Bandung Road Trip…

Sebenarnya perjalanan ini sudah berlangsung sudah lama. Berakhirnya pun juga sudah sejak lama pula. Ada alasan kenapa cerita ini terbengkalai begitu lama, tak perlu lah aku menjelaskannya secara rinci pula. Sempat juga aku berpikir tak usahlah aku masukkan cerita ini ke dalam blogku. Namun cerita backpackingku saat itu rasanya terlalu sayang kalau tidak aku masukkan ke dalam kategori escapade milikku.

Perjalananku kali ini meliputi Jember – Bandung – Jakarta – Bogor – Jakarta – Bandung – Jogja – balik ke Jember lagi. Oke, mari kita mulai dari rute pertama. Tapi karena aku lagi enggan berpanjang- panjang ria, marilah aku singkat escapadeku kali ini.

Jember – Bandung: Turis atau Backpacker?

Sebab:

Kereta Mutiara Timur menuju Surabaya telat 2 jam. Jadi saat seharusnya aku bisa sampai di Surabaya jam 16.00 wib dan masih sempat mengejar kereta Mutiara Selatan menuju Bandung, aku jadi sampai di Surabaya menjelang Maghrib dan terpaksa menaiki kereta Eksekutif Turangga.

Aku membawa 2 ekor kucing Persia untuk dua orang keponakanku tersayang.

Aku packing 2 jam menjelang keberangkatan.

Akibat:

Terpaksa mengeluarkan ongkos tambahan sebesar Rp. 80.000 hanya gara-gara kereta api menuju Surabaya terlambat. Damn! Aku sebenarnya sempat risih juga. Dandananku udah lebih mengarah ke gelandangan daripada seorang penumpang eksekutif. Yang bikin aku jadi pengen tambah marah adalah selisih uang yang cukup besar dan saat malam tiba, aku tidak bisa membeli nasi pecel hangat. Makanan restorasi? Ugh! Berat di ongkos!

Yang namanya kucing, mau kucing Persia kek, angora kek, kucing kampung kek, tetep aja tainya bau! 2 ekor kucing dari neraka ini mendadak mengeluarkan bau tak sedap saat kereta baru berangkat 10 menit dari stasiun Jember. Olala, ternyata 2 ekor kucing itu kompak untuk boker bareng! Jadilah aku merelakan kaosku (dan nanti kaos ini dibuang gara-gara dikira kain kotor) dan handukku untuk membersihkan badan kucing dan kandangnya yang kotor dan bau. Yang lebih tolol lagi adalah perbuatan si Taufik yang mandi lalu berhanduk ria memakai handuk yang kupakai untuk membersihkan tai dari si kucing itu. Hihihihi, itu akibatnya jika memakai barang orang tapi tidak bilang dulu…

Aku lupa membawa CELANA DALAMKU!!!! ANJINNGGG!!! Saat aku mengikuti pelatihan manajemen ekspedisi, kayaknya aku memang ketiduran, jadi kurang begitu menyimak bahwa seharusnya packing itu dilakukan H – 1. jadilah hanya celana dalam yang melekat di badanku yang aku bawa. Hihihihi, untung aja aku masih memakai CD, kalau aku lagi pengen maen sejuk-sejukan, aku gak bakalan pake CD, huahahaha. Aku sempet ketawa, waktu aku pulang, 5 celana dalam yang seharusnya aku bawa masih nangkring dengan imut di kasurku.

Di Bandung ini aku juga sempat membuktikan penilaian Rikian atas lezatnya Roti Cane ala Gampong Aceh. Memang lezat, namun ternyata ada yang lebih enak disbanding roti cane di tempat itu. Selain harganya lebih murah, rasa juga lebih enak. Coba pergi di Warung Mie Aceh di daerah Simpang Dago. Kalian pasti menemukan rasa yang lebih enak daripada Roti Cane di Gampong Aceh. Aku juga sempat menemukan tempat asik. Pusat penjualan kaset baru dan bekas di Bandung, tepatnya di daerah Dipati Ukur (depan pom bensin Dipati Ukur). Koleksi kasetnya lengkap, malah ada koleksi piringan hitamnya segala. Di tempat ini aku kalap memborong The Best-nya The Doors, Animal with Human Intelligence- nya Enuff Znuff, Skid Row yang Slave to the Grind, dan The Best-nya Time Bomb Blues. Aku jadi kesel lagi kalau inget selisih 80.000 itu. Jancuk! Tapi sayang, gambar tempat asyik ini terhapus karena ada masalah sama kameranya (kejadian sama waktu aku escapade ke Bali juga. Untung gambarnya bisa dibalikin lagi)

Bandung – Jakarta: I Can’t Get (No) Satisfaction

Sebenarnya ke Jakarta ini juga terpaksa. Jakarta sama sekali tidak menarik buat aku. Aku kesana seharusnya untuk menemui temanku, El Hendrie dan Semuth. Tapi ternyata keduanya sedang sibuk dan aku juga tidak mau mengganggu, jadi aku gak jadi mampir kesana. Tapi ternyata aku mendapat tugas untuk wawancara mas Wendi Putranto, salah seorang editor majalah musik Rolling Stone Indonesia mengenai masalah musik yang menjadi tema untuk majalah Tegalboto edisi XIII. Jadilah aku pergi ke daerah Kemang untuk wawancara mas Wendi (buat yang pengen tau mas Wendi seperti apa orangnya, lihat aja film documenter Global Metal)

Menaiki travel murah dari Bandung (60 ribu) kami pun berangkat menuju Jakarta. Ternyata memang sulit hidup di Jakarta. Bayangkan, 3 orang laki-laki tanggung memanggul carrier gede di punggung dan seorang wanita berkerudung memakai rok panjang yang membawa 2 tas (udah mirip TKI) harus berjejalan didalam bus yang ramai dan penuh asap rokok. 3 orang laki-laki sih sebenarnya gak masalah, yang kasihan adalah si Dyah yang wajahnya meelaasss banget.

Setelah melalui perjuangan yang panjang dan sempat kesasar segala (ini Jakarta bung!) akhirnya sampai juga kami di markas besar Rolling Stone Indonesia di daerah Ampera Raya (catat ini: nomer rumah yang sama dengan nomer kantor RSI ada 3 rumah dalam satu jalan!) sampai disana kami disambut dengan ramah. Pak Satpamnya juga baik hati. Mempersilahkan kami duduk di ruangan ber AC dan menyuguhi kami sebotol teh dan mempersilahkan kami membaca majalah RSI sepuasnya! Jadilah aku ngerasa betah disana. Mas Wendi pun sangat kooperatif, ramah dan rendah hati. Kami masuk kedalam kantor RSI yang keren (wallpapernya keren! Gambarnya mulai God Bless sampai John Lennon dan Yoko), kami melakukan wawancara yang menyenangkan, membuka wawasan dan segelas nutrisari dingin juga menambah segar wawancara saat itu.

Sepulang dari wawancara dengan mas Wendi, kami memutuskan untuk pergi numpang tidur di rumah kakak si Dyah. Dari Ampera Raya, kami pergi menuju halte bus Trans Jakarta terdekat. Buat 4 orang dari desa ini, ini adalah pengalaman pertama kalinya menaiki Busway. Ternyata emang naik Busway memang enak dan yang lebih penting, jalannya gak macet. Tapi saat itu ternyata aku sedang beruntung saja. Beberapa hari kemudian saat aku berada di Jogja, aku melihat jalur Busway yang saat ini sedang aku naiki dilalui kendaraan pribadi dan MACET! Damn! I am a lucky bastard

Sekelumit percakapan (yang membuktikan bahwa kami adalah orang desa)

Aku: (memejamkan mata…)

Togog: Ssstt!!… Ssssttt…!!! (sambil menendang kakiku)

Aku: Apaan?

Togog: Itu lho…(menunjuk sesuatu)

Aku: Apa? (masih gak mudeng)

Togog: Monas le! Monas…!!!!

Aku: *(*&*&*(^%!#*$#^$%^&*&%!@&

Tampaklah monas berdiri gagah dan angkuh di depan mata kami. Dan memang, saat itu adalah pertama kalinya bagi aku dan Togog melihat monas, bunderan HI, Patung Selamat Datang dan berbagai tempat lain yang hanya bisa aku lihat di TV sebelumnya…

Dengan menaiki bemo (pengalaman pertama kami naik bemo!) malam itu kami memutuskan untuk menginap dirumah kakaknya Dyah. Si Dyah pergi ke rumah pamannya dan si Togog pergi ke rumah kakaknya (dan akhirnya setelah liburan usai, dia dengan bangga memamerkan foto dirinya berada di depan monas). Jadilah Aku dan Taufik yang menginap di Kosan kakaknya Dyah. Jakarta memang panas, dan kami membuktikannya malam itu. Meski sudah mandi, tetap aja hawanya gerah. Satu lagi yang paling nyebelin adalah NYAMUK! Tapi panas dan nyamuk itu terhapus oleh keramahan teman-teman kakaknya Dyah yang membuatkan kami Mie Rebus dan Telur Rebus. Makasih ya mas, kita sangat terharu menerima kebaikan kalian, hehehe…

Setelah malam yang penuh dengan suara tepukan untuk membunuh nyamuk, pagi harinya aku dan Taufik pergi menuju Stasiun Kota. Kami buta sama sekali soal arah kesana. Tapi berbekal tanya sana – sini, kami berhasil sampai di Stasiun Kota dengan selamat. Disinilah tempat kami berpisah. Si Taufik sudah kangen berat dengan keluarganya di Brebes. Sedang aku? Aku masih ingin memuaskan hasrat escapade– ku yang masih menggelegak. Akan kemanakah aku kali ini?

“Mbak, KRL Pakuan ke Bogor satu…” sahutku ke mbak penjaga stan penjualan tiket…

Note: Ke Jakarta ini aku kolorless alias gak pake celana dalam, huahahahaha. Geli-geli gimana gitu! Huahahahaha!!!!

To Be Continued…

Episode Depan:

Simak Ceritaku tentang sebuah desa bernama Ciawitali di kaki gunung Bukittunggul di Bandung dan kelezatan Makaroni Panggang di Jalan Salak, Bogor. Ada juga cerita nikmatnya makan sate sambil nongkrong di depan Malioboro, Jogja…

So, see you later then…

Keep Rocking!

5 Tanggapan so far »

  1. 1

    Ferdi said,

    Wah, backpacker sejati!

    Mau dong diajak backpacking kapan-kapan. Kan lebih tenang kalau didampingi pakar😛

    Hehehe…

    Anyway, makasih banyak udah mampir di blog saya!

  2. 2

    B0aHaHaHaHaHa daSaR oRang aneh! beLi CAngCUt di BAndung kan bisa mas! haha d0d0L!
    Btw BAndung emang suRga maKanan! menuRuTQ gak ada tempat yg bs ngaLaHin BAndung! btw KaPan ke jAwa bArAT Lg? ikuT dunk wuehehe =P oia, Kamus Sunda yg aQ pinjemin udah diBaCa kan mas?

  3. 3

    the ARTwork said,

    “weh, temennya si ayos kampret ya… suka fotografi juga nih… salam kenal ya…”

    Iya Mas… temennya Mas Ayos. Wah, ternyata emang kampret ya? tak kira cuman dari perspektif saya saja ke-kampret-annya…
    Kayaknya jodoh deh, Mas…
    tolong ajarin jadi backpacker dong, hehehhh…..
    Kualifikasi saya:
    1) tahan banting (kmana2 emang profesinya jadi ghost-rider)
    2) tahan malu

    tapi kekurangan saya:
    1) bujet MINIM (minim dengan huruf kapital)
    2) takut nyasar (karena anak kesayangan ibuk-bapak soalnya di rumah bagian pembersihan makanan),, sehingga….
    3) butuh temen kalo misalnya diajak jalan-jalan ke luar kota, sebab…
    4) saya tipe anak kota yang GAK PERNAH ke luar kota

    Semoga saya diterima berguru dengan Anda.
    Salam! (^0^)

  4. 4

    EL HENDRIE said,

    Keren bro!

  5. 5

    Wiro Sableng said,

    Selamat Malam… Week End enggak ada acara ya mending blogwalking aja. Setelah ngebaca artikelnya, Wiro Sableng ngasih komen begini :

    orang jember ya… salam kenal lah… jember mana nih… satu kampung ya…
    ani way foto fotonya kern lho… 4 jempol deh… eh enggak jadi 3 jempol aja buat fotonya… n 1 jempol sisanya buat artikelnya aja deh… :beer:🙂


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: