Punk; “Decision To Be Different”

Peliput: – Artitik Dyah Ikhsanti (UKPKM Tegalboto Unej)*

– Ismal Muntaha (Suara Mahasiswa Unisba)

Bandung, 25 Januari 2008, sekitar empat meter dari Vila Putih, Lembang, samar-samar suara musik terdengar. Petikan bas yang cadas dan gebukan drum yang cepat. Saat saya berjalan menelusuri tangga, terlihat puluhan Punkers mengerumuni sebuah ruangan. Ada yang berdiri di sekitar ruangan sembari manggut-manggut, adapula yang hanya duduk duduk di sekitar tangga dan di depan ruangan itu. Sebagai orang yang baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini, terus terang terasa kikuk. Untungnya, ada saat itu saya ditemani beberapa rekan dari Bandung yang lebih mengerti kehidupan orang Punk.

Di samping ruangan bising itu ada sebuah vila. Jaraknya tidak begitu jauh. Di teras samping vila itu ada beberapa orang menjajakan kaos dan cendra mata lainnya. Salah seorang panitia berkata bahwa, hasil penjualan cendra mata tersebut digunakan untuk tambahan biaya penyelenggaraan acara. Hampir semua cindera mata itu berwarna hitam, mungkin saja mereka punya interpretasi tertentu dengan warna hitam. Sangat kontras dengan rambut mohawk mereka yang berwarna-warni.

Begitulah mereka mencoba bertahan di tengah arus kapitalisme. Mereka menyelenggarakan acara tidak dengan dukungan sponsor sebagaimana layaknya sebuah konser diadakan. Bahkan tiket masuk pun tidak. Disana hanya ada sebuah kardus yang menampung sumbngan dari pengunjung. Dengan kemampuan sendiri serta bantuan dari beberapa kenalan, mereka bisa mengadakan sebuah pertunjukan musik yang didatangi banyak orang bahkan dari luar kota. Selain itu, band pendukung acara pun tampaknya memang sudah terbiasa dengan pagelaran musik seperti ini. Mereka tidak meminta bayaran.

Acara ini berlangsung dua hari. Hari pertama berisikan pagelaran musik dari band-band dalam maupun luar negeri. Pada hari kedua diadakan diskusi panel mengenai Punk. Kedekatan antar individu di dalam komunitas Punk membuat mereka bisa mendatangkan siapa saja di komunitasnya. Seperti band pengisi acara yang berasal dari Malaysia dan Jerman, selain band asal Bandung sendiri.

Itulah yang menjadi ciri dari komunitas ini. Acara yang mereka selenggarakan ini selain menyuarakan agitasi perlawanan terhadap kapitalis dan pemerintah, juga mengusung samangat DIY (do it yourself). Dimana maksud dari semboyan ini adalah sebuah ajakan untuk melakukan semuanya sendiri. Hebatnya, dengan swadaya sendiri, mereka bisa mengadakan acara serupa di beberapa tempat. Acara musik seperti ini umumnya disebut gigs. Meskipun acara seperti ini baru pertama saya hadiri, saat itu misi saya dari redaksi adalah untuk membicarakan tentang Punk itu sendiri. Perbedaan bahasa menjadi salah satu kendala. Maklumlah, teman saya dan narasumber adalah orang Sunda. Saya yang dari Jawa Timur ini harus menterjemahkan setelah acara berakhir.

Setelah sejenak merasakan “kegarangan” para mosher, saya keluar dari ruangan karena situasi disitu membuat jantung saya berdebar kencang. Takut kalau-kalau, mereka saling menabrak dan mengenai badan saya. Namun demikian, wajah tenang tetap terpasang. Saya duduk di sebuah bangku di depan teras. “Uuu…wek!” ada yang muntah tepat di belakang saya. Kemudian seorang pria bertubuh mungil dengan dandanan ala Punk menghampiri. Namanya Fajar, ketua panitia acara ini. Mulailah perbincangan kami mengenai acara ini dan Punk. Saya sempat merasa kaget melihat keramahan dan cara mereka menghormati kami. Pasalnya, label anarkis dan garang ditempelkan sebagian besar orang di jidat mereka, dan itulah yang membuat kebanyakan orang terpengaruh –termasuk saya. Asal tahu saja, mereka menerima kami karena kami dari pers mahasiswa, bukan media massa umum yang mencari keuntungan.

Saat itu, tidak hanya Fajar yang bersedia meladeni pertanyaan-pertanyaan kami. Kunx, salah satu panitia, juga nimbrung dalam obrolan seru itu. Selain itu, salah satu pengisi acara asal Jerman, Neverbuiltruins, menyempatkan diri untuk bercerita tentang Punk pada kesempatan terpisah.

“Secara ekonomi, diditu (orang diluar komunitas Punk) lebih gampang,” kata Fajar dalam logat Sunda yang kental. Saat ditanya alasan mengapa memilih Villa Putih, ia menuturkan bahwa ini salah satu tempat yang mengizinkan. “Untuk orang seperti kita tempat terbatas,” lanjutnya.

Komunitas yang dapat dikatakan sebuah komunitas yang minoritas. Hal ini dikarenakan ciri khas pada kehidupan mereka sehari-hari. Rambut mohawk seperti suku Indian, baju yang sobek di beberapa bagian, anting di tempat yang tidak lumrah bagi orang kebanyakan, ditambah minuman keras dan musik cadas. Sebagaian dari mereka malah ada yang memilih untuk hidup di jalan, dan tidak mengikuti tata cara hidup orang kebanyakan. Tidak mengherankan kalau hanya sedikit orang yang mau memberi tempat bagi mereka.

Komunitas yang berkembang pada tahun 70-an ini, memiliki ideologi, dimana mereka melawan beberapa hal yang ada di dunia ini. Melalui musik mereka menlontarkan agitasi anti-seksisme, anti-kapitalisme, anti-rasisme, anti-fundamentalis agama, anti-nasionalisme, anti-dogmatisme dan anti-militerisme.

Gerakan mereka pun dapat dikatakan bersifat anarkis. Bagi mereka, anarki adalah sebuah ide yang sudah lama, tepatnya ide tentang cara berpolitik. “Anarki bukan kekerasan.” kata Heiko, salah satu personel Neverbuiltruins. Ia kemudian menambahkan bahwa media dan orang lain memiliki pandangan berbeda tentang anarki. Menurutnya, anarki adalah berkumpul bersama tanpa pemimpin. Dimana semua orang adalah sama, namun media mengumumkan bahwa anarki adalah kekerasan. Oleh karena itu, mereka selalu melakukan aktivitasnya dengan berkumpul. Dalam bermusik misalnya, mereka bermusik dengan membentuk band. Bagi Robin, si vokalis, berkelompok itu lebih “kaya” karena lebih banyak orang.

Bagi komunitas ini, berkumpul merupakan cara terbaik untuk melakukan perubahan. Meskipun mereka sadar bahwa revolusi tidak bisa serta merta terjadi. “Kita nggak bisa hancurin negara gitu aja”, kata Kunx. Baginya, apa yang dilakukan komunitas Punk saat ini dengan musiknya dapat membuat perubahan. “Beropini melalui musik. Mungkin dengan liriknya, kalo jelas,” kata pria berkaca mata ini.

Punk merupakan subkultur yang diminati banyak orang, dari yang memang memproklamirkan diri sebagai anak Punk, sampai mereka yang sekedar simpati. Oleh karena itu, kaum kapitalis bisa mengendus keuntungan dari budaya yang dibawa oleh subkultur ini. Gaya Punk dieksploitasi habis-habisan hingga akhirnya menjadi sekedar ikon bagi remaja gaul, bukan untuk sebuah ideologi. Senada dengan Kunx, Robin mengatakan bahwa cara berpakaian boleh apa saja, itu terserah mereka. Kemudian ia menambahkan, “saya tidak akan minum dengan mereka. We’re different”. Ia mengakui di Eropa Punk sudah menjadi budaya anak muda, namun hal itu tidak menjadi sesuatu yang perlu digubris. Bagi mereka, Punk merupakan ideologi bukan sekedar pakaian.

Menjadi seorang Punker merupakan sebuah keputusan, tepatnya keputusan untuk menjadi beda dengan orang kebanyakan. Sebagaimana yang diungkapkan Neverbuiltruins pada wawancara dengan Tegalboto, “essentially we got all into punk by listening to the music, attending concerts and participating manifestations. By doing this you will get inevitably in contact with people sharing your ideas, making friends with them. Soon a part of your social network or even the whole of it is consisting of ‘punks’ or people germane to that culture.”

Questions To Neverbuiltruins:

How this band was established?

    The band was a follow-up project to the band ‘Cruise Missiles’, at the beginning featuring all of the former members expect the singer. After a certain time Kaspar joined as the new singer and some months later also Robin got into it as a second guitarist.

    All of the members have been playing for years in punk-, hardcore- and metal-bands and some of us also know each other for several years. So far nothing unusual, expect that we are living in three different cities located in Germany and Switzerland which makes it somewhat hard to practice.

    You said that punk is a political way. In fact, we find there is no significant effect that is made by this kind of movement. What do you think about that?

      The questions are: what kind of effects do you expect? For which effects did you control? What is your conceptualization of significance (statistic, value a.s.o.)? Using your conceptualization: when is an effect considered as being significant?

      Beside these rather methodological issues, there are some points to list: If you await a world revolution or something similar – you won’t find it. In our opinion the ‘political’ components of punk in Switzerland/Germany are followings:

      Being critical against

      · political systems and their instruments of control, i. e. police and similar institutions

      · information provided by the mass-media (this includes asking about the information which is not provided)

      Fighting

      · sexism

      · racism

      · religion (if used as an instrument to control and suppress people)

      · religious fundamentalism

      · nationalism

      · dogmatism

      · speciesism (some of us)

      Punk uses music as medium and can therefore reach a lot of people. At shows people are gathering and exchanging their ideas. Some of them will be applied in the daily life or put in different forms of action, e. g. manifestations, flyers and blogs.

      What if everybody in this world is a Punker?

        This would largely depend on the kind of punker you imagine. If it would be one sharing at least the believes listed above the world might be better – unless beer would run short.

        When I red the agitations of you songs. They sound like you are really mean to against globalization. In what aspect that you do not agree with globalization?

          We do not agree with the neoliberal aspects of globalization. As multinational companies are growing they are simultaneously increasing their power. The turnover of several multinationals already exceeds the GDP of the poorest nations. As these companies are acting on a global level they can set up their factories where they want and can close them arbitrarily, moving to the next place. You know these examples. Many aspects are tied with the sample mentioned above: (sudden) unemployment, decrease of tax yield, environmental pollution and so forth.

          Some positive aspects of globalization might be: rising of the standard of living, more and more people are getting access to information, intercultural exchanging of ideas, increasing of the level of education. But one should be aware that the participation in these benefits of globalization is highly inequitably distributed.

          To put it briefly: we basically criticize the inequalities caused and/or intensified by a globalization which is mainly driven by neoliberal thoughts of western provenance.

          Do you think that one day, we can really free of capitalism?

            This is at least theoretically imaginable. However, the current developments point in another direction: heavily populated countries like India and China enjoy a considerable economical growth allowing their people to consume, which most of them will do intensively. Especially the branch of consumer electronics seems to be prospering, needing a lot of resources (including also huge amounts of water, this is often neglected!), e. g. over 1 billion mobiles were sold worldwide in 2006.

            Basically we consider all countries to be capitalist to a certain degree (maybe expect North Korea, which is not a good example for an alternative form of organizing a society though). So far no alternatives put into practice could stand the test of time and the pressure of capitalist market forces.

            What made you become Punkers?

              Five guys, five stories to tell. Essentially we got all into punk by listening to the music, attending concerts and participating manifestations. By doing this you will get inevitably in contact with people sharing your ideas, making friends with them. Soon a part of your social network or even the whole of it is consisting of ‘punks’ or people germane to that culture.

              Tinggalkan Balasan

              Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

              Logo WordPress.com

              You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

              Gambar Twitter

              You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

              Foto Facebook

              You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

              Foto Google+

              You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

              Connecting to %s

              %d blogger menyukai ini: