-kata, yang paling pas adalah “ 3 jam paling lama dan membosankan dalam hidupku!! “ bagaimana tidak, kita hanya disuruh mendengarkan sang kepala dinas ngoceh gak karuan, dan membosankan! Saking membosankannya, Dosen pendamping kita, Pak Samsul Anam sampe ketiduran, padahal beliau duduk di sebelah sang kepala dinas!

n.b : pas mengacau di Galeri Galuh, buat mbak2 penjaga, muup!

Setelah 3 jam yang melelahkan dan membosankan, kita akhirnya pergi dari sana ( hore! ). Tujuan berikut adalah sebuah tempat yang menjual makanan khas Bali. Mulai kacang Bali hingga tuak Bali. Tapi sekedar pemberitahuan, tuak yang dijual disini gak asli dan gak “ keras “ seperti tuak aslinya, karena ada beberapa campuran. Dan seperti biasa, kalau kalian menanyakan padaku apa yang aku beli, jawabannya tentu, gak ada! Karena harga disini cukup mahal, lagipula aku tahu kalau harga di Pasar Sukowati jauh lebih murah. Jadi biar saja teman-teman cewekku pada kalap memborong oleh-oleh disana.

 

Kalian yang gila belanja pasti akan bertanya-tanya, apa gak ke Sukowati? Tenang aja, kita sekarang menuju kesana kok. Orang-orang gila belanja sih bilang belum ke Bali kalau gak ke Sukowati. Tapi apa bener begitu? Kalau kalian Tanya ke aku, jawabanku : ya gak lah!! Karena apa? Tentu saja karena aku bukan orang yang gila belanja!

 

Tapi beneran, harga barang di Pasar seni ini jauuuuhhhh lebih murah dibanding kalau kalian membeli barang di galeri seni lain. Disini kalian bisa mendapat selembar kain tenun Bali seharga 50 ribu saja. Bandingin dengan harga di Galeri Seni di Legian, harganya bisa sampai 900 ribu! Kalian juga bisa membeli Bed Cover berbagai motif dengan harga 55 ribu. Kalau kalian beli di tempat lain harga bisa membengkak jadi ratusan ribu rupiah. Dan para anak-anak gila belanja yang tadi sudah memborong oleh-oleh khas bali, kembali memborong barang lagi. Mulai kaus sampai replika pedang samurai ( buat apaan?! ). Aku jadi sampai bertanya-tanya, mereka ini bawa duit berapa? aku disini sempet membeli 2 botol arak asli Bali yang bener-bener “ keras “ titipan seorang teman yang lagi pengen mabuk berat. Tapi tahu gak, penjualan arak Bali sekarang illegal. Arak bali sudah dilarang dijual bebas. Aku saja mencari 2 botol arak saja susahnya minta ampun. Hal ini sebenernya ironis, dimana minuman keras yang juga berkadar alkohol tinggi bermerk impor macem Jack Daniels, Bacardi hingga Jim Beam begitu mudah kita dapatkan.

 

Setelah memborong oleh-oleh di Pasar Sukowati, tujuan terakhir kita adalah Tanah Lot. Tempat dimana religiusitas, sakralitas dan modernitas melebur jadi satu. Tempat dimana kita bisa menonton upacara adat sekaligus bokong indah wanita tanpa celana dalam berbarengan sekaligus. Satu hal yang patut dicatat adalah sunset di pantai ini sangat buaaaaggguuuuussss banget nget! Gak kalah ama sunset di Pantai Kuta. Dan keindahan itu ditambah lagi dengan ( kebetulan ) ada upacara adat gede-gedean di Tanah Lot, dimana para umat hindu bersembahyang dengan khusyuk sementara para gadis tanpa celana dalam menonton. Nnah, mungkin karena kebetulan pas ada acara adat, tanah lot jadi ruuuaaammmeeee banget, crowdnya beda jauh ama hari-hari biasa bahkan hari libur Dan jangan lupa, buat yang mau belanja oleh-oleh murah, ada 1 oleh-oleh unik yang murah tapi gak murahan, gantungan kunci yang ada gambar ama tulisannya, cuma 2000 perak doank…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

n.b : ini di Tanah Lot dengan sunset yang menajkubkan, jangan lupa beli suvenir

 

 

 

 

 

Setelah Tanah Lot, kita sempat mampir di Pantai Soka untuk makan malam. Si Ndok sang vokalis bandKu sempet nyanyi 1 lagu diiringi alunan elekton. Seusai makan malam, selesailah gelaran PKL 2005 ini. Dan kita langsung pulang menuju Jember, kota kecil tercinta yang begitu kesepian setelah ditinggal puluhan mahasiswanya yang pergi PKL.

Apa yang begitu menyenangkan dan mengesankan? Bukan sekarung oleh-oleh atau cewek tanpa celana dalam yang begitu berkesan. Kumpul dengan teman-teman dan gila-gilaan bareng. Menonton sunset, lalu mengacau di Galeri Galuh lebih berkesan daripada itu semua. Yang jelas, kebersamaan seperti di PKL kemarin begitu berarti dan tak akan pernah terlupakan…….

N.B : buat temen-temen lain yang gak bisa ikut gila-gilaan di kuta pada malam hari gara-gara keterbatasan kendaraan, maaf ya… lain kali aku ganti gila-gilaanya… rock on!

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    WaAaAh asik bgt! sastRa ind0 sucks Masa pkL ke bwi?

  2. 2

    Agus Purwanto said,

    Mantab^_^


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: