Dolanan Nang Cirebon

Oleh:

Teks: Mening Marganingsih

Foto: Ratna Dwi Suhendra

MENING

Mening Marganingsih adalah seorang gadis asal Blitar. Dia hijrah dari kota kecil itu untuk menuntut ilmu di hijaunya Fakultas Sastra Universitas Jember. Gadis manis ini mencintai anak-anak, traveling, novel, hujan serta es krim. Saat ini sedang berusaha keras untuk berjuang menyelesaikan skripsinya diantara gempuran hasrat untuk traveling. Gadis pecinta Nouvelle Vague ini bisa dihubungi di: sedalamata@yahoo.co.id.  Tulisan ini adalah kontribusinya yang pertama untuk blog ini.

***

Cublak-cublak suweng

Suwenge thing gelenter

Mambu ketundhung gudel

Pak empong leralere

Sapa ngguyu ndhelikake

Sir sir pong dhele kopong, sir sir pong dhele gosong…


Masih segar dalam ingatanku sepenggal tembang dolanan itu. Permainan yang dulu sering kumainkan bersama beberapa kawan tatkala senja merona. Seperti lirik di atas, tembang-tembang dalam permainan tradisional umumnya ringan dan menggelitik. Cara bermainnya pun sederhana namun interaktif. Berbeda dengan permainan anak masa kini, misalnya PS yang cenderung statis-individualistis, permainan tradisional anak zaman dulu konon memang all in one.  Saat anak bermain cublak-cublak suweng, sluku-sluku bathok, gobak sodor/ galah asin, ataupun dolanan tradisional lain, maka dia sedang mengasah fungsi motorik dan psikomotoriknya, berinteraksi dengan teman-teman sepermainannya, sekaligus melatih emosinya. Ada banyak nilai filosofis yang diusung, seperti sportifitas, tenggangrasa, kejujuran, dan kegigihan. Tubuh sehat, hati riang, banyak kawan:)

Dan ngomong-ngomong tentang dolanan, baru-baru ini Depbudpar menggelar Pesta Permainan Tradisional Anak dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional. Tujuannya adalah untuk mengenalkan dan meningkatkan apresiasi anak-anak nusantara terhadap ragam permainan tradisional. Event yang digelar tgl 15-17 Juni 2009 ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan besar dari Pekan Budaya Seni dan Film 2009 Kota Cirebon, dan diikuti sekitar 120 anak yang berasal dari Jember-Surakarta-Yogyakarta-Jakarta-Cirebon-Bandung-Serang. Kebetulan (nothing’s coincidence actually:) Rumah Belajar dan Rumah Bermain ‘Untukmu Si Kecil’ Jember mendapat kehormatan untuk mengirimkan 8 anak terpilih, beserta Prof. Sutarto selaku pendiri USK, dan 3 pendamping yakni aku, Ratna dan Witing untuk mengikuti event ini. Karena aku ada di sana saat event ini berlangsung, maka si empunya blog memintaku untuk berbagi cerita lewat aksara:)

Aku mulai saja…

Hari pertama yaitu pawai budaya. Anak-anak yang datang dari berbagai kota tersebut diminta mengenakan busana adat masing-masing dan bergabung dengan lebih dari 1000 personil parade lainnya seperti pasukan Keraton Cirebon, Jaka dan Rara Cirebon, anggota PMR Kota Cirebon, anggota Paskibra Kota Cirebon, beberapa instansi, dan masih banyak lagi. Pukul 14.00 WIB peserta pawai mulai berjalan selangkah demi selangkah menyusuri kota yang dipadati masyarakat yang telah lama menanti. Kontingen Jember putra berjalan bergantian di atas egrang kayu, sedangkan yang putri berjalan anggun ayu. Kontingen Surakarta juga beratraksi dengan egrang, namun egrangnya terbuat dari bambu yang lebih ringan.

Nyaris tidak ada hal yang baru di sini. Pawai atau karnaval ini hampir sama dengan pawai yang pernah kusaksikan di kota-kota lain. Baru separuh perjalanan, salah satu peserta Jember sakit perut. Karena tak sanggup berjalan, maka dia naik becak, aku selaku pendamping pun menemani:) Bisa ditebak, rasanya menyenangkan naik ‘Beca Wisata Cerbon’ sambil mengamati suasana kota. Personil pawai bersemangat tak kenal lelah menempuh 5KM rute pawai. Terik matahari sepertinya tak menjadi rintangan. Dalam hati aku berharap peserta pawai khususnya anak-anak itu tidak sampai pingsan di jalan. Over all, pawai berjalan lancar. Sekitar pukul 16.00 WIB seluruh peserta sampai di garis finish yakni Aloon-Aloon Keraton Kasepuhan. Setelah sejenak meluruskan kaki yang letih, semua peserta kembali ke hotel. Hari yang melelahkan namun menyenangkan🙂

bersiap pawai 02

bersiap pawai 03

Hari kedua juga sangat menguras energi. Agenda hari ini adalah lomba permainan tradisional. Diawali dengan lomba bola gotong royong dan lomba bakiak panjang yang menuntut kekompakan, rasa saling percaya dan daya tahan prima. Kemudian lomba egrang bambu dan lomba egrang bathok yang membutuhkan kegigihan. Ada yang menang ada yang kalah, biasa dalam setiap pertandingan. Acara ini ternyata menyedot perhatian masyarakat dan media. Setelah perlombaan usai, para pengunjung yang mayoritas terdiri dari anak-anak itu diizinkan untuk mencoba bakiak panjang, egrang bambu, dan egrang bathok.

Ketika matahari tepat di atas kepala, dimulai lah adu kreativitas yang diadakan di panggung utama yang lokasinya cukup sejuk. Bahan yang telah dipersiapkan harus dirangkai menjadi alat permainan tradisional. Kontingen Jember mulai membuat pistol-pistolan dari pelepah pisang, mahkota dari daun nangka, dan hiasan dinding dari kertas koran. Sedangkan janur mereka manfaatkan untuk membuat candi-candian, pecut-pecutan, dan keris-kerisan. Kontingen lain membuat mainan dari kulit jeruk, gabus, kayu, kaleng, gelas air mineral dan aneka barang bekas lain. Senang sekali mengamati anak-anak berkreasi. Sesekali mereka saling menggoda bercanda tertawa, sembari tangan mereka tetap melipat janur atau menumpuk gabus.

Beralih ke panggung hiburan, tarian tradisional Betawi -yang aku lupa namanya- disuguhkan. Yang jelas tarian itu sungguh memukau. Gadis-gadis penari dengan mahir melipat dan membuka kipas merah. Gerakan tarian yang graceful yet powerful itu membuat hasratku untuk les menari menyala lagi;)

Hari ketiga saatnya peragaan permainan tradisional dari tiap kontingen. Misalnya saja, Jember dengan bola egrang, Jakarta dengan permainan nenek grandong mencari mangsa, Cirebon dengan cublak-cublak cuwing, Bandung dengan perepet jengkol, di mana 3-4 pemain berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan dan mengaitkan salah satu kaki ke belakang. Dengan berdiri satu kaki, para pemain bergerak berputar ke arah kiri atau kanan sesuai aba-aba. Sambil bertepuk tangan, semuanya menyanyikan tembang dolanan perepet jengkol. Kemudian Serang menampilkan bentengan, dua tim saling mempertahankan benteng. Jogjakarta dengan cheng boleng, yaitu semacam olahraga tradisional (tidak kuuraikan karena panjang dan agak membingungkan:)

Ternyata permainan yang ada di suatu daerah terdapat pula di daerah lain, hanya saja nama dan tembang dolanannya berbeda. Kontingen Serang juga menampilkan atraksi angklung buhun, kesenian etnis Baduy. Aku baru tahu bahwa pakaian pemain angklung buhun yang bernuansa hitam merupakan refleksi kepercayaan masyarakat Baduy terhadap warna hitam sebagai simbol bumi. Kemudian acara berlanjut pada atraksi gasing nusantara. Di sini, ragam gasing dari beberapa daerah di Indonesia ditampilkan. Para peserta diberi kesempatan melepas gasing bersama-sama. Setelah itu baru acara penyerahan hadiah pada para jawara.

Sekedar info, kontingen Jember menjadi juara 1 lomba bakiak panjang putri, juara 2 dan 3 egrang bambu putra, juara 3 egrang bathok, dan juara 1 adu kreativitas. Well, sebenarnya menurutku semua anak adalah jawara. Menang kalah tak masalah, yang penting mereka sehat dan bahagia menikmati permainan tradisional warisan leluhur mereka:) Setelah penutupan, anak-anak beserta panitia saling berjabat tangan tanda persahabatan. Terima kasih pada Depbudpar dan semua pihak yang mendukung event penting ini. Berharap tahun depan lebih semarak. Tidak tertutup kemungkinan bahwa selain layang-layang, akan ada permainan tradisional lain yang go international🙂

Semoga semakin banyak anak-anak negeri yang mencintai permainan asli pribumi yang sebenarnya jauh lebih inspiratif, edukatif, dan rekreatif dibandingkan instant games masa kini. Anak-anak tetap lah anak-anak, apapun lagu yang mereka dendangkan, bagaimanapun kalimat yang mereka ujarkan. Jangan paksa mereka terlalu cepat dewasa, biarkan mereka menikmati momen sejati mereka:)

P.S. Beberapa detil yang ingin kutambahkan adalah bahwa selama di Cirebon aku belum sempat ke mana-mana. Ingin sekali kabur barang sejenak untuk berwisata kuliner seorang diri, atau berjalan kaki menikmati nuansa kota itu, namun apa daya…tak ada waktu rupanya. Untung sempat beberapa menit ke toko oleh-oleh. Kalau di Jogja ada oseng mercon, maka di Cirebon ada kerupuk mercon. Aku sempat icip-icip dan terbakar bibir. Nikmatnya;) Sekedar cerita, karena baru pertama kali naik kereta eksekutif (kalau enggak gratis, pasti milih pahe lah, hehehe…), maka aku baru tahu kalau di kereta itu pedagang asongan hanya boleh menjajakan dagangan dengan cara meneriakkan dagangannya berulang-ulang dari ujung gerbong, malah kadang tidak diizinkan naik sama sekali. Entah kenapa, aku malah merindukan transaksi ala gerbong ekonomi yang terkadang bikin geli:)

Anyway, thanks Nuran, for this nice space🙂

6 Tanggapan so far »

  1. 1

    aklam said,

    halo mama, wah bagus bagus blogmu ada kontributornya! sip, tapi fotonya kurang gede men, jadi kurang puas liatnya, lain kali gedein ya! hehehe

  2. 2

    download said,

    dah punya pcr blom neng… bole ga abag melamar..

  3. 3

    aku nyari buku tamu blog’nya gak nemu.
    jadi aku nulis disini aja..
    iyah, aku ajeng. dulu waktu SMA aku adik kelasnya romdhi.
    kemarin sempet ke jember waktu JFC :p

    wah, mas nuran gak kenal aku.
    aku kenal mas nuran.. hahaha.. romdhi yang kasih pdf a long way from home. KEREN.
    aku jadi pengen cepet resign dan melakukan hal yang sama kaya yang mas nuran dan mas ayos lakukan :p

    *cheers!

  4. 4

    Tika We said,

    Cirebon?? Wah wah, jadi homesick neh..
    BTW, Nice post! Thankz ya!!

  5. 5

    bowo said,

    klo bs semua budaya lokal yg da di indonesia harus sering ditampilkan spy anak sekarang lebih kenal indonesia

  6. 6

    bowo said,

    dan khususnya cirebon biar lebih maju lg jgn ketinggalan


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: