Gerilya Bawah Tanah: Eksistensi Diantara Himpitan

Jember memang kota kecil. Banyak yang bilang Jember adalah kota santri, kota para anak muda alim yang rajin sholat dan mengaji, meskipun pada kenyataannya, produk anak mudanya adalah Dewi Persik, damn!

Soal musik, Jember masih belum serevolusioner Bandung atau Jakarta. Masih belum punya Zine Indie yang bisa berbicara banyak di dunia musik. Band pun masih sangat jarang yang bisa masuk ke dalam jajaran band nasional. Tercatat hanya Tato, sebuah band slow rock yang berhasil terkenal. Ada juga Anang, yang pernah beken sebagai vokalis Kidnap, tapi sekarang lebih terkenal sebagai produser musik bareng Abdee, dan jauuuuh lebih terkenal sebagai suami Krisdayanti.

Semenjak aku SMA, sekitar tahun 2003, musik yang booming cuman Hip- Hop atau Reggae, itu aja. Memang ada nama Upnormal yang beraliran Hip Metal yang sempat masuk sebagai salah satu band kompilasi Nescafe Get Started bareng J-Rock. Namun band ini sudah gak terdengar gaungnya karena kesibukan masing-masing para personelnya. Terakhir Jember menjadi harum namanya berkat Blast, band pop (ya, pop!) yang menjadi juara 1 regional Jatim dalam A Mild Live Wanted. Tapi ya itu, gak ada yang berani melawan arus. Kebanyakan band, biar bisa terkenal di Jember ya harus memiliki vokalis wanita yang berani berpakaian seksi dan memainkan lagu Top 40.

 

***

 

Tapi diam-diam ada satu gelaran musik yang berani melawan arus. Tanpa sponsor, gelaran musik ini berhasil menjadi gelaran musik tahunan yang penting di Jember. Setidaknya menurut aku dan ratusan anak yang menyukai suatu yang berbeda, Kumpulan anak muda yang sudah muak dengan musik hip-hop dan top 40. Gelaran itu bertajuk “Gerilya Bawah Tanah”.

Acara tahunan yang diadakan oleh UKM Kesenian Pusat ini adalah gelaran khusus buat musik yang tidak diterima oleh pasar musik di Jember. Para band yang tidak akan pernah dibayar dan diundang dalam pensi yang selalu menjadikan band Hip-Hop sebagai headliners mereka. Ada aliran punk-rock, hardcore, metalcore hingga ska. Penontonnya? Jangan salah, meski gak sebanyak penonton band hip-hop, massa dari band-band ini cukup banyak.

Acara tahun ini diadakan di Gedung PKM setelah tahun lalu hanya mendapat “gudang” sebagai tempat manggung (baca artikel: aku, mereka dan punk). Venue lebih besar, penonton pun jadi lebih senang. Gedung PKM memang tak sebesar gedung Asia Africa. Penontonnya pun, meski sama-sama beringas, tetap tak rusuh. Meski penuh, tapi tak memakan korban jiwa.

Apa yang special dari gelaran bawah tanah ini? Banyak. Mulai dari Headliner yang berasal dari Jerman hingga dandanan dan tingkah polah para crowd, sangat menarik untuk diperhatikan dan dipelajari.

Photos By:

Nuran Wibisono

Lalu Rafli

Arman Dhani

 

*
*
*
*
*
Ni aku kasih judul: I’m so fucking drunk!!!

***

 

Punk memang sesuatu yang tak pernah habis dimakan waktu. Seiring habisnya generasi bunga di pertengahan tahun 1970-an, gerakan ini mulai mendominasi. Gerakan ini adalah tindak lanjut dari gerakan counter culture para generasi bunga. Cuman mungkin hanya inti ajaran mereka yang sama, anti kemapanan.

Musik punk pun bisa dibilang adalah anak cucu dari rock n roll, seperti halnya rock n roll adalah anak sah dari blues. Bedanya adalah rock n roll lebih ke hedonisme, sementara punk lebih politikal. Berbeda dengan musik rock n roll atau heavy metal pada jamannya, yang harus memiliki skill mumpuni dan musikalitas yang jempolan, punk tak perlu itu. Kord dasar musik punk pun terkenal dengan sebutan three chords, 3 kord. Karena memang musik dasar yang kebanyakan dipakai Cuma 3 kord saja. The Ramones, Clash atau Sex Pistols adalah pelopor musik punk rock dengan 3 chords. Anda tidak percaya atau tidak terima musik punk dibilang tidak begitu membutuhkan skill? Coba anda bandingkan musik The Ramones dengan Led Zeppelin misalnya. Ada lagi… siapa pahlawan musik bagi kebanyakan anak punk? Pasti mereka menjawab Sid Vicious. Dia terkenal tidak bisa main musik sama sekali! Tapi itu tak jadi masalah, malah hal itu dianggap keren, karena attitudenya yang berani memberontak pada kemapanan lingkungan sekitar. Itulah musik punk, tak perlu solo gitar semewah Led Zeppelin, tak perlu suara sebening Sebastian Bach. Asal anda mencintai dan menjiwai punk, jadilah!

Musik punk rock sendiri awalnya adalah imbas dari gerakan British Invasion yang dipelopori oleh The Beatles. Anak muda amerika pun keranjingan memainkan musik mereka sendiri. Dan mereka bermain musik ditempat yang ada, kebanyakan di Garasi. Lahirlah istilah: Garage Rock. Musik awal yang dimainkan pun tak senjelimet Led Zep atau Deep Purple. Musik mereka menitik beratkan pada musik yang simple tapi tetep ngerock, seperti Rolling Stones, Yardbirds atau The Who. Band yang dianggap beberapa pelopor musik ini seperti The Standells, The Seeds, The Music Machine, The Leaves, dll. Inilah awal dari musik punk rock.

Di tahun 1970an, apa yang disebut pure punk semakin kentara. Protes sosial mereka semakin menjadi-jadi, dan kelakuan mereka pun semakin ugal-ugalan. Dari generasi awal punk murni ini ada 2 nama yang sangat legendaris di kalangan punk, MC5 dan Iggy and the Stooges. Pada 1975, punk semakin berkembang dan ada beberapa nama yang pada akhirnya menjadi legenda dan juga dihormati sebagai band punk pertama. Sebut saja The Blondie yang agak pop, The Talking Heads hingga The Ramones.

The Ramones sendiri punya citra yang unik. Remaja dengan rambut gondrong dan berponi, bercelana belel dan memakai jaket kulit. Tanggal 4 Juni 1976, The Ramones mengadakan konser pertamanya di Inggris. Konser ini ternyata menjadi wahyu bagi para anak muda di Inggris. Diantara ratusan penonton, ada beberapa anak muda yang akhirnya juga menjadi pahlawan anak punk. Mereka membentuk band, ada The Clash, The Damned dan Sex Pistols.

The Clash dan Sex Pistols memasukkan unsur baru dalam musik punk, protes social dan politik.

Pada akhirnya punk merambah ke dunia lain. Dari awalnya sebagai counter culture, mereka menjelajah ke dunia social, politik.

Di sini adalah sedikit penjabaran soal musik punk dan “keluarganya” . artikel ini saya dapat di internet, tapi maaf, saya lupa sumbernya dan nama penulisnya. Yang menulis artikel dibawah ini adalah seorang yang sudah berkecimpung selama puluhan tahun di dunia punk. Monggo dinikmati, dipelajari dan dihayati, betapa punk bukan hanya sebagai lifestyle.

 

Punk Rock

Berkembang di Inggris sekitar tahun 70-an.

· Musik: warna rock n roll masih kuat, masih bermelodi.

· Contoh: Sex Pistol, The Clash, Ramones.

· Ciri khas: Jaket kulit, rambut jabrik/acak-acakan, dan sepatu boots.

Street Punk

· Musik mulai berdistorsi kasar dengan beat yang cepat.

· Lirik vulgar dan penuh caci maki dan anarkis.

· Contoh: Casualities, Circle Jerks, Eksploited.

· Ciri khas: Jaket kulit plus aksesoris paku,celana jeans ketat, rambut jabrik, mohawk, boots doc mart/converse.

· Bagian dari Street Punk : HardCore, HardSkin, Punk HardCore, Scoin Kore.

SkinHead:

SkinHeads Sejati (Sayap Kiri/Lefties)


Menganut antifasis dan antirasis. Menyatakan perang dengan paham ultranasionalis sayap kanan dan sangat melindungi kaum minoritas termasuk kaum gay. Musik-musik minoritas kulit hitam seperti reggae, ska dan american soul dianggap sebagai keluarga besar mereka. Musik mereka banyak ragamnya karena banyak mencakup berbagai macam kelompok minoritas.

· Contoh: The Bussiness, Sham 69, Angelic Upstrats.

· Ciri: Tidak ada ciri khusus, namun kadang lewat sepatu boots dan bretel yang menunjukkan gol kelas menengah dan buruh.

 

Nazi SkinHeads (Sayap Kanan/Ultranasionalis)

Menganut paham rasis (benci kulit berwarna) dan antikaum minoritas adalah prinsipnya. Terkenal dengan istilah Boneheads. Berkembang pesat di Jerman dan negara Eropa daratan lainnya.

· Contoh: Screwdriver, Brutal Attack, Blood and Honour.

· Ciri khas: Kepala plontos (boneheads), kadang membaur dalam suporter sepak bola di Eropa (Giggs/Hooligans) untuk membuat kerusuhan.

Bagian dari SkinHeads :

· TUTONS

· SKA

· SKACORE

Tutons

Masih keluarga besar Skinheads sayap kiri. Mereka adalah rakyat kelas bawah yang melakukan protes dengan cara berpakaian seperti orang kaya. Tumbuh di Inggris dan Jamaika. Musik mereka musik kulit hitam kayak rock steady dan reggae. Ngetop lewat aliran ska.

· Ciri khas: Stelan jas, bretel, topi baret, celana panjang cingkrang (Rude Boy Style)

· Contoh: The Selector, The Specials, Jimmy Cliff

 

***

 

13 Maret 2008. Malam itu gedung PKM sangat ramai dengan kumpulan para anak muda yang mendeklarasikan diri mereka sebagai anak punk. Entah mereka punk sejati yang benar-benar mengerti dan menghayati idealisme punk ataukah mereka hanya gerombolan anak baru gede yang berharap dianggap keren dengan berdandan ala punk dan berbaur bersama anak punk. Saya tidak tahu, dan saya tidak tertarik untuk mencari tahu. Yang penting adalah mereka disini sedang menikmati acara ini, sama seperti saya.

Riot Company adalah band punk dari Jerman. Entah bagaimana caranya, mereka bisa mampir dan ikut meramaikan gigs ini. Mereka tampil total malam itu. Tapi sayangnya, saat saya mau mewawancara mereka, ternyata mereka tidak berkomunikasi dengan bahasa inggris. Mereka hanya bisa berbahasa Jerman, lain tidak. Jadilah saya gagal mewawancarai mereka. Tapi memang terkadang bahasa tubuh lebih ampuh dari bahasa mulut. Terbukti saat mereka selesai memainkan lagu dan mengacungkan jari tengah sambil tersenyum, semua crowd merespon dan berteriak… Uuuuoooohhhh!!!!!

 

*
*
*
*

 

 

Inilah yang unik dari gigs punk atau gigs bawah tanah lainnya. Tidak ada yang namanya headliner atau artis utama. Kalau di pensi, sesuatu yang paling disuka, paling unik, pasti akan ditaruh di akhir acara (untuk menahan penonton agar tidak pulang). Dan biasanya nama headliner pasti akan dicetak paling besar dalam pamflet. Tapi tidak demikian yang terjadi pada gigs Bawah Tanah ini. Nama Riot Company dicetak sama besar dengan para pengisi acara ini, seperti Server Sick, Skeleton dan nama lainnya. Hanya ditambahi info (Jerman) dibelakang nama Riot Company, sebagai penanda bahwa band ini adalah band dari luar negeri. Dan hal ini terbukti mempan, dengan berduyunnya ratusan anak muda datang dan bermoshing ria saat Riot Company tampil. Uniknya lagi Riot Company tidak tampil terakhir. Setelah RC tampil, masih ada penampilan dari UKM Kesenian Pusat dan 3 band yang tampil setelahnya. Dan kerennya, para penonton tidak pulang, melainkan masih asik bermoshing ria sambil sesekali tertawa. Ada juga beberapa punkers yang melepas lelah sambil mengobrol. Malah saya sempat memotret pasangan muda yang sedang bermesraan dengan cara mereka sendiri, tak vulgar seperti pasangan muda biasanya. Mereka hanya duduk dan bergandengan tangan sambil sesekali bernyanyi bersama. Sungguh sebuah cinta sederhana yang tidak menuntut apa-apa. Klik! Saya pun menekan shutter dengan mantap…

 

 

*
TETEP RAME!!!
*

Dan cinta memang tidak kenal tempat dan waktu… brutally sweet love…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dan sekali lagi saya mendapat bukti bahwa punk memang timbul tenggelam, sama seperti rock n roll. Tapi punk tak pernah mati… saya percaya itu…

12 Tanggapan so far »

  1. 1

    dhani ganteng sekali cuit-cuit jadi cinta setengah mati sampe cinta laura ga jadi naek ojek meski lagi becek said,

    eh,, foto street rebel kan pnya ku?

  2. 2

    the owner said,

    Lha dan, makanya aku tulis namamu sebagai fotograger, piye toh… makanya mbok dibaca hunny…

    luph u beib, huahahaha…

    thanks for coming…

  3. 3

    ayospe said,

    jancyuk, report kamyu ciamik loh sayang, tapi eh tapi mengapa tak ada cinta lawrah?

  4. 4

    kaprow said,

    Rawe-rawe rantas malang-malang putung!!!
    tetep semangat…………….

  5. 5

    Hmm Thanks Buat Review acara kami but, please edit masalah skinhead and two tone——-> bukan tutons. skinhead its a counter culture jadi gak seperti ulasan kamu itu. so kalo ada waktu ada baiknya kita ngobrol dan belajar sama-sama. btw nice shoots sist iam look cool in your pic hahaha
    Regards

  6. 6

    lah, kebiasaan buruk ni raden mas minke. mohon dibaca dulu secara full dan mendetail.

    saya menulis “Punk memang sesuatu yang tak pernah habis dimakan waktu. Seiring habisnya generasi bunga di pertengahan tahun 1970-an, gerakan ini mulai mendominasi. Gerakan ini adalah tindak lanjut dari gerakan counter culture para generasi bunga. Cuman mungkin hanya inti ajaran mereka yang sama, anti kemapanan.”

    dan setahu saya, memang skin head adalah lanjuta gerakan counter culture semenjak era flower generation telah habis.

    monggo kita bertemu lalu diskusi. kelihatannya menyenangkan.

    foto anda yang mana??

    last but not least… saya cowok, bukan cewek. COWOK! hehehehe

  7. 7

    Reza said,

    Bro,kapan acaranya di adain lagi cz yg kemaren kurang seru………! thankz Blenndessssss,Equality……………

  8. 8

    penghibur said,

    bagi saya scene underground jember masih kurang solid, tak usah memandang jakarta ataupun bandung.yang terjadi jelas adalah masih adanya faham individu person diskriminasi musik. padahal apapun jenis musiknya itu adalah sebuah karya seni dari kota jember

  9. 9

    Hahaha maaf satu hal penyakit akut yang tak mau lepas dari saya adalah lupa, ok ok mumpung saya belon meninggalkan kota suwar suwir ini saya mau melunasi hutang saya untuk bertemu dan sekedar mengobrol, baik itu tentang bagaimana saya mendatangkan kawan-kawan dari penjuru luar negeri atau idiologi seputar jalan hidup yang penuh semangat ini, tapi ada baiknya kita janjian dolo via email.
    salam hangat!
    R.M Minke

  10. 10

    nyit-nyit said,

    senangnya….ternyata jejak kaum underground jember terekam di dunia maya. banyak sekali suka duka, pasang surut yang aku alami disini. walaupun sekarang sudah tidak lagi berkecimpung underground karena harus masuk di dunia mainstream, tapi semangat underground selalu ada di hati dan semaksimal mungkin dipraktekkan dalam sikap. Karena menurutku, underground tidak sekedar musik hingar bingar, rambut mowawk dan sejenisnya. tapi lebih kepada bagaimana kita bisa melihat dari sisi lain selain yang didoktrinkan kepada kita selama ini. jadi…TETAP SEMANGAT!!!

  11. 11

    marmuchan said,

    yuhu …sib sib..sangar rek …

  12. 12

    Rm Minke said,

    hey nur, pa kabar? gimana nih tulisan yang baru?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: