It’s A Long Way to the Top (If You Wanna Rock N Roll): Skid Row Live Concert in Malang

Judul lagu dari band rock legendaris asal Australia, AC/DC, itu mungkin sedikit banyak menceritakan tentang bagaimana susahnya untuk menggapai sesuatu. Entah itu cita-cita anda atau bahkan hingga hal yang terkecil, seperti pacar misalnya. Tulisan kali ini adalah sesuai dengan isi lagu AC/DC itu. Bagaimana saya harus menempuh jalan yang panjang untuk menggapai sesuatu yang bernama rock n roll. Disinilah saya, tanggal 14 Maret 2008. berdiri di jalan Jawa VII. Di sebuah kontrakan tempat teman saya tinggal. Saya menunggu hujan yang tak kunjung reda untuk kemudian berangkat menuju Malang. Ada apa di Malang? Ada mimpi dan harapan saya disana. Sesuatu yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang rockstar dan selalu belajar untuk menjadi seorang pemberontak. Mimpi dan harapan saya itu adalah Skid Row

***

Bagi pemuda yang besar di era akhir 80an dan awal 90an, pasti mengenal yang namanya Skid Row. Saya sendiri meski baru lahir pada akhir 80-an, sudah dijejali musik tahun 70an oleh ayah saya semenjak masih berumur 4 tahun, masih TK!. Seingat saya, waktu anak seumuran saya belajar menyanyikan Kodok Ngorek atau Bintang Kecil, saya sudah dijejali Jimi Hendrix, Rolling Stones, Deep Purple, Led Zeppelin hingga yang sedikit slow seperti Bee Gees atau The Beatles. Peracunan pun terus berjalan dan misi ini diemban oleh adik ayah saya. Ya, ayah dan om saya telah “berdosa” membuat saya terjebak dalam era classic glam rock itu. Setelah ayah saya menjejali musik kegemarannya, gantian, om saya yang menjejali musik kegemarannya pada saya. Dan itu berarti Guns N Roses, Skid Row, White Lion, Cinderella, Bon Jovi, Motley Crue hingga Poison masuk kedalam kuping dan turun hingga ke hati. Dan sampai saat ini pun, tradisi peracunan itu masih berlaku. Gantian saya yang berusaha menjejali adik atau keponakan saya untuk mendengarkan musik legendaris itu. Dan jujur, masa sekarang hal itu jauh lebih sulit. Percayalah!

Skid Row adalah salah satu band hero saya selain Guns N Roses. Tumbuh besar dalam sayatan gitar Scotti Hill dan Snake Sabo, Lengkingan vocal Sebastian Bach, Cabikan bass Rachel Bolan dan gebukan drum bertenaga oleh Rob Affuso, mau gak mau mendoktrin saya tentang selera musik. Dan attitude mereka juga sangat berpengaruh dalam segala tetek bengek kehidupan saya. Saya pun, sama seperti om saya, menganggap mereka adalah pahlawan.

Anda bisa membayangkan bagaimana kalau band pahlawan anda datang ke kota tetangga, dengan harga tiket yang sangat terjangkau? Apa yang anda lakukan? Tentu anda akan berusaha untuk menonton konser itu. Begitu pula yang saya lakukan saat mendengar Log Zhelebour akan mendatangkan Skid Row ke Indonesia. Kabar pastinya saya dapat dari internet dan tv. Selain berhasil menjadi perantara media untuk meracuni masyarakat dengan sinetron-sinetron najisnya, ternyata Tv memang tetap menjadi sumber informasi yang bisa diandalkan. Tak aneh memang kalau sempat ada prediksi kalau jurnalisme elektronik (baca: intenet, tv) akan mengalahkan jurnalisme cetak (Koran atau majalah). Skid Row akan konser di 5 kota dengan harga tiket yang gila-gilaan… murahnya! Bayangkan, jika anda hidup di kota besar seperti Jakarta, anda cukup merogoh kocek sebesar 100 ribu untuk menonton band sekelas Skid Row. Sedangkan di kota lain, Bandung ( 30 Ribu ), Semarang ( 20 Ribu ), Surabaya dan Malang ( 25 Ribu ). Bandingkan dengan harga tiket konser Diana Ross kemarin yang kelas VVIP mencapai 10 juta! What the fuckkk!!! Dan herannya, ada saja orang kelebihan duit yang mau mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk menonton seorang wanita kribo menyanyi. Saya jadi heran, saya ini hidup di Negara miskin atau Negara kaya ya? Tapi itulah, jika seseorang sudah mengidolakan sesuatu, apapun akan dilakukannya. Dan memang, tak aneh jika mereka mengeluarkan uang yang cukup untuk membeli nasi bungkus sebanyak 3333, 3333 bungkus (kalkulasi harga sebungkus Rp.3000) hanya untuk menonton konser.

Tapi lain halnya kalau ini terjadi pada mahasiswa berkantong cekak seperti saya. Saat ada selentingan kabar Skid Row akan main di Indonesia, saya sudah membayangkan harga minimal ratusan ribu rupiah untuk dapat menonton band dari New Jersey ini. Kalau itu yang terjadi, biarlah saya tidak menonton Skid Row. Karena bagaimanapun, mengidolakan seseorang bukan berarti membuat kita kehilangan akal sehat. Tapi beruntung sekali Indonesia mempunyai promotor seperti Log Zhelebour yang terkadang tidak begitu memikirkan profit, asalkan Indonesia bisa mendapat hiburan rock yang bermutu dan terjangkau. Saat mengetahui harga tiket yang hanya segitu, jadilah saya mengambil uang tabungan saya yang pas-pasan untuk ongkos pp, tiket dan akomodasi selama disana. Agar lebih mudah dan murah, saya memutuskan untuk menaiki alat transportasi sejuta umat, sepeda motor!

***

Tanggal 14 Maret, saya yang sudah berhasil membujuk 5 orang teman saya untuk menonton Skid Row, memutuskan untuk berangkat. Sebenarnya hal ini sedikit mengharukan. Bagaimana tidak, dari 5 orang teman saya, mereka semua bukan penggemar berat Skid Row, bahkan ada yang tidak tahu lagu-lagu Skid Row seperti apa. Tapi mereka tetap mau saya ajak. Rencananya hari ini 4 orang berangkat (termasuk saya di dalamnya), dan 2 orang menyusul besok. Karena hujan yang tidak kunjung reda, kami sedikit nekat untuk berangkat. Rencananya kami akan singgah dan menginap di rumah salah satu teman yang ikut, Alvin, yang rumahnya ada di Probolinggo. Akhirnya selepas maghrib, kami pun berangkat.

Sempat berhenti sejenak di daerah Jatiroto karena hujan sangat deras, akhirnya pukul 20.00 wib, kami memutuskan untuk berjalan terus. Sekalian basah! Dan ternyata tuhan memang ada dan masih perduli pada kami. Meski kami banyak dosa, jarang sholat, jarang ingat tuhan kalau gak ada maunya, ternyata tuhan masih sayang pada kami. Itu terlihat saat setidaknya tuhan sedikit bermurah kasih dengan menghentikan hujan pada saat kami berada di daerah Klakah. Thanks god!

Kami sampai di Probolinggo sekitar pukul 21.00. Setelah mengeringkan badan, kami pun dijamu makan oleh tuan rumah yang sangat ramah. Lumayan, selain enak, kami juga bisa sedikit menghemat biaya akomodasi. Mungkin karena lelah dihantam hujan dan angin, setelah makan kami pun langsung berangkat menuju pulau kapuk. Sebuah pulau yang menjanjikan kenikmatan bagi siapa pun yang masuk ke dalamnya. Bukan begitu? Selamat tidur semua…

***

Esoknya, setelah 2 orang teman kami datang, kami memutuskan untuk berangkat. Setelah mandi dan sarapan, kami pun langsung meluncur menuju Malang, kota yang terletak sekitar 50 Km dari kota Probolinggo. Malang, kota dingin yang terletak di lereng gunung Arjuno – Welirang. Kota yang terkenal dengan argowisata dan hasil perkebunan, terutama apel dan ubi ungunya. Kota sejuk yang mempopulerkan Bakpo Telo. Kota basis rock Jawa Timur tempat konser Skid Row diadakan. Berangkat!!!!

Kami sampai di Malang sekitar jam 11.30 wib. Satu setengah jam perjalanan dari Malang dengan sepeda motor. Kalau main hitung-hitungan, memang ongkos transport menuju malang, lebih murah jika menggunakan sepeda motor. Sekarang coba kalau kita naik kereta api Tawang Alun, dari Stasiun Jember – Stasiun Malang, harga tiketnya Rp.20. 000. Total jenderal, kalau kita naik kereta api, pp perorang mencapai Rp. 40.000. Dengan sepeda motor, setelah dihitung-hitung jumlah uang untuk membeli bensin untuk pulang pergi Jember – Malang, itupun masih dipakai untuk keliling kota Malang, perorang cukup mengeluarkan uang sejumlah Rp.28. 000 saja. Total Rp.56. 000 untuk ongkos bensin per sepeda motor. Tolong dicatat, jenis sepeda motor juga mempengaruhi jumlah liter bensin yang dikeluarkan.

Tujuan pertama kami di Malang adalah Lapangan Rampal, dengan asumsi ticket box sudah dibuka di lapangan tempat konser Skid Row itu. Jadi kami pun meluncur ke lapangan yang berada tepat di daerah kompleks militer itu.

***

Tapi apes, ada sebuah insiden yang menimpa Hadi dan Alvin. Karena meleng saat berada di pertigaan menuju Rampal, mereka menerobos lampu merah. Apesnya lagi, ada seorang bertampang garang berbaju coklat yang sedang berdiri pas di Zebra Cross yang langsung menghentikan sepeda motor mereka. Kenalkan, orang bertampang garang berbaju coklat itu bukan Pemandu Pramuka, melainkan polisi!

Seakan lupa dengan tugasnya untuk mengatur lalu lintas yang sedang macet, bapak polisi yang terhormat langsung meminta STNK dan tersenyum licik begitu mengetahui plat nomer sepeda si Hadi adalah nomer luar kota. Dengan langkah penuh kemenangan, pak polisi ini meminta Hadi dan Alvin untuk mengikutinya menuju pos polisi yang terletak di ujung jalan. “kesinilah domba manis, oom serigala akan memangsamu!” mungkin begitu yang ada di pikirannya.

Entah saya memiliki firasat yang kuat, atau sudah bukan rahasia lagi, bahwa beberapa oknum polisi tidak bertanggung jawab sering menyuruh pelanggar lalu lintas untuk memilih, sidang atau denda. Apesnya lagi, karena plat nomer sepeda si Hadi dari luar kota dan Alvin pun mencangklong tas seperti orang yang berpergian (yes, he is!) pak polisi itu sedikit beretorika, memilih antara sidang atau denda. Dan jelas, bagi mereka, para orang luar kota yang sedang berpergian, memilih untuk menghabiskan hari hanya untuk menunggu hari sidang STNK jelas bukan ide yang baik. Dan logikanya, para pelancong jelas memilih denda, dan polisi busuk itu pun seakan sudah bisa membaca hal itu. Dan benar, Rp. 60.000 terpaksa melayang dari kantong mereka berdua sebagai ganti “keteledoran” mereka menerobos lampu merah.

Bukannya tidak ikhlas (memang kita gak ikhlas!!!), tapi jujur saja, kesalahan 2 orang sahabat saya itu jelas bukan kesalahan yang besar. Bahkan roda belakangnya pun belum melewati marka, hanya ban depan hingga setengah bagian depan sepeda yang melewati marka, setengah bagian belakang hingga roda belakang masih tetap berada di marka yang benar. Yang membuat saya dan sahabat saya makin menggondok, di sebelah sepeda teman saya ada 1 orang tentara dengan seragam dinas yang sama-sama ban depan kendaraannya sedikit melewati marka. Tetapi kenapa hanya 2 orang sahabat saya yang “disayang”? jelas ini bukan hal yang adil.

Masalah yang jauh lebih besar dan bisa memperburuk image kota Malang dimata para pendatang adalah sikap polisi kepada para pendatang. Ketika mengetahui plat nomer sepeda dari luar kota, jadilah teman saya dijadikan bulan-bulanan seakan mereka melakukan kesalahan fatal, sudah menabrak seseorang hingga mati misalnya. Saya jadi sedikit membandingkan polisi busuk itu dengan polisi di daerah Bali. Tapi saya juga tidak paham apakah semua polisi Malang bertipikal seperti itu.

Saat saya sedang berkeliling di daerah Denpasar, karena tidak begitu paham lalu-lintas Denpasar, saya pun salah jalur, dan kebetulan ada polisi memergoki kesalahan saya. Bukannya memasang tampang seram dan meminta menunjukkan STNK, polisi itu dengan ramah menegur dan memberi petunjuk jalan yang benar ketika beliau tahu saya dari luar kota, dan kebetulan plat nomer sepeda saya juga plat nomer luar kota. Apakah itu hanya kebetulan (tapi kejadian ini tidak hanya sekali) atau memang polisi Bali sudah sadar pentingnya sikap ramah pada pendatang atau pelancong? Entahlah. Dan memang saat ini, Bali masih menjadi jujugan para pelancong. Apa itu juga disebabkan oleh keramahan para aparat disana? Bisa jadi…

***

Ternyata penjualan tiket baru dibuka pukul 15 wib nanti. Jadilah kami mendatangi tempat singgah kami selama di Malang, kontrakan tempat kakak dari Taufik, salah satu teman kami yang juga ikut menonton konser ini. Setelah sedikit melepas lelah dan membasuh muka lusuh kami, kami pun berkeliling kota Malang. Setelah lelah mengelilingi kota Malang, kami pun meluncur ke Lapangan Rampal untuk membeli tiket.

Seperti layaknya konser besar, puluhan calo pun berjejer di pinggir jalan di sekitar venue. “Tiket Skid Row! Cuma 25 ribu rupiah!” teriak mereka lantang sambil melambaikan lembaran tiket di tangan mereka. Banyak juga orang yang malas masuk kedalam tempat penjualan tiket resmi, berhenti untuk membeli tiket. Dan memang tidak seperti calo saat musim mudik tiba, calo tiket konser ini mematok harga sama dengan harga tiket yang ditawarkan promoter, Rp.25.000. Apakah kalian berpikir bahwa apa mereka tidak mengambil untung sama sekali? Kalau kalian berpikir begitu, berarti pikiran anda sama dengan saya dan sahabat-sahabat saya.

Tapi pertanyaan itu segera saja terjawab saat saya dan Budi, masuk menuju tempat penjualan tiket. Ternyata antara calo dan pihak penjual tiket sudah kenal sebelumnya. Dan calo ini memiliki semacam perkumpulan. Jadi anggota dari perkumpulan ini akan diberi diskon tiap membeli tiket dalam jumlah tertentu. Dan profit mereka, ya dari diskon yang diberikan itu. Dan ternyata diskonnya cukup lumayan juga, tergantung dari banyaknya tiket yang mereka beli. Semakin banyak tiket yang mereka beli, semakin besar pula potongan harganya Tak heran kalau ada puluhan calo yang rela berdiri di pinggir jalan untuk menjual tiket itu. Bukankah jaman sekarang orang harus sedikit bekerja keras untuk mendapatkan uang? Yang penting halal. Benar tidak saudara?

***

Ditangan saya kini terpegang benda yang paling penting dan paling berharga dalam hidup saya saat ini, tiket konser Skid Row. Dan saya tidak akan rela menukar tiket ini dengan Luna Maya telanjang sekali pun, kalau mengingat betapa berat perjuangan saya demi mendapatkan tiket ini. Kehujanan, bolos kuliah, menguras duit, ditilang polisi dan berbagai penderitaan lain seakan menambah arti penting dari tiket ini.

Tak lama setelah saya sampai venue, saya dan 5 orang teman saya segera masuk ke dalam venue. Tapi sebelum itu, 2 orang teman saya, si Budi dan Taufik sempat terpisah, dan akhirnya bertemu di dalam venue.

Pengamanan sangat ketat. Tak Cuma polisi yang menjaga, para tentara pun turun tangan, membuat para penonton tak cukup nyali untuk menorobos penjagaan. Ribuan anak muda tumpek blek di luar venue. Ada yang bergerombol sambil sama-sama memakai kaos hitam sebagai tanda anak metal, ada yang berpasangan sambil bergandengan tangan, ada juga yang muntah karena terlalu banyak meminum alkohol. Intinya, semua jenis anak muda ada disana.

Akhirnya konser agung itu pun akan dimulai. Setelah Rampal puas dihentak dengan penampilan 2 grup rock baru, Log Guns dan Kobe, kini saatnya sang nabi metal tampil dan mengguncang para penganutnya.

Seorang botak keluar dari backstage. Tiba-tiba saja tanpa dikomando, penonton bersorak, suasana bergemuruh. Mungkin mereka mengira dia adalah Jhonny Solinger yang rambutnya dipotong botak plontos. Dan MC gaek yang memandu acara tersebut hanya bisa berkomentar dengan logat Jawa Timuran yang khas “wah, ndeso rek! Ndelok wong bule wae seneng! Iku duduk Skid Row, iku tekhnisine!” penonton hanya bisa tertawa kecut.

Saat ini saya berada hanya 5 meter dari bibir panggung. Konser ini sebenarnya tidak terlalu ramai. Apalagi kalau dibandingkan dengan konser dangdut yang setiap kali konser, penontonnya pasti berjubel, penuh sesak hingga tak ada ruang untuk bergerak. Mc yang berdiri di atas panggung adalah seorang dedengkot musik rock Malang dan seorang Aremania sejati. Terbukti dari orasinya yang selalu mengagungkan Arema.

“Buat para calon bupati! Jangan hanya minta suara rakyat! Tapi perhatikan juga keinginan rakyat. Malang tidak butuh Mall, Malang butuh tempat yang layak untuk menggelar musik rock!” lagi-lagi dia berorasi. Sedikit mengingatkan para rakyat Malang bahwa sebentar lagi akan ada pilkada. Dan itu berarti ada beberapa orang busuk yang tiba-tiba saja hobi blusukan ke tempat kumuh atau tempat terpencil, tentu dengan diiringi wartawan yang setiap saat meliput kegiatan tidak penting itu dan menuliskannya di Koran

“Engko lek Skid Row mudun soko panggung, celuken meneh wae. Sing kompak rek! Njaluko tambah lagune… oyi?!” dia mengingatkan para penonton tentang kebiasaan encore para artis luar negeri yang cenderung sudah basi. Dimana lagu jagoan belum dimainkan dan artis sudah turun dari panggung. Saat penontong berteriak we want more, barulah artis itu keluar lagi dan memainkan lagu jagoan mereka. Klise sebenarnya.

***

Skid Row kali ini tidak sama dengan Skid Row yang merilis album Slave to the Grind, album metal pertama dalam sejarah yang berhasil mencapai peringkat 1 dalam chart album Billboard di Amerika saat itu. Bahkan sang dewa metal, Metallica belum mampu melakukan itu. Dan jangan menganggap generasi metal baru macam Avenged Sevenvold atau Dragon Force bisa melakukan itu dengan mudah.

Skid Row kali ini hanya membawa 2 personil aslinya, Scotti Hill yang tetap setia dengan gitar Blackhawk kesayangannya dan Rachel Bolan, pembetot bass yang jauh tampak lebih muda dari umurnya dengan rambut yang dipotong pendek. Seharusnya Dave “Snake” Sabo masih bergabung dan ikut datang pada konser ini. Tapi beberapa hari sebelum hari H, Snake jatuh sakit dan terpaksa digantikan oleh Ryan Cook, gitaris rhytim yang kalau dilihat sepintas, wajah dan penampilan serta gitar yang digunakan (Gibson Les Paul), mirip dengan Gilby Clarke, mantan pemain gitar Guns N Roses yang menggantikan Izzy Stradlin. Posisi drum yang dulu diisi oleh Rob Affuso kini digantikan oleh Dave Gara yang tidak kalah garang. Posisi vocal adalah yang paling penting. Setelah Sebastian Bach keluar dari Skid Row, posisi vital ini diisi oleh vokalis asal Texas berpenampilan cowboy, Jhonny Solinger. Banyak yang meragukan kemampuan Solinger dalam membawakan lagu Skid Row dan menggantikan karisma serta kemampuan Sebastian Bach. Dalam hemat saya, Sebastian Bach adalah salah satu vokalis rock terbaik disamping Axl Rose, Michael Matijevic dan Robert Plant. Dan benar-benar sebuah pekerjaan yang sulit bagi Skid Row untuk menggantikan posisi Sebastian Bach. Menurut banyak orang – termasuk saya – Skid Row tanpa Sebastian Bach adalah bukan Skid Row. Sepanjang perjalanan mau menonton konser, pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran saya, bisakah Jhonny Solinger tampil sebaik Sebastian Bach?

Skid Row Formasi Baru, Ki-Ka: Scotti Hill, Snake Sabo, Rachel Bolan, Johnny Solinger, Dave Gara

Sebastian Bach, Mantan Vokalis Skid Row

***

Dan saat-saat paling mendebarkan dalam hidup saya akan segera tiba saat terdengar lagu Blietzkrieg Bob-nya Ramones dari sound system yang berdaya 10.000 watt. The Ramones sendiri adalah band favorit Rachel Bolan. Rachel sempat menyanyikan lagu Psycho Therapy yang masuk di dalam album b-side ourselves, sebuah album dimana kreativitas Skid Row seakan terhenti dan hanya bisa memainkan lagu orang lain. Persis seperti kasus Sphagetti Incident-nya Guns N Roses.

Tahun 1990 keatas bisa dibilang adalah masa suram glam rock, hard rock, heavy metal atau apalah namanya. Jenis-jenis musik itu seakan tergilas oleh kedigdayaan grunge yang dibawa pasukan Seattle pimpinan sang komandan, Kurt Cobain dengan Nirvana-nya. Perlahan namun pasti, band-band rock dengan suara bening, rambut mekar dan kelakuan hedon jadi masa lalu dunia musik. Suara distorsi kasar, suara serak dan anti hero menjadi trend dan Kurt Cobain adalah idola terbesarnya. Grunge seakan menjadi antitesis dari musik mewah dan sikap hedon para rockstar era 80-an. Pamor band rock tambah tenggelam seiring era boysband. Kumpulan anak muda-ganteng-tidak kreatif-yang-bisanya cuma menyanyikan lagu orang-bukan ciptaan sendiri ini muncul dan melibas para generasi rock. Apalagi ditambah dengan kematian Kurt yang juga menjadi gong kematian bagi musik rock, apapun jenisnya. New Kids on the Block, Boyzone, Backstreet Boys, N’ Sync, A1, Westlife pun menjadi dewa baru. Dimana para orang tua lebih menyukai mereka yang bertampang manis dan berpakaian rapi kapanpun dimanapun. Dan rock pun tenggelam semakin dalam…

***

Benar saja, Skid Row pun muncul!

“From New Jersey, please welcome, Skid Fucking Row!!!!” dan…

“UOHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!” Teriakan membahana pun keluar dari masing-masing mulut penonton. Tak ada yang tak berteriak, saya yakin itu. Suara saya pun keluar dengan kencangnya, seakan menghabiskan semua energi yang sudah saya simpan semenjak berangkat dari Jember. Dan saat-saat susah demi Skid Row ini rasanya terbayar ketika saya melihat 5 orang yang tidak bisa dibilang sebagai pemuda lagi ini muncul.

Anjinggg!!! Hanya itu yang ada di pikiran saya. 16 tahun yang lalu saya hanya bisa melihat mereka dari sampul album. Dan sekarang saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana kerennya mereka. Entah kenapa saya jadi ingin menangis. Saya jadi paham bagaimana seorang Andrea Galliano nekat memanjat tiang listrik dan mengancam untuk melompat kalau Elvis Presley tidak membalas suratnya. Saya jadi paham bagaimana perasaan para gadis-gadis yang menangis karena melihat Westlife. Tapi perasaan saya ini berbeda dengan mereka. Bukan karena anggota Skid Row ganteng. Pertemuan saya dengan Skid Row adalah ibarat Old Shatterhand bertemu dengan Winnetou, Ikal bertemu dengan Weh atau bagaimana Starsky bertemu dengan Hutch. Agh! Saya jadi ngaco!

Wajah mereka sendiri sudah banyak berubah. Scotti Hill tetap bertampang garang, tapi dengan tambahan beberapa kerut dimuka yang menandakan bahwa dia sudah cukup berumur. Saya cukup kaget melihat wajahnya yang jadi kelihatan jauh lebih tua. Sama kagetnya ketika saya melihat Duff McKagan saat muncul bareng Velvet Revolver setelah sekian lama tidak ngeband. Wajahnya jauh kelihatan lebih tua.

Konser ini sepertinya tidak akan bisa saya tulis. This fucking amazing concert can’t be described by words… kalian seharusnya melihat sendiri bagaimana para umat Skid Row begitu khusyuk menyimak petuah-petuah nakal nan pemberontak milik Skid Row. Lagu-lagu hits mereka macam 18 & Life, Monkey Bussines, Slave to the Grind pun dimainkan secara kuat oleh mereka. Dan aplaus paling keras tentu saat Ryan Cook menenteng gitar akustiknya, Johnny mengambil mike dan 3 personel lain turun dan lagu I Remember You dimainkan. Lagu evergreen yang mungkin ada di file mp3 di computer anda. Apakah saya benar? Kalau saya benar, mari putar lagu itu dan bernyanyi bersama.

Saya sedikit khawatir ketika Skid Row turun dari panggung, dan penonton tidak kompak. Ada yang berteriak we want more tapi sebagian malah bernyanyi mars Arema. Tidak kompak! Saya khawatir Skid Row ngambek dan tidak mau muncul lagi. Tapi ternyata Skid Row sudah dewasa. Mereka muncul lagi sambil mengacungkan jempol kearah penonton.

Suasana asyik dalam 4 lagu terakhir seharusnya bisa lebih saya nikmati. Tapi mendadak ada arus masuk, dan tiba-tiba saja jarak antar penonton jadi jauh lebih rapat. Ya benar, seakan sudah menjadi aturan tak tertulis kalau menjelang akhir konser, pintu dibuka dan penonton bebas masuk. Sebenarnya ini adalah salah kaprah dimana polisi menganggap para penonton tak bertiket bisa masuk dan ikut menikmati konser ini. Tapi tidakkah kalian menyadari bahwa tindakan mereka sama sekali tidak menghargai promotor dan band itu sendiri. Dan yang jauh lebih menyebalkan, kebanyakan para anak bau kencur yang masuk itu memakai kaos hitam ketat bertuliskan kata sakti (atau basi?) yang bisa ditemui di hampir semua kaos yang dijual di pinggir jalan, “punks not dead”. Entah apa maksud “S” dibelakang kata punk. Plural? Saya gak ambil pusing!

Dengan dandanan rambut Mohawk bagai diberi lem kayu, celana pensil dan mulut bau alkohol murahan, mereka yang tinggi badannya hanya sedada saya tiba-tiba melakukan gerakan pogo. Menghantamkan tangannya ke kanan, ke kiri. Para gerombolan anak kecil yang saya taksir masih berumur 13 atau 14 tahun ini seperti kesurupan. Moshing dadakan pun tiba-tiba digelar. Saya yang mencoba menahan kekesalan saya hanya bisa diam sambil menggondok. Tapi tiba-tiba sebuah hantaman mendarat di bahu saya. Ternyata ada anak kecil botak memakai kaus (lagi-lagi) bertulis Punks Not Dead melakukan gerakan pogo. Saya yang sudah terlanjur kesal langsung saja melayangkan “ciuman” sayang ke kepalanya yang botak. Saat dia menoleh, saya melotot, benar-benar melotot sambil memasang tampang terseram yang pernah saya punya. Bukannya marah, dia hanya tersenyum kecut dan minggir dari hadapan saya. Dia bergeser sekitar 5 meter ke arah kanan saya, dan masih… melakukan pogo! Anak kecil yang bagai tuyul itu hanya menjadi bahan tertawaan orang-orang berdiri dibelakangnya karena lebih mirip tuyul mabok duren ketimbang anak skinhead yang lagi goyang pogo.

4 lagu terakhir itu benar-benar menjadi saat yang tidak menyenangkan. Ada beberapa anak yang sama botak sama norak, malah bergoyang ala reggae dan dangdut. Bukannya mengkritik, tapi goyang pogo, moshing atau goyang reggae itu mbok ya pada tempatnya. Yang pogo dan moshing itu ya di konser punk atau sejenisnya, dan yang mau joget reggae ya mbok di konser reggae. Rupanya mereka mengira Skid Row adalah orkes melayu dan Jhonny Solinger dianggap sebagai Dewi Persik. Atau mereka malah menganggap Skid Row adalah Sex Pistols dan Rachel Bolan adalah Sid Vicious? Entahlah…

Youth Gone Wild, lagu Skid Row favorit saya sepanjang masa menjadi penutup konser agung ini. Saya yang sudah tahu bahwa lagu ini adalah lagu terakhir, bersikeras menghabiskan sisa suara yang masih bisa saya produksi untuk bernyanyi bersama.

“no matter how old are you, where you from, we always gonna be???!!!”

“YOUTH GONE WILD!!!!” penonton bersorak menanggapi teriakan Jhonny. Dan lagu wajib generasi muda pemberontak di tahun 80 dan 90an pun dinyanyikan bersama…

Since I was born, they cant hold me down

Another misfit kid, another burn out town

I never play by the rule, and I never really care

My nasty reputation takes me everywhere

Now I’m looking, see it’s not only me

So many other stood where I stand

We are the youth, so raise our hand!

They called us problem child

We spent our lives on trial

We walk an endless mile

We are the youth gone wild!

We stand and we won’t fall

We’re one and one for all

The writings on the wall

We are the youth gone wild

Boss screamin’ in my ear bout who iam supposed to be

Get a three piece wall street smile, son you’ll just like me

I said, “hi man, there’s something you oughta know

I tell you this park avenue leads to SKID ROW!”

Now I’m looking, see it’s not only me

We’re standing tall, ain’t never a doubt

We are the youth

So shout it loud!

They called us problem child

We spent our lives on trial

We walk an endless mile

We are the youth gone wild!

We stand and we won’t fall

We’re one and one for all

The writings on the wall

We are the youth gone wild!

Suara saya sudah habis. Terkuras. Badan lemas tak bertenaga. Tapi saya seakan mempunyai semangat kembali begitu mengetahui bahwa om saya yang sedang dinas di Jambi bakalan gigit jari dan misuh-misuh begitu tahu saya dengan suksesnya melihat Skid Row langsung sedangkan dia di pedalaman Sumatera hanya bisa menyetel lagu Youth Gone Wild dari cd playernya…

Pertanyaan itu pun terjawab sudah. Johnny Solinger tampil bagus malam ini. Cara dia ketawa juga khas. Dia juga mampu membawakan nada tinggi dalam 18 & Life atau I Remember You, meski dengan caranya sendiri. Intinya dia pantas jadi vokalis Skid Row. Tapi tetap… Sebastian Bach tidak akan bisa tergantikan. Sebuah konser bintang 5 dari sang tuhan para umat metal, Skid Row!

Johnny Solinger, Vokalis Baru Skid Row

* Nuran Wibisono adalah seorang pecinta musik rock, menyukai sastra, berpacaran dengan carrier, petualangan dan gitar tapi juga sangat mencintai wanita. Seorang anak muda yang rela mengalah untuk tidak menggondrongkan rambut hanya karena sang ibunda tercinta tidak suka kalau anaknya berambut gondrong. Berharap lahir di tahun 1945 dan tumbuh besar di era Flower Generation, namun ternyata lahir pada tahun dimana Guns N Roses merilis Appetite for Destruction. Diracuni musik rock 70 – 80an semenjak baru bisa berjalan…

6 Tanggapan so far »

  1. 1

    ank said,

    HI bro…………,
    Lu sama ama gua sama-sama ngidolain Skid row dan Gun n’ Roses. sayang banget ya si Sabastian Bach udah gak skid row lagi. sama sayngnya ama bubarnya G N R. AXL and Sabastian adalah vocalis terbaik dunia kalo mnurut gua

  2. 2

    Anak Metal Yang Keterlaluan said,

    Hallo Bank,,Idola kita sama bank..Guns N Roses n Skid Row,,Gw suka musik classic rock,,padahal waktu band2 itu masih exist,mungkin gw masih ada di alam lain,soalnya SK buat gw turun ke dunia belum ada,,alias gw belum lahir..
    Umur gw sekarang 19 tahun..Sepupu gw yang udah sukses ngeracunin otak gw dengan musik2 cadas..Soalnya dulu Sepupu gw(gw manggil dia Bang Indra)pernah ikut kerja ama bokap gw,jadi dia lama tinggal di rumah gw..
    bahkan di umur gw dulu baru 8 tahun,gw udah minta diajaron gitar ama abang gw,,soalnya gw jatuh cinta banget waktu liat Slash keluar dari Gereja trus mainin gitarnya sambil rambutnya bergoyang ditiup angin(anjrit,,keren banget)
    Gw juga sama nonton Konsernya Skid Row,waktu di Jakarta(di Malang murah juga ya cuma 30.000)..perjuangan gw buat bisa nonton konser itu,,gw bela2in Velg Racing motor gw dijual dengan harga yang jatoh banget soalnya nyokap gw gak pernah kasih duit jajan gede buat gw…hahaha,,tapi gw gak nyesel soalnya Skid Row top abiz,,biar Bach udah gak bareng,tapi Skid Row isn’t Sebastian Bach,,but Skid Row is Skid Row…hahahaha

    Sory Komentar gw kalo kepanjangan……..

    Peace

  3. 3

    bunga safari said,

    Hallo,bank……nuran
    Kapan nulis “journey in Dago”?saya tunggu ya tulisannya……
    Peace….

  4. 4

    roni andika said,

    pengen donk lebih jauh dengerin lagu skid row

  5. 5

    zzzzzz said,

    metalllllllllllllllllllllllllllllllll!!! skid row is the best

  6. 6

    geri said,

    bsa ngeband?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: