The Brandals Live Concert @ Jember

Jember adalah kota kecil. Mungkin itu sebabnya para band-band indie terhitung jarang menyambangi Jember. Terhitung hanya The Hydrant yang pernah mampir ke Jember, itu pun sebagai opening act dari Saint Loco dan Edane. Lain The Hydrant? Jangan harap menemukan nama seperti The S.I.G.I.T, Inspirational Joni atau Jack And The Four Men di Jember. Band-band yang main di Jember adalah band-band “perahan” major label macem Nidji, Kangen Band dan terakhir ada Juliette dan Lobow yang dibawa oleh salah satu operator telepon seluler terbesar di Indonesia. Jadi mungkin band-band indie yang masih berjuang dengan semboyan DIY akan berpikir dua kali untuk menyambangi kota kecil di ujung Jawa Timur yang bernama Jember.

Tapi hari Jumat tanggal 7 Maret 2008 menjadi hari yang special bagi para pecinta musik indie di Jember. Salah satu band indie terbaik di Indonesia hadir di Jember. Yap, The Brandals, para berandalan ibu kota ini bela-belain datang ke Jember untuk mempromosikan album terbaru mereka, Brandalisme. Kedatangan mereka ke Jember didukung oleh, lagi-lagi, salah satu provider seluler di Indonesia. Mau?

 

 

***

Tanggal 7, The Brandals maen di Metro Café. Liat yuk… jemput aku ya…

Sms dari Elok masuk ke Hpku. Ha? The Brandals? Ke Jember? Kapan? Sebenarnya wajar kalau aku heran, karena memang gak ada publikasi luas tentang konser ini. Gak ada spanduk, gak ada pamflet, gak ada baliho atau apa pun yang menandakan akan ada konser salah satu Band pengusung rock n roll ini. Si Elok pun tahu kabar ini dari radio yang Cuma menyiarkan sekilas. Selebihnya? Gak ada publikasi sama sekali.

Akhirnya dari hp ke hp, berita pun menyebar dari mulut ke mulut. Sampai lah berita itu ke komunitas Tegalboto, komunitas Sastra dan beberapa orang teman. Tapi sayang, karena kendala publikasi itu, aku jadi gak tahu jam berapa The Brandals maen, berapa harga tiketnya dan info-info lain. Jadinya setiap ada orang nanyain hal itu ke aku, aku Cuma bisa jawab, “gak tau…”

 

***

Ternyata The Brandals maen jam 10, karena Metro baru buka jam segitu. Wa gak dibolehin keluar jam segitu…

Lagi-lagi sms dari si Elok. Cewek pecinta the brandals ini memberi sedikit clue tentang jam main The Brandals. Merasa si Elok mungkin punya info lain, aku sms dia…

 

Ya udah, boong aja ke ortu. Bilang aja mau ngerjain tugas ke rumah temen, trus bilang nginep dirumah temen, hehehe… eh, tau harga tiketnya gak?

Bagus, aku ngajarin seorang cewek alim untuk boong… tuhan bakalan ngelaknat aku…

Wa gak mau boong! Takut kualat! Kata temen wa sih gratis… ya udah, enjoy the show ya…

Bagus Elok, kamu memang anak berbakti, hehehe… Tapi yang aneh, masa sih konser The Brandals gratis?

 

***

Tanggal 7 tiba. Aku udah ngehubungin beberapa temen yang mungkin mau diajak nonton. Tapi sayang sekali, yang bisa aku ajak adalah teman cowok. Karena sangat jarang temen cewekku suka The Brandals. Salah seorang teman cewek, si Pimred Tegalboto, malah sukanya lagu Abang Tukang Bakso… (lupa ama umur dia)

Setelah confirm, HTM konser itu seharga 15 ribu rupiah… wadaw! Lumayan mahal juga sih. Lagipula besok aku juga ada touring ke Alas Purwo. Sabtu depan juga ada Konser Skid Row di Malang. Uang di dompet juga udah menipis. Tapi demi band berandalan itu, aku bela-belain ngebayar duit segitu.

Akhirnya malam jam 21.30 aku jemput si Taufik di Kostnya. Kita pun berangkat dengan hati riang gembira. Teman konser kali ini ada si Widhi juga. Dia anak Tegalboto yang juga suka The Brandals di samping suka Trio Tigers atau Trio Macan ,hahaha…

 

***

Metro Café, 21.45

Ini pertama kalinya aku pergi ke kafe. Dan bener, HTM The Brandals itu 15 ribu. Aku kirain ada welcome drinknya, bir kek, atau paling jelek, ya Softdrink. Eh, malah dikasih starter pack-nya sponsor. Sebenarnya hal itu lumayan, kalau saja di Jember sinyalnya kuat. Masalahnya, provider ini masih baru di Indonesia. Di Jember sinyalnya juga jarang. Kadang ada, kadang gak ada. Intinya, kalau disuruh milih antara satu gelas bir atau starter pack itu, aku milih satu orang cewek bahenol (lho?!).

Ini pertama kalinya aku masuk Metro Café. Selain karena gak suka nongkrong di café, aku juga gak suka kehidupan malam di café. Mendingan nongkrong di warung kopi Toyib atau Cak David. Si Widhi udah dateng duluan bareng temannya.

 

Me and Widhi
Topik And Widhi

 

Metro café ini terletak di lantai 4. For your info, kafe ini terletak di sebuah mal yang udah bangkrut. Jadi satu-satunya kehidupan ya ada di café yang terletak di lantai paling atas ini. Ibaratnya, saking sepinya, kita bisa ML tanpa ketahuan orang lain. Tinggal cari tempat yang sedikit gelap, jadilah.

Ternyata konser The Brandals belum mulai. Bahkan Band opening act-nya pun belum muncul. Oh ya, Band opening act kali ini dateng dari Jogjakarta. Ada Armada Racun dan Pagi Hari. 2 band ini juga termasuk salah dua dari beberapa puluh band indie potensial di Indonesia…

Jam 22.10 baru Armada Racun keluar. Band ini terdiri dari 1 orang keyboardis cewek nan imut, 1 orang drummer gundul penuh tato, dan 2 orang bassist yang salah satunya adalah sang vokalis. Gitaris? Itulah uniknya mereka, mereka gak memiliki pemain gitar. Formasi ini sedikit mengingatkan aku pada The Doors. Bedanya, The Doors malah gak memiliki bassist. Musik mereka? Sedikit garage rock dicampur dengan formula psychedelic. Cukup segar dan unik. Mereka memainkan 3 lagu yang sama sekali asing bagi aku tapi gak mengurangi keasyikanku dalam ngeliat performance mereka.

 

 

 

Band kedua adalah Pagi Hari. formasi mereka terdiri dari 1 drummer, 1 bassist, 1 gitaris dan 1 vokalis cewek cadas yang juga merangkap gitaris. Mereka tampil keren malam itu.

“Selamat malam Jember! Baru tadi sore kita nyampe di Jember. Masih sedikit capek. Aku juga kurang fit hari ini. Tapi demi kalian yang udah bela-belain hadir disini, kami berusaha tampil maksimal” sang vokalis cewek ini sedikit berorasi.

Terang aja kalimat itu mengundang tepuk tangan para penonton yang sebagian besar masih gak tau siapa itu Pagi Hari, gimana lagu-lagu mereka. Aku dan Widhi tahu band ini dari situs youtube yang menampilkan saat mereka main di Soundrenaline.

Sang vokalis cewek ini mau gak mau mengingatkan aku pada Joan Jett. Rambut pendek, suara khas dan sama-sama memegang gitar. Mengandalkan power dalam permainan mereka, hanya beda jenis musik. Kalau Joan Jett memainkan rock n roll ala 80-an, kalau Pagi Hari mereka memainkan rock modern yang kadang-kadang orang menyebutnya sebagai musik emo. Yang penting dandanan mereka jauh dari emo. Dan musik mereka keren, berkarakter dan ngerock! Itu aja yang penting. Setelah ngebawain 4 lagu, mereka pun pamit mundur diiringi tepuk tangan yang membahana di seluruh penjuru café. Well done guys!

Sepi…

***

Band yang telah ditungu-tunggu akhirnya datang juga. The Brandals yang terdiri dari Eka (vocal), Toni (gitar), Bayu (Gitar), Dodi (Bass), Rully yang berdiri di belakang perangkat drum yang juga sekaligus adik dari sang vokalis.

“Selamat malam Jember! Ayo teman-teman, maju dong, jangan duduk aja. Nonton musik rock sambil duduk-duduk sama seperti nonton striptease tapi gak bisa dipegang!” kata-kata pembuka dari sang vokalis meluncur tanpa beban yang langsung disambut teriakan bagaikan massa pendukung dari calon bupati yang menggemborkan janji palsu…

 

***

Setelah Pagi Hari tampil dan The Brandals masih siap-siap, ada satu kejadian menarik. Sang MC dari neraka mulai iseng. Sambil menenteng 2 buah tas kecil berisi sesuatu, dia berkeliaran mencari penonton untuk sebuah game. Bagaikan penyamun yang mencari perawan, dia berkeliaran. Orang apes pertama adalah cewek yang kelihatan binal yang duduk di meja sebelahku. Orang apes kedua adalah orang mesum yang duduk di sebelahku, siapa lagi kalau bukan Taufik.

“Ayo mas, maju, maen game, ntar dapet hadiah” bujuk si MC.

“Nggak mas, sebelahku aja wis” si Taufik mengelak sambil menunjuk agar aku aja yang bermain game. Si Taufik ini meskipun sering malu-maluin, tapi dia sangat grogi kalau disuruh tampil di depan umum.

“Ya udah kalau gak mau hadiah, biar mas disebelahnya aja yang maju”

Aku yang udah males mau mengelak, akhirnya pasrah ketika digelandang menuju depan untuk bermain game, entah apa bentuk gamenya. Otak liar sedikit berpikir, jangan-jangan disuruh cipokan sambil ngambil permen dari bibir cewek binal disebelahku ini? Tapi sang MC ternyata gak secabul aku. Setelah dapet 1 pasangan cowok-cewek lagi, dia mengumumkan gamenya.

“Joget sambil mengikuti musik!”

MATI AKU!

Kenapa gak suruh aku telanjang sekalian?

“What should we do then?” Tanya cewek binal disebelahku sok inggris.

“You should fuck me!” aku pengen ngomong gitu, tapi takut digampar.

“I don’t know, just shake your hips and try to do any dance just like he asked…” sahutku.

Musik pun dimainkan. Lagu dance yang sering diputar di acara dangdut koplo di kampung-kampung. Musik yang akan membuat kita berjoget hingga lupa umur. Musik yang bikin oom-oom lupa kalau mereka sudah punya anak istri. Dan ini jelas bukan musik favoritku. Kenapa gak sekalian musik dangdut aja? Toh ntar hasilnya pasti sama-sama joget. Tapi sayang, sang DJ sepertinya tidak mendengar ucapan dalam hati itu. Dia tetap memainkan musik itu seperti orang yang digigit semut hitam dipunggung. Menggelinjang. Kesetanan. Kesurupan.

Tanpa dikomando, cewek yang aku sangka binal maju kedepan. Mengambil kursi. Dan ternyata dia membuktikan kebinalannya. Dia goyang. Entah goyang apa. Goyang gergaji kek, goyang ngecor kek, goyang ngebor kek, gak penting. Yang penting dia HOT! REALLY REALLY HOT! Beberapa orang laki-laki bertampang mesum dan mata jauh lebih mesum – termasuk Taufik pastinya – ngeliatin dan bersorak kegirangan. Yeah! Do it more baby!

Setelah puas merangsang beberapa pria, sekarang giliranku maju.

“Mas, sapa namanya?” si MC busuk ini bertanya

“Nuran”

“Lurah?” tanyanya sambil tertawa nista

Anjing

“Nuran!” sahutku sedikit lebih keras

“Apa? Murah?” dan kali ini ketawanya membahana

Taiiikkkk…

“Whatever lah, yang penting, ayo joget!” sahutnya.

Damn! Aku kudu joget apaan? Aku nyesel dulu gak pernah mau diajak liat dangdut dan belajar koreografi dangdut ama preman-preman yang nonton – yang goyangnya jauh lebih hot daripada penyanyinya sendiri –

 

Sempet terpikir mau joget nista ala iklan batere, tapi aku takut dilempar botol.

Tepuk tangan semakin membahana, aku panik!

Kalau di panggung, jangan gunakan otakmu

Tiba-tiba aku inget salah satu petuah dari pengunjung blogku. Dan tiba-tiba aku maju, dengan gaya penari striptease di video klipnya Aerosmith. Entah apa yang aku lakukan. Aku maju mendekat ke kursi. Melepas jaketku perlahan. Memutar-mutar jaketku diatas kepala, seperti koboi memutar tali lasso. Dan sorakan langsung terdengar. Sempet terdengar pula jeritan beberapa wanita, tapi kurang begitu jelas bunyi jeritannya, apakah “kamu ganteng!” ataukah “Kamu gay ya?” but, show must go on…

Seperti orang gila, aku memutar-mutarkan pantatku. Damn! Aku lebih baik mati! Tapi karena teringat petuah bijak tadi, aku seakan membuang semua akal sehatku. Insting yang bermain bung!

Aku berjoget. Meliuk. Cepat. Cadas. Hot. Binal. Nakal. Menggoda. Merangsang. Entah apa lagi. Mungkin kalau ada tante girang lagi liat aku joget, aku berani bertaruh, dia bakal nyamperin aku dan nanya “tarifnya semalam berapa mas?” hehehe…

Dan penyiksaan pun usai. Tepuk tangan membahana. Aku jadi ngerasa, kok aku yang show, bukannya The Brandals, hehehehe.

Setelah 2 orang berikutnya berjoget, saatnya pengundian siapa yang menang. Hadiahnya cuman ada 2 paket aja. Siapa yang menang dari 4 orang itu?

 

***

The Brandals telah berorasi dengan cukup bagus. Kalimat yang mencerminkan bagaimana seharusnya band rock n roll bersikap dengan kata-kata. Nakal dan sedikit vulgar. Gak sopan? Kalau anda ingin sesuatu yang sopan, silahkan datang aja ke Seminar atau arisan RT, jangan ke konser rock n roll.

Konser malam itu sepi. Banget malah untuk ukuran band seperti The Brandals. Di Jakarta mereka adalah bintang, meski ada suatu waktu dimana mereka sepi dari job karena kelakuan sang vokalis yang gemar melontarkan kata-kata tak senonoh yang mungkin dianggap sedikit berlebihan buat para penonton. Tingkah laku sedikit berandal itu pula yang menyebabkan sang vokalis sempat dilempar Lumpur oleh beberapa anak yang berdandan punk saat mereka jadi headliner di pensi salah satu SMA di Jakarta pada tahun 2004. Plok! Tepat di wajah, dan sang vokalis beserta bandnya harus turun dari panggung. Karena barang yang dilempar semakin banyak, dan tidak Cuma Lumpur.

Sejak saat itu, The Brandals sempat di black list oleh beberapa Event Organizer di ibu kota. Dan The Brandals pun sepi job. Mereka tenggelam.

Gara-gara publikasi yang kurang maksimal, hasilnya pun jelas tidak maksimal. Dan hal itu terlihat saat konser ini. Hanya segelintir orang yang datang demi The Brandals. Memang café ini cukup ramai, tapi aku yakin, yang datang untuk menonton konser The Brandals hanya segelintir saja. Dan benar, yang maju ke depan panggung mungkin hanya sekitar 15 – 20 orang saja. Yang lainnya? Duduk sambil menghisap rokok mereka. Saat itu pula aku jadi tambah yakin kalau sebenarnya seksi Pubdekdok mungkin jauh lebih krusial perannnya dibandingkan seksi konsumsi atau malah Ketua Panitia.

Ah peduli setan dengan mereka yang Cuma duduk manis! It’s rock n roll show fucker! You don’t have to be a saint here! Dance till you drop!

 

***

Eka Annash adalah seorang dengan bad attitudes. Suka mengumpat, mengeluarkan kata-kata kotor dan sederet perbuatan tak menyenangkan lainnya. Entah apakah itu cuma propaganda media yang cenderung membesar-besarkan sesuatu atau itu hanya publicity stunt, tapi aku tidak melihat itu semua saat konser kemarin. Yang ada hanya vokalis yang atraktif, komunikatif dan kreatif. Tak sekali pun kata-kata kotor keluar.

Malah pada saat lagu “Bercinta”, dia turun dari panggung yang memang tingginya hanya ½ meter saja. Mengajak para penonton yang berjumlah sedikit untuk bernyanyi bersama. Karuan saja crowd langsung menggila. Mereka memeluk Eka, bernyanyi bareng, menjepretkan kameranya, menjadi fotografer mendadak. Dan aku termasuk salah satu dari mereka.

 

 

 

 

 

***

“Sekarang anda yang menentukan pemenangnya” sang MC dari neraka itu sok serius, sedikit meniru para MC di ajang yang bisanya cuma mencetak idola instan.

“Semakin banyak yang bertepuk tangan untuk peserta yang dipanggil, maka dia yang menang”

Aku ragu. Mungkin yang menang adalah 2 orang cewek, karena sebagian besar penonton adalah para cowok-jarang-sholat-mesum-dan-tak-pernah-disentuh-cewek. Dan aku sedikit beranggapan positif kalau mereka adalah cowok-cowok yang bukan gay. Jadi sedikit kemungkinan mereka bertepuk tangan untuk cowok gondrong awut-awutan bernama Nuran yang dengan nista berjoged striptis ala Alicia Silverstone di video Crazy-nya Aerosmith.

“Peserta pertama, si Ayu (Nama samaran)” terdengar tepuk tangan membahana.

“4700 orang yang tepuk tangan!” sahut sang MC

Baguuuus, selain jadi MC, ternyata kamu adalah pegawai statistic yang tangguh.

“Peserta kedua, eh, sapa nama lu?”

Kampret!

“Nuran!!” Aku teriak sambil berharap gak dipanggil Paimin.

“Oke, Nuran… Gimana dengan performance Nuran?!”

Dan tanpa aku duga, penonton bertepuk tangan dengan meriah, sangat meriah! Mengalahkan si Ayu. Malah ada beberapa gerombolan cewek-cowok yang pake standing ovation segala. Damn! Aku terharu! Terima kasih buat Tuhan YME, orang tuaku yang mendidik aku dengan baik, para teman-temanku yang selalu ada buat aku, hiks hiks… I love you all!! Hahahahaha!!! Tapi beneran! Yang tepuk tangan ada buanyak! Malah aku liat, si Eka dan personel The Brandals lain sempat ketawa-ketawa sambil tepuk tangan.

“ Wow! Ada 5467 orang yang tepuk tangan!”

Dan 2 orang sisa, bisa dianggap sebagai penghibur saja. Hadiahnya? Cukup mendapatkan ucapan terima kasih doang, hehehe.

“Ini hadiahnya, thanks” si MC menyerahkan hadiah. Tiba-tiba saja dia terlihat sangat baik hati dan tampan serta menawan, huahahahaha!!!

Pas aku ngeliat, isinya 2 starter pack (lagi!) dan 1 buah CD The Brandals yang baru! Damn! I’am a lucky bastard. Yah, cukup setara dengan pengorbananku striptis tadi, hohoho. Dan pas aku kembali ke tempat dudukku, si Taufik hanya bisa misuh-misuh setelah tahu bahwa hadiahnya adalah CD The Brandals. Ayu sang gadis binal pun kembali ke mejanya. Dia menyulut rokok, sambil menawarkan rokok padaku. Tapi setelah dia tahu aku bukan perokok, matanya mengerling padaku sambil tersenyum penuh makna. Get laid? Kita liat aja ntar, tapi yang jelas aku masih ingin perjaka sampe nikahku ntar, hehehe. Atau mungkin mau sesuatu dariku yang jelas lebih besar dari sebatang rokok? Huahahaha, mesuuuummmm!!!!

 

***

 

Brandalisme adalah album ke 3 dari The Brandals yang bener-bener dikerjakan secara indipenden. Band yang berada di bawah naungan Aksara Record, sebuah label rekaman band indie ini sedikit demi sedikit mengumpulkan uang dari hasil manggung. Eka sendiri juga sempet bercerita soal penggarapan album ini.

“Kita bikin album ini dengan duit sendiri, biaya sendiri. Bener-bener do it yourself” katanya seakan memberi semangat band-band indie di seluruh Indonesia. Dia berkata begitu untuk menunjukkan bahwa semangat do it yourself harus tetap dipelihara. Dan untuk ukuran sebuah album indie, Brandalisme sangat jauh dari kesan mengecewakan. Musiknya terasa lebih dewasa. Di dua album sebelumnya, Self titled (masuk dalam daftar 150 album Indonesia terbaik) dan Audio Imperialist, liriknya cenderung agak mentah. Standar band rock n roll, sedikit nakal dan bercerita tentang masa muda, dunia malam atau one night stand. Audio Imperialist sendiri, meskipun lirik dan musik makin membaik, tapi kualitas sound yang dihasilkan sangat buruk. Tapi album ini sedikit berbeda. Unsur distorsi memang masih dominan, tapi lirik yang diusung jauh mengalami pendewasaan. Coba saja simak lagu Surat Seorang Proletar Untuk Kaum Elit Borjuis atau Janji 1000 Hari. Liriknya menyerempet kearah social politik. Hmm, suatu transformasi yang cukup berhasil. The Brandals juga menyisipkan bebunyian terompet dalam lagu Is It You Girl?. Pemain terompet sendiri adalah Amar, sang peniup trompet Maliq and D’Essential. Is It You Girl? jadi lagu yang cukup nendang menurut saya. Sebuah album bintang 3 dari The Brandals.

 

***

The Brandals memang terlihat telah menyimpan energi untuk dihabiskan di panggung malam itu. Eka Annash seakan tak pernah lelah berjoget, berdansa, melompat, berteriak. Energinya tertular ke belasan penonton yang menyemut di depan panggung.

 

Tak terasa waktu sudah hampir jam 12 lewat. Penonton terus berteriak “24 Lewat!”, meminta masterpiece The Brandals itu untuk segera dimainkan.

“Sabar, belum juga jam 24 lewat” Eka mengelak. Gantinya, The Brandals menggempur dengan lagu baru dari album baru, Broken Heart Blues. Dan lagi, penonton bernyanyi. Lingkar Labirin, Mobil Balap bergantian dinyanyikan. Dan waktu sudah lewat dari jam 24. Saatnya himne 24 Lewat dikumandangkan.

 

***

“Berkali-kali kau buat tidurku tak nyenyak… bertaburan lampu angkasa, mimpiku bergolak…” Himne pun dinyanyikan secara khidmat. Tak ada penonton yang tak bernyanyi. Semua menggelinjang resah, hingga puas. Dan saya berpikir, konser ini telah mencapai klimaksnya. Tapi ternyata para berandal ini belum puas.

Tanpa teriakan encore, 100 % Kontrol pun dimainkan. Lagu jagoan dari Album Brandalisme ini kembali mengundang koor dari penonton. Semua berkeringat. Semua bergairah. Semua ingin bercinta. Semua puas. Semua senang.

Dan The Brandals pun turun panggung diiringi bunyi tepuk tangan yang membahana. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 24.20. DJ pun muncul dari balik panggung. Kembali memainkan lagu nista berirama disko. Dan aku tahu, saat sang DJ muncul, itu berarti saatnya aku, Widhi dan Taufik pulang. Memang masih banyak cewek-seksi-minta-ditidurin. Tapi energi telah habis terkuras setelah Bercinta dengan para berandalan ibu kota. Dan sekarang memang saat yang tepat untuk pulang, dan bercinta dengan bantal. Ah, Sebuah konser bintang 4 dari The Brandals.

 

Aku tahu dimana lantai dansa kan terinjak

Aku tahu dimana kita bisa teriak!

Ahhhhhhh !!!!!

8 Tanggapan so far »

  1. 1

    Merapendra said,

    GENERE CAFE
    CAFE PUSTAKA

    Untuk Pertama kalinya, kami undang untuk berkunjung ke sebuah Cafe Pustaka. Berkunjunglah ke Cafe kami.

    Kunjungi kami di :

    http://generecafe.blogspot.com.

    Sebuah Ruang Pustaka yang kami suguhkan bagi para pengunjung setia penikmat Blogger di Seluruh Indonesia.

    Simpanlah undangan kami ini, apabila suatu saat nanti anda membutuhkan sebuah Cafe Pustaka sebagai bahan refrensi anda.

    Hormat kami,

    Genere Cafe

  2. 2

    pyut said,

    …………………………..
    gag bisa ngomong apa2 aku,,,ran…….
    …………………
    tapi,,, salut karna masih mo jagga kperjakaanmu…. hehkkekek!!

    nice post…

  3. 3

    ayospe said,

    ehm, dik lurah, ikut oom yuk….

  4. 4

    dion bandeng said,

    hey scenester!!! salut bwt kegigihan pada jalur “gorong-gorong” (soalnya, kata “underground” banyak yang bilang sudah terlacur dengan mainstream) hehehehe..

    anu, prihatin aja bwt temen-temen scenester di Jember yang kekurangan suntikan gig dari para artis2 indie…salam ya bwt temen2 scene di sana!!!

    oya, Armada Racun dari Jogja loh,hehehehehehe, dan aku adalah salah satu grupies mereka.tiap manggung aku mesti berada di jalur paling depan untuk menggetarkan lantai dansa.

    see ya!!

  5. 5

    escoret said,

    wah,pas ke jogja…aku juga ktm meraka..kekkeke

  6. 6

    jemling said,

    tulisan yang bagus….

  7. 7

    philipsvermonte said,

    wahhh..tulisannya mantap sekali…

    salam kenal
    pjv
    http://berburuvinyl.wordpress.com

  8. 8

    Asad said,

    spontan banget sama sekali gak dia ada-ada.kren
    me:berharap konser gw di review sama elu ran hakakaka
    nice very nice


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: