Soundrenaline 2007 : Garuda Wisnu Kencana, Bali….

Soundrenaline 2007 : Garuda Wisnu Kencana, Bali….

A Journey into Sounds of Change

By : Nuran Wibizono

 

 

Saat sedang menghabiskan liburan di Bandung, seorang teman menelpon saya. Intinya mengajak untuk menonton Soundrenaline di Bali. Jujur, saya sempat mengalami salah satu dilemma terbesar dalam hidup saya (cie, segitunya!). Di satu sisi, ajakan sang tante tercinta untuk berlibur ke Natuna begitu menggiurkan dan jarang ada. Tapi di satu sisi lain, Soundrenaline adalah pagelaran musik akbar yang hanya terjadi 1 tahun sekali.

 

Setelah menimbang dan memutuskan ( alah! ), akhirnya aku jadi milih untuk pergi ke Bali. Dan mulailah aku menghubungi teman-teman yang mau ikut kesana… dan petualangan untuk menonton salah satu konser musik terbesar di Indonesia dimulai!

 

Setelah pulang dari Bandung, saya langsung packing. Memasukkan segala sesuatu ke dalam tas Basic Rescue Trainingku. Setelah proses koleksi, jadilah si Togog dan si Koko yang bakalan ikut menuju Bali. Tak lupa sang kakak tercinta juga ikutan.

 

Tanggal 10 Agustus 1007, setelah sholat subuh, meluncurlah aku dan gerombolan si berat itu. Mengendarai 2 sepeda motor, aku dan teman-temanku begitu menikmati tamparan sang angin yang terasa begitu menyegarkan. Sempat mampir ke salah seorang saudara di Banyuwangi, akhirnya jam 12 wita atau jam 11 wib kita berhasil sampai di Bali dengan selamat. Gapura dengan ukiran khas Bali seakan mengucapkan selamat datang pada kita. 4 jam perjalanan dari Gilimanuk menuju Denpasar tidak begitu terasa karena pemandangan yang begitu indah. Yang terasa hanyalah panas di pantat yang begitu menyiksa.

 

Singkat kata, setelah sempat dibumbui “ hilangnya “ Koko dan Zaki – kakakku – , kita sampai di daerah Sesetan, tempat salah seorang kerabatku tinggal. Tempat inilah yang selalu menjadi jujugan kalau aku lagi berlibur ke Bali. Tempatnya yang cukup strategis ( hanya 15 menit menuju Kuta ) dan jaminan makan cukup (dan tentunya gratis) membuat aku lebih memilih tinggal disana daripada tinggal di hotel.

 

4 jam berikutnya kita habiskan dengan tidur. Maklum, sedikit capek mengendarai sepeda motor. Akhirnya, jam 8 wita, – si Budi, teman yang menelpon dan mengajak saya untuk menonton Soundrenaline – datang ke rumah saudaraku. Akhirnya kita pun keluar bareng. Kemana tujuan kita? Kalau malam hari, tiada tempat dan kegiatan yang lebih enak daripada sekedar minum bir di kawasan Kuta.

 

Setelah sempat jalan-jalan dan mengunjungi berbagai tempat – termasuk kafe Bubba Gump Shrimp, yang terinspirasi oleh film Forrest Gump yang terkenal itu. Interiornya begitu keren dan Forrest Gump abis, termasuk kursi dan koper yang ada di depan kafe, yang mengingatkan kita pada adegan awal Forrest Gump. Tak lupa juga sepatu Nike kebanggaan Forrest – . setelah lelah berjalan, kita berhenti dan dinner di salah satu gerai pizza terkenal. Alasan kita memilih makan disana, karena kalau dihitung-hitung ternyata lebih murah makan disana daripada di tempat makan lain.

 

 

 

 

 

 

Setelah cukup kenyang makan di gerai pizza itu, kita menuju kawasan yang mengingatkan kita akan tragedy bom Bali. Yap, kita menuju ke monument bom Bali I. Untuk menuju ke monument bom Bali I ada banyak jalan, tapi sekali lagi aku lebih memilih untuk melewati sebuah gang kecil berplang Poppies Lane II (baca juga artikel PKL Bali). Dan seperti biasa, gak ada hal special yang aku lakuin kecuali hanya duduk-duduk, ber-Heineken ria sambil melihat para wanita malam yang sedang mencari teman tidur.

***

Keesokan harinya, tujuan kita tetap pantai Kuta. Karena apa? Karena aku sudah hafal, bulan Agustus dan September adalah saat dimana sinar matahari begitu terik. Dan itu saatnya para bule wanita tanpa malu-malu melepas pakaiannya dan berjemur terlentang. Tapi buang segera pikiran kotormu dan lupakan hal yang menyenangkan itu. Tujuan kita yang sebenernya adalah untuk mencari tiket Soundrenaline. Ternyata setelah berkeliling di sekitar kawasan Kuta kita tetap tak mendapatkan apa-apa selain menemukan beberapa cewek bule telanjang.

 

Akhirnya kita pegi ke kantor utama P.T Sampoerna, penyelenggara acara ini. Sampai disana kita malah disuruh untuk langsung pergi ke G.W.K karena disana dijual tiketnya. Akhirnya kita pergi ke G.W.K. setelah membeli tiket seharga 25 ribu itu, kita mencoba untuk masuk ke dalam venue tempat diadakannya acara itu. Dan kami serasa mendapat bonus tatkala kami mendapati band indie Bali, The Hydrant sedang rehearsal untuk tampil keesokan harinya.

 

 

 

 

 

 

***

Besoknya, jam 09 wita kami pun berangkat menuju G.W.K. sempet terjadi perdebatan antara aku dan Koko mengenai helm yang kami pakai. Aku disuruh memakai helm bagus nan mahal milik Koko, karena dia sendiri merasa risih memakai helm itu ( trus ngapain dibawa dogol?! ). Karena tak ingin membuang waktu, aku mengalah dan memakai helm mahal itu.

 

45 menit perjalanan kami lalui. Dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami sebenarnya, G.W.K! setelah memarkir sepeda, kami pun masuk ke dalam venue yang luas. Setelah menyerahkan tiket, dan leher kami di tato ( temporary! ), kami diberi buku panduan, stiker dan beberapa fasilitas lain.

 

Di dalam venue, terdapat 3 buah panggung. Panggung yang paling besar adalah A Mild Stage, tempat para band utama manggung. Lalu ada Simpati Stage yang akan diramaikan oleh artis-artis mediocre. Dan terakhir ada Talent Stage. Dipanggung ini bakalan ada band-band yang dianggap underdog dan berbakat. Sebelum acara di mulai, kita sempet berjalan-jalan dan mencoba berbagai game seru, macam Euro Bungy, Giant Obstacels sampai Billiard. Dan serunya, game-game itu semua gratis dan kita bisa mendapatkan kaos kalau kita berhasil menang. Dan aku berhasil mendapat kaos setelah menang di game Giant Obstacle.

 

 

 

 

 

Aku mengedarkan pandanganku lagi. Ada beberapa stan yang menarik. Mulai Fundrenaline – tempat penjualan official merchandise Soundrenaline – lalu ada berbagai booth tempat berjualan 5 pemenang dari best entrepreneur proposal non food yang menjual berbagai jualan unik, mulai tato sampe sablon kaos dengan wajah kamu sendiri, sampai Food Stal yang tentunya menjual berbagai jenis makanan dan minuman.

 

Seusai bermain game dan berjalan-jalan, kami kembali lagi ke lapangan utama. Saat lagi asyik-asyik membaca buku panduan, ada suara ramai terdengar dari A Mild Stage. Ternyata Tora Sudiro, Aming dan seorang gadis cantik muncul di sana. Mereka ternyata kebagian job jadi MC. Setelah mereka sedikit melawak, muncullah suara gebukan drum. Dan teriakan histeris muncul. Ternyata yang muncul adalah The Massive, juara 1 parade band A Mild, dan juga sekaligus band yang menciptakan lagu Sounds Of Change – lagu yang menjadi theme song sekaligus tema Soundrenaline kali ini – band ini beraliran british ditambah dengan formula tampan dan rapi. Hampir sama lah dengan Nidji.

 

Lalu setelah The Massive, bergantian muncul di Simpati Stage dan Talent Stage band-band yang cukup dinanti oleh fans masing-masing. Muncullah Target Operasi, Lolot, Suicidal Sinatra sampai Flip, band campuran bule dan orang Indonesia yang memiliki vokalis cuantik! Sedikit pemberitahuan, asyiknya menonton band-band baru ini adalah mereka tidak segan-segan memberi berbagai merchandise, mulai pick gitar, cd, kaset hingga kaos. Dan aku adalah salah satu dari ratusan penonton yang berebut merchandise itu. Dan aku berhasil mendapat berbagai barang, mulai pick gitar sampe pin. Lumayan, gratisan,hehehe….

 

Flip, band yang vokalisnya imut…

***

Tapi band indie yang paling dinanti adalah band lokal Bali yang membawakan aliran Rockabilly, aliran yang dipopulerkan oleh Elvis Presley. Band ini muncul dengan gaya yang Elvis abis! Mulai gaya berpakaian, rambut hingga sisir yang selalu diselipkan di saku belakang celana ketat mereka. Band ini menjadi popular sejak membawakan lagu “ Sisir Opa “. Kalian sudah tahu siapa mereka? Sambutlah THE HYDRANT!!!

 

Tampil di Simpati Stage, band ini benar-benar membawa sounds of change bagi dunia musik Indonesia. Saat musik indo sekarang dijejali oleh band-band pop cengeng berpakaian rapi, band ini dengan cueknya memainkan rockabilly – yang notabene bukan jenis musik yang marketable di Indonesia – dengan dandanan yang bisa dibilang cuek. Dan segera saja band ini menjadi idola baru, khususnya di Bali. Siang itu, mereka benar-benar membakar Bali. Band yang beranggotakan Marcello ( vocal ), Wis ( Gitar ), Morriz ( Drum ) dan Zio ( Bass ) membawakan lagu-lagu mereka yang udah dikenal publik Bali, mulai Jalan-jalan, Pantai Surga sampai Sisir Opa. Dan para penonton pun berjoget ala Elvis sambil menyanyi bareng, keren sekaligus bikin merinding!

 

 

 

 

 

 

***

Waktu tanpa terasa berputar begitu cepat. Begitu banyak band-band keren yang bergantian muncul. Mulai Superman Is Dead, Tipe-X hingga Netral. Khusus Netral, aku nyesel gak bisa nonton karena lagi ikutan klinik musik yang diasuh ama Seurieus. Band Glam Rock ini memberi klinik musik mulai gitar hingga vocal. Tak lupa mereka juga sempat nge-jam di tenda yang sempit itu, yang tentu saja membuat suasana yang udah panas menjadi tambah “ panas “.

 

 

 

 

 

 

 

 

Seusai Maghrib, bukannya tambah sepi, suasana tambah menjadi ramai. Aku sendiri sempat tak sadar, tahu-tahu aku sudah sulit bergerak karena terhimpit oleh crowd. Band yang aku tunggu-tunggu semenjak awal adalah God Bless. Band rock legendaries ini adalah salah satu band idolaku. Setelah sempat break, muncullah band yang aku tunggu itu. Mereka membuktikan kalau umur tak berpengaruh pada penampilan musisi rock ini. Ahmad Albar begitu prima menyanyikan nada-nada tinggi pada lagu Semut Hitam, Ian Antono masih mahir menarikan jemarinya untuk memainkan melodi pada lagu Musisi, Jockie Suryoprayogo masih mahir berkata-kata dengan tuts keyboardnya. Yang lebih gila lagi pas Bang Jockie memainkan solo keyboardnya yang di-mix ama bebunyian tradisional Bali, keren!!! Gak kalah ama Don Airey deh! The point is, they rock!!!

 

Seusai God Bless, otomatis penampilan band-band lain udah gak begitu antusias aku ikuti. Alasannya bisa jadi karena tenaga udah habis dan ruamenya penonton yang bikin aku gak bisa bergerak kemana-mana. Tapi energi sempet muncul sedikit pas Pas Band muncul. Memainkan sejumlah hitsnya macem Impresi, Kesepian Kita sampai Yesterday-nya The Beatles, band ini bener-bener membawa energi baru.

 

***

 

Kalian tahu Woodstock? FYI, Woodstock ini adalah pagelaran musik paling akbar di seluruh dunia! Ratusan ribu orang dipastikan menonton pagelaran musik ini. Salah satu pagelaran Woodstock yang paling terkenal adalah pada tahun 1969. dimana Flower Generation sedang berkembang menjadi trend, dan yang paling fenomenal tentu adalah tampilnya Jimi Hendrix, Janis Joplin dan beberapa legenda musik rock. Mungkin fakta-fakta diatas sudah kalian ketahui. Tapi tahukah kalian kalau ada sebuah group dari Indonesia muncul juga pada tahun itu? Ya benar! Ada sebuah group musik Indonesia yang berhasil main di Woodstock!!! Group itu bernama Tropical Transit. Kalian tentu bertanya-tanya musik seperti apa yang dibawakan group itu hingga bisa main di Woodstock.

 

Kalau kalian jawab dangdut, maka kalian lebih baik mati. Kalau kalian menjawab pop cengeng seperti Kangen Band, maka lebih baik kalian aku kutuk jadi kodok. Kalau kalian menjawab rock, salah! Karena di amerika ada ribuan band rock yang lebih hebat. Mereka ternyata memainkan musik tradisional Bali! Musik itu lalu di mix dengan musik padang pasir ( bukan hadrah atau gambus lho! ) dan musik latin yang eksotis. Group yang memiliki personel belasan orang ini memang benar-benar memukau. Musik tradisional Bali yang indah, ditambah dengan musik padang pasir lengkap dengan pujian terhadap tuhan masih ditambah dengan eksotisme musik latin. Can u imagine?? Dan yang lebih bikin shock lagi, ternyata gak cukup main di panggung yang sama dengan Jimi Hendrix, mereka main lagi di Woodstock pada tahun 1999. Anjink! Group Indonesia mana yang bisa seperti itu? Dan hal itu menjadi sebuah ironi, dimana sekarang para anak muda Indonesia ( termasuk saya dan mungkin juga kalian! ) melupakan musik tradisional mereka. Mereka lebih mencintai musik-musik modern ( baca : barat! ). Sedangkan musik tradisional Indonesia sendiri ternyata menyimpan jutaan eksotisme yang begitu dicintai oleh dunia.

 

***

 

Penampilan lain yang cukup menghebohkan adalah penampilan dari band dari Kanada, Crowned King. Apa yang bikin heboh? Selain ucapan “ I love this fucking amazing country “ Mereka juga memainkan medley Ku Tak Bisa-nya Slank. Yang bikin tambah heboh adalah munculnya Bunda Iffet, Shanti dan J.P Ivan, mantan gitaris Boomerang yang sekarang memperkuat U9, lengkap dengan gitar Gibson Les Paul andalannya.

 

Band terakhir yang muncul adalah Gigi. Dan band ini pantas menjadi band penutup. Mereka bener-bener bisa dan tahu cara bagaimana menghanyutkan penonton. Dan aku termasuk satu diantara ribuan orang yang berloncat-loncat dan menjadi koor bagi Gigi. Tapi sayang, karena harus mematuhi izin batas waktu penggunaan G.W.K, Gigi terpaksa memotong 4 lagu yang seharusnya dimainkan. Shit! Dan lagu terakhir mereka adalah Nakal, lagu yang beberapa waktu lalu ngehype banget.

 

Seusai Gigi main kita langsung menuju tempat parkir dan pingin langsung pulang. Tapi olala, helm mahal si Koko hilang! Tali helmnya diputus orang. Jadilah si Koko lemas. Sebenarnya aku juga merasa bersalah karena aku yang “ disuruh “ memakai helm itu. Tapi karena Koko tenang-tenang aja, aku pun jadi sedikit lebih tenang.

 

Sampai rumah, gak ada yang bisa aku lakuin kecuali merebahkan diri di kasur dan menutup mata. Gak ada lagi tenaga yang tersisa bahkan untuk sekedar mengganti baju dan celana yang sedari tadi pagi sudah basah oleh keringat dan kotor oleh debu. Ditengah kelelahan yang teramat sangat, muncullah berita duka yang memaksa aku untuk harus pulang keesokan harinya. Nenek si Koko meninggal dunia………….. karena itu besok kita harus pulang.

 

Besoknya, Setelah pamit pada saudaraku, kita pun langsung pulang menuju Jember. Dengan membawa kebahagiaan karena berhasil menonton Soundrenaline yang seru abis. Membawa kedongkolan yang teramat sangat karena helm mahal yang hilang dicuri. Membawa kesedihan, terutama bagi Koko, karena sang Nenek meninggal dunia. Dan yang pasti membawa cerita yang saat ini sedang kalian baca……….

 

 

 

Note :

 

THEY REALLY KICK ASS AND BRING THE SOUNDS OF CHANGE!!

 

Begitu banyak band yang tampil di Soundrenaline Bali. Tapi siapa saja yang benar-benar membawa perubahan??

 

  1. Tropical Transit…. Apakah tampil di Woodstock 69 dan 99 masih belum cukup menjadi alasan?

  2. The Hydrant… Dengan gaya yang unik dan jenis musik unik dan langka, band ini bener-bener bisa membawa perubahan.

  3. God Bless… Umur yang sudah lanjut tidak menghalangi mereka untuk membawa perubahan melalui musik rock….yeah!!!

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    Baskara said,

    Halo…broe soundrenalin Go to the Yogjakarta…..
    come on ….go to the Yogjakarta…

  2. 2

    adhit said,

    brp hrga tiketny..???


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: