Dolanan Nang Cirebon

Oleh:

Teks: Mening Marganingsih

Foto: Ratna Dwi Suhendra

MENING

Mening Marganingsih adalah seorang gadis asal Blitar. Dia hijrah dari kota kecil itu untuk menuntut ilmu di hijaunya Fakultas Sastra Universitas Jember. Gadis manis ini mencintai anak-anak, traveling, novel, hujan serta es krim. Saat ini sedang berusaha keras untuk berjuang menyelesaikan skripsinya diantara gempuran hasrat untuk traveling. Gadis pecinta Nouvelle Vague ini bisa dihubungi di: sedalamata@yahoo.co.id.  Tulisan ini adalah kontribusinya yang pertama untuk blog ini.

***

Cublak-cublak suweng

Suwenge thing gelenter

Mambu ketundhung gudel

Pak empong leralere

Sapa ngguyu ndhelikake

Sir sir pong dhele kopong, sir sir pong dhele gosong…


Masih segar dalam ingatanku sepenggal tembang dolanan itu. Permainan yang dulu sering kumainkan bersama beberapa kawan tatkala senja merona. Seperti lirik di atas, tembang-tembang dalam permainan tradisional umumnya ringan dan menggelitik. Cara bermainnya pun sederhana namun interaktif. Berbeda dengan permainan anak masa kini, misalnya PS yang cenderung statis-individualistis, permainan tradisional anak zaman dulu konon memang all in one.  Saat anak bermain cublak-cublak suweng, sluku-sluku bathok, gobak sodor/ galah asin, ataupun dolanan tradisional lain, maka dia sedang mengasah fungsi motorik dan psikomotoriknya, berinteraksi dengan teman-teman sepermainannya, sekaligus melatih emosinya. Ada banyak nilai filosofis yang diusung, seperti sportifitas, tenggangrasa, kejujuran, dan kegigihan. Tubuh sehat, hati riang, banyak kawan:)

Dan ngomong-ngomong tentang dolanan, baru-baru ini Depbudpar menggelar Pesta Permainan Tradisional Anak dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional. Tujuannya adalah untuk mengenalkan dan meningkatkan apresiasi anak-anak nusantara terhadap ragam permainan tradisional. Event yang digelar tgl 15-17 Juni 2009 ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan besar dari Pekan Budaya Seni dan Film 2009 Kota Cirebon, dan diikuti sekitar 120 anak yang berasal dari Jember-Surakarta-Yogyakarta-Jakarta-Cirebon-Bandung-Serang. Kebetulan (nothing’s coincidence actually:) Rumah Belajar dan Rumah Bermain ‘Untukmu Si Kecil’ Jember mendapat kehormatan untuk mengirimkan 8 anak terpilih, beserta Prof. Sutarto selaku pendiri USK, dan 3 pendamping yakni aku, Ratna dan Witing untuk mengikuti event ini. Karena aku ada di sana saat event ini berlangsung, maka si empunya blog memintaku untuk berbagi cerita lewat aksara:)

Aku mulai saja…

Hari pertama yaitu pawai budaya. Anak-anak yang datang dari berbagai kota tersebut diminta mengenakan busana adat masing-masing dan bergabung dengan lebih dari 1000 personil parade lainnya seperti pasukan Keraton Cirebon, Jaka dan Rara Cirebon, anggota PMR Kota Cirebon, anggota Paskibra Kota Cirebon, beberapa instansi, dan masih banyak lagi. Pukul 14.00 WIB peserta pawai mulai berjalan selangkah demi selangkah menyusuri kota yang dipadati masyarakat yang telah lama menanti. Kontingen Jember putra berjalan bergantian di atas egrang kayu, sedangkan yang putri berjalan anggun ayu. Kontingen Surakarta juga beratraksi dengan egrang, namun egrangnya terbuat dari bambu yang lebih ringan.

Nyaris tidak ada hal yang baru di sini. Pawai atau karnaval ini hampir sama dengan pawai yang pernah kusaksikan di kota-kota lain. Baru separuh perjalanan, salah satu peserta Jember sakit perut. Karena tak sanggup berjalan, maka dia naik becak, aku selaku pendamping pun menemani:) Bisa ditebak, rasanya menyenangkan naik ‘Beca Wisata Cerbon’ sambil mengamati suasana kota. Personil pawai bersemangat tak kenal lelah menempuh 5KM rute pawai. Terik matahari sepertinya tak menjadi rintangan. Dalam hati aku berharap peserta pawai khususnya anak-anak itu tidak sampai pingsan di jalan. Over all, pawai berjalan lancar. Sekitar pukul 16.00 WIB seluruh peserta sampai di garis finish yakni Aloon-Aloon Keraton Kasepuhan. Setelah sejenak meluruskan kaki yang letih, semua peserta kembali ke hotel. Hari yang melelahkan namun menyenangkan🙂

bersiap pawai 02

bersiap pawai 03

Hari kedua juga sangat menguras energi. Agenda hari ini adalah lomba permainan tradisional. Diawali dengan lomba bola gotong royong dan lomba bakiak panjang yang menuntut kekompakan, rasa saling percaya dan daya tahan prima. Kemudian lomba egrang bambu dan lomba egrang bathok yang membutuhkan kegigihan. Ada yang menang ada yang kalah, biasa dalam setiap pertandingan. Acara ini ternyata menyedot perhatian masyarakat dan media. Setelah perlombaan usai, para pengunjung yang mayoritas terdiri dari anak-anak itu diizinkan untuk mencoba bakiak panjang, egrang bambu, dan egrang bathok.

Ketika matahari tepat di atas kepala, dimulai lah adu kreativitas yang diadakan di panggung utama yang lokasinya cukup sejuk. Bahan yang telah dipersiapkan harus dirangkai menjadi alat permainan tradisional. Kontingen Jember mulai membuat pistol-pistolan dari pelepah pisang, mahkota dari daun nangka, dan hiasan dinding dari kertas koran. Sedangkan janur mereka manfaatkan untuk membuat candi-candian, pecut-pecutan, dan keris-kerisan. Kontingen lain membuat mainan dari kulit jeruk, gabus, kayu, kaleng, gelas air mineral dan aneka barang bekas lain. Senang sekali mengamati anak-anak berkreasi. Sesekali mereka saling menggoda bercanda tertawa, sembari tangan mereka tetap melipat janur atau menumpuk gabus.

Beralih ke panggung hiburan, tarian tradisional Betawi -yang aku lupa namanya- disuguhkan. Yang jelas tarian itu sungguh memukau. Gadis-gadis penari dengan mahir melipat dan membuka kipas merah. Gerakan tarian yang graceful yet powerful itu membuat hasratku untuk les menari menyala lagi;)

Hari ketiga saatnya peragaan permainan tradisional dari tiap kontingen. Misalnya saja, Jember dengan bola egrang, Jakarta dengan permainan nenek grandong mencari mangsa, Cirebon dengan cublak-cublak cuwing, Bandung dengan perepet jengkol, di mana 3-4 pemain berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan dan mengaitkan salah satu kaki ke belakang. Dengan berdiri satu kaki, para pemain bergerak berputar ke arah kiri atau kanan sesuai aba-aba. Sambil bertepuk tangan, semuanya menyanyikan tembang dolanan perepet jengkol. Kemudian Serang menampilkan bentengan, dua tim saling mempertahankan benteng. Jogjakarta dengan cheng boleng, yaitu semacam olahraga tradisional (tidak kuuraikan karena panjang dan agak membingungkan:)

Ternyata permainan yang ada di suatu daerah terdapat pula di daerah lain, hanya saja nama dan tembang dolanannya berbeda. Kontingen Serang juga menampilkan atraksi angklung buhun, kesenian etnis Baduy. Aku baru tahu bahwa pakaian pemain angklung buhun yang bernuansa hitam merupakan refleksi kepercayaan masyarakat Baduy terhadap warna hitam sebagai simbol bumi. Kemudian acara berlanjut pada atraksi gasing nusantara. Di sini, ragam gasing dari beberapa daerah di Indonesia ditampilkan. Para peserta diberi kesempatan melepas gasing bersama-sama. Setelah itu baru acara penyerahan hadiah pada para jawara.

Sekedar info, kontingen Jember menjadi juara 1 lomba bakiak panjang putri, juara 2 dan 3 egrang bambu putra, juara 3 egrang bathok, dan juara 1 adu kreativitas. Well, sebenarnya menurutku semua anak adalah jawara. Menang kalah tak masalah, yang penting mereka sehat dan bahagia menikmati permainan tradisional warisan leluhur mereka:) Setelah penutupan, anak-anak beserta panitia saling berjabat tangan tanda persahabatan. Terima kasih pada Depbudpar dan semua pihak yang mendukung event penting ini. Berharap tahun depan lebih semarak. Tidak tertutup kemungkinan bahwa selain layang-layang, akan ada permainan tradisional lain yang go international🙂

Semoga semakin banyak anak-anak negeri yang mencintai permainan asli pribumi yang sebenarnya jauh lebih inspiratif, edukatif, dan rekreatif dibandingkan instant games masa kini. Anak-anak tetap lah anak-anak, apapun lagu yang mereka dendangkan, bagaimanapun kalimat yang mereka ujarkan. Jangan paksa mereka terlalu cepat dewasa, biarkan mereka menikmati momen sejati mereka:)

P.S. Beberapa detil yang ingin kutambahkan adalah bahwa selama di Cirebon aku belum sempat ke mana-mana. Ingin sekali kabur barang sejenak untuk berwisata kuliner seorang diri, atau berjalan kaki menikmati nuansa kota itu, namun apa daya…tak ada waktu rupanya. Untung sempat beberapa menit ke toko oleh-oleh. Kalau di Jogja ada oseng mercon, maka di Cirebon ada kerupuk mercon. Aku sempat icip-icip dan terbakar bibir. Nikmatnya;) Sekedar cerita, karena baru pertama kali naik kereta eksekutif (kalau enggak gratis, pasti milih pahe lah, hehehe…), maka aku baru tahu kalau di kereta itu pedagang asongan hanya boleh menjajakan dagangan dengan cara meneriakkan dagangannya berulang-ulang dari ujung gerbong, malah kadang tidak diizinkan naik sama sekali. Entah kenapa, aku malah merindukan transaksi ala gerbong ekonomi yang terkadang bikin geli:)

Anyway, thanks Nuran, for this nice space🙂

Comments (6) »

Playlist of This Week

Beberapa minggu ini saya lagi pusing. Pusing berat malah. Banyak masalah yang seakan berkonspirasi untuk membikin kepala saya menjadi pusing lalu pecah dan isinya berantakan. Mulai masalah band, lalu mengenai tulisan buat majalah tahunan Tegalboto, harus mencari uang untuk bertahan hidup dengan mengerjakan proyek translate, harus menjadi pemain basket dadakan dalam dekan cup, menjadi panitia untuk Dekan Cup hingga masalah dengan mahluk-mahluk imut nan menggemaskan yang bisa berubah menjadi mahluk yang menyebalkan. Mahluk itu dipanggil dengan sebutan wanita…
Saat itu saya jadi kembali tersadar. Betapa terkadang hidup itu bisa begitu melelahkan sehingga kadang bisa membuat kita lupa untuk sekedar tersenyum. Saya sekarang jadi paham bagaimana perasaan orang yang suntuk akibat bekerja. Selama ini saya selalu santai dalam menghadapi semua masalah. I’ll finish it all with my smile and laugh. Ternyata sekarang saya tidak bisa menghadapi cukup dengan senyuman.
Lagu menjadi senjata saya untuk bisa berperang dengan semua masalah itu. Dan berhasil, masalah saya akhirnya bisa terselesaikan satu persatu. Puji Jimi Hendrix. Benar kata sang pembunuh tuhan bernama Nietsczhe bahwa hidup itu adalah seni menyelesaikan masalah. Dan hidup jadi lebih menyenangkan dengan adanya masalah, dan menjadi jaduh lebih menyenangkan saat masalah itu terselesaikan.
Berikut ini adalah beberapa “senjata” saya dalam minggu ini:

1. Wonderbra – Indie V: Ah, lagi-lagi saya jatuh cinta dengan band ini. Band ini selalu berhasil membuat saya jatuh cinta. Mulai dari suara sang vokalis yang menggelegar bagai petir, suara gitar yang meraung-raung bagaikan iblis yang menjerit, cabikan bass yang mencambuk telinga anda hingga dentuman drum yang tanpa lelah bertalu-talu menggempur gendang telinga anda. Lagu ini berbahasa indonesia, berbeda dengan lagu-lagu di album Crossing the Railroad yang kesemuanya berbahasa inggris. Rupanya band ini sedang mencoba merambah ke ranah yang baru. Pattern lagu ini tetap sama, mengandalkan vokal Thera dan cabikan gitar yang “liar” dari Nosa. Asep sang pemain bass juga dengan lincah memainkan senar bass. Lagu ini paling cocok di dengarkan setelah bangun di pagi hari sambil menikmati segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng hangat. Luangkan waktu anda untuk menari sejenak bersama musik gila ini.

2. 70’s Orgasm Club – Indonesia Supermarket Bencana: saya selalu suka dengan musik blues funk. Sama seperti saya menyukai band ini. Anto sang gitaris sekaligus vokalis ini memiliki jari sakti yang langsung bisa menyihir anda melalui kuping. Suaranya mungkin biasa saja, namun permainan gitarnya bisa membuat anda pingsan. Lagu ini memiliki aura black music era 70-80-an. Mungkin sedikit kelemahan dari lagu ini adalah suara vokal kadang masih berkejar-kejaran dengan suara musiknya. Namun hal itu adalah wajar mengingat tingkat kesulitan bernyanyi sambil bermain gitar. Hal ini perkecualian jika anda adalah tipe vokalis-gitaris macam Charly ST12 atau Pasha Ungu. Saya pernah mencoba melakukan peran sebagai gitaris-vokalis di atas panggung, dan hasilnya adalah sebuah cover the SIGIT yang sangat buruk. Saya juga menyayangkan bagian solo gitarnya yang saya rasa kurang panjang mengingat saya sangat menikmati solo gitar dari musik blues funk (Anto: hey bocah ingusan! Kau pikir mudah membuat solo gitar yang panjang?!). kalau 70’s OC bermaksud membawa pendengar ke tahun 80-an, they did it! Mission accomplished.

3. Shaggy Dog – Lagu Rindu: ini lagu lama, dari album Kembali Berdansa. Namun entah kenapa saya kembali menyukainya. Apa karena suasana hati? Sumpah, dulu pas dengar lagu ini, aura musik ini belum keluar dengan maksimal, masih kalah dengan lagu Kembali Berdansa dan Jalan-Jalan. Namun di suatu malam di sekretariat Tegalboto, saya iseng mendengarkan Lagu Rindu. Dan saya tersentak! Lagu dari Pasukan Sayidan ini terdengar begitu jazz di kuping saya yang awam ini. Meskipun lagu ini berlirik sederhana, entah kenapa liriknya begitu terasa sangat dalam. Lagu ini sangat cocok di dengarkan di malam hari saat hujan deras turun. Oh ya, kalau anda menyanyikan lagu ini, anda harus mempunyai kharisma seperti Heru sang vokalis. Kalau anda tidak bisa menjiwai lagu ini, maka jangan pernah menyanyikan lagu ini di depan wanita incaran anda. Beberapa hari lalu saya coba melakukan hal itu. Dan hasilnya adalah wanita incaran saya itu berguling-guling sambil ketawa keras.

4. Sir Dandy Harrington – Ode to Antruefunk: dulu saya berpikir hanya Pidi Baiq yang bisa menulis lirik lucu sekaligus bermakna dalam secara bersamaan. Namun saat saya mendengarkan lagu ini, damn, the writer is a genius! Sir Dandy, saya rasa adalah sebuah antitesis dari sosok ideal seorang frontman band rock. Dia adalah anomali dari semua anggapan tentang bagaimana seharusnya vokalis band rock berbahaya. Tak perlu wajah tampan, suara bagus dan badan six pack untuk bisa jadi vokalis band rock yang keren. Jujur, dalam lagu ini, cara dia bermain gitar pun masih kalah dengan anak SMP. Di awal lagu saja sudah terdengar bunyi “teeot” pertanda ada kesalahan dalam memainkan nada. Suara dia pun sumbang minta ampun. Tapi jangan salah dan jangan mencibir, coba didengarkan lirik lagunya. Isi lagu ini bercerita tentang dia yang begitu mengagumi sang Antruefunk, gitaris dan vokalis dari band 70’s Orgasm Club. Begitu menghibur. Dan satu lagi, bagi saya, Sir Dandy masih jauh lebih baik kalau dibandingkan dengan vokalis band-band melayu saat ini. You rock uncle!

5. Sting – Englishman in New York: lagu ini juga lagu lama. Namun ya itu tadi, saya jadi sangat sering memutarnya belakangan ini. Suara Sting terdengar begitu serak-serak basah dan merdu secara bersamaan. Nuansa reggata de blanc terdengar padu dengan unsur jazz di pertengahan lagu. Ah, saya sangat cinta dengan lagu ini. I’m the englishman in new york…

6. Gugun and the Bluesbug – Spinning Around Me: kalau banyak orang bilang Gugun adalah titisan SRV, mereka salah. Gugun is so much better! Hehehe… entahlah apa pendapat saya itu benar, apa hanya karena saya begitu terpesona dengan lagu ini? Sama seperti lagu Wonderbra, Spinning Around Me sangat cocok kalau di dengarkan di pagi hari saat tetangga masih pada tidur. Nyalakan perangkat sound system anda pada titik paling keras, dan putar lagu ini. Dijamin anda akan di usir dari kamar kos anda saat itu juga. Ah, saya cinta blues! Saya cinta funk! Dan saya cinta Gugun! Oh ya, jangan lupa ritual berdansa saat mendengar lagu ini, kalian harus melakukan itu!

7. AKA – Shake Me: Puji Janis Joplin! Dulu waktu masih SMP, saya hanya tahu God Bless sebagai raja musik rock Indonesia. Namun setelah sedikit berumur, saya tahu bahwa ada band bernama AKA yang bahkan jauh lebih gila dan jauh lebih rock dibanding dengan God Bless. Sejak itu saya menisbatkan AKA sebagai raja rock musik Indonesia dalam hati saya. Ugh! Apa yang bisa membuat penggemar rock tidak suka dengan dengan band ini? Nyaris tidak ada! Mulai dari vokalis Ucok yang seperti penjelmaan Jim Morrison (meski kalah tampan) yang selalu bisa memadukan unsur “the other side” dengan musik rock. Musik perpaduan funk, hard rock dan psychedelic. Oh ya, apa sudah saya katakan bahwa pronounciation Ucok sangat-sangat sempurna? Maafkan saya eyang-eyang God Bless, dengan terpaksa kalian harus menjadi pangeran rock saja.

Leave a comment »

Akhirnya Wanita Itu Menikah…

Beberapa hari lalu,saya melihat pria itu sedang nongkrong bersama teman-teman kampretnya semasa SMA. Fahmi, salah satu dari mereka tiba-tiba berkata.

“tadi Dina dateng kerumah” katanya dengan wajah yang bangga.

Buat yang gak tahu siapa Dina itu, dia adalah kakak kelas Fahmi dan pria itu semasa SMA. Saat mereka baru selesai mengikut OSPEK (yang berakhir dengan tawuran massal dengan kakak kelas), Dina sudah menginjak bangku kelas 3.

“hah, ngapain Dina kerumahmu?” Tanya pria itu dengan terkejut.

Lalu tiba-tiba mimik muka si Fahmi berubah. Dia menjadi sedikit cemberut. Wajahnya yang jelek kini menjadi makin terkutuk. “Dina nikah boi…” sahutnya pelan. Fahmi tentu tak enak hati karena harus memberitahukan kabar itu pada sahabatnya.

Pria gondrong itu terkejut. Dina sendiri adalah kekasihnya semasa SMA.

“yang benar kau!” pria itu kaget, sedikit berteriak. Tak bisa dipungkiri rupanya, pria jelek itu masih kangen dengan Dina.

Akhirnya meluncurlah cerita dari bibir si Fahmi yang hitam gara-gara terlalu banyak menghembuskan asap nikotin itu. Ternyata si Dina telah mengadakan akad nikah pada tanggal 1 Maret lalu. Hanya saja, resepsi pernikahannya baru akan diadakan tanggal 25 April nanti.

Pria itu langsung terduduk lemas. Semangkok kolak di tangannya seperti enggan untuk disentuh. Tiba-tiba saja ingatannya melayang pada matriks waktu 6 tahun lalu, pada tahun 2003, dimana dia masih baru saja masuk ke SMA di pinggiran kota Jember.

Meski shock, pria tolol itu masih sanggup bercerita. Mau dengar ceritanya? Maka duduk manislah dan dengarkan ia bercerita…

***

Aku baru saja beberapa bulan duduk sebagai murid di SMA 1 Arjasa saat itu. Waktu itu aku asyik berbaur dengan para murid baru yang sama-sama senangnya karena akhirnya bisa memakai seragam putih abu-abu. Aih, masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan.

Saat itulah aku terkejut sewaktu ada 2 orang wanita masuk ke dalam kelasku, kelas 1.2. Satu orang dari wanita ini aku mengenalnya dengan baik. Dia Ifathul, salah seorang senior di Organisasi Pecinta Alam tempatku bernaung. Dia lebih pantas disebut sebagai lelaki yang terperangkap dalam tubuh wanita. Dia tomboy dan tangannya dipenuhi berbagai macam gelang ala anak pecinta alam. Dan kalau bicara,amboy, suaranya bisa mengalahkan orang Batak, keras bukan main.

Di sebelah Ifa, saat itu juga aku melihat bidadari. Aku tidak berlebihan…

Wanita itu bertubuh kecil, mungil. Dia memakai kerudung warna putih. Warna kulitnya putih, seputih batu pualam yang baru saja digosok. Hidungnya bangir kawan, lancip seperti paruh gagak. Alisnya adalah hal terindah yang ada pada wajahnya, tebal nan hitam, yang dengan setia meneduhi matanya yang kecil namun memancarkan seribu pesona. Dia begitu cantik. Sangat cantik.

Setelah bertanya pada Ifa, aku baru tahu namanya. Dina Safinah. Indah bukan?

Kenapa aku baru tahu kalau ada mahluk secantik ini diantara para penghuni organisasi Remas (Remaja Masjid)? Saat itu pula, aku bertekad untuk masuk Remas!

Namun ternyata, gunung lebih menarik bagiku ketimbang pelataran masjid yang teduh itu. Suara Jangkrik dan kodok yang bersautan membentuk harmoni juga terdengar lebih merdu daripada suara orang mengaji. Aku juga jauh lebih menikmati menatap matahari terbit di antara kabut rimba belantara ketimbang menatap matahari terbit disaat aku harus mengambil wudhu lalu sholat.

Singkat kata, aku tak jadi masuk Remas. Aku tetap memelihara gelang di tangan dan menjadi anggota pecinta alam. Hanya salamku yang aku titipkan pada Dina melalui Ifa.

Namun tahukah kau kawan? Kalau seorang gadis mengetahui ia cantik dan dikejar banyak pria, ia akan menjadi sedikit mengeluarkan aroma keangkuhan dan jual mahal. Salamku tak pernah ditanggapinya. Ifa pun juga dengan sadis selalu berkata

“Le, dia bisa cari pacar yang lebih ganteng, kaya, pintar. Buat apa juga dia menggubris salammu? Hahahaha!!!” dia berkata seperti itu dengan tawa yang menggema di penjuru gendang telingaku. Ingin rasanya aku menggendong Ifa lalu menceburkannya ke sungai Bedadung biar dia hanyut dan dimakan buaya putih.

Saat sang petualang menghadapi rintangan, ia tak akan pernah lari. Falsafah hidup itulah yang selalu aku pegang. Aku akan berusaha sampai dia benar-benar menolakku.

Saat aku pergi berkemah dengan teman-temanku, diantara dentingan gelas air surga yang mereka tenggak dengan nikmatnya, aku memikirkan oleh-oleh apa yang akan aku bawa buat Dina. Pagi harinya, saat semua teman-temanku sedang hangover di dalam tenda, aku pergi ke pusat perkebunan.

Di pusat perkebunan itu, di juallah beberapa varian teh hasil perkebunan itu. Jenisnya dan khasiatnya pun beragam. Mulai yang untuk menghaluskan kulit hingga untuk menambah gairah seks.

Aku memilih yang berkhasiat untuk menghaluskan kulit. Aku beli 2 bungkus besar. Untuk Dina, ya, untuk Dina seorang.

Esok harinya di sekolah, aku menunggu wanita berkerudung yang manisnya minta ampun itu. Pada saat bubaran sekolah, dia dengan sikapnya yang acuh seperti biasa melewati kelasku. Menoleh pun tak sudi ia.

Aku lalu berusaha mengumpulkan semangat. Diiringi oleh sorakan teman-teman sekelasku aku berlari mengejar Dina sambil membawa satu buah bungkusan berisi 2 bungkus teh berkhasiat itu.

“Din! Din!” aku berteriak keras hingga dilihat oleh para penghuni sekolahan.

Wanita angkuh itu hanya sedikit menoleh, lalu berjalan lagi! Semprul! Lalu aku berjalan di sampingnya. Aku berjalan kebelakang dengan wajahku menghadap dia yang juga sedang berjalan. Tak tahu pose itu? Aih, tak pernah liat film-film romantis ala Roy Marten tahun 80-an kau?

“Mau pulang Mbak?” tanyaku. Aku tak berani memanggil namanya tanpa embel-embel mbak. Dia terlalu berwibawa untuk kupanggil tanpa embel-embel mbak.

“iya, langsung pulang” jawabnya dengan wajah masih menghadap ke depan, menunduk dan mempercepat langkahnya.

“uhm, ini ada oleh-oleh buat Mbak Dina” kataku sambil menyerahkan bungkusan yang sedari tadi aku pegang di tangan kananku itu.

“apa ini dik?” dia bertanya dengan intonasi yang halus dan lembut. Itulah suara surga kawan.

Lalu aku bercerita panjang lebar soal kempingku di perkebunan teh Gunung Gambir, dan soal khasiat teh itu. Aku bercerita dengan semangat bagai seorang pendongeng yang diundang untuk bercerita dihadapan putri Raja. Sesekali dia tersenyum simpul, tanpa menampakkan giginya sedikit pun!

Tiba saatnya dia pulang, karena angkot yang dari tadi dia tunggu sudah datang. Duh gusti, ingin rasanya aku menimpuk kepala supir angkot itu dengan granat karena dia datang disaat aku belum puas memandang senyuman kakak kelas cantik itu.

Sebelum naik angkot dia menoleh padaku. Sambil memberikan senyumnya yang paling manis, dia berkata “terima kasih tehnya dik”. Saat itu pula, deretan gigi putihnya terpampang dengan indah di hadapanku.

Oh tuhan, saat itu mati pun aku rela…

***

Kejadian teh itu awal mula dari segalanya. Aku mulai dekat dengannya. kami sering ngobrol berbagai hal.

Kawan, tahukah kau, jumlah pria yang mendekatinya mungkin ada puluhan. Ada yang gantengnya naudubillah, ada yang kayanya minta ampun, ada yang alimnya gila-gilaan. Ada yang memberi Dina kerudung yang mahal. Ada pula yang membelikannya jam tangan yang juga mahal. Semua yang diberikan padanya adalah barang-barang mahal nan mewah.

Mana bisa aku membeli itu semua? Sedangkan untuk bisa naik gunung aku harus mengamen dan menjual botol-botol serta Koran bekas. Ganteng? Wajahku tak bisa diharapkan. Alim? Gimana membaca surat Al fathihah saja kadang aku lupa. Tapi aku punya cara sendiri untuk membuktikan bahwa aku tak kalah dengan pria-pria pemburu itu.

Saat aku mendaki Gunung Raung, aku dengan bodohnya menelusuri tiap jengkal puncaknya. Usaha menyabung nyawa itu tak lain hanya untuk bisa memetik bunga Edelweiss, bunga lambang cinta abadi itu.

Saat itu pertama dan terakhir kalinya aku mau memetik Edelweiss. Bunga itu aku petik hanya untuk gadis berkerudung yang selalu membelai rambutku disaat aku sedang suntuk.

Tahu apa katanya saat dia menerima bunga itu dan saat dia tahu bagaimana usahaku untuk mengambil seikat bunga itu?

“Aku gak peduli dengan barang-barang mahal yang mereka berikan. Bagiku seikat bunga ini adalah yang paling berarti. Makasih ya sayang” dia berkata itu dengan mengelus rambutku dan tak lupa memberikan senyumannya yang paling manis. Termanis di seluruh dunia…

Adalah Bande Alit yang menjadi tempat paling indah bagi kami. Saat itu ada diklat Paskibra. Dia datang sebagai senior, dan aku datang atas nama undangan dari Pecinta Alam. Buat yang tak tahu Bande Alit, itu adalah nama tempat. Lebih tepatnya Taman Nasional. Hutannya lebat dan jalannya pun rusak tak karuan. Namun Bande Alit mempunyai pantai yang luar biasa indahnya. Lelah menuju kesana pun terbayar dengan gemuruh debur ombak dan suasana yang tenang.

Di tengah malam, kami pergi ke pantai. Tak akan pernah aku lupa, saat itu bulan purnama. Langit pun hitam pekat. Tampak kontras dengan titik-titik bintang yang putih dan menyala terang. Indah sekali!

Kisah selanjutnya yang ada di pantai tak perlu lah aku ceritakan pada kalian. Tapi satu hal yang harus kalian tahu, aku tak berbuat macam-macam. Rasa sayangku tak mengizinkan hal itu…

***

Kalian tahu sifatku? Salah satu sifat dasarku adalah gampang bosan. Entahlah, beberapa orang bilang ini akibat dari kebiasaanku berpetualang dan tak bisa diam di satu tempat dalam kurun waktu yang lama.

Salah seorang sahabat pernah bilang

“Boi, kau tak ditakdirkan mencintai seseorang dalam kurun waktu yang lama. Kau itu petualang. Mungkin bagimu, yang lebih menyenangkan adalah disaat kau melakukan proses yang bernama PDKT. Kau anggap dia buruanmu mungkin. Setelah dapat? Bah! Beberapa minggu saja kau sudah bosan!” dia berkata dengan logat bataknya yang unik.

“ah yang benar? Tahu darimana kau?” aku ikut-ikutan berbicara dengan logat batak.

“Le, aku udah kenal kau beberapa tahun. Aku tahu sifatmu, dari yang buruk sampai yang jelek. Sudahlah, tak usah kau pacaran. Bikin wanitamu sakit hati! Mending kau berpetualang mumpung kau masih muda!” dia menasehatiku lagi.

Dan hal itu terjadi. Wanita yang kuanggap sempurna itu pun aku telantarkan. Aku terlalu sering naik gunung dan keluar masuk hutan. Entahlah, rasanya begitu senang aku hidup tanpa ikatan yang bernama pacaran.

Luar biasanya adalah, Dina selalu sabar, disaat aku menghilang pun. Namun aku yang kurang ajar. Disaat aku kangen dia, aku selalu datang padanya. Disaat dia kangen aku, aku tak pernah ada untuk dia.

Disaat aku butuh sifatnya yang keibuan, aku datang padanya. Tapi disaat dia butuh aku, aku selalu alpha…

Terakhir aku bertemu dia adalah waktu aku datang pada seminar skripsinya. Saat melihat aku, wajahnya tak bisa bohong. Dia senang sekali melihatku. Senyumnya adalah senyum paling ikhlas dari seorang kekasih yang pernah aku lihat.

Waktu dia lulus, aku menelponnya.

“Din, jangan nikah dulu ya… tunggu aku lulus, aku akan nikahin kamu” aku berkata seperti itu.

“iya, Dina gak akan nikah dulu. Dina maunya nikah cuma ama kamu…” dia menjawab seperti itu, dan aku sangat senang mendengar dia berkata seperti itu.

Kenyataannya? Aku terlalu sibuk backpacking. Aku terlampau benci dengan yang namanya ikatan. Tak pernah sekalipun aku menghubunginya. Terakhir aku menghubunginya adalah satu hari dimana malam itu hujan, di awal tahun 2008. Aku mengiriminya sebuah puisi, lewat sms. Sejak saat itu, aku tak pernah menghubunginya lagi.

Sampai aku dengar kabar dia sudah menikah, dan resepsinya akan diadakan dalam waktu dekat ini…

Rasanya? Entahlah, sukar dilukiskan. Menyesal? Ya, aku menyesal, karena selama ini sudah terlalu banyak menyia-nyiakan Dina. Dan aku rasa Dina pantas dapat pria yang lebih baik daripada aku.

Beberapa hari lalu, aku mendapat nomer hp-nya yang baru. Aku dapat nomernya dari Fahmi. Rupanya Dina memang sengaja mengganti nomernya.

Ini betul nomernya Dina? Aku kirim sms itu pada nomer yang baru aku dapat.

Selang beberapa menit, ada balasan dari nomer itu.

Ini betul nomernya XXX? Betul rupanya, dia Dina.

Saat itu aku baru selesai mandi, masih belum sempat balas sms itu. Beberapa menit kemudian, dia menelpon.

“Assalamualaikum” suara wanita diseberang sana menyapaku. Aku hapal suara itu. Suara Dina. Masih halus dan lembut seperti dulu. Masih suara yang sama dengan suara yang membuat aku selalu jatuh cinta padanya.

“Walaikum salam…” jawabku lirih.

Akhirnya kami ngobrol beberapa lama. Akhirnya seperti bisa aku duga, dia menanyakan kemana aku selama ini.

“kamu kemana aja kok ngilang? Gak ada kabar berita… kenapa gak pernah ngehubungi aku?” Dina bertanya dengan lirih, seakan mau menangis.

“…” aku Cuma bisa tertegun.

“maafin aku ya… aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Aku terlalu egois. Aku masih terlalu benci dengan ikatan” akhirnya mulutku bisa mengeluarkan suara, meski pelan seperti berbisik.

“coba saja kamu gak pernah ngilang… maafin aku ya, gak bisa nikah ama kamu” dia berkata dengan suara yang sama pelannya. Ah, rupanya dia masih ingat dengan janji itu…

Akhirnya dia cerita semuanya. Ihwal pernikahannya, siapa suaminya, bagaimana sifat suaminya. Rupanya dia dijodohkan oleh salah seorang saudaranya. Umur Dina yang sudah waktunya menikah menjadi alasan kenapa dia harus menikah.

“suamimu baik?” aku bertanya padanya.

“baik… dia sabar” dia menjawab meski sedikit enggan.

“Semoga kamu bahagia ya. Maafin aku ya, aku terlalu egois. Maafin aku ya…” aku hanya bisa meminta maaf karena tak bisa menikahinya. Aku meminta maaf karena aku lupa dia 2 tahun lebih tua daripada aku. Dia adalah wanita yang harus cepat menikah. Sedangkan aku malah terlalu sering bersenang-senang.

“jangan bilang begitu. Aku jadi tambah sedih.” Terdengar isak sedih di ujung sana. Ah, apa dia lupa kalau aku tak sanggup melihat wanita menangis?

“Aku jadi inget pas kita di Bande Alit. Aku selalu ingat itu… puisimu juga masih aku simpan, karena aku senang ama puisi itu” dia sekali lagi berbisik lirih. Puisi yang kukirimkan lebih dari satu tahun lalu itu masih dia simpan dalam inboxnya. Arghhhh!! Kenapa aku baru sadar kalau dia sangat cinta aku?!

Setelah telpon ditutup, berakhir sudah hubungan ini. Dia adalah wanita yang membuatku tak mau lagi mencari pacar berkerudung. Kalian tahu kenapa? Karena aku selalu menganggap dia adalah wanita berkerudung yang paling baik, paling ideal. Tak akan pernah ada wanita berkerudung lain yang bisa menandingi Dina. Naïf memang, tapi begitulah adanya pikiranku tentang dia dan wanita berkerudung lainnya.

Tengah malam Dina sms. Mungkin sms perpisahan.

Apapun tentangmu, aku menyukaimu. Begitu pula saat kita di Bande Alit dulu. Aku menyukainya. Dan sering kali aku merindukannya. Bila rindu itu tiba, tanpa terasa menetes air mata. Dada ini sesak. Sampai saat inipun, yang kurasakan tetap sama tentangmu. Mungkinkah tanpa kusadari, aku sangat menyayangimu?

Seringkali juga aku mempertanyakan kesungguhanmu padaku. Tapi kau sering menghilang, dan tak pernah memberiku tanda-tanda tentang kesungguhanmu. Itulah yang membuatku tidak berani menaruh harapan berlebih padamu. Jika sudah begini, rasa kecewa yang ada…

Apakah selama ini kau juga merindukanku, sama seperti aku merindukanmu?

Selamanya tak akan kulupa. Sampai kapanpun. Masa kita berdua, termasuk kenangan paling indah di pantai. Tak akan bisa aku lupa. Jauh di lubuk hatiku, aku akan selalu mengenangmu dan merindukanmu.

Semoga kamu senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.

Semoga kamu juga bahagia Dina Safinah…

dscn9781

***

Sudah baca curhatan pria itu? Itu bukan kisah telenovela kawan. Itu benar adanya. Tanggal 25 April ini, pria itu akan datang pada resepsi pernikahan yang digelar besar-besaran di salah satu gedung mewah di Jember.

Tak usah bersedih kawan. Sebab kesedihan itu bikin kita terkungkung. Salamilah Dina dan Pengantin lelakinya. Jadilah pria yang jantan. Pria petualang akan selalu berusaha menjadi pria yang selalu menerima kenyataan. Jadilah “kapal” yang selalu berlayar tanpa harus berhenti karena “jangkar”…

Be strong!

Comments (12) »

Nama Saya Muhammad- Kus Nandar

“Nama saya Kusnandar, pake strip tapi. Jadi Kus-Nandar” seorang lelaki berumur awal 30-an itu mulai berbicara dengan artikulasi yang tidak jelas.
Saya mengenalnya saat saya mulai masuk ke Organisasi Pers Mahasiswa Tegalboto. Saat itu, waktu semua anak sedang menyimak pembekalan materi, pria ini duduk dengan khusyuk di pojokan ruangan.
Semula saya sangka dia adalah salah satu senior di Tegalboto. Namun saat saya mulai mengobrol, jelas sudah, dia bukan anggota di Tegalboto, apalagi senior.
“nama saya Nandar. Lengkapnya Muhammad Kus-Nandar, pake strip.” Kalimat perkenalan yang ramah itu selalu dia ulang saat bertemu dengan orang baru. Hal itu tetap dilakukannya meski dia sudah melakukan hal yang sama pada orang yang sama.
Entahlah, namanya selalu berubah sesuai dengan moodnya. Pernah suatu saat dia mengganti namanya menjadi Rhoma Kusnandar, tanpa strip antara Kus dan Nandar. Hal itu dilakukannya saat dia kembali menyukai sang raja dangdut yang dengan gagah menumpas penjahat dengan gitar yang digendong dalam film Ksatria Bergitar.
“Anu, itu, nama saya Rhoma Nandar. Saya itu ikut Tae Kwon Do. Saya bisa jurus elang, sama seperti Rhoma Irama”. Itulah kata-katanya seusai film Ksatria Bergitar usai. Namun tidak jelas, apa benar dia pernah ikut Tae Kwon Do. Tak jelas juga apakah jurus yang dipakai sang raja gitar itu jurus Elang apa bukan.
Cak Kandar. Begitulah saya dan semua anak-anak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) memanggilnya. Dia adalah sosok legendaris di PKM.
PKM ini adalah suatu kompleks dimana sekretariat-sekretariat UKM tingkat Universitas berkumpul. Ada Tegalboto yang organisasi pers. Ada USEF yang UKM bahasa Inggris. Ada pula KSR, korps sukarela Palang Merah Indonesia. Hingga UKM Kesenian yang keren abis.
Tak ada yang tahu dengan jelas kapan Cak Kandar mulai ada di PKM. Beberapa orang bilang, sejak dia SD, dia sudah mulai membantu membersihkan sampah dan daun-daun kering yang mengotori PKM.
Ada yang bilang, sejak revolusi mahasiswa tahun 1998 Cak Kandar sudah mulai aktif hadir di PKM, sering ikut rapat malah. Tak ada yang tahu dengan jelas tentang asal-usulnya yang sedikit misterius.
Tugas Cak Kandar sendiri tidak jelas. Kesehariannya hanya berkisar pada bangun pagi, bersihin sampah,  menyapu pelataran sekret, mengisi air di bak mandi dan hal tetek bengek lainnya.

dsc_1531-edit1

***

Tapi di suatu malam yang sedikit riuh dengan suara para anggota Tegalboto lainnya, saya mengobrol dengan Cak Kandar.
“Cak, sampeyan kapan lahirnya?” tanyaku sambil memainkan nada E pada gitar bolongku. Aku menyanyikan lagunya Superman Is Dead yang berjudul Lady Rose. Cak Kandar duduk di sebelahku sambil menghisap rokok illegal bermerk Gagak Hitam.
“Anu, itu, saya lahir tahun 78” jawabnya dengan artikulasi yang tampak seperti orang mabuk. Bicaranya ngebut, terlalu cepat hingga kadang-kadang kalimatnya tak dapat ditangkap oleh kuping dengan jelas. Orang Banjar menjuluki gaya bicara seperti ini dengan sebutan besosolen. Saya juga kadangkala berbicara seperti ini.
“tanggal ama bulannya Cak?” aku bertanya sambil tetap memainkan Lady Rose dengan khusyuk.
“itu, 2 Mei di Jember” dia menjawab sambil menoleh padaku. Tatapannya polos, seperti anak kecil.
“kamu dulu sekolah ta Cak?” aku penasaran dengan latar belakang pendidikannya. Dia sendiri bisa baca tulis dengan lancar. Bahkan beberapa kali dia menulis puisi di sembarang kertas.
“Anu, saya dulu sekolah di SD Muhammadiyah. Trus masuk SMP kelas 1 carturwulan II saya berhenti. Pelajarannya susah.” Jawab dia sambil menghembuskan asap nikotin yang dengan segera menggelitik hidung saya.

Saya jadi berpikir sendiri. Orang-orang seperti Cak Kandar ini rawan menjadi korban bullying. Gaya dia berbicara dan berjalan mengesankan Cak Kandar seperti orang yang terganggu mentalnya, meski tak begitu adanya. Mungkin hanya ada sedikit kelambatan proses berpikir dalam otaknya. Dan saya yakin, Cak Kandar sama sekali tidak idiot.
Hal ini dibuktikannya dengan mampu mengingat nama-nama orang dengan jelas. Dia ingat beberapa anggota Tegalboto angkatan awal, tahun 95-an. Saya sendiri kaget dengan kehebatan daya ingatnya ini.
Lalu dia bercerita dengan jelas soal pengalamannya pergi ke Bali bersama beberapa anggota UKM Kesenian.
“itu dulu saya pergi ke Bali. Tahun 2001. Saya, Mas Bagus dan Mas Uwul minum arak Bali dari panci.” Dia bercerita dengan semangat tentang pengalamannya pergi ke Bali dan minum arak bersama beberapa anggota UKM Kesenian. Dan dua nama orang yang disebutnya itu adalah anggota UKM Kesenian angkatan lama.
Saat di Tegalboto pun, dia masih mampu ingat nama Mas Apen. Mas Apen ini sendiri sudah beberapa tahun lulus kuliah dan meninggalkan Jember. Sempat kerja menjadi wartawan Jawa Pos, kini ia menjadi aktivis sebuah LSM. Mas Apen, gimana kabarmu?
Mungkin inilah bukti bahwa tuhan itu maha adil.  Saat Cak Kandar yang lemah dalam kemampuan berpikir dan berlogika, tuhan menganugerahkan daya ingat yang luar biasa pada Cak Kandar.
Percakapan saya harus terhenti karena Cak Kandar disuruh membeli rokok oleh Romdhi, anggota lama Tegalboto yang sekarang sukses menjadi fotografer.
“nanti disambung lagi Cak!” sahutku lantang saat dia sudah mulai menjauh.
“iya!” dia juga berteriak dengan semangat.

***

Saat itu tanggal 7 April 2009. Malam itu Romdhi baru datang dari Bali. Kebiasaan dia saat datang dari Bali adalah membawa oleh-oleh paling khas dari Bali, Arak Bali. Orang-orang menyebutnya Arak Api. Karena menurut orang yang pernah merasakan rasa Arak itu, saat minum, perut akan terasa panas seperti disulut api.
Romdhi sendiri sudah mengenal Cak Kandar sejak awal dia masuk kuliah pada pertengahan 2002. Sudah hampir 7 tahun.
Setelah menghabiskan waktu selama 6 tahun lebih dalam misinya merebut title Sarjana Sosial, waktunya sekarang dihabiskan dengan menjadi fotografer. Kebanyakan dia mendapat order memotret model dan pre-wedding. Kualitas fotonya sendiri memang mengagumkan. Tak kalah dengan fotografer ibu kota.
Romdhi juga sering keluar kota saat mendapat orderan pre-wedding. Seperti di Bali ini contohnya. Dan yang tak pernah absen saat Romdhi datang dari Bali adalah buah tangan berupa berbotol-botol arak bali. Sedap bukan?
Cak Kandar adalah peminum alcohol yang kuat.

Kesan itu yang saya tangkap saat Romdhi dan beberapa anggota Tegalboto angkatan lama minum arak Bali bersama Cak Kandar. Kalau gak salah, itu terjadi pada awal tahun 2008.
Hanya arak ukuran satu botol aqua  sedang saja yang diminum bareng. Saat itu ada Mas Apen, mas Wendra, Mas Lutfi, Cak Kandar dan Romdhi sendiri. Saya sendiri bukan peminum alcohol. Jadi saya hanya ikutan nimbrung saja.
Saat itu Cak Kandar “dikerjai” oleh Romdhi. Berkali-kali Romdhi bilang pada Cak Kandar kalau Romdhi sudah dapat giliran minum, tinggal Cak Kandar yang belum. Jadilah Cak Kandar harus berkali-kali minum, sedangkan teman minum yang lain hanya 2 atau 3 kali saja.
Namun hasilnya luar biasa. Romdhi yang pada akhirnya duel minum dengan Cak Kandar, harus terkapar lebih dahulu. Dia juga jackpot berkali-kali. Cak Kandar? Dia tetap segar bugar sembari terus menyanyikan lagu-lagu Rhoma Irama dengan lantang di tengah hening malam.
Sejak itu saya berpikir Cak Kandar adalah jagoan soal minum alcohol.
Namun di malam 7 April itu, teori saya harus runtuh dan sedikit di dekonstruksi. Cak Kandar akhirnya terkapar karena menenggak Arak Bali terlalu banyak.
Saat tahu Romdhi membawa arak, Cak Kandar sontak gembira. Tengah malam, dia datang ke secret Tegalboto. Romdhi sendiri sudah menunggu dari tadi.
Menunggu kesempatan mengerjadi Cak Kandar tepatnya.
Adegan satu tahun silam itu kembali terulang. Cak Kandar harus rela minum terus-terusan karena keluguannya.
Romdhi sendiri tidak minum arak api itu sama sekali. Hanya dia sesekali berpura-pura minum. Dia berakting seperti meminum dan mengeluarkan mimik muka kepahitan karena minum arak. Namun setelah itu, dia langsung menyodorkan sloki pada Cak Kandar.
Hal itu terjadi berulang kali sampai…
“sudah, saya gak kuat sudah…” Cak Kandar berkata dengan lirih dan suaranya makin berat akibat pengaruh alcohol.

dsc_1543-edit1

Tapi dasar orang iseng, si Romdhi malah terus memaksa Cak Kandar untuk terus minum.
“ayo Cak, masa gak kuat? Namamu ini sudah terkenal sampai mana-mana lho Cak. Terkenal sebagai peminum terkuat di Unej” goda si Romdhi dengan seringai yang licik. Aku hanya bisa ketawa melihat adegan itu.
“ini Nuran ini. Ayo minum” ajak Cak Kandar pada saya yang dari tadi ketawa terus.
“Saya kan gak minum Cak” sahutku dengan ketawa yang tak bisa berhenti.
Dan adegan itu pun terulang lagi. Cak Kandar dengan gagahnya terus minum arak yang rasanya seperti api itu. Tanpa terasa ¾ isi botol sudah kosong, masuk ke dalam perut Cak Kandar.
Alcohol itu lalu beraksi. Membuat kerja otak dan mulut tidak sinkron. Akibatnya, Cak Kandar mulai meracau. Kali ini tentang pengalaman seksnya.
“saya dulu anu, pernah “maen” ke Dolog” kata Cak Kandar dengan mantap. Dolog itu adalah satu kompleks prostitusi kelas bawah di Jember. Ada anekdot, saking murahnya harga vagina disana, bahkan bisa ditukar dengan sebungkus nasi.
“gimana rasanya Cak?” tanyaku memancing. Ah, rupanya saya sedang ingin usil malam ini.
“rasanya keri-keri gimana gitu!” katanya dengan tampang yang polos . Keri itu bahasa Jawa untuk geli.
Lalu dia meracau tentang awal mula dia merasakan seks. Waktu itu dia diajak para tukang becak di sekitar PKM yang sedang ingin melepaskan sperma. Jadilah Cak Kandar yang tak tahu apa-apa itu mengiyakan ajakan para tukang becak itu. Dan, pengalaman penetrasi sekaligus ejakulasinya yang pertama itu begitu melekat di benaknya, bahkan hingga sekarang.
“ah, saya gak kuat saya. Udah, berhenti saya” dia kembali mengerang karena sudah tak kuat menenggak cairan api itu.
Namun tangan Romdhi yang usil terus mendorong gelas pada mulut Cak Kandar.

dsc_1538-edit
“terakhir ini Cak, trus selese” kata si Romdhi dengan senyumnya yang lebar.
Dan setelah gelas terakhir itu, robohlah Cak Kandar. Kepalanya mendarat di bantal empuk yang ada di sebelahnya. Matanya separuh menutup. Pupilnya sudah mendongak ke atas. Tinggal bagian warna putih yang terlihat. Cak Kandar sudah tak sadar.
Namun, 15 menit kemudian, terdengar erangan dari mulut Cak Kandar.
“saya mau muntah. Saya muntah” dia kembali meracau, sambil merangkak menuju pintu. Saying seribu sayang, muntahnya sudah terlalu lama mengendap, dan tahan untuk segera keluar. Jadilah sedikit muntahan tumpah di karpet. Ah, pasti besok para wanita Tegalboto akan marah-marah.
Cak Kandar pun akhirnya berhasil keluar. Lalu tiba-tiba suasana menjadi hening. Tak ada suara muntah Cak Kandar. Aku pun sedikit ketakutan, takut Cak Kandar mati gara-gara overdosis alkohol.
Aku menengok ke depan. Rupanya Cak Kandar tertelungkup pasrah di dekat kolam ikan. Disamping tempat sampah tepatnya. Dia sudah tak kuat berdiri lagi, jadilah dia ambruk disana.

dsc_1549-edit
Sontak aku langsung berusaha membangunkan dia. “Cak, bangun Cak, ayo muntah dulu” kataku sambil berusaha membopong Cak Kandar. Romdhi sendiri hanya bisa ketawa-ketawa. Dasar!
Akhirnya aku urut bagian leher belakangnya. Dan keluarlah cairan berwarna kuning kental dari mulut Cak Kandar.

dsc_1542-edit

Giliran aku yang ingin iseng. Aku ambil sandalnya Romdhi, lalu aku taruh tepat di bawah mulut Cak Kandar. Jadilah muntahannya jatuh tepat di sandalnya Romdhi.
Setelah puas muntah, Cak Kandar langsung merangkak lagi menuju sekret. Dia langsung jatuh terkapar dengan mata seperti orang sedang trance.
Jagoan minum dan pria yang menguasai jurus elang ini akhirnya roboh. Tak kuat menahan serangan yang bernama tipu daya…

***

Sebelum saya memposting tulisan ini, saya ngopi di depan PKM. Ikut bersama saya, ada kawan-kawan Tegalboto macam Dyah, Aris dan Erwin. Tak lupa, the one and only Cak Kandar ikut juga bersama kita.
“itu, sekarang nama saya Muhammad strip Kus. Nandar-nya dipisah. Panggilannya Kandar” kembali suara ramah perkenalan itu meluncur dari mulut Cak Kandar. Namanya ganti lagi rupanya. Jadi sekarang, kalau ditulis, namanya adalah Muhammad – Kus Nandar.
Setelah menghabiskan segelas kopi tubruk, dia pulang ke sekret Tegalboto.
“Saya ngantuk. Mau tidur. Kamu gak tidur?” Tanya Cak Kandar pada saya. Saya menjawab kalau saya sedang menulis. Setelah mendengar jawaban itu, dia langsung menimpakan kepalanya pada bantal yang sama dengan bantal yang ditidurinya saat sedang mabuk arak Bali itu.
Kawan, perkenalkanlah temanku. Jadikanlah dia temanmu juga.
“nama saya Kandar. Nama lengkapnya Muhammad – Kus Nandar.” Tiba-tiba suara itu kembali terngiang pada telingaku. Mungkin dia juga akan mengatakan hal yang sama padamu nanti.

Comments (4) »

Eksotisme Tari Seblang Di Ujung Timur Pulau Jawa*

Text: Nuran Wibisono

Photos: Andrey Gromico dan Nuran Wibisono

Banyuwangi, kota kecil yang menyimpan ribuan jejak sejarah. Banyak budaya eksotis yang tersimpan disini, yang sekarang harus rela berkelindan dengan rok mini, celana pensil, dan segala macam produk jaman modern lainnya. Meskipun berhasil berbaur, tak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan tradisional itu makin lama makin tergerus ibarat aspal jalanan Anyer-Panarukan yang lambat laun makin tipis tergerinda oleh roda truk raksasa yang angkuh dan tak bersahabat.

Gandrung mungkin adalah salah satu budaya Banyuwangi yang berhasil mendunia. Bahkan beberapa tahun lalu sempat ada kehebohan saat Temu, seorang seniman Gandrung, karyanya “dibajak” oleh salah satu institut budaya terkemuka di dunia, Smithsonian. Karyanya saat itu dicetak dalam cakram digital dan diperjual belikan secara legal, dan sang pencipta lagu mengklaim tidak mendapatkan royalti. Ternyata saat saya mengobrol dengan mas Wendi Putranto, salah seorang wartawan Rolling Stone Indonesia, kasusnya itu lebih berupa pada ketidak pahaman sang seniman atas sistem pembayaran royalti. Saat itu, Smithsonian Institute memilih untuk membayar dengan cara flat pay, yakni royalti di bayar sekali di muka. Sang seniman yang tidak tahu menahu soal sistem-sistem yang rumit seperti itu, hanya bisa menandatangani surat perjanjian tentang royalti itu. Hal ini menjadi ironis, disaat karya besar yang seharusnya dihargai – terutama oleh pemerintah Indonesia sendiri – ternyata malah dijadikan komoditas penipuan intelektual. Siapa yang salah? Anda tentu mempunyai pendapat sendiri-sendiri.

Selain Gandrung, Tari Seblang perlahan sudah menjadi trademark budaya khas Banyuwangi. Tari ini melambangkan kesakralan, ritual pertemuan dua dunia, sekaligus sebagai rasa syukur atas karunia yang diberikan oleh sang Pencipta dan juga menjadi permohonan untuk tolak bala. Hasnan Singodimayan, salah seorang budayawan Banyuwangi mengatakan bahwa Tari Seblang pada awalnya berfungsi sebagai tari tolak bala dan pernah tercatat di arsip Camat Glagah pada tahun 1930. Namun banyak budayawan lain beranggapan bahwa Tari Seblang sudah eksis sebelum tahun 1930.

Bapak Hasnan Singodimayan Sang Tetua: Di usia yang terbilang sepuh, Bapak Hasnan masih tetap mengawal ritual Seblang agar tetap sesuai dengan tradisi lama

Pada dasarnya, Tari ini bisa dibedakan menjadi dua, yakni dilihat dari penarinya. Kalau anda pergi ke Desa Umbulsari, anda akan menemukan penari yang masih gadis remaja. Di desa ini, ritual Tari Seblang biasanya diadakan setelah hari raya Idul Fitri. Lain lagi dengan Tari Seblang yang ada di Desa Bakungan. Meski sama-sama berada di Kecamatan Glagah, penari di Desa Bakungan adalah seorang yang sudah berusia lanjut. Waktu diadakannya pun setelah hari raya Idul Adha. Ke desa kedualah saya pergi dengan Miko, backpacker-mate saya kali ini, berharap bisa menyaksikan kesakralan dan keeksotisan Tari Seblang dengan mata kepala saya sendiri .

Berangkat dari Jember pada sore hari dengan motor, kami sampai di Banyuwangi sekitar 3 jam kemudian. Sempat singgah sejenak ke rumah Azhar Prasetyo, salah seorang budayawan Banyuwangi yang menulis buku tentang sejarah batik Banyuwangi, kami lalu diantar oleh beliau ke desa Bakungan. Kami berangkat setelah adzan maghrib berkumandang.

Setengah jam dari rumah bapak Azhar, kami sampai di desa Bakungan. Di kanan-kiri jalan desa yang sudah beraspal, tampak puluhan keluarga sudah membeber tikar dan karpet serta menyantap hidangan yang sudah disiapkan sejak dari rumah, seperti layaknya saat piknik.

Di bangku VIP, tampak pula sang bupati Banyuwangi yang cantik, Ratna Ani Lestari beserta para staffnya. Acara masih belum mulai, mungkin beberapa menit lagi.

Di arena tempat diadakannya ritual Seblang ini, ada pula amben (semacam meja kecil tempat menaruh boneka nini towok, bunga-bunga yang nantinya akan dijual pada penonton, hiasan dari janur, tebu, padi hingga sesajen). Hiasan padi, tebu dan tanaman pangan lainnya ini adalah untuk melambangkan kesuburan yang patut disyukuri. Boneka nini towok, dalam beberapa kepercayaan di Jawa, adalah merupakan simbol padi dan kesuburan. Di kanan-kiri amben, tampak duduk berjejer para pemangku adat dan juga master of ceremony.

RITUAL, DEWI SRI, WANITA DAN KESUBURAN

Tari Seblang bukanlah satu-satunya tari tradisional Indonesia yang diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanaman yang mereka peroleh. Dalam budaya Jawa-Mataraman dikenal yang namanya upacara Bersih Desa. Pada budaya Jawa non-Mataraman, dikenal pula upacara Sedekah Bumi. Di Bugis-Makassar, ada upacara bernama Mappalili. Dalam budaya Suku Dayak Kenyah yang berada di Kalimantan Timur ada pula upacara kesuburan yang disebut Lepeq Majau. Di Bali ada upacara Mungkah, Mendak Sari atau Muat Emping Ngaturan Sari.

Simbol kesuburan dilambangkan dengan sesosok dewi cantik jelita bernama Dewi Sri. Lain daerah, lain pula nama simbol padi dan kesuburannya. Dalam budaya Jawa, ada simbol yang bernama Nini Thowok. Pada budaya Sunda, dikenal dewi bernama Nyi Pohaci Sangiang Sri Dangdayang Tisnawati. Pada budaya Dayak, simbol padi dan kesuburan dilambangkan dengan penokohan Bini Kabungsuan.

dewisriDewi Sri Sang Dewi Kesuburan

Tokoh Dewi Sri dalam budaya kesuburan adalah sakral. Folklore tiap daerah pun mempunyai versi yang berbeda tentang Dewi ini. Dalam folklore Sunda, Dewi Sri lahir dari sebutir telur dari air mata seorang Dewa cacat bernama Dewa Anta. Konon, saking cantiknya sang Dewi, raja para Dewa; Bathara Guru, jatuh cinta dan ingin mengawininya. Namun niat itu digagalkan oleh dewa lain dengan cara membunuh Dewi Sri dan menguburkannya di bumi. Beberapa hari kemudian, dari kuburannya muncul beberapa jenis tanaman pangan. Dari bagian kepala, munculah kelapa. Dari bagian mata, tumbuh padi biasa. Dari dadanya, muncullah padi ketan. Dari kemaluannya tumbuh pohon enau dan dari bagian lain muncullah rerumputan. Kejadian di daerah lain, hampir sama, yakni sosok sentral wanita meninggal. Lalu dari kuburannya muncul tanaman-tanaman pangan.

Bukan hanya di Indonesia, Curt Sarch sang penulis buku World History of the Dance mengungkapkan bahwa jauh sebelum Masehi, para Shaman telah menciptakan hujan dengan ritual tari gembira. Kalau anda penasaran seperti apa ghost dance atau rain dance ini, tengoklah sosok Jim Morrison saat sedang tampil di atas panggung dan dalam keadaan trance. Morrison yang terobsesi dengan budaya Indian akan menari-nari liar. Itulah ghost dance kawan.

Di suku Amazon , ada tari bernama Tari Itogapuk. Tari ini membentuk gerakan laki-laki dan perempuan yang saling bersatu, melingkari sebuah tanaman, saling menempelkan pinggul lalu sang penari perempuan digendong untuk kemudian dibawa pergi.

Ben Suharto, sang penulis buku Tayub; Pertunjukan dan Ritus Kesuburan, mengungkapkan bahwa tari ritual kesuburan selalu berusaha mencapai suatu sikap mistis tentang seksual dengan cara mendekatkan manusia berbeda kelamin atau dengan cara saling melingkari.

Tari Seblang pun, melambangkan kesuburan dengan simbol mahkota yang dipakai oleh sang penari yang dihias dengan kembang aneka warna yang melambangkan kesuburan.

Satu kesimpulan yang bisa ditarik dari sini adalah betapa wanita merupakan sosok penting dalam mitos kesuburan, baik kesuburan tanaman maupun kesuburan reproduksi.

Saya jadi ingat sebuah petikan dari sebuah naskah kuno bernama Atharvaveda yang berbunyi “Perempuan datang sebagai lahan hidup; taburkanlah benih ke dalamnya, oh para lelaki.”

***

Selayaknya ritual lain, Tari Seblang pun memiliki beberapa tahapan sebelum mencapai ritual puncak. Inilah urutan ritual yang harus dijalankan :

1. Penari Seblang dirias dan mengenakan busana tarinya. Pada bagian tubuh dan wajahnya, dibaluri sejenis tepung batu halus berwarna kuning (biasa disebut atal ) yang dicampur dengan air. Lalu sang penari pergi berjalan menuju arena dengan beberapa penyanyi perempuan dan pemilik hajat.

foto-2

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Menuju Arena: Para tetua desa menuntun sang penari Seblang yang sudah trance menuju arena tempat dia menari.

.

2. Pada tahapan kedua ini, sang penari dikenakan mahkota yang dihias beraneka bunga dengan beragam warna. Tak lupa, sang penari memegang nyiru dengan tangannya. Lalu ada seorang perempuan tua yang menutup mata sang penari dengan tangannya. Setelah itu ada sang pawang yang membakar dupa serta merapal mantra untuk memanggil dhanyang (roh penjaga desa) yang dikenal dengan nama Buyut Kethut, Buyut Jalil, dan Buyut Rasio agar memberkahi pertunjukan Seblang ini. Saat nyiru yang dipegang penari Seblang itu jatuh, maka dia sudah mulai kejiman alias kesurupan.

3. Tahap ketiga, adalah tahap pemilihan lagu untuk mengiringi sang penari. Ada kalanya, lagu yang dimainkan tidak disetujui oleh sang penari yang sudah trance ini. Kalau sang penari setuju, maka ia akan berdiri dan menari dengan gemulai berlawanan dengan arah jarum jam. Kalau tidak setuju, dia tidak mau berdiri serta memberi isyarat agar sang pengiring memainkan lagu lain. Kadang kala, disaat jeda pemilihan lagu dan sang penari beristirahat, disisipkan pula ritual sabung ayam.

foto-4<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

The Owners: Para pemilik ayam aduan dengan bangga menggendong ayam jagoannya masuk menuju arena aduan dengan diiringi musik gandrung.

.

foto-3

Fight For Hysteria: Dua ayam jago diadu hingga darah mengucur dan penonton berteriak histeris.

.

foto-6 Break on Through to the Otherside: Sang penari ini sudah kejiman alias tubuhnya sudah dimasuki roh halus penjaga desa yang disebut dengan dhanyang. Saat itu pula tubuhnya lalu gemulai menari mengikuti irama musik


4. Setelah ritual tari berhenti sejenak, maka ada beberapa gadis cantik dengan kebaya memegang kembang dirma yakni bunga beraneka warna yang dipercayai bisa mendatangkan berkah. Lalu bunga ini diberikan pada penonton, lalu penonton memberikan derma uang ala kadarnya.

foto-51 Kembang Dirma: Salah seorang penyanyi yang manisnya gak ketulungan, memberi bunga yang disebut dengan Kembang Dirma pada penonton, dan penonton memberikan uang sekadarnya untuk sekedar menambal biaya operasional

.


5. Tahapan ini disebut tundik dan beberapa menyebutnya Ngibing, yakni saat dimana sang penari mengajak penonton untuk ikut menari. Cara memilih penontonnya unik, yakni sang penari Seblang melemparkan sampur pada penonton. Siapa yang ketiban sampur itu harus menari bersama penari Seblang. Suasana menjadi ramai dan penuh tawa saat penonton lari berhamburan menghindari sampur yang dilempar itu. Saat ditanya kenapa lari, jawaban mereka hampir seragam, “takut”. Kawan, inilah hasil nyata dari pembodohan film horror Indonesia yang membuat orang beranggapan bahwa orang kesurupan bisa membunuh kita.

foto-8

Ngibing atau Tundik?: inilah saat sang penari melempar samplung pada penonton. Dan seringkali penonton – terutama anak-anak- lari ketakutan saat sang penari menghampiri.

.

6. Inilah titik puncak dari upacara Seblang. Saat sang pengiring memainkan lagu Candradewi yang dimainkan dengan cepat, sang penari juga berputar dengan cepat. Lalu sang penari rebah dan tergeletak menelungkup. Saat ini petugas kembali meminta derma dari para penonton.

Selepas Isya, acara pun dimulai. Para kameramen dari beberapa media elektronik sudah siap dengan kamera dan tripod. Para fotografer sudah mendapat angle yang bagus. Dan para pamong praja bertingkah over acting menghalau penonton atas nama kenyamanan ibu Bupati yang terhormat serta jajarannya yang penjilat.

***

Seusai pertunjukkan, ada satu ritual lain yang tak afdol rasanya jika tak diikuti. Yakni acara berebutan sesajen hasil pertanian yang digantung di beberapa bagian kantor balai desa. Ada durian, padi, alpukat, sirsak, pisang hingga kelapa. Saya dan Miko yang terkena euforia, langsung saja ikut berebutan sesajen itu dengan puluhan ibu-ibu dan juga anak-anak yang lincah. Saya dan Miko yang berperut buncit karena jarang olahraga, kalah gesit dan akhirnya hanya mendapat dua buah pisang. Karena tahu bakalan tidak kebagian lagi, kami lebih memilih untuk memotret acara perebutan sesajen itu.

dsc_03661Masih Ingat Pria Ini?

.

foto-7

Huuup!: Dengan sedikit melompat, anak kecil ini berusaha keras untuk bisa mengambil sirsak yang digantungkan sebagai sesajen.

.

Setelah acara berebut itu selesai, kami mengobrol dengan ibu Eko Wahyuni Rahayu, seorang dosen dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya jurusan Sendratasik (Seni, Drama, Tari dan Musik). Rupanya selama beberapa tahun terakhir, beliau rutin mengajak anak-anak didiknya untuk melihat upacara Seblang ini. Beliau ingin mengajarkan dan menanamkan pada pikiran mahasiswanya bahwa masih ada tari tradisional yang bahkan jauh lebih eksotis daripada tari modern yang lebih didominasi unsur western.

Beliau berharap dengan adanya pikiran seperti itu, tari Seblang tak akan pernah punah digilas jaman. Satu lagi yang bikin saya senyum-senyum senang adalah, gerombolan mahasiswa itu didominasi oleh mahluk indah yang disebut wanita. Dan mereka kebanyakan berparas indah ibarat Dewi Sri yang turun dari khayangan, halah! Mata saya yang sedikit ngantuk tiba-tiba menjadi terang saat melihat paras rupawan para calon seniman itu. Sayang, saya dan Miko adalah orang-orang yang ditakdirkan untuk jadi pecundang saat harus berkenalan dengan wanita. Apalagi kalau dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka bertampang manis sedang kami bahkan belum mandi…

.

foto-9

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Faces of the Crowd: inilah kerumunan penonton yang menonton tari Seblang. Beberapa dari mereka berasal dari luar kota, mulai saya yang dari Jember hingga sepasang suami istri yang berasal dari Surabaya. Cari gadis mana yang paling cantik…

***

Setelah selesai mengobrol, kami pun bersiap untuk pulang. Setelah pamit dengan Bapak Hasnan, Ibu Eko dan dengan para tetua adat daerah sana, kami pun bergegas pulang menuju Jember, kota kami tercinta. Malam memang dingin, namun tiba-tiba terasa menjadi hangat saat saya berjanji pada diri saya sendiri untuk datang kesini lagi tahun depan, untuk kembali menyaksikan tari tradisional yang penuh magis ini. Sambil berjanji, saya juga berharap agar kesenian tradisional seperti ini tak akan pernah lapuk dimakan jaman, semoga…

* Tulisan ini adalah versi asli dari tulisan yang masuk di situs http://www.jakartabeat.net

Comments (5) »

School Of Rock: When Everybody in the Class Start to Rocking

dscn9239

Ayat-Ayat Suci Itu…

Tidak, kisah ini bukan cerita tentang sebuah institusi kesenian di Jakarta yang kisahnya pernah ditulis dengan brilian oleh Wendi Putranto. Tapi ini kisahku saat aku harus mengajar bahasa inggris untuk anak kelas 3 SD di pelosok desa Pocangan kecamatan Sukowono.

Hari sabtu, seperti biasa, jadwalku di pagi hari selama KKN adalah mengajarkan bahasa inggris dasar untuk anak-anak SD di desa Pocangan. Hari itu aku mendapat jatah mengajar anak kelas 3. setelah minggu lalu aku mengajar anak kelas 6, dan kelas berakhir dengan perkelahian, aku berharap para anak kelas 3  ini tidak sebrutal dan seganas anak kelas 6.

Aku masuk kelas dengan mantap dan sok berwibawa. Di kelas sudah ada Ika – anak fakultas kedokteran dari Sragen yang selalu mengaku dia berasal dari Solo. Ada juga Choky – Koordinator desa yang juga berasal dari fakultas kedokteran, ssstttt, dia punya adik yang cantik. Lalu ada si Lukman – mahasiswa akademi keperawatan, yang merupakan satun-satunya lelaki yang layak untuk dipandang di kelompok kita selain choky

“sampai mana pelajaran kalian?” aku bertanya dengan suara diberat-beratkan. Lalu seorang anak mengeluarkan buku LKS yang masih bagus – tanda bahwa buku ini jarang disentuh. Dengan sedikit membaca, aku sudah malas mau mengajar. Isi bukunya sendiri tipikal buku-buku anak SD yang selalu sama dan membosankan.

Lalu muncul ide gila di kepalaku.

“gimana kalau kita menyanyi aja?” kataku lantang di depan kelas.

”iya kak, iya kak, kakak ganteng deh!” riuh rendah kalimat itu segera terdengar dari seluruh penjuru kelas. Uhm, oke, kata-kata bahwa aku ganteng itu memang fiksi belaka. Jangan dianggap serius kawan.

”mau nyanyi apa kita hari ini?” tanyaku lagi. Dengan polos anak-anak berumur 10 tahunan ini menyebutkan beberapa band sesat pemuja cinta. Sebut saja dari yang paling norak, ST 12. lalu ada band yang paling sering dihujat, Kangen Band. Hingga band pop jebolan salah satu ajang pencarian band berbakat, D’Masiv.

Fuck! Why this should happen to me? Gimme a break! Adik-adikku, kalian sudah terlalu lama menjadi domba yang tersesat. Biar kakak Nuran yang akan membawa kalian ke jalan kebenaran, way of rock!

Lalu aku mengambil sebatang kapur yang sudah berbentuk mirip ujung penis. Aku menuliskan dua baris lirik.


Hey hey mamma, said the way you move
Gonna make you swept, gonna make you groove!

Tahukah kalian apa judul lagu itu? Sambutlah Black Dog, lagu  nominasi pengganti lagu kebangsaan kita Indonesia Raya.

Dan ya, aku mengajari mereka lagu Black Dog, gimana cara menyanyinya hingga memberi mereka sedikit propaganda

“kalian jangan terlalu banyak mendengarkan ST 12 atau Kangen Band, itu bisa bikin otak kalian menjadi rusak, dan kalian akan menjadi bodoh selamanya!” aku berbicara lantang di depan kelas. Dan ya, mereka percaya itu semua. Untuk lebih meyakinkan mereka tentang kebenaran hipotesa jeniusku itu, aku mengorbankan Ika

“kalau gak percaya, coba tanya mbak Ika. Dia itu bu dokter, pasti tau hal apa yang merusak otak” imbuhku tolol. Dan Ika yang aku jadikan senjata hanya bisa menganggukkan kepala dengan lemah.

Kalau kalian berpikir kelas sudah usai, maka kalian salah besar! Salah besar! Karena sesaat seusai kelas rock itu selesai, aku bertanya pada murid-muridku yang kubanggakan itu

”kalau sabtu kalian pulang jam berapa?” aku bertanya pada seluruh kelas. Dan seluruh kelas pun  kompak menjawab

”jam 12 kaaaaakkkk!”

Wow, itu masih 2 jam lagi saudara. Kalau anda bercinta selama 2 jam, maka anda akan merasakan kesemutan lalu pinggang anda kram karena terlalu lama menggoyang, dan anda akan menghabiskan sisa hari itu berada di atas tubuh pasangan anda. Itu merupakan waktu yang lama. Lalu sisi gak warasku muncul lagi.

”gimana kalau sekarang kita pulang aja? Kalian ganti baju, lalu aku tunggu di balai desa. Kita mancing dan mandi di sungai aja. Gimana, setuju gak?” tanyaku dengan tingkat menyesatkan sedemikian rupa. Namanya juga anak-anak, kalau diajak melakukan sesuatu yang menyenangkan, pasti kita bisa menduga jawabannya

“iyaaaaa kaaaaaakkkk, mandi di sungai aja yuuuuukkkk!!!!” teriak mereka kompak. Dan jadilah tepat jam 10 pagi aku bubarkan kelas dan segera pergi menuju sungai meninggalkan guru mereka yang terbengong-bengong menyaksikan murid-muridnya yang  berhamburan pulang….

Note: Buat para murid-muridku di SDN Pocangan, jadilah kalian anak-anak yang berbeda. jadilah kalian ana-anak yang berani. sebab tuhan bersama orang-orang yang berani

Comments (4) »

Saya Menulis Untuk Jakartabeat.net

Gila! berawal dari ngobrol soal musik, saya ditawarin menjadi kontributor untuk sebuah website humaniora oleh sang pemilik web, Philip Vermonte.

Sebenarnya saya rada sungkan juga untuk nulis disana, karena pas saya liat nama-nama kontributornya, saya jadi minder sendiri. Ada nama mas Wendi Putranto, Coen Pontoh, Novi Rianti Yusuf, Ulil Abshar Abdalla, sampai Laksmi Pamuntjak. Gimana saya gak minder coba? Dengan gaya penulisan saya yang bohemian, mana mungkin tulisan saya bisa dibandingkan dengan tulisan-tulisan  “gila” mereka…

“justru karena gayamu yang bohemian, saya undang kamu nulis” kalimat itu tiba-tiba membesarkan hati saya. itu adalah kalimat dari mas Philip. Dan ya, saya sekarang sudah tidak minder lagi, malah saya bangga telah berhasil nulis di jakartabeat. Itu berarti saya harus meningkatkan kemampuan menulis saya dan harus banyak belajar.

situs jakartabeat sendiri dapat diakses lewat daftar blog di sebelah kanan tulisan ini…

semangat!!!

Note: terima kasih tak terhingga buat Mas Philip Vermonte yang sudah memberi saya kepercayaan yang tak ternilai harganya🙂

Comments (2) »